Galih Kurniawan
VIOLET
Kumpulan Sajak Cinta dan Doa
Gapura
Segala
pujian dan syukur saya persembahkan kepada Allah azza wa jalla. Salawat dan
salam saya haturkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, semoga tersampaikan pula
kepada para umatnya.
Saya
mulai agak rajin menulis puisi sejak masuk kuliah. Saya menuliskannya dengan
melihat fenomena sekitar, imajinasi, dan pengalaman sendiri. Seperti misalnya
saat melihat teman yang jatuh cinta, rindu, marah, nyebelin, atau putus cinta maka saya mencoba membuat puisi dengan
melihat perilakunya. Selanjutnya puisi datang juga dari ruang imajinasi saya.
Semisal saat saya menuliskan kata : kau, kamu, dia. Saya tidak tahu kau, kamu,
dan dia itu siapa. Saya hanya menuliskannya saja. Objek puisi itu adalah imajinasi
saya sendiri. Dan terakhir puisi itu datang dari pengalaman saya sendiri. Saat
saya berinteraksi dengan orang lain maka saya mendapatkan emosi. Seluruh emosi
yang saya amati dan rasakan menjadi bahan-bahan penyusun kumpulan puisi ini.
Sebetulnya
ada kekhawatiran bahwa kumpulan puisi ini membuat "baper" pembacanya
namun saya meluruskan niat karena Allah. Semoga kumpulan puisi ini menjadi
inspirasi kebaikan bagi para pembaca. Awalnya saya berniat untuk membukukan
tulisan ini, namun karena beberapa kendala rencana tersebut belum terwujud.
Saya mengharapkan masukan, saran, testimoni, serta kritikan membangun untuk
karya kecil ini. Mudah-mudahan menjadi hal berarti untuk karya yang lebih baik.
Terima
kasih kepada ibu, bapak, dan keluarga. Terima kasih banyak kepada teman-teman
Ikatan Remaja Masjid (IREMA) At-Taqwa SMAN 1 Cihaurbeuti, Barisan 61 shaleh dan
shalehah, teman-teman GLTC yang kreatif dan bermilitansi tinggi, teman-teman
Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMIKASI) UPI yang menyenangkan, teman-teman
LDK UKDM UPI, Korps Shaleh (Nida, Umam, Acah, Aghi, Raka, Aam, Dini, Ayu, dan Ara),
KAMMI, penghuni Pondok Abdurrahman Bin ‘Auf (Kang De-One, Rizka, Kang Bowo,
Wafdan, Abdurrahman, Sonhaji), dan setiap orang yang telah memberikan arti
kepada penulis. Semoga Allah membalas semua kebaikan. Amin
Bandung,
Juni 2016
Galih
Kurniawan
IFTITAH
“Dengan
nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah : 1)
Ada
keteduhan dari wajahmu,
Ada
ketenangan dari sikapmu,
Ada
kewibawaan dari senyummu..
Ada
sabar dari bicaramu,
Ada
lapang-dada dari desah nafasmu,
Ada
cita-cita dari kepalan tanganmu..
Ada
semangat dari langkahmu,
Ada
cerita dari tulisanmu,
Ada
mimpi dari sorot matamu,
Ada
makna dari diammu itu..
(12
Mei 2016)
Aku
bersamamu seperti seberkas cahaya yang menembus asap yang pekat
Aku
bersamamu seperti air yang mengalir pada celah-celah bebatuan yang rapat
Aku
bersamamu seperti nada yang terdengar pada suara yang kuat
(13
Maret 2016)
Sebenarnya
aku tak tahu benar apa yang ada di batok kepalamu itu,
Pagi
siang malam urusanmu hanya satu,
Mengabdi
pada Tuhanmu,
Pantas
para merpati cenderung padamu..
(24
Maret 2016)
Bila engkau hujan malam
Aku ingin memandangimu saat kumulai terpejam
Bila engkau hujan fajar
Aku ingin menghampirimu dengan perca-perca harapan
Bila engkau hujan siang,
Aku tak tahu apakah aku cukup kuat untuk tak
meleleh..
(22 Desember 2015)
Aku
ingin mencintaimu dengan istimewa
Seperti
butiran air pada mentari yang menghasilkan warna berbeda
Aku
ingin mencintaimu dengan istimewa
Seperti
sabarnya Bulan menemani teriknya siang
Aku
ingin mencintaimu dengan istimewa
Seperti
genggaman erat ibu pada anaknya
Aku
ingin mencintaimu dengan istimewa
Dengan
berbeda
Dengan
segalanya
Hanya satu alasan yang mungkin susah untuk dijabarkan
Karena
aku cinta..
(9
Maret 2013)
Adakalanya
tangisan muncul saat cinta yang kuat tak terungkapkan,
hanya
menganak sungai mengairi lantai,
Tak
dapat terbendung oleh jemari yang menutupi,
Cintanya
tertahan..
(29
Maret 2016)
Aku
enggan memilih sendiri
Biar
Allah yang menentukan
Karena
aku tak tau kepada siapa
Hati
ini terlabuhkan
Kutundukkan
pandangan
Hingga
tak seorang pun bidadari
Terkena
panah-panah setan
Hingga
suatu saat nanti
Saat
Allah menghalalkan
Maka
cinta akan membuncah menyejukkan
Saat
Allah memilihkan
Maka
kau Khadijah yang menyelimuti dikala gelisah
Maka
kau Aisyah yang jelita dengan pipi yang memerah
Maka
kau adalah Khansa yang berjihad dengan gagah perkasa
(20
Maret 2013)
Kau
adalah gerimis,
Tetesan-tetesan
air yang kurasakan merintik pada badan,
Lalu
membesar menjadi hujan,
Menderas
membasahi badan hingga menempel pada perasaan..
(15
Maret 2016)
Begitulah
cinta..
Mengalirkan
harapan sederas sungai di musim penghujan
Begitulah
cinta..
Menghembuskan
angin topan kehangatan
Ah,
cinta begitu memabukkan
Segudang
tetes cinta akan selalu meminta segalanya;
Waktu
untuk meminumnya
Kekuatan
fisik untuk menikmatinya
Perhatian
untuk selalu menjaga kehadirannya
Begitu
hakikat cinta,
pengorbanan
segalanya..
(15
Januari 2016)
Mataku
adalah bahasa yang tak mampu terucap kepadamu,
Jemariku
adalah isyarat yang tak sempat bersentuh-sentuhan denganmu,
Langkahku
adalah arah yang tak juga kuat mendekat menghampirimu,
Aku
bersuara lewat doa,
Atas
tak kuasanya aku melawan kelu,
Hanya
melirihkan namamu dalam sendiriku,
Menegaskan
munajat pada Allah akan pertemuanku,
Denganmu
(20
Januari 2016)
Aku
ingin tau sejauh apa aku akan pergi.
Andai
ada jaminan kepergianku bukan jalan yg menyimpang niscaya aku akan pergi sejauh
yg aku bisa
(9
Maret 2016)
Mata
adalah jendela Neraka dan Surga,
Mata
adalah panah-panah setan juga pengintai dan penjaga gerbang saat perang,
Mata
adalah aku yang bertemu denganmu pada kejauhan,
Seperti
memandang Nil hanya dari gambar saja,
Mata
adalah apa yang menghantarkanku pada rindu dan cinta,
Pada
sebuah nama yang pada akhirnya aku ikhlaskan dalam doa..
(18
April 2016)
Hujan sudah reda dan tinggal
rintiknya bergrimis,
Namun sesaknya dada belum habis,
Apa setelah ini ada rasa bahagia
yang manis?
Semoga aku tak bosan untuk mengemis
dan menangis pada Al-Waris..
(2 Juni 2016)
Tetes Hujan
Kau
bukan janji dan rekayasa,
Kau
tetes hujan yang merintik apa adanya : terjaga, jujur, dan sederhana..
(9
Maret 2016)
Sesirat
bentuk tiba-tiba hadir di depan mataku
“Siapa dia??”
“Apakah dia yang selalu diperbincangkan
orang lain padaku.”
“Akankah engkau bidadari itu?”
“Bidadari Syurga yang Tuhan ciptakan
dari tulang rusukku.”
“Benarkah engkau?”
“Atau kau hanya bayangan yang hanya
menjelma manusia?”
Duhai, senyum simpulmu begitu
mempesona..
Tunggu, siapa aku?!
Bahkan
aku tak pernah memandang mereka sebelumnya
Bulan,
datanglah kemari,
Gemintang,
datanglah menghiasi,
Malam
terangkanlah padaku ini,
Siapa
dia??
Jelaskanlah
agar aku tahu,
Apakah
dia siluet senja ataukah sang bidadari Surga..
(4
April 2013)
Mari
kuhantarkan engkau melihat cermin,
Melihat
sosok di hadapannya,
Yang
renta rona mukanya,
Berkacamata
bermata coklat,
Bertahi
dan bertahi lalat,
Gelap
pekat..
Mari
kuajak engkau pergi ke belakang layar pertunjukkan,
Tempat
drama mulai dimainkan,
Tangisan
dan senyuman dibuatkan,
Dan
riasan aktor kehidupan dipasangkan..
Mari
kutemani engkau menyelami isi hati,
Yang
tak punya kunci di palung paling dalam,
Menyimpan
rasa pada sela-sela koral yang dangkal,
Yang
kapan-kapan muncul ke permukaan..
Mari
kutunjukkan engkau pada baja berongga,
Yang
terkesan kokoh namun regas,
Yang
dari mulutnya keluar senandung lagu,
Yang
dari jemarinya tergores sastra lugu..
(15
Januari 2016)
Syahdu
itu menatap sayu, hangat, dan kuat,
Jika
terkadang tangan mendekap ketiadaan,
Maka
cinta akan menyejukkan dan memberikanmu harapan..
Cintailah
dirinya dengan gemuruh,
Hingga
mengalirkan deras kehangatan pada pertemuan,
Beriringan
dengan hembusan lembut sebuah ucap,
Dan
halus sebuah sikap..
Cintailah
ia dengan penjagaan,
Dalam
sebuah kemurnian dan setetes kesucian,
Cintailah
ia dalam kesendirian,
Saat
kau menggambarkan sosoknya dengan kanvas keabadian..
Cintailah
ia dengan neraca keseimbangan,
Saat
kau melembutkan namun kau menegaskan,
Saat
kau membenarkan namun kau meluruskan,
Saat
kau mengikat namun kau melonggarkan..
Namun
jika kau bukan sesempurna sebuah intan,
Maka
sisipkanlah sebuah kata antara kau, dengan cintamu kepadanya,
Bukan
untuk melemah namun untuk menghimpun waktu dan kebulatan tekad,
Sisipkanlah
sebuah kata bernada “harap dan penuh semangat”
(16
Februari 2013)
Saya,
Pemuda
penuh keterbatasan, anak dari orang tua yang miskin dan cerai
Terima,
Untuk
saya dengan segala kekurangan saya
Nikah,
Dengannya
kuambil kehalalanmu
dan
Kawinnya,
Kuterima
lahir dan batinmu
Fulanah
Kupilih
dirimu sebagai pasanganku, istriku, dan ibu dari anak-anakku. Seseorang yang
telah kupandang. kurelakan dan kuridhai
Binti
Fulan
Dari
bapak yang kumuliakan, yang mengamanahkan anaknya kepadaku agar kuberlaku
menjadi lelaki yang menjaga.
Dengan
Maskawin
Yang
halal karena kuusahakan dengan kerja keras tanpa kedzaliman, kebohongan, dan
menduakan Allah. Sebagai pemberianku yang kuberikan kepadamu.
Sembilan
gram emas
Hanya
adalah tanda dari kemurahanku kepadamu
Dan
seperangkat alat shalat
Agar
kau selalu mau kuajak menemui Allah, kapanpun.
Di
bayar tunai
Agar
kita segera membangun rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah.
SAH!
Alhamdulillah..
Satu
alasanku mengunjungimu adalah,
Engkau
kenal dekat dengan Tuhan-Mu,
Tuhan
yang Maha Satu,
Tuhan
tempat bergantung segala sesuatu,
Tuhan
yang tak memiliki anak ataupun bapak-ibu,
Tuhan
yang tak ada sesuatu halpun yang bisa menandingi diri-Nya itu..
(14
Februari 2016)
Aku
abadi sebatas aku belum mati,
Untuk
menemani..
(14
Februari 2016)
Al
Wadud,
Duhai
Engkau yang Maha Mencintai..
Aku,
Terlalu
lama ingin diam,
Di
pojok-pojok pondok,
Lalu
memendam perasaanku sendiri,
Bersama-Mu..
Al-Wadud,
Sesungguhnya
Engkau sudah tahu,
Bahwa
aku sedikit lelah..
Karna
terlalu lama menahan terik penantian,
Di
Podium Masjid dan Gelanggang,
Bersamanya..
(15
Januari 2016)
Aku
melayang di atas pemukaan dan di bawah angkasa,
Aku
berteman lautan dan sesekali menjejakkan kaki pada pegunungan,
Berteman
dengan lingkaran pelangi matahari,
yang
terbakar namun tersenyum,
Untukmu..
Aku
mewarnai langit dengan Putih, atau Kelabu
atau
Merah dan Jingga pada senja,
yang
berusaha tabah menerima jutaan cahaya,
dan
mencoba mendefinisikannya,
Semampu
yang kubisa..
Aku
tabah menyelimuti bumi namun membiarkanmu dapat bernafas,
Hanya
maaf bila aku sedang merindui dan kukirim jemari awan,
Pada
daratan berupa asap-asap malam dan fajar,
Kau
jangan takut,
Sesungguhnya
cintaku kupendamkan..
Aku
berbentuk seperti yang kau mau,
Apakah
berwajah angkara atau berwujud boneka yang kau suka,
Bergelombang
mendung hitam atau berhelai-helai sutra,
Jika
kau bertanya apa wujudku sebenarnya,
Aku
awan yang mencintai fitrahnya..
Aku
bersedia menampung keringat samudera agar tak langsung jatuh pada kelopak
matamu,
dan
kutabah tak menyelimuti bumi..
(5
Maret 2016)
Aku
meregang,
Menahan
rindu kepadamu,
Aku
awan menggelayut jadi hujan,
Ingin
kusiram mawar merah menyala, harum, dan terlindungi itu,
Melihat
mekar kuncupmu tersenyum kepadaku,
Bunga,engkau
melihatku?
Airku
menetes dari pelupuk mata jadi tangis kerinduan..
(18
April 2016)
Aku
hanya baja berongga
Sejenak
aku tegar perkasa,
Namun
tak selamanya..
Aku
lantunkan doa panjang penantian,
Biarkan
aku pilih dirimu karena Tuhan,
Jika
baik maka dekapkan kepadaku
Jika
buruk maka lepaskan dariku..
Maka
tunggulah sang waktu
Semoga
Allah menganugerahkan dirimu untukku..
(4
April 2013)
Belajar
dari hujan yang taat pada pencipta dan Rabbnya,
Ia
turun baik pagi, siang, atau malam,
Ia
menyusup pada hati manusia,
Apakah
resah atau sakinah..
Belajar
dari tetes hujan yang sabar atas titah pemiliknya,
Yang
rela berbenturan dengan karam,
Menelisik
sela-sela bebatuan malam,
Lalu
tabah..
Aku
berjalan tanpa payung,
Belajar
menikmati rintik-rintik hujan,
Yang
menggerayami tanpa permisi,
Gerimis
ternyata romantis..
Namun
cemburu itu lantas tak hilang,
Tak
lenyap bagai hujan yang membasuh pasir pada daun-daun tanaman,
Bara
inginku masih menempel pada dinding hati,
Tak
mau pergi..
Senyap,
Rerintik
hujan mulai reda tiba-tiba,
Aku
tahu bukannya kau tak mau duduk berdua denganku,
Aku
tahu engkau sedang taat pada Rabbmu..
Selalu
seperti itu,
Engkau
datang dan pergi,
Tanpa
berucap,
Hanya
memberiku isyarat kecil,
Katamu
: aku akan kembali..
Hujan,
karena taatmu itulah,
Aku
akan selalu senang..
Saat
engkau pergi,
Dan
saat engkau datang,
Padaku
lagi..
(20
Januari 2016)
Aku
mencintaimu namun berbalas diam,
Memimpikanmu
bukan menjadi hal baru,
Terakhir
kulihat engkau bersama yang lain,
Bercengkrama
dan bernyanyi-nyanyi di taman..
Bagaimana
caraku mendekatimu?
Kala
engkau sama sekali tak membalas rasa-rasaku,
Janji
kita bersama mungkin tak lagi jadi bahan pikiranmu.
Mimpi
kita mungkin telah sirna dimakan problematika,
Padahal
aku mengharapkan akhir hidup denganmu juga..
Aku
takut bahtera persaudaraan dan ikatan ini akan terhenti di tengah jalan,
Jangan,
jangan pergi..
Lebih
baik aku dekat walau terbakar, hangus, lalu terhembus angin.
Demi
rumah yang kita besarkan dan kita jaga bersama..
Bila
aku semakin busuk,
Kuminta
jangan kau buang aku..
Berikan
waktu untukku membuang ego da mengikis salahku.
Ini
aku, di setengah perjalanan kita.
Begini
aku rupanya, apa adanya..
(9
Maret 2016)
Maafkan
aku atas rasa yang tak bisa kubalas,
Sungguh
aku takkan sanggup membangun Istana Surga,
Atau
tersenyum saat pertemuan-pertemuan kita,
Saat
engkau membawa bingkisan cinta yang hangat,
Kutahu
itulah saatnya aku kembali taat..
(28
Maret 2016)
Untukmu,
Apa
kau menerimaku sebagai kekasihmu,
Seorang
bocah yang suka menulis sajak?
Tentu
saja aku sudah tahu jawabannya,
Keyakinan
pada Tuhan jadi pertimbangan utama,
Bukan
pula lelaki yang jauh dari pedoman agama..
(29
Maret 2016)
Rinduku
seperti bola salju yang semakin membesar dan menebal,
Lalu
menggelinding bersama waktu,
Sedang
aku makin malu menemuimu,
Lalu
aku menemuimu dari kaki bukit dan meleleh di dekatmu..
(15
Maret 2016)
Malam
ini bulan menyabit pada langit yang temaram,
Seperti
ujung pena yang basah dengan tinta,
Dan
kulihat ia menuliskan namamu,
Pada
awan malam..
Sehingga
saat kulihat pada langit,
Namamu
tergores indah dengan tinta emas,
Terang
memantulkan cahaya..
Lalu
gemintang seperti lampu disko yang
Menemani
kesendirian dan penantian,
Bahwa
harapanku kembang-kempis,
Menunggu
takdirku dan takdirmu bertemu..
Namun
malam ini akan kuhabiskan waktu dengan menghapus namamu,
Menenggelamkan
hingga karam..
(11
April 2016)
Jika
aku mencintaimu, maka aku adalah segalanya untukmu,
Mulutku
akan selalu berucap cinta setiap waktu,
Demi
cahaya merah diwaktu senja,
Jika
engkau berjalan mendekati maka aku akan berlari menghampiri,
Aku
hadir lebih dekat, lebih lekat, lebih kuat, untukmu,
Aku
akan larut dalam darahmu yang terus mengalir,
Menyapa
bahagia setiap bagian tubuhmu,
Menghentakkan
jantungmu agar tetap berdetak,
Menajamkan
pandangan agar kau dapat memandang..
=Tuhan
pada Hamba-Nya=
(9
Februari 2013)
Kutatap
sosok dalam cermin,
Dia
sedang memanggul senjata,
Namun
tak sedang perang rupanya,
Dia pura-pura jadi pahlawan..
Di
bagian dadanya ada kotoran yang hitam, busuk dan lengket,
Meleleh
mewarnai baju perangnya,
Lalu
dari mulutnya keluar kata-kata,
Yang
aromanya seperti bangkai..
Aku
kenal betul wajah itu,
Selembar
kulit yang selama ini aku pakai untuk menipu,
Aku
kenal betul sosok dalam cermin,
Adalah
diriku yang penuh dosa itu..
(28
Desember 2015)
Sahabat,
kini engkau tahu bahwa cinta itu hasrat,
Tak
cukup dengan pandangan, lalu kau tambah dengan kata sayang dan sentuhan atau
pelukan,
Teman
-aku- berubah jadi ancaman, padahal baru kemarin kita bersenang-senang berdua
berlomba jadi juara,
Kau
rasa bahwa kekasihmu milik dirimu sendiri padahal makhluk itu punya Tuhan..
Sahabat,
kini engkau tahu bahwa cinta itu candu,
Kau
musti tahu bahwa lepas dari jemari candu itu susah adanya,
Perlu
dikarantina di penjara, teralihkan pada jenis candu baru, atau ditinggal pergi
atau mati,
Berpisah
akan membuatmu sakit dan sakau,
Dilema
antara ingin berhenti dan gairah minta tambah..
Sahabat,
kini engkau tahu bahwa hati itu hidup yang tak bisa dipermainkan oleh sikap dan
kata-kata,
Rambut
tergerai, senyum simpul, atau sajak-sajak cinta bisa bikin seseorang punya
rasa,
Bahkan
salah bicara bisa bikin tafsir berbeda, seperti gelombang pada daratan..
Sahabat,
kini kau tahu bahwa sebagian cinta itu penyesalan,
Saat
kau berucap bahwa hatimu kosong dan perlu isi,
Hingga
kau jadi budak manusia-manusia dusta, hingga kau perlu pakai topeng di muka,
Sekarang
kau sibuk sendiri mencari jalan lari dari tragedi
Paling-paling
sebentar lagi kau minta putus,
Lalu
mengurung diri di kamar atau menangis minta selotip untuk hati yg retak..
Aku
tak ingin ikut campur dalam urusanmu,
Cuma
mau bilang kalau kini kau tahu cinta setengah serius berakhir prematur serius..
(9
Maret 2016)
Parah,
Parahnya
engkau adalah engkau selalu harus diberi petuah,
Dipasang
kacamata kuda agar matamu tak liar kemana-mana,
Dikasih
cocok hidung kerbau agar mau menuruti agama,
Dibebani
tanggungan agar mau rajin bekerja..
Dengarkan,
Bahwa
tubuh yang engkau kagumi akan layu seperti bunga pada kemarau,
Bahwa
senyum yang engkau sukai akan cemberut karena sumber pemasukan mengkerut,
Bahwa
muka yang merona akan berubah jadi keriput,
Maka
tunggulah sepuluh tahun lagi maka cintamu akan berubah masam..
Perhatikan,
Kau
harus cari cinta yang awet tahan lama,
Yang
tak tertindas masa dan tak berbatas Negara,
Mungkin
Ia adalah Tuhan,
Raja
pemilik alam semesta yang abadi dan sempurna,
Yang
saat dicinta maka Ia akan mencinta dan mencintakan semesta pada kau,
Asal
kau mau selalu mencintai-Nya..
(29
Maret 2016)
Aku menunggumu,
Duduk bersandar di kursi bundar
Aku memandang ke arah dinding
kemarik,
Yang memantulkan bayangan hitam
dirimu itu,
Lalu sepersekian detik,
Kudengar suaramu,
“Apa kabar?” katamu
“Maaf aku harus pergi.” Kataku.
(21 Desember 2015)
“Wahai
Tuhanku,
Sesungguhnya
waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu,
Keagungan
adalah keagungan-Mu,
Keindahan
adalah keindahan-Mu,
Kekuatan
adalah kekuatan-Mu,
Penjagaan
adalah penjagaan-Mu,
Wahai
Tuhanku,
Apabila
dia rezekiku yang masih berada di atas langit maka turunkanlah,
Apabila
dia berada di dalam bumi maka keluarkanlah,
Apabila
dia sukar bagiku maka mudahkanlah,
Apabila
dia haram bagiku maka sucikanlah,
Apabila
dia jauh bagiku maka dekatkanlah
Dengan
kebenaran dhuha-Mu,
Kekuasaan-Mu
(Wahai Tuhanku),
Datangkanlah
padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.
(4
April 2016)
Ada
kata dan nada yang kutenggelamkan,
Pada
bunyi rintik hujan yang kian membesar,
Dan
pada suara arus sungai yang semakin menderas..
Ada
gerak tubuh yang kusembunyikan,
Pada
diam dan perilaku yang wajar,
Dan
pada pandangan yang tertahan..
Ada
asa yang perlahan mulai kuhilangkan,
Harapan
bersama denganmu di masa depan,
Karena
penjagaan lebih baik dari hasrat yang tak tertawan..
Walau
namamu telah kusematkan dalam lirih doa
Pada
sepertiga malam dan doa saat dhuha,
Malam
ini saat hujan turun kembali,
Dan
kini kugantungkan semuanya pada Tuhan..
(4
April 2016)
Kegelisahanku,
Putri, perlu aku sampaikan sekarang juga,
Mumpung
hujan deras sedang menyiram bumi yang panas,
Bahwasanya
sebetulnya aku tak ingin mencintaimu sekarang,
Karena
aku takut jadi hama yang membahayakan dirimu..
Sejatinya
aku tak layak menyirami tanah tak bertuan,
Juga
tak pantas mendekati tanah yang bertuan,
Hanya
saja aku sedang salah jalan,
Dan
kuharap Tuhan mengizinkanku bertemu denganmu,
Setelah
sebuah penantian selama perjalanan..
(22
Maret 2016)
Kau
janganlah genit,
Soalnya
aku cemburu,
Jika
kau tak ingin dekat denganku,
Jangan
kau dekat dengan orang lain juga..
Kecuali,
Jika
kau membuat perjanjian kuat dengannya,
Aku
akan mundur tanpa kata..
Namun,
Kuharap
kau dan aku membuat suatu perjanjian yang kuat,
Pada
saat yang tepat..
(22
Maret 2016)
Aku rupanya mulai gila,
Aku mulai bicara pada awan yang berbentuk
segurat muka,
Mengagumi langit biru sebagai gaun pesta,
Dan mentari sebagai senyum mesra..
Aku rupanya mulai tak waras,
Aku mulai menitipkan rindu pada
burung gereja,
Aku mulai menitipkan salam pada
aliran sungai yang mengalir kepada muara,
Aku mulai menggenggam pena dan
kubayangkan kau membaca surat dan bait-bait sajak..
Dan aku mulai meneteskan air mata
saat kau tinggal bayangan saja..
(18 April 2016)
“Perlukah aku menjadi gila?” Bisikku
padanya.
“Untuk apa?” katanya yang tak mudah
peka.
“Agar aku mencintaimu dengan
sempurna” kataku
“Tak perlu. Aku butuh kau yang sadar
akan sebuah penghambaan pada Tuhan,
Lagipula tak ada yang sempurna
selain-Nya.
Karena cintaku akan hilang jika kau mulai
tak mencintai Tuhan.”
(18 April 2016)
Kedua
bola mata ini mulai berbicara dan berbisik pada hatiku,
Tentang
waktu,
Jari
jemarinya lembut menyapa halus kesendirianku,
“Dalam
setiap detik arloji,
Aku
merindukan kehadirannya.”
Namun
aku bergeming saat hatiku berteriak keras pada gendang telingaku,
Sadar…!
Sadar…!
Sadar…!
Cintamu
adalah penjagaanmu,
Lalu
aku tertunduk malu..
(27
Desember 2015)
Hujan
yang terjatuh tak pernah membenti awan dan
Awan
yang tertawan selalu tabah mencintai hujan,
Selalu
bersabar menunggu sebuah pertemuan..
Awan
tahu jika hujan sedang dalam perjuangan panjang,
Menelisik
dari pegunungan hingga menderas ke lautan,
Semua
dilaluinya dengan kerinduan..
Tak
ada setetes hujanpun yang terjatuh melainkan Dia mengetahuinya,
Demikian
juga tak ada sebentuk kesabaran yang membulat melainkan Dia mencintainya..
(14
Pebruari 2016)
Bila
aku terlalu cinta,
Tolong
ingatkan ya..
(5
April 2016)
Hijau
atau tidak, bulat atau tidak, beraroma atau tidak,
Dedaunan itu istimewa..
Panjang
atau tidak, tebal atau tidak, kaku atau tidak,
Ilalang itu istimewa..
Tak
perlu kau tanyakan kesederhanaanmu dan pilihanku,
Masing-masing manusia itu
istimewa.
Lalu
aku melihat kekhasan dalam sebuah keistimewaan,
Dalam dirimu, keistimewaan
berbentuk kemuliaan..
(13
April 2016)
Kau bertanya mengapa aku mengawan,
Seperti yang selama ini aku lakukan,
Agar warnamu tegas, cerah, dan cantik menawan..
Supaya kau punya kanvas putih untuk kau lukiskan
dengan sinarmu,
Dan kau bentuk siluet sesukamu..
(8 Mei 2016)
Aku
padamu semoga tak hanya jadi kilasan pandang,
Yang
terlihat namun terlupakan,
Kuharap
kau rela tertambat pada hatiku,
Sehingga
bagiku kau akan teringat selalu..
(29
Maret 2016)
Aku
ini lampu lalu lintas,
Yang
biasanya hanya ditinggali sebentar lalu ditinggalkan,
Lalu
dirimu lewat saat aku bermata cerah,
Sejenak
engkau memadamkan mesinmu lalu kita terlalu mesra..
Secangkir
kopi Liberica tak mampu menghanyutkan pikiranku,
Yang
ternyata tak sengaja terus memikirkanmu,
Bahwasanya
aku berenang pada arus yang deras,
Dan
aku terhanyut..
Aku
memilih pulang,
Ditemani
gerimis dan pelupuk mata yang menangis..
(2
Februari 2016)
Aku
malu berdiri di depan pintu rumahmu,
Bercakap
rasa antara aku dan dirimu,
Tanahku
masih lokal, tanahmu internasional,
Aku
curiga memang kita beda tanah,
Tak
mungkin serumah..
(21
Desember 2015)
Fajar
mengumpulkan sinar-sinar yang sebelumnya terpendar,
Mulai
meramu jentik-jentik impian yang tertimbun selimut malam..
Inginku
tabah memaafkan setiap jejak langkah di belakang,
Lalu
mulai menerawang tanah yang masih lapang,
Di
pandang..
Kemana
langkah akan mengarah?
(15
Januari 2016)
Saat
Dhuha,
Aku
mengasingkan diri dari hiruk-pikuk manusia,
Mendatangi-Mu
saat pintu Sorga sedang lengang,
Kuharap
engkau senang..
Diantara
pintaku adalah agar daun telinga yang tertempel pada,
Tengkorak
kepala tak cuma jadi hiasan saja,
Lebih
guna bila bisa mendengar suara,
Kuharap
menangkap nada lantunan orang mengaji,
mamah
memanggil, sahabat menasehati, dan anak-anaknya menangis,
Suatu
saat bila ia telah berumah tangga
Tuhan..
Tuhan, Tuhan! Tuhan..
Saat
sepertiga malam,
Aku
mataku terbuka dari terlelapnya tidur manusia,
Mendatangimu
saat pintu langit sedang terbuka,
Kuharap
engkau suka..
Diantara
doaku adalah kupinta agar hati tak mudah mencintai,
Supaya
suci dari penyakit-penyakit iri dengki, munafik, dan ingkar diri,
Agar
rasa tetap terjaga hingga tepat saatnya dan tepat orangnya
Saat
senja merah menggoda rasa,
Aku
pulang keharibaan-Mu yang penuh godaan dan cobaan,
Semata-mata
agar Engkau cinta,
Kuharap
Engkau ridha..
Diantara
penghambaanku adalah kuminta agar aku tak menjadi gelandangan terbuang,
Agar
supaya aku jadi orang benar,
Tak
musti berjas dan berdasi,
Asal
supaya tauhid dan akhlakku besar..
(20
Januari 2016)
Semakin
kupaksa agar mata-pena tajam dan,
Menggores
sajak cinta dan rindu,
Pada
secarik kertas atau selembar kanvas,
Aku
semakin buntu..
Mata-penaku
terkantuk dinding goa yang keras dan gelap,
Bagaimana
selimut malam tanpa rembulan dan gemintang,
Lalu
terpikir untuk kembali pulang pada palung yang lebih gelap,
Aku
masih jauh menggapai sebuah kitab,
Baru
sepertiga replika malah hampir kuberfatamorgana bahagia,
Aku
butuh patah hati dan terluka dan jatuh cinta..
Aku
perlu dirimu untuk alasanku berjuang,
Mengajakku
saat kumulai mengigau,
Dan
menjadi puteri dalam mimpi-mimpiku..
(20
Januari 2016)
Cintaku
ingin seperti angin,
Seolah
pergi padahal menemani,
Seolah
menjauh padahal mengitari
Seolah
marah padahal rindu..
Cintaku
ingin ikhlas,
Berkorban
tanpa menuntut balasan,
Melihat
tanpa meminta tatapan,
Menggenggam
walau jemarimu makin meregang..
Cintaku
ingin ridho,
Bertemu
karena sang pencipta,
Bersama
karena sang penjaga,
Berpisah
karena sang pengurus,
Meneteskan
butir-butir kasih hingga ajal tiba,
Berpelukan
kembali di jannah-Nya..
Cintaku
padamu terlanjur hadir,
Sayang
aku bukan pangeran dan raja,
Harapku
sebatas ikhtiar kecil saja..
Saat
sang kepala tak merasa layak sebagai pengeja harap,
Merasa
bintang terlampau jauh untuk digenggam,
Merasa
badan tak kuasa mengemban beban. ,
Mencintaimu
seolah susah..
(9
Maret 2016)
Aku memang mudah mencintai,
Pada senyum yang tersungging ,
Pada kerudung yang terkibar,
Pada wajah yang cerah,
Pada akhlak yang indah..
Tapi saat hatiku memilih maka aku akan mencoba
setia..
(4 Mei 2016)
Aku
terjerembab pada nadir,
Karena
terlalu berat untuk bangkit,
Aku
lebih suka dengan candu,
Walau
kutahu merusak jasad,
Aku
masih terjebak..
(29
Maret 2016)
Sebenarnya
malu aku sebut nama-Mu,
Yang
Indah dan Mulia itu,
Sembilan
puluh Sembilan, atau
Seratus
kurang satu..
Nama-Mu
termaktub dalam Firman-Mu,
Lalu
kau titahkan aku mencintai-Mu dengan menyebut nama-Mu,
Maka
dengan kerendahan diriku,
Kudzikirkan
dan bermunajat dengan nama-Mu
Rabb
ampuni aku..
Sayang
dalam namaku tak tersimpan nama-Mu,
Bapak
dan ibu kasih aku nama dengan nama "Qolbu",
Jika
boleh ingin kugelari diriku dengan Abdul Quddus,
Hamba
dari Tuhan yang Maha Suci,
Semoga
Engkau menjagaku..
(25
Februari 2016)
Aku
anak kedua dari tiga orang saudara,
Dinamai
dengan nama bermakna sukma,
Sebagai
karunia Tuhan pada ibu dan bapak,
Atas
lahirnya seorang Putra..
(25
Februari 2016)
Namamu
sebaris kata,
Namun
bermakna-dalam sedalam-makna yang kuuntai bersama masa,
Bak
puncak gunung yang terlihat di atas samudera,
Padahal
berakar hingga ke dalam tanahnya,
Seperti
nama Laila untuk Qais dan Nama Qais untuk Laila,
Yang
gila karena nama..
Namamu
adalah nada yang kusamarkan
Diantara
ratusan suara yang kuucapkan,
Namun
kulagukan dalam pikiran,
Terus
kulantunkan dalam sukma,
Namamu
terulang dalam ingatan..
Namamu
adalah harapan yang kugantungkan
Pada
pemilik nama yang Indah dan Mulia,
Ia
Rabb yang menyatukan nama dengan nama,
Mengikatnya
pada perjanjian yang kuat,
Sekuat
makna yang Ia firmankan
(25
Februari 2016)
Namamu
bisa saja tersimpan diantara nama yang kuucapkan,
Atau
berwujud frasa yang masih tersembunyi,
Atau
berwujud nama yang kuberikan..
Namamu
rahasia,
Namun
siluetmu tergambar saat senjakala,
Tak
sanggup kupandang,
Hanya
kumohonkan pada Tuhan,
Supaya
terang..
Namamu
adalah bahasa cinta berbentuk doa,
Ia
adalah isyarat yang tersembunyi pada tumpukan kata-kata,
(25
Februari 2016)
Pagi-pagi
saat embun masih jatuh dari ranting-ranting pohon,
Bunyi
kecapi dan
Gamelan
gendang sudah mulai dialunkan..
Lalu
tetamu datang dengan
Rona
wajah bahagia dan doa keberkahan,
Karena
kedua mempelai telah halal duduk berdua di pelaminan..
Dan
aku masih memakai busana kebanggaan para pagar-bagus dengan senyum yg menawan,
Sebetulnya
aku sedang menanti seseorang di masa depan..
(4
April 2016)
Akhirnya
dahagaku sirna,
Saat
kulihat pesawahan penuh padi berubah jadi kebun kelapa yang ramai..
Saat
mulai terhirup udasar pesisir dan kucium bau aiar garam lautan,
Saat
bau bangkai ikan asin melayang-layang dari pasar ikan,
Menusuk
bulu-bulu penciuman..
Kutatap
gelora deburan ombak di pantai,
Kupandang
banyu berwarna kehijauan, kebiruan, dan kehitaman,
Dan
kulihat nelayan menjaring udang-udang di ujung pantai..
“Layar-layar
perahu layar”
Kuingat
sajakmu berlayar-layar,
Berlayar
dari sungai ke samudera,
Melayang-layang
di dalam minda,
Semakin
berwarna dan terasa ada..
“Perahu
layarku berwarna biru”
Mengambang
dari daratan ke daratan,
Menjala
rajungan dan barakuda,
Lalu
kita bersenang-senang bersama,
Selama
perjalanan..
“Layarku
berkibar melengkungkan senyuman”
Terlukis
dari kanvas putih wajahmu,
Yang
tulus dan tabah digoyang gelombang,
Yang
sayang pada semua orang,
Layarmu
berkibar-kibar melengkungkan senyumku, sayang..
Aku
pamit pulang dulu,
Sebab
aku perlu menabung rindu,
Pada
hembusan udara lautan, deburan ombak pantai, dan
Sajak
layarmu yang terkembang..
(9
Maret 2016)
Jangan
benci angin bila tak ingin kegerahan dan,
Jangan
cela hujan bila tak ingin kepanasan, jangan sesali pohon karena,
Melepaskan
dedaunannya dan jangan marahi daun yg pergi untuk mencintai..
(4
April 2016)
Kau
tahu bahwasanya sungai ada sumber mata airnya,
Sebagaimana
kanvas jadi bergambar karena ulasan dan warna,
Aku
butuh perigi,
Kumohon
kau jangan pergi..
(13
Maret 2016)
Tertutuplah
senjakala,
Saat
cahaya merah mulai menghitam,
Lalu
Tuhan menghidupkan rembulan dan gemintang,
Akan
kubacakan kisah dari perkamen usang..
Akan
kusematkan potongan-potongan kosong agar kau tak bengong,
Agar
kau menerka kemana kata dan kita akan tergerak,
Karena
kau bisa jadi ada dalam alur kisah perkamen usang..
Bahwasanya
kita bertemu saat tangan Tuhan menakdirkan kita bertemu,
Kamu
tahu, bagaimana tidak?
Tuhan
memegang ubun-ubun diriku dan dirimu!
Malam
terlalu gulita hingga membutakan bola mata,
Kulihat
hanya cahaya dalam ilusi,
Tanpa
nyata..
Bukannya
aku tak mau berbagi hati,
Kamu
tahun sendiri bahwa sekerat hati yang sekarat sudah hampir mati..
Dari
jamu hingga operasi tak bisa buat hati hidup lagi,
Cuma
bisa bikin terasa segar sebentar..
(9
Maret 2016)
Apa
kau tahu,
Rasanya
duri yang menempel pada gusi-gusi gigi?
Atau
apa kau tahu,
Rasanya
onak yang tertancap pada sela kulit alas kaki?
Atau
apa kau tahu,
Jarum
peniti yang menusuk jari-jemari?
Dan
apa kau tahu,
Ada
rasa yang mulai menjalar dalam hati?
(22
Desember 2015)
Aku
padamu,
Seperti
memintal rindu hingga jadi gelang yang melingkari tanganmu..
(9
Maret 2016)
Kau bukan sampingan,
Dirimu lebih dari sekedar teman..
(1 Mei 2016)
Hujan
sore…
Seperti
kemarin-lusa saat kau duduk di sampingku
Merintikkan
tetes-tetesmu
Pada
keras kepalaku.
O
hari ini jantungku berdegup,
Duduk
dalam ancaman
Berdiri
dengan sangkaan
Berlari
demi kelulusan
Terakhir,
aku hampir menyuruhmu pergi
Jangan,
sungguh aku hanya takut
Bagaimana
menjadi mercusuar padahal aku dalam malam?
Tahukah
engkau?
Aku
mencoba tegar walau tersayat,
Memimpikan
dia dengan yang lain
dan
aku tak pernah membuatnya tertawa lepas
dalam
pangkuanku
cintaku
masih berbatas,
belum
berpalung dan menjadi samudera
belum
menggunung dan menjadi sahara
cintaku
masih berbatas sakit
hujan,
temani aku hingga habis sakitku
alirkan
pada hati yang lapang memaafkan dan cinta yang tak berbatas
untukmu,
tolong
jangan pergi
bahwa
aku masih terus berusaha
jadi
sosok ksatria cerdas, tangkas, dan berbudi luhur
sampai
batas waktuku
(15
Januari 2016)
Baru
sehari,
Kami
tinggal dalam bui
Mulai
bias antara nista dan bahagia
Mulai
lupa apakah nista atau maksiat
Duhai,
Rabbi…
Bintik-bintik
ini mulai menyebar
Menggerayami
jemari, mulut, mata, kaki,
Tubuh,
otak, dan hati
Ya
Tuhan Yang maha Suci.
Aku
terjerembab pada sebulan serumah bersama,
Bersama
wanita-wanita,
Wanita
ahli dunia,
Dunia
bukan sorga
Aku
takut binasa
(15
Januari 2016)
Selepas
shubuh kita bertemu,
Di
bawah sabit yang belum pamit,
Kita
saling melepas rindu yang tertawan semalam,
Yang
rasanya amat lama..
(29
Maret 2016)
Kudengar
kabar kemarin sore,
Bahwa
kau dilamar anak ulama dari Kotamu,
Tentu
saja kau tak tahu bagaimana perasaanku,
karena
aku masih menyimpannya baik-baik dihatiku..
Apa
tiga bulan cukup untuk mempersiapkan pesta pernikahan kecil-kecilan?
Karena
saat Mei kukirimkan secarik permintaan,
Kau
dapat memberi kabar di bulan Mei juga atau Juni,
Sehingga
juni atau Juli aku dapat melamarmu,
Lalu
September tibalah saatnya pesta pernikahan kecil-kecilan itu..
Bila
sebelum itu kau menerima lamarannya,
Maka
aku bukan untukmu,
Meski
sepanjang hari aku merindukanmu,
Kalo
jodoh siapa yang tahu..
(25
Maret 2016)
Siluetmu
adalah untukku,
Supaya tak kutatap senyummu
Supaya tak kudengar ucapanmu
Supaya tak kucium aromamu..
Bayanganmu
adalah untukku,
Sehingga dapat kutatap rambutmu
yang terkibar
Sehingga dapat kudengar deburan
ombak
Sehingga kucium aroma senja..
Namun
sayang kau tak dapat kubawa pulang..
(13
April 2016)
Aku
takkan jauh-jauh mencarimu,
Jika
dirimu tak pernah kulihat dan berbentuk bayangan di masa depan,
Aku
hanya akan bersujud kepada Tuhan,
Kutemui
Dia, Tuhan yang menciptakan aku, dirimu, dan sebuah pertemuan..
Bila
aku sedang bersujud dan meminta,
Kuharap
kau juga sedang melakukan hal yang sama..
(18
April 2016)
Kau
hanya perlu menjadi dirimu sendiri untuk mencintaiku,
Itu
cukup..
(14
februari 2016)
Aku
ingin segera memejamkan mata,
Agar
bertemu denganmu di alam rasian..
Aku
dan dirimu berdiri di balkon rumah,
Memandang
cakrawala yang bening dan cerah,
Lalu
kita saling menatap dan kulihat iris matamu yang cokelat,
Dirimu
tanpa kata namun berbahasa lewat isyarat yang tersirat..
Tudung
kepalamu violet,
Menjulur
menutup hingga ke dada,
Lalu
gaunmu terjatuh hingga hampir menyisir lantai,
Serupa
saat mula-mula kita bersua di selasar surau,
Sehingga
kau tampak anggun dan dewasa..
Namun
mataku tak patut memandang gerhana yang menyala,
Walau
gerhana itu cantik dan langka,
Aku
cukup hanya mencintai dengan wibawa,
Dan
melihat dari pantulan cahaya dalam kaca..
Di
alam rasian,
violet
bersalin jadi alam penjagaan dan penantian..
(13
Maret 2016)
Air
itu bisa tergenang atau bertetesan,
Ia
adalah air sebagaimana nalurinya,
Hanya
ada hal yg ternyata membuat pilu,
Yakni
mempertanyakan kemurniannya..
Apakah
jernih lagi suci sehingga menyehatkan, ataukah
Berjentik
kotoran sehingga membahayakan..
Api
juga demikian,
Ia
adalah hangat dan panas,
Ia
adalah api sebagaimana fitrahnya,
Hanya
ada satu hal yg membuatnya pilu,
Yakni
dipertanyakan keperkasaanya..
Apakah
kuat dan ramah sehingga membuat nyaman,
Ataukah
brutal sehingga membakar dan meluluhlantakkan..
Maka
aku, air, dan api bersanding,
Berencana
berfitrah karena Tuhan,
Lalu
kami adalah makhluk yg berterima,
Pada
gurat takdir di Lauhul Mahfudz..
(7
April 2016)
Aku
ingin memilikimu dengan kewajaran,
Menahan
rasaku sehingga engkau tak tertawan,
Menjagamu
agar tak pergi meninggalkan,
Aku
ingin mencintaimu hingga tanah keabadian..
(21
Desember 2015)
Hatiku
jengah,
Pikiranku
parah,
Tubuhku
makin lemah,
Aku
tak kunjung berubah..
Allah,
aku memujamu dan memujimu,
Tolong
aku, Tuhan…
Masukan
aku pada cahaya dan tetapkanlah,
Aku
ingin menenggak mata air kesyahduan bersama-Mu
Memeluk
Rasul-Mu, Muhammad..
Ya
Rabbana, Engkau penggenggam jiwaku,
Penatap
pandanganku,
Peraba
perabaanku,
Pendenagr
pendengaranku,
Pencium
penciumanku,
Perasa
perasaanku,
Izinkan,
hijrahkan aku karena-Mu..
Aku
lelah Tuhan..
(26
Maret 2016)
Aku
pada diriku adalah seperti mendirikan kembali pohon yang rubuh,
Seperti
meluruskan kembali besi yang berkarat dan patah,
Seperti
memenjarakan kembali binatang yang binal dan buas..
Aku
dan diriku adalah pergulatan,
Antara
zenith dan nadir perjuangan,
Antra
menyiasati diri yang pandai bersiasat,
Antara
aku dan diriku..
Aku
dan diriku seperti perjudian,
Yakni
beradu antara strategi dan keberuntungan,
Yakni
bertemu antara kasar dan kelembutan,
Yakni
bertaruh antara kemenangan dan kekalahan..
Aku
pada diriku adalah peradukan,
Pada
memori hari kemarin yang berwarna gelap,
Pada
kenyataan hari ini yang mendebarkan,
Dan
pada mimpi dan harapan indah masa depan..
Atas
peperangan antara aku dan diriku,
Tuhan
yang tahu..
(18
April 2016)
Al-Kahfi, bunda..
Kata Nabi, surat ini dapat membuat wajah
berseri-seri.
Logika iman, bunda, bukan logika kebendaan..
Karena aku kembali ingat jika setelah Al-Kahfi
ada Maryam.
Keduanya adalah anugerah, bunda..
Dan semoga keberkahan itu untuk bunda dan untuk
kami..
Aku bersiang hari dengan doamu yang tak berhenti
membumbung tinggi ke langit.
Dengan selarik doaku, aku memanjatkan doa
kepada-Nya.
Semoga kehendakmu dan keadaanku bertemu dalam
kehendak Allah,
Dan kesabaran kita..
30 April 2016
Jangan
engkau bermain api,
Jika
engkau tak terbakar,
Mungkin
orang lain akan kepanasan..
Api
bukan untuk dimainkan namun untuk dimanfaatnya,
Untuk
digunakan pada saat yang tepat,
Tidak
perlu kau umbar,
Tidak
perlu kau habiskan,
Simpanlah
dengan baik agar saatnya tiba,
Kau
dapat membikin tungku api yang menghangatkan..
(28
Maret 2016)
Mata air awan mulai memancarkan air matanya,
Ia menetes pada genting-genting sehingga membuat
ratusan air terjun baru,
Tapi ada air terjun yang sangat menarik
perhatianku,
Bahwa air matamu ikut mengalir bersama cinta
yang kau pendamkan..
(19 April 2016)
Aku
adalah ayah dari ratusan-buah tekad,
Segumpal
azzam yang tak bulat, tak putih, dan tak bercahaya,
Lebih
seperti seonggok daging yang mulai busuk,
Sebutir
telur “kacingcalang” yang baunya
teramat bau,
Seperti
sampah yang terlalu lama tak dibuang..
(22
Desember 2015)
Aku
terhenti dibatas senyap
Sudah
haus aku dalam dahaga
Dibawah
siraman panas membara mentari muda
Sungguh
mataku telah membusuk karena terlalu lama tersimpan dalam kelopaknya
Kini akan ku bersihkan dengan
kerikil, angin, dan tajamnya peluru pembelaan
Disini, di medan kebenaran dan
perjuangan
Perih..
Sangat
perih..
Laksana
sayatan sejuta pedang
Kurasakan
tetesan air mata membasahi setiap pori baju kemaksiatanku
Aaaaah
sialan aku!
Kenapa
aku seperti itu?
Sekarang
mati kau!
Ini
balas dendamku atas semua kesalahanku
Aaaaa
mati aku!
Dengan
merah darah di bajuku
Biarkan...
Setidaknya
bukan hitam legam warna kemaksiatan
(16 Februari 2013)
Aku berkaca
pada malam,
Dan kulihat
wajah yang kusam dan muram,
Lampu
pondokkan sudah temaram,
Aku kian
padam..
Aku mendengar
lantunan ayat Quran,
Dari mulutku
yang masam,
Suara Tuhan
terdengar diam,
Aku kian
karam..
Aku menabur
diri dengan dendam,
Pada luka
bernanah pada silam yang runyam..
Pada dendam
yang belum tenggelam,
Pada masa
depan yang belum tersulam,
Aku kian
geram..
Aku ingin
terpejam,
Mencintai
tanpa gumam,
Tanpa kalam
yang berlanggam,
Bahkan tanpa
diam..
30 April 2016
Menangislah
pada samudera yang Allah siapkan untuk menamping lautan tangisan,
Jangan
pada cawan yang mungil dan bocor ini,
Bersandarlah
pada gunung yang Allah telah pancangkan dalam-dalam,
Jangan
pada pasak yang mudah goyah ini..
Bicaralah
pada-Nya lewat langit yang masih basah karena hujan,
Jangan
hanya dengan mulut kau bicara..
(18
April 2016)
Memilihmu adalah seperti mencari
satu di antara milayaran bintang yang akan jatuh di angkasa,
Akan terlalu lelah bila menanti
bintang mana yang akan jatuh kapan dan dimana,
Oleh karenanya sia-sialah menunggu
terlalu lama dan,
Percuma menerka-nerka belaka,
Yang pasti bahwa di antara milayaran
bintang itu ada satu bintang yang akan jatuh pada rasa,
Tepat saat tiba waktunya..
(11 Juni 2016)
Aku
terhenti dibatas senyap,
Sudah
lelah aku terdiam dalam dahaga,
Kini
Tepat dibawah siraman panas mentari muda,
Mataku
telah busuk karena terlalu lama disimpan dalam kelopaknya,
Saatnya,
ku bersihkan dengan kerikil angin dan tajamnya peluru pembelaan,
di
medan Palestina!
Perih..
Sangat
perih..
Mengguyurlah
air mataku membasahi setiap pori pakaian kemaksiatanku,
Aaaah,
sialan aku! Kenapa aku seperti itu.
Mati
kau!
Ini
balas dendamku atas semua kesalahanku
Aaaaa,
mati aku!
Dengan
merah darah di bajuku, setidaknya bukan warna hitam legam kemaksiatan.
Aaaaaaaaa
(12
Oktober 2012)
Tuhan
ajari aku caranya melupakan,
Seperti
hujan yang menghapus debu bebatuan,
Menghapusnya
kembali saat debu kembali datang,
Dan
aku ingin melenyapkan memori pada lorong-lorong ingatan..
(5
April 2016)
Di
selasar istanamu,
Aku
bahkan tak lagi ingat doa dan dzikir yang dulu kuhafal,
Hanya
terduduk, menenggelamkan kepala pada dada.
Tersungkur
dalam lamunan panjang tetapi terhampa.
Bengong!
Waktu
itu dimana diri-Mu?
Mengapa
aku malah beranjak dari rumah-Mu?
Padahal
Engkau ada di Singgasana Arasy..
Apakah
Engkau tak mengundangku?
Tuhan,
aku takut Engkau membenciku.
Cintai
aku lagi,
Rukuk
dan sujudkanlah aku,
Takbirkanlah
dan tahlilkanlah aku,
Hidupkan
dan matikan aku,
Dalam
kasih sayang-Mu..
(9
Maret 2016)
Aku
ingin mencintaimu dalam penjagaan,
Dalam
pandangan yang tertunduk dan hati yang khusyu’,
Dengan
shaum sunnah agar mampu membendung rasa,
Dengan
shalat malam dan dhuha agar doaku cepat dikabulkan Tuhan..
Aku
ingin mencintaimu dalam penjagaan,
Mereduksi
namamu yang mulai hanya satu di hatiku,
Mengubah
cinta kepadamu jadi cinta sempurna pada Tuhan,
Lalu
mencintai apa yang dicintai-Nya..
Aku
ingin mencintaimu dalam penjagaan,
Bukan
permainan cinta asal-asalan,
Bukan
membuatmu hina dari kemuliaan,
Sehingga
membiarkanmu bergumul dengan setan..
Aku
ingin mencintaimu dalam penjagaan,
Membiarkan
bunga tumbuh jadi mawar yang merekah,
Dan
saat kehalalan itu tiba maka aku akan mencintaimu dengan ridha,
Sehingga
kita bisa meraih surga bersama-sama..
(7
Februari 2016)
Detik jam mungkin berjalan maju,
Jarum jam berputar mengelilingi angka tujuh ke
tujuh,
Namun sejatinya waktu tidak dapat berhenti
kembali bahkan berhenti..
Semakin tualah para pemuda,
Semakin rentalah badan yang perkasa,
Semakin keriputlah wajah yang tampan dan cantik
jelita,
Dan semakin dekatlah para makhluk pada akhir
kehidupannya di dunia..
(19 April 2016)
Kau adalah hal baik yang
kuperjuangkan,
Walau pergulatan takdir ada pada
Lauhul Mahfudz,
Semoga doaku dapat Allah kabulkan,
Bersanding denganmu setepatnya
waktu..
Aku percaya bahwa apa yang
kuperjuangkan,
Allah akan balas dengan
semanis-manisnya balasan..
Jika balasan doaku rupanya ada
dirimu,
Aku tak bisa apa,
Aku bahagia..
(3 Juni 2016)
Bulan
nampak dingin dan perkasa menutup sang mata siang,
Membentuk
segurat senyum cantik pada mega biru yang mulai temaram,
Dalam
langkahnya Bulan berkata,
“Janganlah
kau terlalu mengangkat kepala..”
Hai
dengarkan,
Bahwa
cintamu perlu jarak dan penantian,
Tabahkan
penjagaanmu pada harapan hatimu itu.
Datanglah
dengan tepat tanpa terlalu jauh atau dekat..
Matahari
masih menjulurkan lidah-lidah api dari punggung sang dewi malam,
Menampilkan
gelora hasrat yang menggebu hebat,
Lalu
sambil menahan panas Bulan berkata,
“Tenanglah,
akan tiba saatnya bersua..”
Lantas
Bulan dan Matahari berjalan kembali ke peredaran,
Bersama
mencintai Bumi dengan wajar dan
Tulus
dan paksaan..
(13
Maret 2016)
Rabbana
aku lelah menjadi manusia yang selalu mengulang salah,
Semenjak
dulu hingga sekarang aku mendustakan-Mu,
Sesekali
yakin Engkau ada namun selebihnya aku melupakan-Mu,
Aku
ini pendusta ulung..
Penciptaku,
saat aku tulisa pesan ini mungkin aku akan mengulangi hal yang sama,
Telah
kutulis pesan penghambaanku ini pada-Mu puluhan kali,
Namun
penyesalanku hanya sesaat,
Lalu
hilang dihembus masa..
Wahai
yang Maha menambatkan hati,
Aku
sempat diam dalam penjagaan :
Dengan
perempuan dan dengan Al-Quran.
Aku
cukup senang,
Namun
perjanjianku hanya sesaat,
Lalu
hilang ditelan perpisahan..
(17 Februari 2016)
Dalam
hujan,
Tuhan
memperkenalkan dirinya pada makhluk-Nya,
Allah
maha lembut dengan rintik-rintik yang menetes dari langit,
Bahwa
ada Dzat yang mengatur kran-kran hujan,
Tuhan :
Aku turunkan kepadamu kebaikan maka bersyukurlah
(14
Juni 2016)
Sesekali
cobalah berlarian pada hujan kecil,
Menginjak-injak
genangan air
Sembari
berkas-berkas skripsi masih dalam gendongan,
Rasakan
aliran air yang merasuk dan merayap lewat kulit-kulit dewasa kita,
Cobalah
sesekali jadi bocah kecil yang riang siang dan malam..
Akan
tetapi ingatlah hujan yang membesar membawa kawan,
Berupa
kilatan-kilatan petir dan gemuruh guntur yang menakutkan,
Ingatlah
hari ini dan esok ada ujian..
Sesekali
ciumlah aroma alam sehabis hujan,
Dengarkan
nada damai yang diiringi kicauan burung yang senang,
Sembari
mengeringkan rambut dan berkas-berkas skripsi kita,
Ingatlah
bahwa kita manusia,
Yang
diciptakan sepasang dengan luka dan suka ria..
(13
Maret 2016)
Tuhan
aku mengadu atas sikapku sendiri,
Dalam
hatiku ada manusia, wanita, harta, dan sampah,
Istighfarku
kotor,
Tuhan
ampuni aku atas istighfarku..
(13
April 2016)
Kuminta
jalan keluar,
Tuhan
aku lapar!
Kuminta
manna dan salwa, makanan langit itu..
Aku
ingin jalan keluar!
Bak
laut mati yang terbelah tongkat kayu itu,
Tuhan
temani aku..
(9
Maret 2016)
Jangan lelah api membara,
Jangan jengah salju membeku,
Jangan kalah air mengalir,
Jangan salah angin berhembus..
(4 Mei 2016)
Cinta itu seperti hujan,
Entah tak tahu kapan dimana ia akan jatuh..
(1 Mei 2016)
Jikapun
ada, cintai aku dengan iman dan taqwa,
Jika
kau mencintai jasad,
Jika
kau memuja rupa,
Jika
mendamba harta,
Jjika
kau ingin kuasa..
Maka
cinta akan binasa,
Seperti
rupa yang akan tua,
Seperti
harta yang tak kan tersisa,
Seperti
kuasa yang sementara..
Maka
jika memang aku untukmu,
Cintai
aku dengan sederhana,
Jikapun
ada,
Cintai
aku karena iman dan taqwa..
(9
Maret 2013)
Malam
ini bulan menyabit pada langit yang temaram,
Seperti
ujung pena yang basah karena tinta,
Dan
kulihat Ia menuiskan namamu,
Pada
awan malam..
Sehingga
saat kulihat pada langit,
Namamu
tergores indah dengan tinta emas,
Terang
memantulkan cahaya..
Lalu
gemintang seperti lampu disko yang
Menemani
kesendirian dan penantian,
Bahwa
harapanku kembang-kempis,
Menunggu
takdirku segaris dengan takdirmu..
Namun
malam ini akan kuhabiskan waktu,
Dengan
menghapus namamu,
Menenggelamkan
hingga karam..
(18
April 2016)
Kau adalah angin yang terbang dari genggaman
pada mega,
Adalah jarak yang tak dapat kuusahakan..
Kau adalah orchestra yang telah habis
kudengarkan,
Adalah suara yang hilang dari pendengaran..
Kau adalah gula yang telah lenyap kuecap,
Adalah ada yang berganti pada ketiadaan..
Kau adalah hujan yang reda,
Adalah kebersamaan yang tiba pada kesendirian..
(30 April 2016)
Akan
lebih baik jika kamu tetap terlindung kelambu dan malu,
Atau
akan lebih bagus jika kamu segan pada lelaki,
Karena
akan jadi tidak seronok jika kamu terlalu genit pada lensa sehingga
Terserak
pada pikiran dan ratusan-pasang mata-keranjang..
(29
Maret 2016)
Tuhan,
setelah sembahyangku,
Air
wudhu masih mengalir pada daguku,
Tapi
kulihat doaku terkantuk kubah Masjid,
Menggumpal
menjadi genangan kata tanpa makna dan asa,
Tuhan
ampuni hamba..
(13
April 2016)
Jika aku tahu yang mana mata Tuhan,
Aku takkan mudah terlenakan,
Kebusukanku adalah aku tak melihat mata Tuhan
yang memandang,
Aku melihat dinding-dinding diam..
Bila sampai pada saat tulang belulangku keropos,
Wajah dan rambutku kusam,
Aku semakin keliru dan jauh berjalan
meninggalkan,
Apa taubat itu sebatas penyesalan dan gagasan?
Angkat tangan saat takbirku ibarat takut pada
musuh,
Ruku-ku seperti megagungkan raja dan sultan,
Bahkan sujudku bak hanya gerakan yoga untuk
kesehatan,
Atau tengadah tanganku saat berdoa seperti
pengemis yang minta-minta duit pada manusia..
Ya Salam,
Aku di selasar Rumah-Mu,
Aku memandang pada ruang utama tempat orang
sujud dan meminta,
Adakah engkau di dalam sana?
30 April 2016
Bunga
Melati terhampar,
Yang
putih memilin di Gapura ruangan,
Memahkotai
kerudungmu dengan wajah yang berbinar,
Serta
mengalung pada leherku di pesta pernikahan..
(28
Maret 2016)
Mencintaimu adalah mencintai ketiadaan,
Mencintai takdir yang Allah akan goreskan..
Mencintaimu adalah mencitani penantian,
Mencintai waktu yang Allah akan sampaikan..
Mencintaimu adalah mencintai penjagaan,
Mencintai perjuangan dan pengorbanan yang Allah
akan berikan..
(4 Mei 2016)
Mencintai Tuhan adalah mencintai tanpa takut
bertepuk sebelah tangan,
Tanpa khawatir salah mengomunikasikan maksud
hati dan perasaan,
Tanpa perlu gagap mencurahkan rindu untuk bertemu,
Tanpa perlu mengatur masa untuk berjumpa,
Tanpa perlu meminta kepada slain-Nya untuk
mendapat ridha dan Surga-Nya..
(10 Mei 2016)
Tak usah mendekap ketiadaan dan ketidakpastian,
Karena walaupun kuat kau mendekap,
Tetap saja yang tiada tetap tiada..
(2 Mei 2016)
Bagaimana menghilangkanmu dari mimpiku?
Kurasa engkau terlalu sering muncul dalam
bagian-bagian dari mimpiku.
Seperti semalam,
Saat aku mengajakmu berbicara tentang pekerjaan
kita,
Engkau berkenan.
Lalu kita duduk di atas reruntuhan bangunan,
Kau menghadap ke Barat dan aku menghadap ke
Timur.
Karena bosan, maka aku mengubah arah dudukku
sehingga mengarah ke jalanan.
Rupanya kau juga mengarahkan badanmu ke arah
jalanan.
Kulihat sesekali kau melihatku,
Sebetulnya aku tersipu malu dan bahagia.
(30 April 2016)
Menangislah
pada samudera yang Allah siapkan untuk menampung air mata,
Jangan
pada cawan yang mungil dan bocor ini..
Bersandarlah
pada gunung yang Allah telah pancangkan,
Jangan
pada pasak yang mudah goyah ini..
Bicaralah
pada-Nya lewat langit yang masih basah karena hujan,
Jangan
hanya dengan mulut kau berkata..
(11
April 2016)
Mencintaimu
adalah seni bersabar,
Mencintaimu
adalah seni menjaga,
Mencintaimu
adalah seni memungkinkan sesuatu terlaksana,
Mencintaimu
adalah seni berdoa dan pasrah kepada Tuhan..
Mencintaimu
adalah seni berkomunikasi,
Mencintaimu
adalah seni menyimpan rahasia,
Mencintaimu
adalah seni membiasakan diri,
Mencintaimu
adalah seni berdoa dan pasrah kepada Tuhan..
Mencintaimu
adalah seni tak menjadikanmu dewa,
Mencintaimu
adalah seni membuatmu bertumbuh dan berkembang,
Mencintaimu
adalah seni mendidik jadi istimewa,
Mencintaimu
adalah seni berdoa dan pasrah kepada Tuhan..
Allahu
Akbar, tiada nama yang paling agung dari nama-Mu,
Bismillah,
aku buka dengan nama-Mu bukan nama selain-Mu,
Qulhuwallahu Ahad,
Engkau hanya satu dan Engkau tujuanku. Tak ada niat selain pada-Mu.
Subhana Rabbial
a’dzim, Nama-Mu akan selalu yang paling agung. Tuhan
semesta alam.
Subhana Rabbial
a’la,
Nama-Mu yang Maha Mulia.
Assalamu’alaikum,
semoga kasih sayang, kedamaian, dan ketenangan hati sampai kepadaku. Dan semoga
keselamatan sampai padamu.
(18
April 2016)
Rintik hujan itu berisik,
Tapi uniknya ia menarik.
Merintiknya adalah bukan untuk menyakiti namun,
cara Allah menunjukkan kasih sayangnya pada
makhluknya..
lagipula, berisiknya itu harmoni.
Ada yang memukul genting rumah,
menghantam batu dan tanah,
menetesi dedaunan, atau tergenang pada lobang di
jalanan.
Orchestra hujan..
Aku tak pernah tahu berapa banyak melodi dan
lagu yang ia mainkan,
Karena semenjak aku dulu menari hingga hari ini
menikmati ketenangan dalam hujan,
Bahwa aku tak pernah bisa dengan hujan.
Hujan menemani saat sendiri ataupun saat
bersama-sama..
Standing applause! Dan bersyukur kepada Allah
karena bisa melihat, mendengar, dan merasakan harmoni hujan..
(30 April 2016)
Sebelum aku
istirahat, putri
Aku ingin berlagu
terlebih dahulu,
Karena patah hati
agak sakit rasanya,
Dan mataku sedang
belajar tertutup sempurna..
Aku mesti
menegapkan kembali menara yang miring,
Serta menguatkan
lutut-lutut yang lemas,
Karena hakikatnya
hidup bukan drama dan aku bukan sutradaranya,
Hidup dan mati
miliki Tuhan,
Raja semesta alam..
Kemarin,
Kurangkai ribuan
kata yang terserak,
Kukumpulkan jari
ratusan sajak,
Kuikat jadi sebuah
rencana besar,
Namun rupanya
takkan kuat untuk tak rusak,
Melawan takdir..
Lebih baik
mencintai pada masanya,
Saat putri dan
pangeran datang dengan lewat jalur yang tepat,
Dan baik rupa serta
agamanya,
Yang diikhlaskan
sebagai rekan pelayaran..
Malam ini,
Sepertinya aku tak
jadi menutup mata cepat-cepat,
Harapan dan mimpiku
belumlah padam,
Harus kuselesaikan
skripsi dan mulai cari penghasilan,
Dan lalu kukirimkan
padamu sebuah lamaran..
(6 April 2016)
Kita
berdua telah ada,
Sedang
berjalan di permukaan bumi yang sama,
Terhembus
angin yang sama,
Merasakan
hangat dari matahari yang sama,
Beratap
langit yang sama,
Bahkan
mungkin bertemu dalam satu ruangan yang sama,
Namun
hanya saja belum berjumpa..
Apakah
semalam atau ratusan malam dalam penantian,
Menikmati
pagi yang muda dan senja yang makin menua,
Menyertai
dedaunan yang gugur dan bunga mawar yang layu dan memekar,
Lalu
berharap pada Tuhan akan sebuah pertemuan..
Saat
jam pasir waktu sampai pada butir yang tepat,
Dimana
sepasang mata memandang sepasang mata yang lain,
Dan
jemari menggenggam jemari yang lain,
Saat
dua rasa disatukan dalam ruangan yang sama,
Yakni
hari pernikahan..
(15 Maret 2016)
Aku
berdiri pada stasiun penantian,
Menunggu
datangnya satu pasangan dengan jari tergenggam,
Saat
inginku datangnya kebersamaan,
Mencapai
ketenangan dalam sebuah perjuangan..
Aku
belumlah dapat satu orang yang rela berdampingan dalam sengsara,
Menemani
langkah mengayuni roda-roda kehidupan,
Yang
berkelok terjal nan panjang,
Dan
penuh ketidakpastian..
Duhai
aku agaknya menunggu terasa lama,
Hingga
kerak dan lumut hidup lebih dulu datang memeluk badan,
Menggodaku
untuk tetap diam di stasiun pemberangkatan,
Aku
takut terlalu senang dengan pandangan dan angan-angan harapan,
Aku
takut kau tak kunjung datang..
(13
Maret 2016)
Apakah
jadwal cinta tak selalu datang tepat waktu?
Padahal
aku telah sanggup melakukan perjalanan jauh,
Padahal
aku telah siap jadi nahkoda dari bahtera di lautan,
hmmm
hmmm hmmm Tuhan yang menentukan jadwal keberangkatan..
Tuhan,
Lihatlah
aku telah membawa bekal yang cukup untuk sebuah perjalanan,
Tubuhku
sehat dan kuat diterpa dingin dan panas,
Akalku
cerdas dan tangkas meracik minuman dan makanan..
Mungkin
kau ingin aku sabar dalam penantian,
Baik
Tuhan maka aku akan ikhlaskan..
(13
Maret 2016)
Yang terkubur tak
harus membusuk,
Yang terkubur malah
mahal,
Yakni permata yang
terpendam,
Tersimpan dalam..
Hurun’in, bidadari
bermata jeli,
Bulat nan bersinar,
Menatap mesra,
Memancarkan
kebeningan hati pemiliknya..
Engkau, tak perlu
menonjolkan diri,
Agar orang tertarik
hati,
Cukup bersabar dan
semakin mahal,
Karena para
penggali tahu benar,
Tempat barang
berharga berada,
Dengan insting dan
usahanya..
Ada saatnya permata
diluruskan,
Diasah, dan
dibentuk oleh ahlinya,
Meluruskan dengan
lurus,
Adapun para
bajingan,
Cuma pintar melucu,
Memain-mainkan
perkakas,
Lalu menggali tanpa
ilmu..
Wahai permata yang
terjaga,
Bersabarlah, dan
Semakin mulialah
engkau..
(28 November 2015)
Aku
takjub pada pesona iman
Atas
tegasnya ia percaya,
Mengucap,
dan beramal bahwa Tuhan itu satu!
Atas
penghambaannya yang khusyu
Atas
akhlaknya yang tinggi nan mulia
(15
Januari 2016)
Puisi adalah maksud hati yang dibungkus dengan
diksi,
Puisi adalah catatan harian yang dipadu jadi
larik-larik yang dipadupadankan,
Puisi adalah mozaik rasa yang tersimpan rapi
dalam spasi dan kata berima..
(19 April 2016)
seperti mengukir angin,
atau mewarnai bongkahan es dengan
cat air,
atau seperti menulis pada pasri lalu
tegerus ombak,
aku berharap pada yang tak layak
diharapkan,
kekahwatiranku cuma satu yaitu aku
tak kuat bertahan..
padahal rambut sudah beruban,
dan langit berkali-kali tak
berrembulan,
andai aku mengerti bahasa Tuhan,
kuharap aku lebih bertahan dalam
kesabaran..
(10 Juni 2016)
Kau perlu tahu bahwa aku kini sedang
menunggu Tuhan,
Apakah pada sajadah, saat berjalan,
atau saat merenung di taman..
Namun Tuhan punya rencana-Nya
sendiri,
Sedang aku tak tahu guratan hidup
yang tertulis di Lauhul Mahfudz,
Namun selarik doa senantiasa
kulantunkan,
Semoga Tuhan tak enggan memberiku
ketabahan..
(10 Juni 2016)
Bagai awan pada daratan,
Rinduku terpaut jarak dan penantian..
(9 Mei 2016)
Dan
lalu aku sudah berganti seragam,
Dari
jas megah dengan secarik kain bertambal-tambal,
Kau
telah tahu bahwa kehormatanku adalah hasil pinjaman,
Dan
ini sang empunya telah meminta bagiannya..
Sejujurnya
aku lebih bahagia pada busana yang sederhana,
Pada
baju dan celana yang tidak berat dengan kebohongan,
Sederhana
yang tertutup rapi dan indah dipandang,
Dan
lalu penilaian ada pada dirimu,
Hanya
saja aku memang sederhana..
(11
April 2016)
Dan
lalu aku sudah ganti seragam,
Dari
jas megah dengan secarik kain yang bertambal-tambal,
Kau
telah tahu bahwa kehormatanku adalah hasil pinjaman,
Dan
kini sang empunya telah meminta bagiannya..
Sejujurnya
aku lebih bahagia pada busana yang sederhana,
Pada
perut yang lebih dekat dengan lapar,
Pada
tidur yang lebih dekat dengan terjaga,
Pada
aku yang dekat dengan Tuhanku..
(18
April 2016)
Di
serambi shubuh aku belum bersimpuh,
Masih
congkak akan keperkasaan tubuh,
Bola
mata terjaga mengurus perkara dunia,
Asyik
menikmati masa muda,
Padahal
makin lama bakal makin tua renta..
(29
Maret 2016)
Aku tak akan jauh-jauh mencarimu,
Jika diirmu tak pernah kuihat dan berbentuk
bayangan di masa depan,
aku hanya akan bersujud kepada Tuhan..
Kucintai Dia Tuhan yang menciptakanku, dirimu
dan sebuah pertemuan..
Bila aku sedang bersujud dan meminta,
Kuharap kau jugasedang melakukan hal yang sama..
(4 Mei 2016)
(1)Matahari
hinggap di jidat
Membakar
pepasir gurun siang ini
Bagai
cerminan diriku hari kemarin
Gersang
bak preman
(2)Langkah
masih selangkah
Padahal
air dan padang rumput masih jauh
Melangkahi
ratusan gunung-gunung gurun
Oasis
bak harapan
(3)Jubah
pangeranku telah dulu lusuh
Kubagikan
dengan nafsu-nafsuku itu
Kudapat
sejumput malu pada diriku
Badan
bak tak bertuan
(4)Ya
Hudan, raja diraja gurun pasir
Diri-Mu
padaku tanpa hijab
Aku
terjerembab
Ingin
meneguk segelas air telaga Surga-Mu
(15
Januari 2016)
Takkan salah hujan merintik,
Takkan salah dedaunan tumbuh,
Takkan salah awan berarak,
Takkan salah hati terpasangkan..
(8 Mei 2016)
Daun bertasbih memuja Tuhan Yang Maha Pengasih,
Dan tersenyum pada langit dan pada tanah,
Lalu menguapkan air pada langit dan menitipkan
salam untuk samudera,
Katanya, “Aku ingin berjumpa..”
(8 Mei 2016)
Aku
berbisik lirih tepat di telinga-Mu,
Jari-Jemariku
tepat tertempel pada jemari-Mu,
Dan
kakiku menempel tepat pada kuasa-Mu,
Bila
doaku kau dengar hamba mohon kabulkanlah..
(13
April 2016)
Yang aku takutkan adalah ketika ada masalah,
Aku
patah..
Walau sebetulnya aku tahu bahwa ada beban dengan
lengan,
Ada
ujian dengan pundak,
Dan
ada problematika dengan sabar dan shalat..
Yang kutakutkan adalah aku tak sadar jika,
Aku
punya Tuhan yang menciptakan kesukaran,
Bersamaan
dengan kemudahan dan kemudahan.
(19 April 2016).
Ya
Muhaimin,
Gerimis
menutupi mataku melihat rembulan,
Lantas
hanya tangankulah yang tengadah ke arah Arasy,
Munajat
atas permintaanku kepadamu..
Bilakah
Engkau membangunkan tidurku,
Dan
Engkau berkunjung ke langit bumi,
Aku
akan bermunajat sekali lagi,
Berbisik
meminta hati yang kokoh dan tak mudah retak,
Hati
yang punya kunci di pintu hati dan kunci di jendela mata..
Bilakah
sampai pada saat dzikir pagiku maka akan kulantunkan lafadz,
"Aku
telah ridha Allah sebagai rabb-ku, dan islam sebagai agamaku dan
Muhammad
sebagai Nabi dan rasulku."
Tuhan,
kumohon agar Engkau memberiku arah yang tepat menuju Surga
Ya
Muhaimin,
Aku
titipkan sebuah nama yang kucintai dan kuhormati,
Yang
kuharap dapat Kau jaga,
Sebagaimana
Kau jaga Maryam ibunya Isa
atau
Fatimah Azzahra untuk Ali Bin Abi Thalib..
Ya
Muhaimin,
Cintakan
aku kepadamu sepenuhnya,
Sehingga
tak ada lagi rongga kerinduan dan pengharapan,
Selain
daripada-Mu
Bilakah
aku mencintai makhluk-Mu,
Jangan
biarkan aku melupakan-Mu,
Buat
agar cintaku dan cintanya ikhlas hanya kepada-Mu,
Jadikan
cintaku dan cintanya adalah cinta dalam rangka cinta kepada-Mu..
(14
Pebruari 2016)
Tentang Penulis
Galih
kurniawan lahir di Ciamis, Jawa barat, 14 Pebruari 1993. Galih adalah mahasiswa
Departemen Ilmu Komunikasi FPIPS UPI 2012. Violet (2016) merupakan tulisannya
yang berisi kumpulan puisi cinta dan doa.
Berkomunikasi dengan Galih :
Telp/WA/Line +62
896 0280 2579
Blog permatakomunikasi.blogspot.com
berikut ini adalah link Violet PDF :
Link download Violet - kumpulan sajak cinta dan doa