Sejujurnya saya sangat bersemangat sekali ketika diinformasikan menjadi tutor bina kader (binder). Hal ini karena binder merupakan program pembinaan Tutorial dengan peserta mendaftarkan diri secara sukarela. Binder berbeda dengan tutorial reguler yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa. Dengan kesukarelaan tersebut, para peserta binder lebih siap untuk menerima pendidikan. Mereka siap untuk berubah. Di samping itu, biasanya peserta binder merupakan mahasiswa yang pernah mengaji atau mengenal Islam di sekolah atau pesantren. Hal ini membuat komunikasi antara tutor dan tutee lebih efektif.
Sebagaimana biasa, pertemuan awal diisi dengan agenda taaruf. Meskipun tak ada penekanan dari pengurus Tutorial untuk mengadakan taaruf, tapi bagi saya hal ini penting. Banyak kaidah mengatakan bahwa perkenalan merupakan hal yang krusial dilakukan saat pertama kali bertemu. Diantara tahapan berukhuwah (saudara) yang saya baca dari buku Majmuaturrasail, saya mendapatkan kaidah taaruf (saling berkenalan), tafahum (saling memahami), dan ta'awun (saling membantu). Majmuaturrasai merupakan kumpulan ceramah dan surat yang disampaikan oleh Hasan Al-Banna. Materi ini juga tercantum dalam buku pedoman binder Tutorial.
Berdasarkan pemahaman tersebut maka saya memberikan porsi taaruf cukup besar. Saya membuka tutoring dengan menyenangkan lalu melanjutkan dengan agenda taaruf. Tentu saya mengenalkan diri saya sendiri terlebih dahulu. Dalam tahap ini saya memperkenalkan diri berupa informasi umum saja. Adapun informasi lebih mendetail biasanya dilakukan pada pertemuan kedua dan ketiga bahkan terus berjalan selama tutoring berlangsung dalam jangka waktu tertentu.
Diantara taaruf yang saya sampaikan adalah sebagai berikut,
Kelompok : Abdurrahman bin auf
Tutor : Galih Kurniawan
Jurusan : Ilmu Komunikasi UPI 2012
Alamat asal : Ciamis
Alamat sekarang : Gegerkalong girang
Hobi : baca, tulis, fotografi, mengamati orang lain, nonton film, jalan2, dst.
No HP serta ID Line.
Saya rasa informasi tersebut cukup untuk mengawali perkenalan awal. Selanjutnya saya mengajak tutee untuk berkenalan juga. Maka tujuh orang tutee yang hadir memperkenalkan diri masing-masing. Formatnya masih saya seperti format taaruf yang saya berikan.
Setelah itu tibalah saat saya menyampaikan materi tutoring. Materi kali ini mengenai bagaimana cara mengembangkan kepribadian Muslim. Saya mereview pertemuan kuliah Dhuha (materinya sama) lalu menambahkan beberapa hal dalam pematerian. Salah satu yang saya tambahkan adalah 10 karakter andalan yang disusun oleh Hasan Al-Banna, yakni :
1. Salimul Aqidah (Akidah yang selamat atau benar)
2. Shohihul Ibadah (Ibadah yang shohih)
3. Matinul Khulq (Akhlak yang mulia)
4. Qowiyyul Jism (Jasmani yang kuat)
5. Qodirun 'alal Kasbi (Mampu berpenghasilan)
6. Mujahidun Linafsi (bersungguh-sungguh terhadap dirinya)
7. Haritsun 'ala waktihi (menjaga waktu)
8. Munadzamun fii Syu'unihi (tertata urusannya)
9. Mutsaqaful Fikri (berwawasan luas)
10. Nafi'un lighoirihi (bermanfaat untuk orang lain)
Saya menganjurkan tutee menulis poin-poin tersebut karena memiliki manfaat yang besar. Di sinilah kejutan itu terjadi. Ada seorang tutee yang menuliskan materi yang saya sampaikan dengan bahasa Arab. Saat itu saya hanya membacakan latin dan artinya saja, tetapi ia dapat menuliskannya dengan baik. Saya perhatikan tutee saya itu belum tahu poin-poin yang sedang saya sampaikan tersebut.
Lantas saya tanya ia, "De pernah pesantren?"
"Pernah Kang" jawab mahasiswa berbaju putih hitam itu.
"Dimana nyentrennya?" Tanya saya.
"Di Gontor, Kang." Katanya.
Masyaallah, rupanya adikku yang ini merupakan alumni dari pesantren besar Gontor. Pantas saja dapat menulis Arab dengan baik. Ada rasa malu menyeruak bahwa tutornya hanya pernah pesantren tapi tidak tamat. Pesantren yang tamat cuma pesantren kilat saja.
But It's OK. Mendapatkan tutee alumni Gontor dan Alumni lain merupakan anugerah dari Allah. Hanya saja kita perlu mengelolanya baik. Semoga penulis, si tutor ini, bisa belajar dan mendidik di mana saja, kapan saja, dan dari orang berilmu siapa saja.
posted from Bloggeroid