*Lompat*
Jiwapun melompat hendak keluar dari badan,
Sebetulnya mati bagi pendosa bukan akhir dari kepedihan,
Namun awal,
Apakah kita bukan pendosa?
*Darah*
Sederas air merah itu tak lagi mengalir di tempatnya,
Tak lagi mengalir di urat-uratnya,
Melainkan sudah bocor melalui mulut, perut, lambung, dan jantung.
Darah bocor kemana-mana.
*Mushola*
Mengapa rumah Tuhan ditinggalkan sedangkan tikar-tikar dipasangkan?
Bukan shalat yang dikerjakan,
Melainkan tidur dipanjangkan.
Mushola kosong untuk berdoa,
Dan sepertinya Tuhan telah menunggu lama makhluknya meminta.
*Rasa*
Bagaimana rasanya kaki dan tangan patah dan terputus saat perang?
Sedangkan kaki yang terkantuk batu jalanan itu begitu menyakitkan,
Bila berbaring masih dapat tertawa,
Bagaimana rasanya saat dicabut nyawa sedang senyum tersungging bahagia?
*Tagihan*
Aku sedang menghitung tagihan,
Bila sehari untuk makan saja menghabiskan 25.000 maka 20 tahun terhitung 182.500.000, atau 60 tahun terhitung 547.500.000,
Belum terhitung nikmat hidup, nikmat sehat badan, nikmat Islam, nikmat iman, nikmat keluarga, nikmat persaudaraan, nikmat tertawa dan bahagia, dan segala nikmat yang banyak itu,
Kira-kira berapa tagihannya?
*Bangsal sebelah*
Tak ada jamuan khusus berbentuk makanan dan iman,
padahal malaikat maut sudah mampir di bangsal sebelah,
Menyabut nyawa dengan raga,
dan mungkin saja sekarang atau esok ia datang,
membawa surat kuasa mencabut nyawa..
*Nasehat*
Nasehatnya,
Meraung-raung melaung-laung,
Menjerit-jerit terpekik-pekik,
Talqin syahadat tahlil takbir,
Lalu,
Dia diam bungkam,
Dingin menghitam,
Dan tangis pasang mata terisak-isak,
Mayat ditutup matanya
(Bangsal, 29 Oktober 2016)
*Keburu Terbang*
Wajah para perawat membatin,
Karena pasiennya hilang nyawa,
Kerumunan dokter menyetrum jantung,
Izrail keburu terbang.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)
*Rotasi*
Pasien lama ada yang pulang,
Pasien baru ada yang datang,
Pasien lama nyawanya ada yang hilang,
Pasien baru menitip harapan.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)
*Pongah*
Apa kau lihat jiwa yang pongah?
Rasa yang meninggi, berkarat, dan mengeras,
Yang bebal dikasih pelajaran,
Yang busuk lantas segera mati,
Tolong titipkan pesan padanya,
Bahwa malaikat maut akan datang mendatangi..
(Bangsal, 29 Oktober 2016)
*Darah Mahal*
Bahan bakar minyak semakin mahal saja,
Namun tak sebanding dengan harga darah segar,
Nilainya sama dengan nyawa,
Tak heran mengapa kekayaan berani digadaikan.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)
Hasrat itu setebal kulit,
Sepanjang tubuh,
Sebesar perut,
Seluas tanah yang dapat terpijak,
Selama usia dunia tersedia,
Sedangkan akhirat jauh lebih lama,
Dunia di depannya bagai sekejap mata.
(Bangsal, 30 Oktober 2016)
Ujian cinta adalah bukan pada saat kaya rasa,
Justru seringkali bermegah-megah lalu lupa,
Ujiannya lebih hebat saat sedang sekarat.
(Bangsal, 30 Oktober 2016)
Seperti dandelion yang terbang tertiup angin,
Menyeruak terlepas dari pusat bunganya,
Begitu sama terkelupasnya jatah usia manusia dari sisanya.
(Bangsal)
Orang bilang bukan saatnya menulis sajak,
Menurutku akan selalu tetap saatnya menanam harapan.
(Bangsal)
Dzikir-dzikir malam selalu terlantun,
Dari bibir-bibir yang bergantin,
Sebagian berdengkur,
Sebagian tafakur.
(Bangsal)
Nak jangan jadi suami yang takut istri,
Jadilah suami yang setia dan berpercaya,
Jangan mau enaknya saja,
Ayo urusi jenazahnya.
(Bangsal)
Jiwapun melompat hendak keluar dari badan,
Sebetulnya mati bagi pendosa bukan akhir dari kepedihan,
Namun awal,
Apakah kita bukan pendosa?
*Darah*
Sederas air merah itu tak lagi mengalir di tempatnya,
Tak lagi mengalir di urat-uratnya,
Melainkan sudah bocor melalui mulut, perut, lambung, dan jantung.
Darah bocor kemana-mana.
*Mushola*
Mengapa rumah Tuhan ditinggalkan sedangkan tikar-tikar dipasangkan?
Bukan shalat yang dikerjakan,
Melainkan tidur dipanjangkan.
Mushola kosong untuk berdoa,
Dan sepertinya Tuhan telah menunggu lama makhluknya meminta.
*Rasa*
Bagaimana rasanya kaki dan tangan patah dan terputus saat perang?
Sedangkan kaki yang terkantuk batu jalanan itu begitu menyakitkan,
Bila berbaring masih dapat tertawa,
Bagaimana rasanya saat dicabut nyawa sedang senyum tersungging bahagia?
*Tagihan*
Aku sedang menghitung tagihan,
Bila sehari untuk makan saja menghabiskan 25.000 maka 20 tahun terhitung 182.500.000, atau 60 tahun terhitung 547.500.000,
Belum terhitung nikmat hidup, nikmat sehat badan, nikmat Islam, nikmat iman, nikmat keluarga, nikmat persaudaraan, nikmat tertawa dan bahagia, dan segala nikmat yang banyak itu,
Kira-kira berapa tagihannya?
*Bangsal sebelah*
Tak ada jamuan khusus berbentuk makanan dan iman,
padahal malaikat maut sudah mampir di bangsal sebelah,
Menyabut nyawa dengan raga,
dan mungkin saja sekarang atau esok ia datang,
membawa surat kuasa mencabut nyawa..
*Nasehat*
Nasehatnya,
Meraung-raung melaung-laung,
Menjerit-jerit terpekik-pekik,
Talqin syahadat tahlil takbir,
Lalu,
Dia diam bungkam,
Dingin menghitam,
Dan tangis pasang mata terisak-isak,
Mayat ditutup matanya
(Bangsal, 29 Oktober 2016)
*Keburu Terbang*
Wajah para perawat membatin,
Karena pasiennya hilang nyawa,
Kerumunan dokter menyetrum jantung,
Izrail keburu terbang.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)
*Rotasi*
Pasien lama ada yang pulang,
Pasien baru ada yang datang,
Pasien lama nyawanya ada yang hilang,
Pasien baru menitip harapan.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)
*Pongah*
Apa kau lihat jiwa yang pongah?
Rasa yang meninggi, berkarat, dan mengeras,
Yang bebal dikasih pelajaran,
Yang busuk lantas segera mati,
Tolong titipkan pesan padanya,
Bahwa malaikat maut akan datang mendatangi..
(Bangsal, 29 Oktober 2016)
*Darah Mahal*
Bahan bakar minyak semakin mahal saja,
Namun tak sebanding dengan harga darah segar,
Nilainya sama dengan nyawa,
Tak heran mengapa kekayaan berani digadaikan.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)
Hasrat itu setebal kulit,
Sepanjang tubuh,
Sebesar perut,
Seluas tanah yang dapat terpijak,
Selama usia dunia tersedia,
Sedangkan akhirat jauh lebih lama,
Dunia di depannya bagai sekejap mata.
(Bangsal, 30 Oktober 2016)
Ujian cinta adalah bukan pada saat kaya rasa,
Justru seringkali bermegah-megah lalu lupa,
Ujiannya lebih hebat saat sedang sekarat.
(Bangsal, 30 Oktober 2016)
Seperti dandelion yang terbang tertiup angin,
Menyeruak terlepas dari pusat bunganya,
Begitu sama terkelupasnya jatah usia manusia dari sisanya.
(Bangsal)
Orang bilang bukan saatnya menulis sajak,
Menurutku akan selalu tetap saatnya menanam harapan.
(Bangsal)
Dzikir-dzikir malam selalu terlantun,
Dari bibir-bibir yang bergantin,
Sebagian berdengkur,
Sebagian tafakur.
(Bangsal)
Nak jangan jadi suami yang takut istri,
Jadilah suami yang setia dan berpercaya,
Jangan mau enaknya saja,
Ayo urusi jenazahnya.
(Bangsal)
posted from Bloggeroid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar