Kamis, 17 November 2016

Diary

Alhamdulillah, saya mendapatkan buku diary kembali. Buku diary sebelumnya telah habis ditulis. Seorang pemateri seminar berkata, "Milikilah buku catatan terbaik untuk menuliskan kisah hidupmu." Cerita terbaik yang pernah kita tahu dan alami. Sejak itu saya mengusahakan untuk menulis di berbagai catatan, dan tentunya di buku diary.

Bagi sebagian orang, apalagi lelaki, diary jadi hal tabu. Mana mungkin seorang laki-laki banyak mencurahkan hatinya pada sebuah buku? Bagaimana mungkin seorang laki-laki menyimpan rahasia? Bagaimana mungkin seorang laki-laki secara teratur dan rapih menulis dalam sebuah catatan? Pertanyaan itu bisa saja muncul untuk menanggapi laki-laki yang menulis di buku diary.

Bagi saya, diary adalah teman yang rela menerima saya apa adanya. Saya berani menerka tak banyak orang yang akan menerima "kebejatan" saya. Namun diary menerima dan menjaga rahasia saya.

Tak ada masalah dengan lelaki yang menulis di buku diary. Lelaki juga punya hati. Lelaki juga punya cerita. Lelaki juga punya bakat dan minat menulis. Lelaki juga punya hasrat ingin bercerita. Lelaki juga manusia. Sudah banyak lelaki yang memiliki karya besar dari rutin menulis catatan yang berisi gagasan dan kisah hidupnya yang menarik.

Sedikit menyinggung Al-Quran surat Al-Baqarah (saya lupa ayatnya) menjelaskan tentang perlunya mencatat transaksi ekonomi. Rasulullah SAW menyuruh sahabat untuk menulis Al-Quran. Sepeninggal Rasulullah SAW, para sahabat berinisiatif menuliskan hadist. Hal ini adalah tanda yang jelas bahwa tradisi menulis terdapat dalam Islam.

Kembali pada diary saya. Buku itu buku baru dengan harga lumayan tinggi dibanding buku biasa. Di sampulnya tertulis "Where there is a Will, There is a way" kutipan yang bagus untuk sebuah sampul buku. Mudah-mudahan menyemangati saya. Halaman pertama bagian dalam, saya tuliskan puisi "impromtu" karena tertuliskan begitu saja. Berikut puisinya :

Di tengah kehampaanku,
Di saat keterpurukanku,
Di masa kesendirianku,
Aku ingin menghirup aroma yang baru,
Aku ingin meraba halaman baru,
Aku ingin bercerita tanpa topeng,
Seperti aku pada cermin.

Saya tak akan menceritakan maksud dan konteks puisi itu. Silakan saja berinterpretasi sendiri. Hehe.

O ya, suatu saat nanti saya akan kumpulkan buku diary yang pernah saya tulis. Lalu saya akan simpan di atas meja, atau suatu tempat yang mudah terjangkau. Saya akan membiarkan seseorang membaca dengan puas siapa saya, bagaimana masa lalu saya, dan bagaimana rencana masa depan saya.

Rabu, 16 November 2016

Puisi : Kacamata

_Lewat lensa kacamatamu, kulihat dua hal yang indah; Nil dan matamu._


Catatan :
Sejak membaca buku akhir zaman (termasuk membahas Mesir dan Nil), maka mulai tertarik dengan negeri timur tengah. Negeri itu adalah negeri permulaan dan akhir zaman. Banyak bashirah Rasulullah SAW yang berkenaan dengan tanah timur tengah.

Sampailah saya pada kekaguman yang bertambah. Menelisik setiap negeri-negeri itu dan kisah apa yang terdapat di tanah itu. Luar biasa, banyak kisah yang menakjubkan yang akan membuat banyak orang akan melirik ke negeri itu.

Nah, karena saya suka puisi maka puisi saya akhir-akhir ini berkenaan dengan apa yang sedang saya pikirkan. Salah satu puisinya ada di awal tulisan ini.

Kamu mau membaca puisi yang taid pagi saya tulis? Meskipun bukan tentang tanah timur tengah, puisi ini menggambarkan apa yang sedang saya pikirkan.

_Sekokoh pohon menghajatkan akar agar tak tercerabut,
akar yang menerobos gelap dan pengap,
menelisik dan terjepit diantara batu dan pecahan kaca..

Selapang pantai membutuhkan batu karang agar tak terkikis,
Karang yang tegar tanpa jeritan dan keluhan,
tanpa tangisan..

Selembut wanita memerlukan pria agar tumbuh jadi permata,
pria yang tak goyang dihambat gelombang,
tak mundur walau digempur,
tak jadi pecundang saat berperang,
tak tergoda wanita jalanan.._

Puisi ini bercerita tentang perlunya seorang pria yang menjadi pemimpin bagi wanita.

Hehe, jadi ngobrol kesana-kemari ya. Ga apa-apa lah yah, thanks udah mampir dan baca.

Rabu, 09 November 2016

Puisi : Cinta Bagi

Cintaku,
Kubagikan pada gelisah, gundah, dan resah,
Pada harap dan doa,
Pada malam dan siang,
Pada sekarang dan hari yang akan datang..

Selasa, 08 November 2016

Quote : Dewasa Istimewa

Bila setiap anak itu istimewa,
Maka setiap orang dewasa juga istimewa.

Puisi : Permata

Menemukan permata pada tumpukan kotoran,
Ibarat mencari air di gurun tak beroase,
Permata mana yang tega menjatuhkan diri pada derajat yang hina?
Maka mencarilah ditempat semestinya mencari,
Bukan mencari permata ditempat kotoran berada.

Minggu, 06 November 2016

Wajah

Wajahmu tak asing,
Lagi-lagi muncul dalam mimpi,
Baru kusadar bahwa aku telah kena candu,
Sedangkan candu itu memabukkan..

Wajahmu tak asing,
Walau kucoba untuk kuredam,
Agar tak muncul di ingatan,
Agar tak mudah untuk kutemukan..

Wajahmu tak asing,
Yang ingin kusingkirkan jadi debu,
Biar terbang entah kemana,
Biar aku lupa..

Wajahmu tak asing bagiku,
Namun aku asing bagimu,
Asing bagi hatimu,
Asing bagi doamu..

Spasi hitam antara bintang

menghitung spasi hitam antara bintang gemintang,
bernafas di ruang angkasa,
menatap esok yang kosong dan hampa..

tidak akan lagi aku sanggupi amanah,
bila perjaka pesakitan semakin lemah,
meski kau tawari lagi,
aku sudah berhenti..

setahun lalu,
saat pertemuan suara lewat udara,
kau berucap aku bisa,
nyatanya tak bisa juga,
sudah kubilang tahun lalu,
aku akan berobat,
tak bisa tobat..

selamat jalan,
karena kau adalah bintang yang menyala,
sedabg aku akan menatap esok yang kosong dan hampa..

Quote

janji untuk melindungi adalah sengketa,
antara aku yang ingin mendekati dengan aku yang ingin menjaga suci.

posted from Bloggeroid

Cerita Hujan

hujan embun berayun-ayun di ujung daun,
yang menggelayut, membulat,
dan tulus teguh kukuh jatuh pada tanah dan bebatuan,
sebagaimanapun kerasnya dataran..

aku ingin merajut senyuman,
seperti hujan menumbuhkan tanaman dan bebuahan,
sebagaimanapun besarnya usikan..

hujan lerai jadi aliran,
lalu lagi bertemu jadi satu,
bergumul dengan samudera,
lalu lagi beterbangan dan mengawan,
hujan embun kembali berayun di ujung daun,
aku ingin senyuman..

posted from Bloggeroid

Puisi Bangsal

*Lompat*
Jiwapun melompat hendak keluar dari badan,
Sebetulnya mati bagi pendosa bukan akhir dari kepedihan,
Namun awal,
Apakah kita bukan pendosa?

*Darah*
Sederas air merah itu tak lagi mengalir di tempatnya,
Tak lagi mengalir di urat-uratnya,
Melainkan sudah bocor melalui mulut, perut, lambung, dan jantung.
Darah bocor kemana-mana.

*Mushola*
Mengapa rumah Tuhan ditinggalkan sedangkan tikar-tikar dipasangkan?
Bukan shalat yang dikerjakan,
Melainkan tidur dipanjangkan.
Mushola kosong untuk berdoa,
Dan sepertinya Tuhan telah menunggu lama makhluknya meminta.

*Rasa*
Bagaimana rasanya kaki dan tangan patah dan terputus saat perang?
Sedangkan kaki yang terkantuk batu jalanan itu begitu menyakitkan,
Bila berbaring masih dapat tertawa,
Bagaimana rasanya saat dicabut nyawa sedang senyum tersungging bahagia?

*Tagihan*
Aku sedang menghitung tagihan,
Bila sehari untuk makan saja menghabiskan 25.000 maka 20 tahun terhitung 182.500.000, atau 60 tahun terhitung 547.500.000,
Belum terhitung nikmat hidup, nikmat sehat badan, nikmat Islam, nikmat iman, nikmat keluarga, nikmat persaudaraan, nikmat tertawa dan bahagia, dan segala nikmat yang banyak itu,
Kira-kira berapa tagihannya?

*Bangsal sebelah*
Tak ada jamuan khusus berbentuk makanan dan iman,
padahal malaikat maut sudah mampir di bangsal sebelah,
Menyabut nyawa dengan raga,
dan mungkin saja sekarang atau esok ia datang,
membawa surat kuasa mencabut nyawa..

*Nasehat*
Nasehatnya,
Meraung-raung melaung-laung,
Menjerit-jerit terpekik-pekik,
Talqin syahadat tahlil takbir,
Lalu,
Dia diam bungkam,
Dingin menghitam,
Dan tangis pasang mata terisak-isak,
Mayat ditutup matanya
(Bangsal, 29 Oktober 2016)

*Keburu Terbang*
Wajah para perawat membatin,
Karena pasiennya hilang nyawa,
Kerumunan dokter menyetrum jantung,
Izrail keburu terbang.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)

*Rotasi*
Pasien lama ada yang pulang,
Pasien baru ada yang datang,
Pasien lama nyawanya ada yang hilang,
Pasien baru menitip harapan.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)

*Pongah*
Apa kau lihat jiwa yang pongah?
Rasa yang meninggi, berkarat, dan mengeras,
Yang bebal dikasih pelajaran,
Yang busuk lantas segera mati,
Tolong titipkan pesan padanya,
Bahwa malaikat maut akan datang mendatangi..
(Bangsal, 29 Oktober 2016)

*Darah Mahal*
Bahan bakar minyak semakin mahal saja,
Namun tak sebanding dengan harga darah segar,
Nilainya sama dengan nyawa,
Tak heran mengapa kekayaan berani digadaikan.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)

Hasrat itu setebal kulit,
Sepanjang tubuh,
Sebesar perut,
Seluas tanah yang dapat terpijak,
Selama usia dunia tersedia,
Sedangkan akhirat jauh lebih lama,
Dunia di depannya bagai sekejap mata.
(Bangsal, 30 Oktober 2016)

Ujian cinta adalah bukan pada saat kaya rasa,
Justru seringkali bermegah-megah lalu lupa,
Ujiannya lebih hebat saat sedang sekarat.
(Bangsal, 30 Oktober 2016)

Seperti dandelion yang terbang tertiup angin,
Menyeruak terlepas dari pusat bunganya,
Begitu sama terkelupasnya jatah usia manusia dari sisanya.
(Bangsal)

Orang bilang bukan saatnya menulis sajak,
Menurutku akan selalu tetap saatnya menanam harapan.
(Bangsal)

Dzikir-dzikir malam selalu terlantun,
Dari bibir-bibir yang bergantin,
Sebagian berdengkur,
Sebagian tafakur.
(Bangsal)

Nak jangan jadi suami yang takut istri,
Jadilah suami yang setia dan berpercaya,
Jangan mau enaknya saja,
Ayo urusi jenazahnya.

(Bangsal)

posted from Bloggeroid

Bangsal : 20

Adalah takdir Tuhan saat kita mendapat tanggal untuk datang, bertemu, dan pergi,
Mungkin pada 20 atau sehari setelah itu,
Mungkin kita tak ingat saatnya datang,
Namun terasa sakit saat menjalani pergi.

posted from Bloggeroid

Kau dan tunas sajakku

Kau telaahlah menunduk ke arah tanah di bawah,
Serabut akar menelisik di antara celah-celah tanah,

Kau pandangilah setangkai batang hijau dan muda,
Yang tumbuh ingin mendewasa,

Kau lihatlah sehelai daun tipis dan bergoyang tertiup angin,
Yang padanya bertumpu sejuta ingin.

Tunas sajakku,
Ingin mengakar,
kokoh,
dan rimbun,
Jangan injak sajak kecilku!

------
Puisi ini tercipta gitu aja. Tanpa konsep panjang-panjang eh lumayan lah jadi sebuah puisi. Inspirasi puisi ini yaitu kadang-kadang seorang pemula atau starter dianggap remeh oleh orang lain. Malah dihina, dijatuhkan, diragukan, atau ditinggalkan. Kasian. Padahal bisa jadi, seseorang itu adalah pejuang yang hebat. Hanya butuh waktu aja.

posted from Bloggeroid

Dandelion di rumah kami

Saya udah cukup lama ga iseng-iseng nulis puisi. Akhir-akhir ini sedang malas menulis. Berikut adalah puisi yang saya buat untuk ibu yang waktu itu sedang operasi.

*Dandelion di rumah kami*
mencintai yang harus membiarkan pergi,
badannya tulus dan tabah menggelayutkan senyuman,
sedang air mata ia tabungkan dalam kesendirian,
melantunkan doa dan harapan panjang pada Tuhan..

Dandelion di rumah kami,
tinggal sendiri,
sebab hanya ia yang bertahan berdiri dan berlari,
bahkan menopang terpaan ujian bertubi-tubi,
"demi buah hati", katanya suatu hari..

Kini,
Dandelion tengah berbaring,
terlentang dan genting,
patah batang membuat tertidur lama,
apa ia akan berdiri dan menyunggingkan senyuman lagi?

aku rindu,
Dandelion di rumah kami

posted from Bloggeroid

Minggu, 02 Oktober 2016

Tutee-ku Alumni Gontor

Banyak kejadian yang membahagiakan dan kejutan menarik hari ini. Alhamdulillah atas izin Allah saya diberi kepercayaan kembali menjadi tutor di Tutorial UPI. Sejak semester tiga, saya telah jadi tutor. hanya semester delapan saya off dulu karena berniat akan menggunakan waktu untuk mengerjakan skripsi. Sekarang saya menginjak semester sembilan. atas izin Allah juga, skripsi saya belum beres. salah satu hikmah yang saya ambil adalah agar saya dapat berkhidmat untuk umat di kampus UPI lebih lama.

Sejujurnya saya sangat bersemangat sekali ketika diinformasikan menjadi tutor bina kader (binder). Hal ini karena binder merupakan program pembinaan Tutorial dengan peserta mendaftarkan diri secara sukarela. Binder berbeda dengan tutorial reguler yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa. Dengan kesukarelaan tersebut, para peserta binder lebih siap untuk menerima pendidikan. Mereka siap untuk berubah. Di samping itu, biasanya peserta binder merupakan mahasiswa yang pernah mengaji atau mengenal Islam di sekolah atau pesantren. Hal ini membuat komunikasi antara tutor dan tutee lebih efektif.

Sebagaimana biasa, pertemuan awal diisi dengan agenda taaruf. Meskipun tak ada penekanan dari pengurus Tutorial untuk mengadakan taaruf, tapi bagi saya hal ini penting. Banyak kaidah mengatakan bahwa perkenalan merupakan hal yang krusial dilakukan saat pertama kali bertemu. Diantara tahapan berukhuwah (saudara) yang saya baca dari buku Majmuaturrasail, saya mendapatkan kaidah taaruf (saling berkenalan), tafahum (saling memahami), dan ta'awun (saling membantu). Majmuaturrasai merupakan kumpulan ceramah dan surat yang disampaikan oleh Hasan Al-Banna. Materi ini juga tercantum dalam buku pedoman binder Tutorial.

Berdasarkan pemahaman tersebut maka saya memberikan porsi taaruf cukup besar. Saya membuka tutoring dengan menyenangkan lalu melanjutkan dengan agenda taaruf. Tentu saya mengenalkan diri saya sendiri terlebih dahulu. Dalam tahap ini saya memperkenalkan diri berupa informasi umum saja. Adapun informasi lebih mendetail biasanya dilakukan pada pertemuan kedua dan ketiga bahkan terus berjalan selama tutoring berlangsung dalam jangka waktu tertentu.

Diantara taaruf yang saya sampaikan adalah sebagai berikut,
Kelompok : Abdurrahman bin auf
Tutor : Galih Kurniawan
Jurusan : Ilmu Komunikasi UPI 2012
Alamat asal : Ciamis
Alamat sekarang : Gegerkalong girang
Hobi : baca, tulis, fotografi, mengamati orang lain, nonton film, jalan2, dst.
No HP serta ID Line.

Saya rasa informasi tersebut cukup untuk mengawali perkenalan awal. Selanjutnya saya mengajak tutee untuk berkenalan juga. Maka tujuh orang tutee yang hadir memperkenalkan diri masing-masing. Formatnya masih saya seperti format taaruf yang saya berikan.

Setelah itu tibalah saat saya menyampaikan materi tutoring. Materi kali ini mengenai bagaimana cara mengembangkan kepribadian Muslim. Saya mereview pertemuan kuliah Dhuha (materinya sama) lalu menambahkan beberapa hal dalam pematerian. Salah satu yang saya tambahkan adalah 10 karakter andalan yang disusun oleh Hasan Al-Banna, yakni :
1. Salimul Aqidah (Akidah yang selamat atau benar)
2. Shohihul Ibadah (Ibadah yang shohih)
3. Matinul Khulq (Akhlak yang mulia)
4. Qowiyyul Jism (Jasmani yang kuat)
5. Qodirun 'alal Kasbi (Mampu berpenghasilan)
6. Mujahidun Linafsi (bersungguh-sungguh terhadap dirinya)
7. Haritsun 'ala waktihi (menjaga waktu)
8. Munadzamun fii Syu'unihi (tertata urusannya)
9. Mutsaqaful Fikri (berwawasan luas)
10. Nafi'un lighoirihi (bermanfaat untuk orang lain)

Saya menganjurkan tutee menulis poin-poin tersebut karena memiliki manfaat yang besar. Di sinilah kejutan itu terjadi. Ada seorang tutee yang menuliskan materi yang saya sampaikan dengan bahasa Arab. Saat itu saya hanya membacakan latin dan artinya saja, tetapi ia dapat menuliskannya dengan baik. Saya perhatikan tutee saya itu belum tahu poin-poin yang sedang saya sampaikan tersebut.

Lantas saya tanya ia, "De pernah pesantren?"
"Pernah Kang" jawab mahasiswa berbaju putih hitam itu.
"Dimana nyentrennya?" Tanya saya.
"Di Gontor, Kang." Katanya.

Masyaallah, rupanya adikku yang ini merupakan alumni dari pesantren besar Gontor. Pantas saja dapat menulis Arab dengan baik. Ada rasa malu menyeruak bahwa tutornya hanya pernah pesantren tapi tidak tamat. Pesantren yang tamat cuma pesantren kilat saja.

But It's OK. Mendapatkan tutee alumni Gontor dan Alumni lain merupakan anugerah dari Allah. Hanya saja kita perlu mengelolanya baik. Semoga penulis, si tutor ini, bisa belajar dan mendidik di mana saja, kapan saja, dan dari orang berilmu siapa saja.

posted from Bloggeroid

Jumat, 30 September 2016

Guru Pemimpin

Menjadi pemimpin itu udah keren, apalagi jadi guru para pemimpin. Apa itu guru pemimpin? Saya bisa katakan bahwa itu harapan saya. Menjadi seorang pemimpin yang adil, bijaksana, dicintai dan mencintai anggotanya, bahkan saya menjadi guru pemimpin.

Saya rasa, "mengajar" (baca : mendidik) merupakan salah satu passion saya. Mendidik menjadi sebuah aktivitas yang tidak bosan saya lakukan. Sebuah aktivitas yang selalu memanggil-manggil bila saya tak mengerjakan. Menurut saya mengajar merupakan kewajiban dan tanggungjawab sebagai seorang manusia berakal, Muslim, dai, serta orang-orang yang sadar bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Mengajar menjadi ladang amal yang luas untuk ditanami.

Apakah semua tokoh adalah pengajar? Saya rasa tidak. Namun bagi saya, semua tokoh yang ada adalah pendidik. Tidak mungkin seorang "tokoh" tak pernah punya misi mendidik. Saya yakin mereka semua adalah pendidik untuk diri mereka sendiri dan pendidik di lingkungannya.

As you know, mendidik berarti memberikan didikan (kognitif, afektif, psikomotor), memberikan teladan, memberikan motivasi, menjadi sarana murid untuk mencapai mimpi. Sedangkan mengajar mungkin menjadi aktivitas yang dilakukan di dalam kelas yakni memberikan pelajaran. Bukan maksud saya merendahkan aktivitas mengajar. Mengajar merupakan aktivitas mulia, tetapi mendidik insyaallah lebih mulia lagi. ini menurut saya.

Menjadi Guru Pemimpin bukan memberikan teori. Ia mengalami sendiri menjadi pemimpin dan orang-orang menikmati kepemimpinannya. Maksudnya ia benar-benar merupakan pemimpin. Ia merasakan pahit getir perjuangan mencapai cita-cita. Skala kepemimpinannya apakah kecil seperti kelompok diskusi hingga besar seperti negara. Tak jadi masalah. Setiap orang punya kapasitas kepemimpinannya sendiri.

posted from Bloggeroid

Mencoba

Ini nih penting banget yang namanya mencoba. Ingat ya, mencoba bukan coba-coba. Kalau mencoba itu berani untuk mengetahui dan mengalami hal yang baru. Sedangkan coba-coba maknanya seperti bermain dengan mencoba sesuatu hal. Niatnya bukan untuk serius, tapi untuk main-main aja.

Tulisan ini merupakan tulisan pertama di bloggeroid. Kata ulasan di internet, aplikasi ini cukup baik untuk menulis di Android. Karena banyak yang memberi ulasan positif, tidak salah jika saya juga mencoba.

Hari kemarin saya dan teman-teman di komunitas dakwah fakultas bermusyawarah tentang kemajuan dakwah di fakultas kami. Salah satu hasil musyawarahnya adalah perlunya para aktivis untuk rajin menulis. Hal ini dilakukan guna terdapat budaya melek literasi, mulai dari membaca, menyimak, mengamati, berdiskusi, hingga menulis. Sekali lagi, ini penting untuk kemajuan dakwah.

Berdasarkan hasil musyawarah itu, saya terpacu kembali untuk menulis. Mengapa saya katakan "kembali", seolah-olah saya pernah semangat dan hari ini tidak semangat? Karena memang beberapa waktu terakhir saya kurang semangat menulis. He

Okay, saya mau lihat saya hari ini dan saya esok hari. Insyaallah saya akan lebih giat menulis. Pepatah mengatakan, "menulis untuk peradaban". Semoga saya menjadi bagian dari kebangkitan imperium kebaikan. Amin

posted from Bloggeroid

Rabu, 13 Juli 2016

Pandangan Pertama

Sekitar enam tahun yang lalu, saya memandangnya pertama kali. Sebuah buku tentang lembaga dakwah kampus (ldk) yang ditulis oleh ridwansyah yusuf ahmad. Waktu saya melihatnya di kediaman senior yang sudah masuk perkuliahan. Beliau anggota ldk di kampusnya. Waktu itu saya masih menjadi siswa di salah satu sekolah di daerah saya. Suatu kesyukuran, karena setelah saya memandang dengan pandangan pertama, saya membaca sebagian dari bukunya. Saat itu membaca buku masih cukup aneh bagi saya, apalagi buku "pergerakan" ldk. Saya juga alhamdulillah merupakan anggota rohis di SMA. Membaca buku tentang kampus dan rohis di kampus merupakan hal yang luar biasa bagi saya. Seolah menemukan karta karun pengetahuan yang memperkaya pengetahuan saya tentang islam. Rasa-rasanya saya ingin mengaplikasikannya di sekolah dan segera masuk ke perguruan tinggi agar bisa aktif di ldk. Saat saya masuk perkuliahan, saya tidak ragu untuk bergabung menjadi anggota LDK. Di LDK pula saya sempat diamanahi menjadi ketua umum. Dalam koridor ketertarikan pada dunia pergerakan dan intelektualitas, saya mencoba terus membiasakan tradisi intelektualitas yakni membaca, mengamati, berdiskusi, menulis, hingga bermimpi bermanfaat untuk orang lain. Belajar dari pengalaman menarik dari "pandangan pertama" tersebut di atas, sy senang mengamati. Saya senang melihat hingga hal-hal yang detail. Dari pandangan-pandangan itu saya banyak mendapat hal baru. Saya juga berharap pandangan-pandangan pertama pada kebaikan dapat mengantarkan pada kebaikan pula. Semoga pandangan kita terjaga dari hal-hal yang buruk.

Senin, 13 Juni 2016

Violet- kumpulan sajak cinta dan doa



Galih Kurniawan
  
VIOLET
Kumpulan Sajak Cinta dan Doa


Gapura
Segala pujian dan syukur saya persembahkan kepada Allah azza wa jalla. Salawat dan salam saya haturkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, semoga tersampaikan pula kepada para umatnya.
Saya mulai agak rajin menulis puisi sejak masuk kuliah. Saya menuliskannya dengan melihat fenomena sekitar, imajinasi, dan pengalaman sendiri. Seperti misalnya saat melihat teman yang jatuh cinta, rindu, marah, nyebelin, atau putus cinta maka saya mencoba membuat puisi dengan melihat perilakunya. Selanjutnya puisi datang juga dari ruang imajinasi saya. Semisal saat saya menuliskan kata : kau, kamu, dia. Saya tidak tahu kau, kamu, dan dia itu siapa. Saya hanya menuliskannya saja. Objek puisi itu adalah imajinasi saya sendiri. Dan terakhir puisi itu datang dari pengalaman saya sendiri. Saat saya berinteraksi dengan orang lain maka saya mendapatkan emosi. Seluruh emosi yang saya amati dan rasakan menjadi bahan-bahan penyusun kumpulan puisi ini.
Sebetulnya ada kekhawatiran bahwa kumpulan puisi ini membuat "baper" pembacanya namun saya meluruskan niat karena Allah. Semoga kumpulan puisi ini menjadi inspirasi kebaikan bagi para pembaca. Awalnya saya berniat untuk membukukan tulisan ini, namun karena beberapa kendala rencana tersebut belum terwujud. Saya mengharapkan masukan, saran, testimoni, serta kritikan membangun untuk karya kecil ini. Mudah-mudahan menjadi hal berarti untuk karya yang lebih baik.
Terima kasih kepada ibu, bapak, dan keluarga. Terima kasih banyak kepada teman-teman Ikatan Remaja Masjid (IREMA) At-Taqwa SMAN 1 Cihaurbeuti, Barisan 61 shaleh dan shalehah, teman-teman GLTC yang kreatif dan bermilitansi tinggi, teman-teman Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMIKASI) UPI yang menyenangkan, teman-teman LDK UKDM UPI, Korps Shaleh (Nida, Umam, Acah, Aghi, Raka, Aam, Dini, Ayu, dan Ara), KAMMI, penghuni Pondok Abdurrahman Bin ‘Auf (Kang De-One, Rizka, Kang Bowo, Wafdan, Abdurrahman, Sonhaji), dan setiap orang yang telah memberikan arti kepada penulis. Semoga Allah membalas semua kebaikan. Amin

Bandung, Juni 2016
Galih Kurniawan


IFTITAH
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah : 1)



RUANG PERTAMA



Ada pada Dirimu


Ada keteduhan dari wajahmu,
Ada ketenangan dari sikapmu,
Ada kewibawaan dari senyummu..

Ada sabar dari bicaramu,
Ada lapang-dada dari desah nafasmu,
Ada cita-cita dari kepalan tanganmu..

Ada semangat dari langkahmu,
Ada cerita dari tulisanmu,
Ada mimpi dari sorot matamu,
Ada makna dari diammu itu..

(12 Mei 2016)

Aku Bersamamu


Aku bersamamu seperti seberkas cahaya yang menembus asap yang pekat
Aku bersamamu seperti air yang mengalir pada celah-celah bebatuan yang rapat
Aku bersamamu seperti nada yang terdengar pada suara yang kuat

(13 Maret 2016)


Batok Kepala


Sebenarnya aku tak tahu benar apa yang ada di batok kepalamu itu,
Pagi siang malam urusanmu hanya satu,
Mengabdi pada Tuhanmu,
Pantas para merpati cenderung padamu..

(24 Maret 2016)

Bila Engkau Hujan


Bila engkau hujan malam
Aku ingin memandangimu saat kumulai terpejam
Bila engkau hujan fajar
Aku ingin menghampirimu dengan perca-perca harapan
Bila engkau hujan siang,
Aku tak tahu apakah aku cukup kuat untuk tak meleleh..

(22 Desember 2015)



Cinta Istimewa


Aku ingin mencintaimu dengan istimewa
Seperti butiran air pada mentari yang menghasilkan warna berbeda

Aku ingin mencintaimu dengan istimewa
Seperti sabarnya Bulan menemani teriknya siang

Aku ingin mencintaimu dengan istimewa
Seperti genggaman erat ibu pada anaknya

Aku ingin mencintaimu dengan istimewa
Dengan berbeda
Dengan segalanya

Hanya satu alasan yang mungkin susah untuk dijabarkan
Karena aku cinta..

(9 Maret 2013)



Cinta Tertahan


Adakalanya tangisan muncul saat cinta yang kuat tak terungkapkan,
hanya menganak sungai mengairi lantai,
Tak dapat terbendung oleh jemari yang menutupi,
Cintanya tertahan..

(29 Maret 2016)


Enggan Memilih


Aku enggan memilih sendiri
Biar Allah yang menentukan
Karena aku tak tau kepada siapa
Hati ini terlabuhkan

Kutundukkan pandangan
Hingga tak seorang pun bidadari
Terkena panah-panah setan
Hingga suatu saat nanti
Saat Allah menghalalkan

Maka cinta akan membuncah menyejukkan
Saat Allah memilihkan
Maka kau Khadijah yang menyelimuti dikala gelisah
Maka kau Aisyah yang jelita dengan pipi yang memerah
Maka kau adalah Khansa yang berjihad dengan gagah perkasa

(20 Maret 2013)


Gerimis


Kau adalah gerimis,
Tetesan-tetesan air yang kurasakan merintik pada badan,
Lalu membesar menjadi hujan,
Menderas membasahi badan hingga menempel pada perasaan..

(15 Maret 2016)


Hakikat Cinta


Begitulah cinta..
Mengalirkan harapan sederas sungai di musim penghujan
Begitulah cinta..
Menghembuskan angin topan kehangatan
Ah, cinta begitu memabukkan
Segudang tetes cinta akan selalu meminta segalanya;
Waktu untuk meminumnya
Kekuatan fisik untuk menikmatinya
Perhatian untuk selalu menjaga kehadirannya

Begitu hakikat cinta,
pengorbanan segalanya..

(15 Januari 2016)


Isyarat


Mataku adalah bahasa yang tak mampu terucap kepadamu,
Jemariku adalah isyarat yang tak sempat bersentuh-sentuhan denganmu,
Langkahku adalah arah yang tak juga kuat mendekat menghampirimu,
Aku bersuara lewat doa,
Atas tak kuasanya aku melawan kelu,
Hanya melirihkan namamu dalam sendiriku,
Menegaskan munajat pada Allah akan pertemuanku,
Denganmu

(20 Januari 2016)


Jaminan


Aku ingin tau sejauh apa aku akan pergi.
Andai ada jaminan kepergianku bukan jalan yg menyimpang niscaya aku akan pergi sejauh yg aku bisa

(9 Maret 2016)




Mata


Mata adalah jendela Neraka dan Surga,
Mata adalah panah-panah setan juga pengintai dan penjaga gerbang saat perang,
Mata adalah aku yang bertemu denganmu pada kejauhan,
Seperti memandang Nil hanya dari gambar saja,
Mata adalah apa yang menghantarkanku pada rindu dan cinta,
Pada sebuah nama yang pada akhirnya aku ikhlaskan dalam doa..

(18 April 2016)


Reda


Hujan sudah reda dan tinggal rintiknya bergrimis,
Namun sesaknya dada belum habis,
Apa setelah ini ada rasa bahagia yang manis?
Semoga aku tak bosan untuk mengemis dan menangis pada Al-Waris..

(2 Juni 2016)
Tetes Hujan

Kau bukan janji dan rekayasa,
Kau tetes hujan yang merintik apa adanya : terjaga, jujur, dan sederhana..

(9 Maret 2016)


Siluet Senja


Sesirat bentuk tiba-tiba hadir di depan mataku
“Siapa dia??”

“Apakah dia yang selalu diperbincangkan orang lain padaku.”
“Akankah engkau bidadari itu?”

“Bidadari Syurga yang Tuhan ciptakan dari tulang rusukku.”
“Benarkah engkau?”

“Atau kau hanya bayangan yang hanya menjelma manusia?”

Duhai, senyum simpulmu begitu mempesona..

Tunggu, siapa aku?!                                                                                 
Bahkan aku tak pernah memandang mereka sebelumnya

Bulan, datanglah kemari,
Gemintang, datanglah menghiasi,
Malam terangkanlah padaku ini,
Siapa dia??
Jelaskanlah agar aku tahu,
Apakah dia siluet senja ataukah sang bidadari Surga..

(4 April 2013)

Sosok dalam Cermin


Mari kuhantarkan engkau melihat cermin,
Melihat sosok di hadapannya,
Yang renta rona mukanya,
Berkacamata bermata coklat,
Bertahi dan bertahi lalat,
Gelap pekat..

Mari kuajak engkau pergi ke belakang layar pertunjukkan,
Tempat drama mulai dimainkan,
Tangisan dan senyuman dibuatkan,
Dan riasan aktor kehidupan dipasangkan..

Mari kutemani engkau menyelami isi hati,
Yang tak punya kunci di palung paling dalam,
Menyimpan rasa pada sela-sela koral yang dangkal,
Yang kapan-kapan muncul ke permukaan..

Mari kutunjukkan engkau pada baja berongga,
Yang terkesan kokoh namun regas,
Yang dari mulutnya keluar senandung lagu,
Yang dari jemarinya tergores sastra lugu..

(15 Januari 2016)

Syahdu


Syahdu itu menatap sayu, hangat, dan kuat,
Jika terkadang tangan mendekap ketiadaan,
Maka cinta akan menyejukkan dan memberikanmu harapan..

Cintailah dirinya dengan gemuruh,
Hingga mengalirkan deras kehangatan pada pertemuan,
Beriringan dengan hembusan lembut sebuah ucap,
Dan halus sebuah sikap..

Cintailah ia dengan penjagaan,
Dalam sebuah kemurnian dan setetes kesucian,
Cintailah ia dalam kesendirian,
Saat kau menggambarkan sosoknya dengan kanvas keabadian..

Cintailah ia dengan neraca keseimbangan,
Saat kau melembutkan namun kau menegaskan,
Saat kau membenarkan namun kau meluruskan,
Saat kau mengikat namun kau melonggarkan..

Namun jika kau bukan sesempurna sebuah intan,
Maka sisipkanlah sebuah kata antara kau, dengan cintamu kepadanya,
Bukan untuk melemah namun untuk menghimpun waktu dan kebulatan tekad,
Sisipkanlah sebuah kata bernada “harap dan penuh semangat”

(16 Februari 2013)

RUANG KEDUA


Akad Nikah


Saya,
Pemuda penuh keterbatasan, anak dari orang tua yang miskin dan cerai
Terima,
Untuk saya dengan segala kekurangan saya
Nikah,   
Dengannya kuambil kehalalanmu
dan Kawinnya,
                                                Kuterima lahir dan batinmu
Fulanah
Kupilih dirimu sebagai pasanganku, istriku, dan ibu dari anak-anakku. Seseorang yang telah kupandang. kurelakan dan kuridhai
Binti Fulan
Dari bapak yang kumuliakan, yang mengamanahkan anaknya kepadaku agar kuberlaku menjadi lelaki yang menjaga.
Dengan Maskawin
Yang halal karena kuusahakan dengan kerja keras tanpa kedzaliman, kebohongan, dan menduakan Allah. Sebagai pemberianku yang kuberikan kepadamu.
Sembilan gram emas
Hanya adalah tanda dari kemurahanku kepadamu
Dan seperangkat alat shalat
Agar kau selalu mau kuajak menemui Allah, kapanpun.
Di bayar tunai
Agar kita segera membangun rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah.
SAH!
Alhamdulillah..

(21 Januari 2016)

Alasan


Satu alasanku mengunjungimu adalah,
Engkau kenal dekat dengan Tuhan-Mu,
Tuhan yang Maha Satu,
Tuhan tempat bergantung segala sesuatu,
Tuhan yang tak memiliki anak ataupun bapak-ibu,
Tuhan yang tak ada sesuatu halpun yang bisa menandingi diri-Nya itu..

(14 Februari 2016)


Abadi


Aku abadi sebatas aku belum mati,
Untuk menemani..

(14 Februari 2016) 
 

Al Wadud


Al Wadud,
Duhai Engkau yang Maha Mencintai..

Aku,
Terlalu lama ingin diam,
Di pojok-pojok pondok,
Lalu memendam perasaanku sendiri,
Bersama-Mu..

Al-Wadud,
Sesungguhnya Engkau sudah tahu,
Bahwa aku sedikit lelah..
Karna terlalu lama menahan terik penantian,
Di Podium Masjid dan Gelanggang,
Bersamanya..


(15 Januari 2016)
 



Awan


Aku melayang di atas pemukaan dan di bawah angkasa,
Aku berteman lautan dan sesekali menjejakkan kaki pada pegunungan,
Berteman dengan lingkaran pelangi matahari,
yang terbakar namun tersenyum,
Untukmu..

Aku mewarnai langit dengan Putih, atau Kelabu
atau Merah dan Jingga pada senja,
yang berusaha tabah menerima jutaan cahaya,
dan mencoba mendefinisikannya,
Semampu yang kubisa..

Aku tabah menyelimuti bumi namun membiarkanmu dapat bernafas,
Hanya maaf bila aku sedang merindui dan kukirim jemari awan,
Pada daratan berupa asap-asap malam dan fajar,
Kau jangan takut,
Sesungguhnya cintaku kupendamkan..

Aku berbentuk seperti yang kau mau,
Apakah berwajah angkara atau berwujud boneka yang kau suka,
Bergelombang mendung hitam atau berhelai-helai sutra,
Jika kau bertanya apa wujudku sebenarnya,
Aku awan yang mencintai fitrahnya..

Aku bersedia menampung keringat samudera agar tak langsung jatuh pada kelopak matamu,
dan kutabah tak menyelimuti bumi..

(5 Maret 2016)

 
 

Awan (2)


Aku meregang,
Menahan rindu kepadamu,
Aku awan menggelayut jadi hujan,
Ingin kusiram mawar merah menyala, harum, dan terlindungi itu,
Melihat mekar kuncupmu tersenyum kepadaku,
Bunga,engkau melihatku?
Airku menetes dari pelupuk mata jadi tangis kerinduan..

(18 April 2016)
 

Baja


Aku hanya baja berongga
Sejenak aku tegar perkasa,
Namun tak selamanya..

Aku lantunkan doa panjang penantian,
Biarkan aku pilih dirimu karena Tuhan,
Jika baik maka dekapkan kepadaku
Jika buruk maka lepaskan dariku..

Maka tunggulah sang waktu
Semoga Allah menganugerahkan dirimu untukku.. 

(4 April 2013)

Belajar dari Hujan


Belajar dari hujan yang taat pada pencipta dan Rabbnya,
Ia turun baik pagi, siang, atau malam,
Ia menyusup pada hati manusia,
Apakah resah atau sakinah..

Belajar dari tetes hujan yang sabar atas titah pemiliknya,
Yang rela berbenturan dengan karam,
Menelisik sela-sela bebatuan malam,
Lalu tabah..

Aku berjalan tanpa payung,
Belajar menikmati rintik-rintik hujan,
Yang menggerayami tanpa permisi,
Gerimis ternyata romantis..

Namun cemburu itu lantas tak hilang,
Tak lenyap bagai hujan yang membasuh pasir pada daun-daun tanaman,
Bara inginku masih menempel pada dinding hati,
Tak mau pergi..

Senyap,
Rerintik hujan mulai reda tiba-tiba,
Aku tahu bukannya kau tak mau duduk berdua denganku,
Aku tahu engkau sedang taat pada Rabbmu..

Selalu seperti itu,
Engkau datang dan pergi,
Tanpa berucap,
Hanya memberiku isyarat kecil,
Katamu : aku akan kembali..

Hujan, karena taatmu itulah,
Aku akan selalu senang..
Saat engkau pergi,
Dan saat engkau datang,
Padaku lagi..

(20 Januari 2016)
 


Berbalas Diam


Aku mencintaimu namun berbalas diam,
Memimpikanmu bukan menjadi hal baru,
Terakhir kulihat engkau bersama yang lain,
Bercengkrama dan bernyanyi-nyanyi di taman..

Bagaimana caraku mendekatimu?
Kala engkau sama sekali tak membalas rasa-rasaku,
Janji kita bersama mungkin tak lagi jadi bahan pikiranmu.
Mimpi kita mungkin telah sirna dimakan problematika,
Padahal aku mengharapkan akhir hidup denganmu juga..

Aku takut bahtera persaudaraan dan ikatan ini akan terhenti di tengah jalan,
Jangan, jangan pergi..
Lebih baik aku dekat walau terbakar, hangus, lalu terhembus angin.
Demi rumah yang kita besarkan dan kita jaga bersama..

Bila aku semakin busuk,
Kuminta jangan kau buang aku..
Berikan waktu untukku membuang ego da mengikis salahku.
Ini aku, di setengah perjalanan kita.
Begini aku rupanya, apa adanya..

(9 Maret 2016)


Bingkisan


Maafkan aku atas rasa yang tak bisa kubalas,
Sungguh aku takkan sanggup membangun Istana Surga,
Atau tersenyum saat pertemuan-pertemuan kita,
Saat engkau membawa bingkisan cinta yang hangat,
Kutahu itulah saatnya aku kembali taat..

(28 Maret 2016)

Bocah Sajak


Untukmu,
Apa kau menerimaku sebagai kekasihmu,
Seorang bocah yang suka menulis sajak?

Tentu saja aku sudah tahu jawabannya,
Keyakinan pada Tuhan jadi pertimbangan utama,
Bukan pula lelaki yang jauh dari pedoman agama..

(29 Maret 2016)
 

Bola Salju


Rinduku seperti bola salju yang semakin membesar dan menebal,
Lalu menggelinding bersama waktu,
Sedang aku makin malu menemuimu,
Lalu aku menemuimu dari kaki bukit dan meleleh di dekatmu..

(15 Maret 2016)
 


Bulan Sabit


Malam ini bulan menyabit pada langit yang temaram,
Seperti ujung pena yang basah dengan tinta,
Dan kulihat ia menuliskan namamu,
Pada awan malam..

Sehingga saat kulihat pada langit,
Namamu tergores indah dengan tinta emas,
Terang memantulkan cahaya..

Lalu gemintang seperti lampu disko yang
Menemani kesendirian dan penantian,
Bahwa harapanku kembang-kempis,
Menunggu takdirku dan takdirmu bertemu..

Namun malam ini akan kuhabiskan waktu dengan menghapus namamu,
Menenggelamkan hingga karam..

(11 April 2016)
 

Cahaya Merah di Waktu Senja


Jika aku mencintaimu, maka aku adalah segalanya untukmu,
Mulutku akan selalu berucap cinta setiap waktu,
Demi cahaya merah diwaktu senja,
Jika engkau berjalan mendekati maka aku akan berlari menghampiri,
Aku hadir lebih dekat, lebih lekat, lebih kuat, untukmu,
Aku akan larut dalam darahmu yang terus mengalir,
Menyapa bahagia setiap bagian tubuhmu,
Menghentakkan jantungmu agar tetap berdetak,
Menajamkan pandangan agar kau dapat memandang..

=Tuhan pada Hamba-Nya=

(9 Februari 2013)
 

Cermin


Kutatap sosok dalam cermin,
Dia sedang memanggul senjata,
Namun tak sedang perang rupanya,
Dia pura-pura jadi pahlawan..                 

Di bagian dadanya ada kotoran yang hitam, busuk dan lengket,
Meleleh mewarnai baju perangnya,
Lalu dari mulutnya keluar kata-kata,
Yang aromanya seperti bangkai..

Aku kenal betul wajah itu,
Selembar kulit yang selama ini aku pakai untuk menipu,
Aku kenal betul sosok dalam cermin,
Adalah diriku yang penuh dosa itu..

(28 Desember 2015)

Cinta Itu Hasrat


Sahabat, kini engkau tahu bahwa cinta itu hasrat,
Tak cukup dengan pandangan, lalu kau tambah dengan kata sayang dan sentuhan atau pelukan,
Teman -aku- berubah jadi ancaman, padahal baru kemarin kita bersenang-senang berdua berlomba jadi juara,
Kau rasa bahwa kekasihmu milik dirimu sendiri padahal makhluk itu punya Tuhan..

Sahabat, kini engkau tahu bahwa cinta itu candu,
Kau musti tahu bahwa lepas dari jemari candu itu susah adanya,
Perlu dikarantina di penjara, teralihkan pada jenis candu baru, atau ditinggal pergi atau mati,
Berpisah akan membuatmu sakit dan sakau,
Dilema antara ingin berhenti dan gairah minta tambah..

Sahabat, kini engkau tahu bahwa hati itu hidup yang tak bisa dipermainkan oleh sikap dan kata-kata,
Rambut tergerai, senyum simpul, atau sajak-sajak cinta bisa bikin seseorang punya rasa,
Bahkan salah bicara bisa bikin tafsir berbeda, seperti gelombang pada daratan..

Sahabat, kini kau tahu bahwa sebagian cinta itu penyesalan,
Saat kau berucap bahwa hatimu kosong dan perlu isi,
Hingga kau jadi budak manusia-manusia dusta, hingga kau perlu pakai topeng di muka,
Sekarang kau sibuk sendiri mencari jalan lari dari tragedi
Paling-paling sebentar lagi kau minta putus,
Lalu mengurung diri di kamar atau menangis minta selotip untuk hati yg retak..

Aku tak ingin ikut campur dalam urusanmu,
Cuma mau bilang kalau kini kau tahu cinta setengah serius berakhir prematur serius..

(9 Maret 2016)
 

Cinta Tahan Lama


Parah,
Parahnya engkau adalah engkau selalu harus diberi petuah,
Dipasang kacamata kuda agar matamu tak liar kemana-mana,
Dikasih cocok hidung kerbau agar mau menuruti agama,
Dibebani tanggungan agar mau rajin bekerja..

Dengarkan,
Bahwa tubuh yang engkau kagumi akan layu seperti bunga pada kemarau,
Bahwa senyum yang engkau sukai akan cemberut karena sumber pemasukan mengkerut,
Bahwa muka yang merona akan berubah jadi keriput,
Maka tunggulah sepuluh tahun lagi maka cintamu akan berubah masam..

Perhatikan,
Kau harus cari cinta yang awet tahan lama,
Yang tak tertindas masa dan tak berbatas Negara,
Mungkin Ia adalah Tuhan,
Raja pemilik alam semesta yang abadi dan sempurna,

Yang saat dicinta maka Ia akan mencinta dan mencintakan semesta pada kau,
Asal kau mau selalu mencintai-Nya.. 

(29 Maret 2016)
 

Dinding


Aku menunggumu,
Duduk bersandar di kursi bundar
Aku memandang ke arah dinding kemarik,
Yang memantulkan bayangan hitam dirimu itu,
Lalu sepersekian detik,
Kudengar suaramu,
“Apa kabar?” katamu

“Maaf aku harus pergi.” Kataku.

(21 Desember 2015)


Doa Dhuha


“Wahai Tuhanku,
Sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu,
Keagungan adalah keagungan-Mu,
Keindahan adalah keindahan-Mu,
Kekuatan adalah kekuatan-Mu,
Penjagaan adalah penjagaan-Mu,

Wahai Tuhanku,
Apabila dia rezekiku yang masih berada di atas langit maka turunkanlah,
Apabila dia berada di dalam bumi maka keluarkanlah,
Apabila dia sukar bagiku maka mudahkanlah,
Apabila dia haram bagiku maka sucikanlah,
Apabila dia jauh bagiku maka dekatkanlah

Dengan kebenaran dhuha-Mu,
Kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku),
Datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.

(4 April 2016)
 

Gantung


Ada kata dan nada yang kutenggelamkan,
Pada bunyi rintik hujan yang kian membesar,
Dan pada suara arus sungai yang semakin menderas..

Ada gerak tubuh yang kusembunyikan,
Pada diam dan perilaku yang wajar,
Dan pada pandangan yang tertahan..

Ada asa yang perlahan mulai kuhilangkan,
Harapan bersama denganmu di masa depan,
Karena penjagaan lebih baik dari hasrat yang tak tertawan..

Walau namamu telah kusematkan dalam lirih doa
Pada sepertiga malam dan doa saat dhuha,
Malam ini saat hujan turun kembali,
Dan kini kugantungkan semuanya pada Tuhan..

(4 April 2016)
 


Gelisah


Kegelisahanku, Putri, perlu aku sampaikan sekarang juga,
Mumpung hujan deras sedang menyiram bumi yang panas,
Bahwasanya sebetulnya aku tak ingin mencintaimu sekarang,
Karena aku takut jadi hama yang membahayakan dirimu..

Sejatinya aku tak layak menyirami tanah tak bertuan,
Juga tak pantas mendekati tanah yang bertuan,
Hanya saja aku sedang salah jalan,
Dan kuharap Tuhan mengizinkanku bertemu denganmu,
Setelah sebuah penantian selama perjalanan..

(22 Maret 2016)
 

Genit


Kau janganlah genit,
Soalnya aku cemburu,
Jika kau tak ingin dekat denganku,
Jangan kau dekat dengan orang lain juga..

Kecuali,
Jika kau membuat perjanjian kuat dengannya,
Aku akan mundur tanpa kata..

Namun,
Kuharap kau dan aku membuat suatu perjanjian yang kuat,
Pada saat yang tepat..

(22 Maret 2016)
 

Gila


Aku rupanya mulai gila,
Aku mulai bicara pada awan yang berbentuk segurat muka,
Mengagumi langit biru sebagai gaun pesta,
Dan mentari sebagai senyum mesra..

Aku rupanya mulai tak waras,
Aku mulai menitipkan rindu pada burung gereja,
Aku mulai menitipkan salam pada aliran sungai yang mengalir kepada muara,
Aku mulai menggenggam pena dan kubayangkan kau membaca surat dan bait-bait sajak..

Dan aku mulai meneteskan air mata saat kau tinggal bayangan saja..

(18 April 2016)

Gila (2)


“Perlukah aku menjadi gila?” Bisikku padanya.

“Untuk apa?” katanya yang tak mudah peka.

“Agar aku mencintaimu dengan sempurna” kataku

“Tak perlu. Aku butuh kau yang sadar
akan sebuah penghambaan pada Tuhan,
Lagipula tak ada yang sempurna selain-Nya.
Karena cintaku akan hilang jika kau mulai tak mencintai Tuhan.”

(18 April 2016)

Hati yang Teriak


Kedua bola mata ini mulai berbicara dan berbisik pada hatiku,
Tentang waktu,
Jari jemarinya lembut menyapa halus kesendirianku,
“Dalam setiap detik arloji,
Aku merindukan kehadirannya.”
Namun aku bergeming saat hatiku berteriak keras pada gendang telingaku,
Sadar…!
Sadar…!
Sadar…!
Cintamu adalah penjagaanmu,
Lalu aku tertunduk malu..

(27 Desember 2015)
 


Hujan Tak Membenci Awan


Hujan yang terjatuh tak pernah membenti awan dan
Awan yang tertawan selalu tabah mencintai hujan,
Selalu bersabar menunggu sebuah pertemuan..

Awan tahu jika hujan sedang dalam perjuangan panjang,
Menelisik dari pegunungan hingga menderas ke lautan,
Semua dilaluinya dengan kerinduan..

Tak ada setetes hujanpun yang terjatuh melainkan Dia mengetahuinya,
Demikian juga tak ada sebentuk kesabaran yang membulat melainkan Dia mencintainya..

(14 Pebruari 2016)
 

Ingat


Bila aku terlalu cinta,
Tolong ingatkan ya..

(5 April 2016)

Istimewa


Hijau atau tidak, bulat atau tidak, beraroma atau tidak,
                Dedaunan itu istimewa..
Panjang atau tidak, tebal atau tidak, kaku atau tidak,
                Ilalang itu istimewa..
Tak perlu kau tanyakan kesederhanaanmu dan pilihanku,
                Masing-masing manusia itu istimewa.
Lalu aku melihat kekhasan dalam sebuah keistimewaan,
                Dalam dirimu, keistimewaan berbentuk kemuliaan..

(13 April 2016)
 

Kanvas Senja


Kau bertanya mengapa aku mengawan,
Seperti yang selama ini aku lakukan,
Agar warnamu tegas, cerah, dan cantik menawan..

Supaya kau punya kanvas putih untuk kau lukiskan dengan sinarmu,
Dan kau bentuk siluet sesukamu..

(8 Mei 2016)


Kilas Pandang


Aku padamu semoga tak hanya jadi kilasan pandang,
Yang terlihat namun terlupakan,
Kuharap kau rela tertambat pada hatiku,
Sehingga bagiku kau akan teringat selalu..

(29 Maret 2016)
 

Liberica


Aku ini lampu lalu lintas,
Yang biasanya hanya ditinggali sebentar lalu ditinggalkan,
Lalu dirimu lewat saat aku bermata cerah,
Sejenak engkau memadamkan mesinmu lalu kita terlalu mesra..

Secangkir kopi Liberica tak mampu menghanyutkan pikiranku,
Yang ternyata tak sengaja terus memikirkanmu,
Bahwasanya aku berenang pada arus yang deras,
Dan aku terhanyut..

Aku memilih pulang,
Ditemani gerimis dan pelupuk mata yang menangis..

(2 Februari 2016)


Lokal-Internasional


Aku malu berdiri di depan pintu rumahmu,
Bercakap rasa antara aku dan dirimu,
Tanahku masih lokal, tanahmu internasional,
Aku curiga memang kita beda tanah,
Tak mungkin serumah..

(21 Desember 2015)
 

Maaf Saat Fajar


Fajar mengumpulkan sinar-sinar yang sebelumnya terpendar,
Mulai meramu jentik-jentik impian yang tertimbun selimut malam..

Inginku tabah memaafkan setiap jejak langkah di belakang,
Lalu mulai menerawang tanah yang masih lapang,
Di pandang..

Kemana langkah akan mengarah?

(15 Januari 2016)
 


Masa dan Doa


Saat Dhuha,
Aku mengasingkan diri dari hiruk-pikuk manusia,
Mendatangi-Mu saat pintu Sorga sedang lengang,
Kuharap engkau senang..

Diantara pintaku adalah agar daun telinga yang tertempel pada,
Tengkorak kepala tak cuma jadi hiasan saja,
Lebih guna bila bisa mendengar suara,
Kuharap menangkap nada lantunan orang mengaji,
mamah memanggil, sahabat menasehati, dan anak-anaknya menangis,
Suatu saat bila ia telah berumah tangga
Tuhan.. Tuhan, Tuhan! Tuhan..

Saat sepertiga malam,
Aku mataku terbuka dari terlelapnya tidur manusia,
Mendatangimu saat pintu langit sedang terbuka,
Kuharap engkau suka..

Diantara doaku adalah kupinta agar hati tak mudah mencintai,
Supaya suci dari penyakit-penyakit iri dengki, munafik, dan ingkar diri,
Agar rasa tetap terjaga hingga tepat saatnya dan tepat orangnya

Saat senja merah menggoda rasa,
Aku pulang keharibaan-Mu yang penuh godaan dan cobaan,
Semata-mata agar Engkau cinta,
Kuharap Engkau ridha..

Diantara penghambaanku adalah kuminta agar aku tak menjadi gelandangan terbuang,
Agar supaya aku jadi orang benar,
Tak musti berjas dan berdasi,
Asal supaya tauhid dan akhlakku besar..

(20 Januari 2016)

Mata Pena Tajam


Semakin kupaksa agar mata-pena tajam dan,
Menggores sajak cinta dan rindu, 
Pada secarik kertas atau selembar kanvas,
Aku semakin buntu..

Mata-penaku terkantuk dinding goa yang keras dan gelap,
Bagaimana selimut malam tanpa rembulan dan gemintang,
Lalu terpikir untuk kembali pulang pada palung yang lebih gelap,
Aku masih jauh menggapai sebuah kitab,
Baru sepertiga replika malah hampir kuberfatamorgana bahagia,
Aku butuh patah hati dan terluka dan jatuh cinta..

Aku perlu dirimu untuk alasanku berjuang,
Mengajakku saat kumulai mengigau,
Dan menjadi puteri dalam mimpi-mimpiku..

(20 Januari 2016)
 

Mencintaimu Seolah Susah


Cintaku ingin seperti angin,
Seolah pergi padahal menemani,
Seolah menjauh padahal mengitari
Seolah marah padahal rindu..

Cintaku ingin ikhlas,
Berkorban tanpa menuntut balasan,
Melihat tanpa meminta tatapan,
Menggenggam walau jemarimu makin meregang..

Cintaku ingin ridho,
Bertemu karena sang pencipta,
Bersama karena sang penjaga,
Berpisah karena sang pengurus,
Meneteskan butir-butir kasih hingga ajal tiba,
Berpelukan kembali di jannah-Nya..

Cintaku padamu terlanjur hadir,
Sayang aku bukan pangeran dan raja,
Harapku sebatas ikhtiar kecil saja..

Saat sang kepala tak merasa layak sebagai pengeja harap,
Merasa bintang terlampau jauh untuk digenggam,
Merasa badan tak kuasa mengemban beban. ,
Mencintaimu seolah susah..

(9 Maret 2016)

Mudah Mencintai


Aku memang mudah mencintai,
Pada senyum yang tersungging ,
Pada kerudung yang terkibar,
Pada wajah yang cerah,
Pada akhlak yang indah..
Tapi saat hatiku memilih maka aku akan mencoba setia..

(4 Mei 2016)


Nadir


Aku terjerembab pada nadir,
Karena terlalu berat untuk bangkit,
Aku lebih suka dengan candu,
Walau kutahu merusak jasad,
Aku masih terjebak..

(29 Maret 2016)
 

Nama (1)


Sebenarnya malu aku sebut nama-Mu,
Yang Indah dan Mulia itu,
Sembilan puluh Sembilan, atau
Seratus kurang satu..

Nama-Mu termaktub dalam Firman-Mu,
Lalu kau titahkan aku mencintai-Mu dengan menyebut nama-Mu,
Maka dengan kerendahan diriku,
Kudzikirkan dan bermunajat dengan nama-Mu
Rabb ampuni aku..

Sayang dalam namaku tak tersimpan nama-Mu,
Bapak dan ibu kasih aku nama dengan nama "Qolbu",
Jika boleh ingin kugelari diriku dengan Abdul Quddus,
Hamba dari Tuhan yang Maha Suci,
Semoga Engkau menjagaku..

(25 Februari 2016)
 

Nama (2)


Aku anak kedua dari tiga orang saudara,
Dinamai dengan nama bermakna sukma,
Sebagai karunia Tuhan pada ibu dan bapak,
Atas lahirnya seorang Putra..

(25 Februari 2016)
 

Nama (3)


Namamu sebaris kata,
Namun bermakna-dalam sedalam-makna yang kuuntai bersama masa,
Bak puncak gunung yang terlihat di atas samudera,
Padahal berakar hingga ke dalam tanahnya,
Seperti nama Laila untuk Qais dan Nama Qais untuk Laila,
Yang gila karena nama..

Namamu adalah nada yang kusamarkan
Diantara ratusan suara yang kuucapkan,
Namun kulagukan dalam pikiran,
Terus kulantunkan dalam sukma,
Namamu terulang dalam ingatan..

Namamu adalah harapan yang kugantungkan
Pada pemilik nama yang Indah dan Mulia,
Ia Rabb yang menyatukan nama dengan nama,
Mengikatnya pada perjanjian yang kuat,
Sekuat makna yang Ia firmankan

(25 Februari 2016)


Nama (4)


Namamu bisa saja tersimpan diantara nama yang kuucapkan,
Atau berwujud frasa yang masih tersembunyi,
Atau berwujud nama yang kuberikan..

Namamu rahasia,
Namun siluetmu tergambar saat senjakala,
Tak sanggup kupandang,
Hanya kumohonkan pada Tuhan,
Supaya terang..

Namamu adalah bahasa cinta berbentuk doa,
Ia adalah isyarat yang tersembunyi pada tumpukan kata-kata,

(25 Februari 2016)
 


Pagar Bagus


Pagi-pagi saat embun masih jatuh dari ranting-ranting pohon,
Bunyi kecapi dan
Gamelan gendang sudah mulai dialunkan..

Lalu tetamu datang dengan
Rona wajah bahagia dan doa keberkahan,
Karena kedua mempelai telah halal duduk berdua di pelaminan..

Dan aku masih memakai busana kebanggaan para pagar-bagus dengan senyum yg menawan,
Sebetulnya aku sedang menanti seseorang di masa depan..

(4 April 2016)
 

Perahu Layar


Akhirnya dahagaku sirna,
Saat kulihat pesawahan penuh padi berubah jadi kebun kelapa yang ramai..

Saat mulai terhirup udasar pesisir dan kucium bau aiar garam lautan,
Saat bau bangkai ikan asin melayang-layang dari pasar ikan,
Menusuk bulu-bulu penciuman..

Kutatap gelora deburan ombak di pantai,
Kupandang banyu berwarna kehijauan, kebiruan, dan kehitaman,
Dan kulihat nelayan menjaring udang-udang di ujung pantai..

“Layar-layar perahu layar”
Kuingat sajakmu berlayar-layar,
Berlayar dari sungai ke samudera,
Melayang-layang di dalam minda, 
Semakin berwarna dan terasa ada..

“Perahu layarku berwarna biru”
Mengambang dari daratan ke daratan,
Menjala rajungan dan barakuda, 
Lalu kita bersenang-senang bersama, 
Selama perjalanan..

“Layarku berkibar melengkungkan senyuman”
Terlukis dari kanvas putih wajahmu,
Yang tulus dan tabah digoyang gelombang,
Yang sayang pada semua orang,
Layarmu berkibar-kibar melengkungkan senyumku, sayang..

Aku pamit pulang dulu,
Sebab aku perlu menabung rindu,
Pada hembusan udara lautan, deburan ombak pantai, dan
Sajak layarmu yang terkembang..

(9 Maret 2016)
 

Pergi


Jangan benci angin bila tak ingin kegerahan dan,
Jangan cela hujan bila tak ingin kepanasan, jangan sesali pohon karena,
Melepaskan dedaunannya dan jangan marahi daun yg pergi untuk mencintai..

(4 April 2016)
 

Perigi


Kau tahu bahwasanya sungai ada sumber mata airnya,
Sebagaimana kanvas jadi bergambar karena ulasan dan warna,
Aku butuh perigi,
Kumohon kau jangan pergi..

(13 Maret 2016)

Perkamen Usang


Tertutuplah senjakala,
Saat cahaya merah mulai menghitam,
Lalu Tuhan menghidupkan rembulan dan gemintang,
Akan kubacakan kisah dari perkamen usang..

Akan kusematkan potongan-potongan kosong agar kau tak bengong,
Agar kau menerka kemana kata dan kita akan tergerak,
Karena kau bisa jadi ada dalam alur kisah perkamen usang..

Bahwasanya kita bertemu saat tangan Tuhan menakdirkan kita bertemu,
Kamu tahu, bagaimana tidak?
Tuhan memegang ubun-ubun diriku dan dirimu!

Malam terlalu gulita hingga membutakan bola mata,
Kulihat hanya cahaya dalam ilusi,
Tanpa nyata..

Bukannya aku tak mau berbagi hati,
Kamu tahun sendiri bahwa sekerat hati yang sekarat sudah hampir mati..

Dari jamu hingga operasi tak bisa buat hati hidup lagi,
Cuma bisa bikin terasa segar sebentar..

(9 Maret 2016)

Rasa dalam Hati


Apa kau tahu,
Rasanya duri yang menempel pada gusi-gusi gigi?
Atau apa kau tahu,
Rasanya onak yang tertancap pada sela kulit alas kaki?
Atau apa kau tahu,
Jarum peniti yang menusuk jari-jemari?
Dan apa kau tahu,
Ada rasa yang mulai menjalar dalam hati?

(22 Desember 2015)
 

Rindu bak Gelang


Aku padamu,
Seperti memintal rindu hingga jadi gelang yang melingkari tanganmu..

(9 Maret 2016)
 

Sampingan


Kau bukan sampingan,
Dirimu lebih dari sekedar teman..

(1 Mei 2016)



Saat Hujan


Hujan sore…
Seperti kemarin-lusa saat kau duduk di sampingku
Merintikkan tetes-tetesmu
Pada keras kepalaku.

O hari ini jantungku berdegup,
Duduk dalam ancaman
Berdiri dengan sangkaan
Berlari demi kelulusan
Terakhir, aku hampir menyuruhmu pergi

Jangan, sungguh aku hanya takut
Bagaimana menjadi mercusuar padahal aku dalam malam?
Tahukah engkau?

Aku mencoba tegar walau tersayat,
Memimpikan dia dengan yang lain
dan aku tak pernah membuatnya tertawa lepas
dalam pangkuanku

cintaku masih berbatas,
belum berpalung dan menjadi samudera
belum menggunung dan menjadi sahara
cintaku masih berbatas sakit

hujan, temani aku hingga habis sakitku
alirkan pada hati yang lapang memaafkan dan cinta yang tak berbatas

untukmu,
tolong jangan pergi
bahwa aku masih terus berusaha
jadi sosok ksatria cerdas, tangkas, dan berbudi luhur
sampai batas waktuku

(15 Januari 2016)
 


Tinggal dalam Bui


Baru sehari,
Kami tinggal dalam bui
Mulai bias antara nista dan bahagia
Mulai lupa apakah nista atau maksiat

Duhai, Rabbi…

Bintik-bintik ini mulai menyebar
Menggerayami jemari, mulut, mata, kaki,
Tubuh, otak, dan hati

Ya Tuhan Yang maha Suci.
Aku terjerembab pada sebulan serumah bersama,
Bersama wanita-wanita,
Wanita ahli dunia,
Dunia bukan sorga
Aku takut binasa

(15 Januari 2016)
 
 

Selepas Shubuh


Selepas shubuh kita bertemu,
Di bawah sabit yang belum pamit,
Kita saling melepas rindu yang tertawan semalam,
Yang rasanya amat lama..

(29 Maret 2016)
 

September


Kudengar kabar kemarin sore,
Bahwa kau dilamar anak ulama dari Kotamu,
Tentu saja kau tak tahu bagaimana perasaanku,
karena aku masih menyimpannya baik-baik dihatiku..

Apa tiga bulan cukup untuk mempersiapkan pesta pernikahan kecil-kecilan?
Karena saat Mei kukirimkan secarik permintaan,
Kau dapat memberi kabar di bulan Mei juga atau Juni,
Sehingga juni atau Juli aku dapat melamarmu,
Lalu September tibalah saatnya pesta pernikahan kecil-kecilan itu..

Bila sebelum itu kau menerima lamarannya,
Maka aku bukan untukmu,
Meski sepanjang hari aku merindukanmu,
Kalo jodoh siapa yang tahu..

(25 Maret 2016)
 

Siluet


Siluetmu adalah untukku,
                Supaya tak kutatap senyummu
                Supaya tak kudengar ucapanmu
                Supaya tak kucium aromamu..

Bayanganmu adalah untukku,
                Sehingga dapat kutatap rambutmu yang terkibar
                Sehingga dapat kudengar deburan ombak
                Sehingga kucium aroma senja..

Namun sayang kau tak dapat kubawa pulang..

(13 April 2016)
 

Sujud


Aku takkan jauh-jauh mencarimu,
Jika dirimu tak pernah kulihat dan berbentuk bayangan di masa depan,
Aku hanya akan bersujud kepada Tuhan,
Kutemui Dia, Tuhan yang menciptakan aku, dirimu, dan sebuah pertemuan..

Bila aku sedang bersujud dan meminta,
Kuharap kau juga sedang melakukan hal yang sama..

(18 April 2016)

 


Syarat Mencintai


Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri untuk mencintaiku,
Itu cukup..

(14 februari 2016)
 

Violet


Aku ingin segera memejamkan mata,
Agar bertemu denganmu di alam rasian..

Aku dan dirimu berdiri di balkon rumah,
Memandang cakrawala yang bening dan cerah,
Lalu kita saling menatap dan kulihat iris matamu yang cokelat,
Dirimu tanpa kata namun berbahasa lewat isyarat yang tersirat..

Tudung kepalamu violet,
Menjulur menutup hingga ke dada,
Lalu gaunmu terjatuh hingga hampir menyisir lantai,
Serupa saat mula-mula kita bersua di selasar surau,
Sehingga kau tampak anggun dan dewasa..

Namun mataku tak patut memandang gerhana yang menyala,
Walau gerhana itu cantik dan langka,
Aku cukup hanya mencintai dengan wibawa,
Dan melihat dari pantulan cahaya dalam kaca..

Di alam rasian,
violet bersalin jadi alam penjagaan dan penantian..

(13 Maret 2016)


RUANG KETIGA

Air, Api, dan Aku


Air itu bisa tergenang atau bertetesan,
Ia adalah air sebagaimana nalurinya,
Hanya ada hal yg ternyata membuat pilu,
Yakni mempertanyakan kemurniannya..

Apakah jernih lagi suci sehingga menyehatkan, ataukah
Berjentik kotoran sehingga membahayakan..

Api juga demikian,
Ia adalah hangat dan panas,
Ia adalah api sebagaimana fitrahnya,
Hanya ada satu hal yg membuatnya pilu,
Yakni dipertanyakan keperkasaanya..

Apakah kuat dan ramah sehingga membuat nyaman,
Ataukah brutal sehingga membakar dan meluluhlantakkan..

Maka aku, air, dan api bersanding,
Berencana berfitrah karena Tuhan,
Lalu kami adalah makhluk yg berterima,
Pada gurat takdir di Lauhul Mahfudz..

(7 April 2016)

Aku Ingin Mencintai dengan Wajar


Aku ingin memilikimu dengan kewajaran,
Menahan rasaku sehingga engkau tak tertawan,
Menjagamu agar tak pergi meninggalkan,
Aku ingin mencintaimu hingga tanah keabadian..

(21 Desember 2015)


Aku Lelah


Hatiku jengah,
Pikiranku parah,
Tubuhku makin lemah,
Aku tak kunjung berubah..

Allah, aku memujamu dan memujimu,
Tolong aku, Tuhan…
Masukan aku pada cahaya dan tetapkanlah,
Aku ingin menenggak mata air kesyahduan bersama-Mu
Memeluk Rasul-Mu, Muhammad..

Ya Rabbana, Engkau penggenggam jiwaku,
Penatap pandanganku,
Peraba perabaanku,
Pendenagr pendengaranku,
Pencium penciumanku,
Perasa perasaanku,
Izinkan, hijrahkan aku karena-Mu..

Aku lelah Tuhan..

(26 Maret 2016)

Aku pada Diriku


Aku pada diriku adalah seperti mendirikan kembali pohon yang rubuh,
Seperti meluruskan kembali besi yang berkarat dan patah,
Seperti memenjarakan kembali binatang yang binal dan buas..

Aku dan diriku adalah pergulatan,
Antara zenith dan nadir perjuangan,
Antra menyiasati diri yang pandai bersiasat,
Antara aku dan diriku..

Aku dan diriku seperti perjudian,
Yakni beradu antara strategi dan keberuntungan,
Yakni bertemu antara kasar dan kelembutan,
Yakni bertaruh antara kemenangan dan kekalahan..

Aku pada diriku adalah peradukan,
Pada memori hari kemarin yang berwarna gelap,
Pada kenyataan hari ini yang mendebarkan,
Dan pada mimpi dan harapan indah masa depan..

Atas peperangan antara aku dan diriku,
Tuhan yang tahu..

(18 April 2016)

Al-Kahfi


Al-Kahfi, bunda..
Kata Nabi, surat ini dapat membuat wajah berseri-seri.
Logika iman, bunda, bukan logika kebendaan..

Karena aku kembali ingat jika setelah Al-Kahfi ada Maryam.
Keduanya adalah anugerah, bunda..
Dan semoga keberkahan itu untuk bunda dan untuk kami..

Aku bersiang hari dengan doamu yang tak berhenti membumbung tinggi ke langit.
Dengan selarik doaku, aku memanjatkan doa kepada-Nya.
Semoga kehendakmu dan keadaanku bertemu dalam kehendak Allah,
Dan kesabaran kita..

30 April 2016

Api


Jangan engkau bermain api,
Jika engkau tak terbakar,
Mungkin orang lain akan kepanasan..

Api bukan untuk dimainkan namun untuk dimanfaatnya,
Untuk digunakan pada saat yang tepat,
Tidak perlu kau umbar,
Tidak perlu kau habiskan,
Simpanlah dengan baik agar saatnya tiba,
Kau dapat membikin tungku api yang menghangatkan..

(28 Maret 2016)
 

Awan


Mata air awan mulai memancarkan air matanya,
Ia menetes pada genting-genting sehingga membuat ratusan air terjun baru,
Tapi ada air terjun yang sangat menarik perhatianku,
Bahwa air matamu ikut mengalir bersama cinta yang kau pendamkan..

(19 April 2016)


Ayah dari Tekad yang Mati


Aku adalah ayah dari ratusan-buah tekad,
Segumpal azzam yang tak bulat, tak putih, dan tak bercahaya,
Lebih seperti seonggok daging yang mulai busuk,
Sebutir telur “kacingcalang” yang baunya teramat bau,
Seperti sampah yang terlalu lama tak dibuang..

(22 Desember 2015)
 

Batas Senyap


Aku terhenti dibatas senyap
Sudah haus aku dalam dahaga
Dibawah siraman panas membara mentari muda
Sungguh mataku telah membusuk karena terlalu lama tersimpan dalam kelopaknya
                Kini akan ku bersihkan dengan kerikil, angin, dan tajamnya peluru pembelaan
                Disini, di medan kebenaran dan perjuangan
Perih..
Sangat perih..
Laksana sayatan sejuta pedang
Kurasakan tetesan air mata membasahi setiap pori baju kemaksiatanku
Aaaaah sialan aku!
Kenapa aku seperti itu?
Sekarang mati kau!
Ini balas dendamku atas semua kesalahanku
Aaaaa mati aku!
Dengan merah darah di bajuku
Biarkan...
Setidaknya bukan hitam legam warna kemaksiatan

 (16 Februari 2013) 

 

Berkaca pada Malam


Aku berkaca pada malam,
Dan kulihat wajah yang kusam dan muram,
Lampu pondokkan sudah temaram,
Aku kian padam..

Aku mendengar lantunan ayat Quran,
Dari mulutku yang masam,
Suara Tuhan terdengar diam,
Aku kian karam..

Aku menabur diri dengan dendam,
Pada luka bernanah pada silam yang runyam..

Pada dendam yang belum tenggelam,
Pada masa depan yang belum tersulam,
Aku kian geram..

Aku ingin terpejam,
Mencintai tanpa gumam,
Tanpa kalam yang berlanggam,
Bahkan tanpa diam..

30 April 2016


Bicara


Menangislah pada samudera yang Allah siapkan untuk menamping lautan tangisan,
Jangan pada cawan yang mungil dan bocor ini,
Bersandarlah pada gunung yang Allah telah pancangkan dalam-dalam,
Jangan pada pasak yang mudah goyah ini..

Bicaralah pada-Nya lewat langit yang masih basah karena hujan,
Jangan hanya dengan mulut kau bicara..

(18 April 2016) 

Bintang


Memilihmu adalah seperti mencari satu di antara milayaran bintang yang akan jatuh di angkasa,
Akan terlalu lelah bila menanti bintang mana yang akan jatuh kapan dan dimana,
Oleh karenanya sia-sialah menunggu terlalu lama dan,
Percuma menerka-nerka belaka,
Yang pasti bahwa di antara milayaran bintang itu ada satu bintang yang akan jatuh pada rasa,
Tepat saat tiba waktunya..

(11 Juni 2016)

Bukan Warna Hitam


Aku terhenti dibatas senyap,
Sudah lelah aku terdiam dalam dahaga,
Kini Tepat dibawah siraman panas mentari muda,
Mataku telah busuk karena terlalu lama disimpan dalam kelopaknya,
Saatnya, ku bersihkan dengan kerikil angin dan tajamnya peluru pembelaan,
di medan Palestina!
Perih..
Sangat perih..
Mengguyurlah air mataku membasahi setiap pori pakaian kemaksiatanku,
Aaaah, sialan aku! Kenapa aku seperti itu.
Mati kau!
Ini balas dendamku atas semua kesalahanku
Aaaaa, mati aku!
Dengan merah darah di bajuku, setidaknya bukan warna hitam legam kemaksiatan.
Aaaaaaaaa

(12 Oktober 2012)
 

Cara Melupakan


Tuhan ajari aku caranya melupakan,
Seperti hujan yang menghapus debu bebatuan,
Menghapusnya kembali saat debu kembali datang,
Dan aku ingin melenyapkan memori pada lorong-lorong ingatan..

(5 April 2016)
 

Cintai Aku Lagi


Di selasar istanamu,
Aku bahkan tak lagi ingat doa dan dzikir yang dulu kuhafal,
Hanya terduduk, menenggelamkan kepala pada dada.
Tersungkur dalam lamunan panjang tetapi terhampa.
Bengong!

Waktu itu dimana diri-Mu?
Mengapa aku malah beranjak dari rumah-Mu?
Padahal Engkau ada di Singgasana Arasy..
Apakah Engkau tak mengundangku?
Tuhan, aku takut Engkau membenciku.

Cintai aku lagi,
Rukuk dan sujudkanlah aku,
Takbirkanlah dan tahlilkanlah aku,
Hidupkan dan matikan aku,
Dalam kasih sayang-Mu..

(9 Maret 2016)
 

Cinta dalam Jaga


Aku ingin mencintaimu dalam penjagaan,
Dalam pandangan yang tertunduk dan hati yang khusyu’,
Dengan shaum sunnah agar mampu membendung rasa,
Dengan shalat malam dan dhuha agar doaku cepat dikabulkan Tuhan..

Aku ingin mencintaimu dalam penjagaan,
Mereduksi namamu yang mulai hanya satu di hatiku,
Mengubah cinta kepadamu jadi cinta sempurna pada Tuhan,
Lalu mencintai apa yang dicintai-Nya..

Aku ingin mencintaimu dalam penjagaan,
Bukan permainan cinta asal-asalan,
Bukan membuatmu hina dari kemuliaan,
Sehingga membiarkanmu bergumul dengan setan..

Aku ingin mencintaimu dalam penjagaan,
Membiarkan bunga tumbuh jadi mawar yang merekah,
Dan saat kehalalan itu tiba maka aku akan mencintaimu dengan ridha,
Sehingga kita bisa meraih surga bersama-sama.. 

(7 Februari 2016)


Detik


Detik jam mungkin berjalan maju,
Jarum jam berputar mengelilingi angka tujuh ke tujuh,
Namun sejatinya waktu tidak dapat berhenti kembali bahkan berhenti..

Semakin tualah para pemuda,
Semakin rentalah badan yang perkasa,
Semakin keriputlah wajah yang tampan dan cantik jelita,
Dan semakin dekatlah para makhluk pada akhir kehidupannya di dunia..

(19 April 2016)


Doa


Kau adalah hal baik yang kuperjuangkan,
Walau pergulatan takdir ada pada Lauhul Mahfudz,
Semoga doaku dapat Allah kabulkan,
Bersanding denganmu setepatnya waktu..

Aku percaya bahwa apa yang kuperjuangkan,
Allah akan balas dengan semanis-manisnya balasan..

Jika balasan doaku rupanya ada dirimu,
Aku tak bisa apa,
Aku bahagia..

(3 Juni 2016)

Gerhana Matahari


Bulan nampak dingin dan perkasa menutup sang mata siang,
Membentuk segurat senyum cantik pada mega biru yang mulai temaram,
Dalam langkahnya Bulan berkata,
“Janganlah kau terlalu mengangkat kepala..”

Hai dengarkan,
Bahwa cintamu perlu jarak dan penantian,
Tabahkan penjagaanmu pada harapan hatimu itu.
Datanglah dengan tepat tanpa terlalu jauh atau dekat..

Matahari masih menjulurkan lidah-lidah api dari punggung sang dewi malam,
Menampilkan gelora hasrat yang menggebu hebat,
Lalu sambil menahan panas Bulan berkata,
“Tenanglah, akan tiba saatnya bersua..”

Lantas Bulan dan Matahari berjalan kembali ke peredaran,
Bersama mencintai Bumi dengan wajar dan
Tulus dan paksaan..

(13 Maret 2016)

Hijrahkan Aku Karena-Mu


Rabbana aku lelah menjadi manusia yang selalu mengulang salah,
Semenjak dulu hingga sekarang aku mendustakan-Mu,
Sesekali yakin Engkau ada namun selebihnya aku melupakan-Mu,
Aku ini pendusta ulung..

Penciptaku, saat aku tulisa pesan ini mungkin aku akan mengulangi hal yang sama,
Telah kutulis pesan penghambaanku ini pada-Mu puluhan kali,
Namun penyesalanku hanya sesaat,
Lalu hilang dihembus masa..

Wahai yang Maha menambatkan hati,
Aku sempat diam dalam penjagaan :
Dengan perempuan dan dengan Al-Quran.
Aku cukup senang,
Namun perjanjianku hanya sesaat,
Lalu hilang ditelan perpisahan..

(17 Februari 2016)

Hujan


Dalam hujan,
Tuhan memperkenalkan dirinya pada makhluk-Nya,
Allah maha lembut dengan rintik-rintik yang menetes dari langit,
Bahwa ada Dzat yang mengatur kran-kran hujan,
Tuhan : Aku turunkan kepadamu kebaikan maka bersyukurlah

(14 Juni 2016)

Hujan Kecil


Sesekali cobalah berlarian pada hujan kecil,
Menginjak-injak genangan air
Sembari berkas-berkas skripsi masih dalam gendongan,
Rasakan aliran air yang merasuk dan merayap lewat kulit-kulit dewasa kita,
Cobalah sesekali jadi bocah kecil yang riang siang dan malam..

Akan tetapi ingatlah hujan yang membesar membawa kawan,
Berupa kilatan-kilatan petir dan gemuruh guntur yang menakutkan,
Ingatlah hari ini dan esok ada ujian..

Sesekali ciumlah aroma alam sehabis hujan,
Dengarkan nada damai yang diiringi kicauan burung yang senang,
Sembari mengeringkan rambut dan berkas-berkas skripsi kita,
Ingatlah bahwa kita manusia,
Yang diciptakan sepasang dengan luka dan suka ria..

(13 Maret 2016)
 

Istighfar Atas Istighfar


Tuhan aku mengadu atas sikapku sendiri,
Dalam hatiku ada manusia, wanita, harta, dan sampah,
Istighfarku kotor,
Tuhan ampuni aku atas istighfarku..

(13 April 2016)
 

Jalan Keluar


Kuminta jalan keluar,
Tuhan aku lapar!
Kuminta manna dan salwa, makanan langit itu..

Aku ingin jalan keluar!
Bak laut mati yang terbelah tongkat kayu itu,
Tuhan temani aku..

(9 Maret 2016)


Jangan


Jangan lelah api membara,
Jangan jengah salju membeku,
Jangan kalah air mengalir,
Jangan salah angin berhembus..

(4 Mei 2016)


Jatuh Cinta


Cinta itu seperti hujan,
Entah tak tahu kapan dimana ia akan jatuh..

(1 Mei 2016)


Jikapun Ada


Jikapun ada, cintai aku dengan iman dan taqwa,
Jika kau mencintai jasad,
Jika kau memuja rupa,
Jika mendamba harta,
Jjika kau ingin kuasa..

Maka cinta akan binasa,
Seperti rupa yang akan tua,
Seperti harta yang tak kan tersisa,
Seperti kuasa yang sementara..

Maka jika memang aku untukmu,
Cintai aku dengan sederhana,
Jikapun ada,
Cintai aku karena iman dan taqwa..

(9 Maret 2013)
 

Karam


Malam ini bulan menyabit pada langit yang temaram,
Seperti ujung pena yang basah karena tinta,
Dan kulihat Ia menuiskan namamu,
Pada awan malam..

Sehingga saat kulihat pada langit,
Namamu tergores indah dengan tinta emas,
Terang memantulkan cahaya..

Lalu gemintang seperti lampu disko yang
Menemani kesendirian dan penantian,
Bahwa harapanku kembang-kempis,
Menunggu takdirku segaris dengan takdirmu..

Namun malam ini akan kuhabiskan waktu,
Dengan menghapus namamu,
Menenggelamkan hingga karam..

(18 April 2016)

 


Kau


Kau adalah angin yang terbang dari genggaman pada mega,
Adalah jarak yang tak dapat kuusahakan..

Kau adalah orchestra yang telah habis kudengarkan,
Adalah suara yang hilang dari pendengaran..

Kau adalah gula yang telah lenyap kuecap,
Adalah ada yang berganti pada ketiadaan..

Kau adalah hujan yang reda,
Adalah kebersamaan yang tiba pada kesendirian..

(30 April 2016)



Kelambu


Akan lebih baik jika kamu tetap terlindung kelambu dan malu,
Atau akan lebih bagus jika kamu segan pada lelaki,
Karena akan jadi tidak seronok jika kamu terlalu genit pada lensa sehingga
Terserak pada pikiran dan ratusan-pasang mata-keranjang..

(29 Maret 2016)
 

Kubah


Tuhan, setelah sembahyangku,
Air wudhu masih mengalir pada daguku,
Tapi kulihat doaku terkantuk kubah Masjid,
Menggumpal menjadi genangan kata tanpa makna dan asa,
Tuhan ampuni hamba..

(13 April 2016)
 

Mata Tuhan


Jika aku tahu yang mana mata Tuhan,
Aku takkan mudah terlenakan,
Kebusukanku adalah aku tak melihat mata Tuhan yang memandang,
Aku melihat dinding-dinding diam..

Bila sampai pada saat tulang belulangku keropos,
Wajah dan rambutku kusam,
Aku semakin keliru dan jauh berjalan meninggalkan,
Apa taubat itu sebatas penyesalan dan gagasan?

Angkat tangan saat takbirku ibarat takut pada musuh,
Ruku-ku seperti megagungkan raja dan sultan,
Bahkan sujudku bak hanya gerakan yoga untuk kesehatan,
Atau tengadah tanganku saat berdoa seperti pengemis yang minta-minta duit pada manusia..

Ya Salam,
Aku di selasar Rumah-Mu,
Aku memandang pada ruang utama tempat orang sujud dan meminta,
Adakah engkau di dalam sana?

30 April 2016



Melati


Bunga Melati terhampar,
Yang putih memilin di Gapura ruangan,
Memahkotai kerudungmu dengan wajah yang berbinar,
Serta mengalung pada leherku di pesta pernikahan..

(28 Maret 2016)
 

Mencintai Takdir


Mencintaimu adalah mencintai ketiadaan,
Mencintai takdir yang Allah akan goreskan..
Mencintaimu adalah mencitani penantian,
Mencintai waktu yang Allah akan sampaikan..
Mencintaimu adalah mencintai penjagaan,
Mencintai perjuangan dan pengorbanan yang Allah akan berikan..

(4 Mei 2016)


Mencintai Tuhan


Mencintai Tuhan adalah mencintai tanpa takut bertepuk sebelah tangan,
Tanpa khawatir salah mengomunikasikan maksud hati dan perasaan,
Tanpa perlu gagap mencurahkan rindu untuk bertemu,
Tanpa perlu mengatur masa untuk berjumpa,
Tanpa perlu meminta kepada slain-Nya untuk mendapat ridha dan Surga-Nya..

(10 Mei 2016)

Mendekap Ketiadaan


Tak usah mendekap ketiadaan dan ketidakpastian,
Karena walaupun kuat kau mendekap,
Tetap saja yang tiada tetap tiada..

(2 Mei 2016)

Menghapus Mimpi


Bagaimana menghilangkanmu dari mimpiku?
Kurasa engkau terlalu sering muncul dalam bagian-bagian dari mimpiku.
Seperti semalam,
Saat aku mengajakmu berbicara tentang pekerjaan kita,
Engkau berkenan.
Lalu kita duduk di atas reruntuhan bangunan,
Kau menghadap ke Barat dan aku menghadap ke Timur.
Karena bosan, maka aku mengubah arah dudukku sehingga mengarah ke jalanan.
Rupanya kau juga mengarahkan badanmu ke arah jalanan.
Kulihat sesekali kau melihatku,
Sebetulnya aku tersipu malu dan bahagia.

(30 April 2016)


Menangis pada Samudera


Menangislah pada samudera yang Allah siapkan untuk menampung air mata,
Jangan pada cawan yang mungil dan bocor ini..

Bersandarlah pada gunung yang Allah telah pancangkan,
Jangan pada pasak yang mudah goyah ini..

Bicaralah pada-Nya lewat langit yang masih basah karena hujan,
Jangan hanya dengan mulut kau berkata..

(11 April 2016)
 


Mencintaimu adalah Seni


Mencintaimu adalah seni bersabar,
Mencintaimu adalah seni menjaga,
Mencintaimu adalah seni memungkinkan sesuatu terlaksana,
Mencintaimu adalah seni berdoa dan pasrah kepada Tuhan..

Mencintaimu adalah seni berkomunikasi,
Mencintaimu adalah seni menyimpan rahasia,
Mencintaimu adalah seni membiasakan diri,
Mencintaimu adalah seni berdoa dan pasrah kepada Tuhan..

Mencintaimu adalah seni tak menjadikanmu dewa,
Mencintaimu adalah seni membuatmu bertumbuh dan berkembang,
Mencintaimu adalah seni mendidik jadi istimewa,
Mencintaimu adalah seni berdoa dan pasrah kepada Tuhan..
 

Nama-Mu


Allahu Akbar, tiada nama yang paling agung dari nama-Mu,
Bismillah, aku buka dengan nama-Mu bukan nama selain-Mu,
Qulhuwallahu Ahad, Engkau hanya satu dan Engkau tujuanku. Tak ada niat selain pada-Mu.
Subhana Rabbial a’dzim, Nama-Mu akan selalu yang paling agung. Tuhan semesta alam.
Subhana Rabbial a’la, Nama-Mu yang Maha Mulia.
Assalamu’alaikum, semoga kasih sayang, kedamaian, dan ketenangan hati sampai kepadaku. Dan semoga keselamatan sampai padamu.

(18 April 2016)

 

Orchestra Hujan


Rintik hujan itu berisik,
Tapi uniknya ia menarik.
Merintiknya adalah bukan untuk menyakiti namun,
cara Allah menunjukkan kasih sayangnya pada makhluknya..

lagipula, berisiknya itu harmoni.
Ada yang memukul genting rumah,
menghantam batu dan tanah,
menetesi dedaunan, atau tergenang pada lobang di jalanan.
Orchestra hujan..

Aku tak pernah tahu berapa banyak melodi dan lagu yang ia mainkan,
Karena semenjak aku dulu menari hingga hari ini menikmati ketenangan dalam hujan,
Bahwa aku tak pernah bisa dengan hujan.
Hujan menemani saat sendiri ataupun saat bersama-sama..

Standing applause! Dan bersyukur kepada Allah karena bisa melihat, mendengar, dan merasakan harmoni hujan..
(30 April 2016)

Patah


Sebelum aku istirahat, putri
Aku ingin berlagu terlebih dahulu,
Karena patah hati agak sakit rasanya,
Dan mataku sedang belajar tertutup sempurna..

Aku mesti menegapkan kembali menara yang miring,
Serta menguatkan lutut-lutut yang lemas,
Karena hakikatnya hidup bukan drama dan aku bukan sutradaranya,
Hidup dan mati miliki Tuhan,
Raja semesta alam..

Kemarin,
Kurangkai ribuan kata yang terserak,
Kukumpulkan jari ratusan sajak,
Kuikat jadi sebuah rencana besar,
Namun rupanya takkan kuat untuk tak rusak,
Melawan takdir..

Lebih baik mencintai pada masanya,
Saat putri dan pangeran datang dengan lewat jalur yang tepat,
Dan baik rupa serta agamanya,
Yang diikhlaskan sebagai rekan pelayaran..

Malam ini,
Sepertinya aku tak jadi menutup mata cepat-cepat,
Harapan dan mimpiku belumlah padam,
Harus kuselesaikan skripsi dan mulai cari penghasilan,
Dan lalu kukirimkan padamu sebuah lamaran..

(6 April 2016)
 

Penantian (1)


Kita berdua telah ada,
Sedang berjalan di permukaan bumi yang sama,
Terhembus angin yang sama,
Merasakan hangat dari matahari yang sama,
Beratap langit yang sama,
Bahkan mungkin bertemu dalam satu ruangan yang sama, 
Namun hanya saja belum berjumpa..

Apakah semalam atau ratusan malam dalam penantian,
Menikmati pagi yang muda dan senja yang makin menua,
Menyertai dedaunan yang gugur dan bunga mawar yang layu dan memekar,
Lalu berharap pada Tuhan akan sebuah pertemuan..

Saat jam pasir waktu sampai pada butir yang tepat,
Dimana sepasang mata memandang sepasang mata yang lain,
Dan jemari menggenggam jemari yang lain,
Saat dua rasa disatukan dalam ruangan yang sama,
Yakni hari pernikahan..

(15 Maret 2016)

Penantian (2)


Aku berdiri pada stasiun penantian,
Menunggu datangnya satu pasangan dengan jari tergenggam,
Saat inginku datangnya kebersamaan,
Mencapai ketenangan dalam sebuah perjuangan..

Aku belumlah dapat satu orang yang rela berdampingan dalam sengsara,
Menemani langkah mengayuni roda-roda kehidupan,
Yang berkelok terjal nan panjang,
Dan penuh ketidakpastian..

Duhai aku agaknya menunggu terasa lama,
Hingga kerak dan lumut hidup lebih dulu datang memeluk badan,
Menggodaku untuk tetap diam di stasiun pemberangkatan,
Aku takut terlalu senang dengan pandangan dan angan-angan harapan,
Aku takut kau tak kunjung datang..

(13 Maret 2016)
 

Penantian (3)


Apakah jadwal cinta tak selalu datang tepat waktu?
Padahal aku telah sanggup melakukan perjalanan jauh,
Padahal aku telah siap jadi nahkoda dari bahtera di lautan,
hmmm hmmm hmmm Tuhan yang menentukan jadwal keberangkatan..

Tuhan,
Lihatlah aku telah membawa bekal yang cukup untuk sebuah perjalanan,
Tubuhku sehat dan kuat diterpa dingin dan panas,
Akalku cerdas dan tangkas meracik minuman dan makanan..

Mungkin kau ingin aku sabar dalam penantian,
Baik Tuhan maka aku akan ikhlaskan..

(13 Maret 2016)
 

Permata yang Terjaga


Yang terkubur tak harus membusuk,
Yang terkubur malah mahal,
Yakni permata yang terpendam,
Tersimpan dalam..

Hurun’in, bidadari bermata jeli,
Bulat nan bersinar,
Menatap mesra,
Memancarkan kebeningan hati pemiliknya..

Engkau, tak perlu menonjolkan diri,
Agar orang tertarik hati,
Cukup bersabar dan semakin mahal,
Karena para penggali tahu benar,
Tempat barang berharga berada,
Dengan insting dan usahanya..

Ada saatnya permata diluruskan,
Diasah, dan dibentuk oleh ahlinya,
Meluruskan dengan lurus,
Adapun para bajingan,
Cuma pintar melucu,
Memain-mainkan perkakas,
Lalu menggali tanpa ilmu..

Wahai permata yang terjaga,
Bersabarlah, dan
Semakin mulialah engkau..

(28 November 2015)
 

Pesona Iman


Aku takjub pada pesona iman
Atas tegasnya ia percaya,
Mengucap, dan beramal bahwa Tuhan itu satu!
Atas penghambaannya yang khusyu
Atas akhlaknya yang tinggi nan mulia

(15 Januari 2016)

Puisi


Puisi adalah maksud hati yang dibungkus dengan diksi,
Puisi adalah catatan harian yang dipadu jadi larik-larik yang dipadupadankan,
Puisi adalah mozaik rasa yang tersimpan rapi dalam spasi dan kata berima..

(19 April 2016)


Rambut


seperti mengukir angin,
atau mewarnai bongkahan es dengan cat air,
atau seperti menulis pada pasri lalu tegerus ombak,
aku berharap pada yang tak layak diharapkan,
kekahwatiranku cuma satu yaitu aku tak kuat bertahan..

padahal rambut sudah beruban,
dan langit berkali-kali tak berrembulan,
andai aku mengerti bahasa Tuhan,
kuharap aku lebih bertahan dalam kesabaran..

(10 Juni 2016)

Rencana


Kau perlu tahu bahwa aku kini sedang menunggu Tuhan,
Apakah pada sajadah, saat berjalan, atau saat merenung di taman..

Namun Tuhan punya rencana-Nya sendiri,
Sedang aku tak tahu guratan hidup yang tertulis di Lauhul Mahfudz,
Namun selarik doa senantiasa kulantunkan,
Semoga Tuhan tak enggan memberiku ketabahan..

(10 Juni 2016)

Rindu


Bagai awan pada daratan,
Rinduku terpaut jarak dan penantian..

(9 Mei 2016)


Seragam


Dan lalu aku sudah berganti seragam,
Dari jas megah dengan secarik kain bertambal-tambal,
Kau telah tahu bahwa kehormatanku adalah hasil pinjaman,
Dan ini sang empunya telah meminta bagiannya..
               
Sejujurnya aku lebih bahagia pada busana yang sederhana,
Pada baju dan celana yang tidak berat dengan kebohongan,
Sederhana yang tertutup rapi dan indah dipandang,
Dan lalu penilaian ada pada dirimu,
Hanya saja aku memang sederhana..

(11 April 2016)
 

Seragam (2)


Dan lalu aku sudah ganti seragam,
Dari jas megah dengan secarik kain yang bertambal-tambal,
Kau telah tahu bahwa kehormatanku adalah hasil pinjaman,
Dan kini sang empunya telah meminta bagiannya..

Sejujurnya aku lebih bahagia pada busana yang sederhana,
Pada perut yang lebih dekat dengan lapar,
Pada tidur yang lebih dekat dengan terjaga,
Pada aku yang dekat dengan Tuhanku..

(18 April 2016)


Serambi Shubuh


Di serambi shubuh aku belum bersimpuh,
Masih congkak akan keperkasaan tubuh,
Bola mata terjaga mengurus perkara dunia,
Asyik menikmati masa muda,
Padahal makin lama bakal makin tua renta..

(29 Maret 2016)
 

Sujud


Aku tak akan jauh-jauh mencarimu,
Jika diirmu tak pernah kuihat dan berbentuk bayangan di masa depan,
aku hanya akan bersujud kepada Tuhan..
Kucintai Dia Tuhan yang menciptakanku, dirimu dan sebuah pertemuan..
Bila aku sedang bersujud dan meminta,
Kuharap kau jugasedang melakukan hal yang sama..

(4 Mei 2016)


Syair Gurun Pasir


(1)Matahari hinggap di jidat
Membakar pepasir gurun siang ini
Bagai cerminan diriku hari kemarin
Gersang bak preman     

(2)Langkah masih selangkah
Padahal air dan padang rumput masih jauh
Melangkahi ratusan gunung-gunung gurun
Oasis bak harapan

(3)Jubah pangeranku telah dulu lusuh
Kubagikan dengan nafsu-nafsuku itu
Kudapat sejumput malu pada diriku
Badan bak tak bertuan
               
(4)Ya Hudan, raja diraja gurun pasir
Diri-Mu padaku tanpa hijab
Aku terjerembab
Ingin meneguk segelas air telaga Surga-Mu

(15 Januari 2016)
 

Takkan Salah


Takkan salah hujan merintik,
Takkan salah dedaunan tumbuh,
Takkan salah awan berarak,
Takkan salah hati terpasangkan..

(8 Mei 2016)


Tasbih dan Rindu Daun


Daun bertasbih memuja Tuhan Yang Maha Pengasih,
Dan tersenyum pada langit dan pada tanah,
Lalu menguapkan air pada langit dan menitipkan salam untuk samudera,
Katanya, “Aku ingin berjumpa..”

(8 Mei 2016)



Telinga


Aku berbisik lirih tepat di telinga-Mu,
Jari-Jemariku tepat tertempel pada jemari-Mu,
Dan kakiku menempel tepat pada kuasa-Mu,
Bila doaku kau dengar hamba mohon kabulkanlah..

(13 April 2016)

 

Ujian Lengan


Yang aku takutkan adalah ketika ada masalah,
                Aku patah..
Walau sebetulnya aku tahu bahwa ada beban dengan lengan,
                Ada ujian dengan pundak,
                Dan ada problematika dengan sabar dan shalat..
Yang kutakutkan adalah aku tak sadar jika,
                Aku punya Tuhan yang menciptakan kesukaran,
                Bersamaan dengan kemudahan dan kemudahan.

(19 April 2016).


Ya Muhaimin


Ya Muhaimin,
Gerimis menutupi mataku melihat rembulan,
Lantas hanya tangankulah yang tengadah ke arah Arasy,
Munajat atas permintaanku kepadamu..

Bilakah Engkau membangunkan tidurku,
Dan Engkau berkunjung ke langit bumi,
Aku akan bermunajat sekali lagi,
Berbisik meminta hati yang kokoh dan tak mudah retak,
Hati yang punya kunci di pintu hati dan kunci di jendela mata..

Bilakah sampai pada saat dzikir pagiku maka akan kulantunkan lafadz,
"Aku telah ridha Allah sebagai rabb-ku, dan islam sebagai agamaku dan
Muhammad sebagai Nabi dan rasulku."
Tuhan, kumohon agar Engkau memberiku arah yang tepat menuju Surga

Ya Muhaimin,
Aku titipkan sebuah nama yang kucintai dan kuhormati,
Yang kuharap dapat Kau jaga,
Sebagaimana Kau jaga Maryam ibunya Isa
atau Fatimah Azzahra untuk Ali Bin Abi Thalib..

Ya Muhaimin,
Cintakan aku kepadamu sepenuhnya,
Sehingga tak ada lagi rongga kerinduan dan pengharapan,
Selain daripada-Mu

Bilakah aku mencintai makhluk-Mu,
Jangan biarkan aku melupakan-Mu,
Buat agar cintaku dan cintanya ikhlas hanya kepada-Mu,
Jadikan cintaku dan cintanya adalah cinta dalam rangka cinta kepada-Mu..

(14 Pebruari 2016)


Tentang Penulis
Galih kurniawan lahir di Ciamis, Jawa barat, 14 Pebruari 1993. Galih adalah mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FPIPS UPI 2012. Violet (2016) merupakan tulisannya yang berisi kumpulan puisi cinta dan doa.

Berkomunikasi dengan Galih :
Telp/WA/Line      +62 896 0280 2579
Email                     galihcommunications@gmail.com
Blog                       permatakomunikasi.blogspot.com


 


berikut ini adalah link Violet PDF :
Link download Violet - kumpulan sajak cinta dan doa