Sabtu, 19 Desember 2015

Puisi : Sekali Jadi Setan




Teng tong tong terereng
Kau melihatnya bagai setan
Berotak rusak

Teng tong rengtengteng
Satu siang di Bulan Desember
Katamu dia bergerak

Teng tong tetetet
Cuma berengsek,
padahal sekali

Puisi : Belajar dari Hujan





Belajar dari hujan yang taat pada pencipta dan Rabbnya
Ia turun baik pagi, siang, atau malam
Ia menyusup pada hati manusia
Apakah resah atau sakinah

Belajar dari tetes hujan yang sabar atas titah pemiliknya
Yang rela berbenturan dengan karam,
Menelisik sela-sela bebatuan malam,
Lalu tabah

Aku berjalan tanpa payung,
Belajar menikmati rintik-rintik hujan,
Yang menggerayami tanpa permisi,
Gerimis ternyata romantis

Namun cemburu itu lantas tak hilang,
Tak lenyap bagai hujan yang membasuh pasir pada daun-daun tanaman
Bara inginku masih menempel pada dinding hati
Tak mau pergi

Senyap,
Rerintik hujan mulai reda tiba-tiba
Aku tahu bukannya kau tak mau duduk berdua denganku,
Aku tahu engkau sedang taat pada Rabbmu

Selalu seperti itu,
Engkau datang dan pergi
Tanpa berucap
Hanya memberiku isyarat kecil
Katamu : aku akan kembali

Hujan, karena taatmu itulah
Aku akan selalu senang..
Saat engkau pergi
Dan saat engkau datang
Padaku lagi


Puisi : Dirimu dalam Dinding





Aku menunggumu di kursi bundar
Ruangan itu
Lalu kau berjalan menghampiri
Aku melihatmu dari dinding kaca
Soalnya aku malu
Lalu suaramu berbisik,
“Apa kabar?”

Puisi : Kata Terakhir Pertemuan



Awalnya kita hanya mengenal deretan nama dan
cerita dari orang-orang sana,
Namun lalu dipertemukan di lingkaran cinta
menyanggupi menanggung beban bersama-sama
mengarungi perjalanan penuh kisah

kita mulai belajar berkenalan,
memahami satu sama lain
bersua
berjanji
bercanda
tertawa
tersakiti
memaafkan
berjalan bersama kembali

Kini kita ada diakhir pertemuan kita
beribu kisah dan kasih tlah kita ukir bersama
oleh karenanya kuucap terimakasih kawan atas perjalanan cinta selama ini

Senang bertemu kalian,
jika Allah menghendaki
takkan ku lupa kalian karena Allah
hingga Allah sendiri yang mencabut ingatanku pada kalian
Semoga kita dipertemukan ditempat lain dengan keadaan yang lebih baik,
dimasa depan dengan cerita kita masing-masing
juga dengan kenangan yang kita simpan
hari ini..

Puisi : Maaf Saat Fajar


Fajar mengumpulkan sinar-sinar yang sbelumnya terpendar,
Mulai meramu jentik-jentik impian yang tertimbun malam

Inginku tabah memaafkan setiap jejak langkah di belakang
Lalu mulai menerawang tanah yang masih lapang
Di pandang

Kemana langkah akan mengarah?