Bismillah
20
Desember 2015
Tak
ada mimpi yang terlalu besar, namun ikhitiar yang belum besar.
Kalimat
itu yang seketika menyeruak dalam diri saya saat melihat buku “Puzzle Puzzle
Story-The Diary of Program Tutorial” pada April 2015 dan buku “ Kalam” pada hari
ini. Sungguh pada awalnya saya sakut hati karena mimpi yang selama ini saya
catatkan belum sempat saya wujudkan.
Saya
merasa tak bisa menjalankan mimpi ini. Keluhan itu yang saya sampaikan pula
kepada pengurus harian saya. Namun saya kira tak ada gunanya berdiam diri. “Ada
dua sikap yang bisa kita lakukan saat melihat mimpi orang lain; apakah berdiam
diri atau berlari.” Tentu kita perlu memilih opsi “berlari” agar mimpi-mimpi
kita dapat terwujud.
Suatu
saat pernah saya broadcast kepada anggota tentang rencana pembuatan buku ini. Ada
beberapa orang yang mendaftar namun belum saya follow up. Lalu rencana untuk
memfollow up belum juga muncul. keberanian saya masih berbentuk jentik-jentik
yang kecil. Perlu waktu untuk menghubungi mereka kembali. Oleh karenanya sambil
mengumpulkan keberanian, lalu menghubungi mereka kembali, sepertinya
tulisan-tulisan ini akan saya sampaikan di blog pribadi.
Mulai
Sesungguhnya
saya juga bingung darimana akan memulai cerita ini. Namun daripada bingung,
saya akan menuliskan saja apa yang ada dalam pikiran saya mengenai lembaga
dakwah kampus unit kegiatan dakwah mahasiswa (LDK UKDM) Universitas Pendidikan
Indonesia (UPI).
Empat
tahun yang lalu saat saya menjadi mahasiswa baru (maru) saya mendapatkan pesan
dari mentor saya agar saat saya menginjakkan kampus, saya menghubungi dua
lembaga yakni kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan LDK. Saya menuruti
pesan mentor saya itu. Sehingga setelah saya mendaftar ulang sebagai mahasiswa
UPI maka saya mencari stand KAMMI dan LDK. Sesederhana itulah alasan saya
mengikuti KAMMI dan LDK di kampus Bumi Siliwangi ini.
Waktu
itu saya baru tahu jika KAMMI bukanlah UKM UPI sehingga tak ada standnya di
kampus. Ada juga stand LDK yang berdiri mewah; lebar, rapi, dan diisi oleh
wajah-wajah ceria. Disanalah saya pertama kali berkenalan dengan LDK UKDM UPI.
Saya
tidak bohong saat saya mengatakan bahwa stand LDK UKDM itu mewah. Letaknya di
taman barety, memakai tenda, memiliki label UKM, bendera, dan orang-orang yang
berkumpulan di stand tersebut. saya menghampiri stand tersebut dan berkenalan
dengan anggota LDK UKDM. saya mengisi format isian maru dan diwaancara oleh
anggota UKDM. saya tidak ada kecurigaan apapun waktu itu, saya hanya berpikir
bahwa data itu digunakan untuk lebih mengenal saya. Dan dengan identitas yang
lengkap maka saya dapat aktif di LDK UKDM dengan baik. Akang yang mewawancarai
saya dapat membuat saya nyaman karena ia murah senyum, terbuka, dan tidak
memposisikan diri sebagai senior yang menakutkan. Saya melihatnya sebagai kakak
pemimbing yang baik di kampus.
Waktu
berjalan, saya mengikuti Training Muslim of Revolution (TMR) 1 di LDK UKDM.
saya agak ogah-ogahan karena saya menganggap syarat-syarat yang diberkan cukup
sulit untuk saya kerjakan. Saya beranggapan bahwa syarat-syarat itu tidak
terlalu penting dengan pergerakan. O ya, di SMA saya termasuk orang yang sangat
aktif berorganisasi.
Saat
saya megikuti TMR, saya merasa bahwa acara ini tidak berurgensi besar bagi
saya. Materi yang diberikan merupakan materi yang pernah saya terima di SMA. Namun
ada beberapa materi yang jadi “super” karena pemateri yang menyampaikannya saya
kira super. Saya ingat salah satu pematerian yang saya sukai adalah pematerian
yang dibawakan oleh “Putra Sulung Baginda”. Seseorang yang pada saat ini (2015)
menjadi pembimbing UKM LDK UKDM.
Saya
tidak mengikuti TMR 1 sampai selesai. Hal itu karena ada ibu yang datang
menjenguk anak-anaknya di Bandung. Rasanya tidak enak ada ibu datang ke bandung
namun anak laki-laki satu-satunya tidak menemuinya. Akhirnya saya izin kepada
panitia untuk meninggalkan acara. Saat saya meninggalkan TMR 1 itu ada moment
yang saat ini saya sesalkan yakni pemilihan mas’ul dan mas’ulah Program Taaruf (PT)
28 LDK UKDM. rupanya meninggalkan agenda itu berdampak cukup besar bagi saya
karena ketinggalan beberapa agenda dan informasi.
4
kali mentoring dalam sepekan
Setelah
memasuki kampus, saya mengikuti 4 grup mentoring dalam sepekan yakni halaqah
lanjutan dari SMA, Tutorial, Madrasah KAMMI, dan mentoring LDK UKDM. hal yang
membuat saya sibuk dan merasa sudah jadi aktivis di awal-awal masuk kampus. Saya
senang menjalani empat mentoring itu karena saya merasa bahwa saya perlu banyak
melakukan pembinaan dan perlu banyak ilmu untuk aktif di kampus.
Namun
saya, diantara mentoring itu mentoring LDK UKDM hanya berlangsung kurang lebih
tiga sampai empat bulan. Saya dimentoring oleh ketua umum LDK UKDM 2012 yakni
kang Agus Mulyana. Menurut kabar dari Departemen Kaderisasi Pembinaan Sumber
Daya Manusia (KPSDM) bahwa mentoring saya dipindahkan ke mentor yang lain. Akan
tetapi berkali-kali saya hubungi mentor baru namun tak ada respon. Ternyata kondisi
yang saya rasakan itu dirasakan pula oleh kebanyak anggota terlebih PT 28. Semenjak
saat itu saya memandang bahwa mentoring di LDK UKDM belum rapid an semenjak
saat itu respect saya ke LDK UKDM berkurang.
TMR
2
Meskipun
saya kurang respect ke LDK UKDM waktu itu, saya tetap mengikuti alur kaderisasi
yang lain termasuk TMR 2. Saya mengikutinya dengan antusias walaupun acara yang
disuguhkan tidak sesuai dengan rencana yang disampaikan kepada peserta. Dari kejadian
itu, saya menulis sekitar delapan lembar untuk menceritakan pengalaman TMR 2;
cerita menarik dan kritik untuk LDK UKDM. namun setelah saya mengikuti TMR 2,
saya memiliki tekad untuk memperbaiki LDK UKDM. Tekad itu tak padam hingga saat
ini.
KAMMI
vs LDK UKDM
Versus,
seperti itulah istilah yang saya gunakan untuk momentum yang menarik dalam
hidup saya. Pada saat yang sama, saya dicalonkan menjadi ketua umum (ketum) di
dua lembaga yakni KAMMI UPI dan LDK UKDM UPI. Bukan maksud saya berambisi
menjadi ketum dan nekad menjadi ketum di dua lembaga tersebut. bagaimana tidak
menarik, satu orang dicalonkan menjadi ketua di dua lembaga yang notabene
berbeda; internal dan eksternal kampus. Sedangkan publikasinya telah tersebar
di media. Orang-orang yang memperhatikan dinamika kampus pasti mengetahui bahwa
saya dicalonkan di kedua lembaga tersebut.
Saya-pun
sempat bingung karena menjadi ketum bukan merupakan ambisi saya. Apalagi menjadi
ketum di dua lembaga yang berbeda. Apalagi menjadi ketum pada saat waktu yang
sama. Namun dari hasl pembicaraan saya dengan mentor dan para senior, saya
bersimpulan bahwa saya musti jalani saja dulu prosesnya. Biarkan takdir Allah
yang menggariskan dimana saya akan menjadi ketum. Akhirnya singkat cerita saya
diamanahi menjadi ketum LDK UKDM UPI 2015.
Ketum
LDK UKDM UPI 2015
Saya
memiliki sejenis trauma yang saya namakan trauma kepemimpinan. Sejatinya trauma
ini tidak ada dalam kamus kesehatan karena saya yang membuatnya sendiri. Trauma
kepemimpinan adalah trauma menjadi pemimpin karena pernah mengalami kegagalan
dalam proses kepemimpinan. Dulu, saat SMA saya pernah dicalonkan menjadi ketua
OSIS SMA. Saya diusung oleh teman-teman ikatan remaja masjid (irema) SMA. Dalam
perhelatan politik itu saya kalah menjadi ketua OSIS. Mengapa saya trauma? Karena
sudah lebih dari lima tahun, ketua OSIS dipegang oleh ketua OSIS yang diusun
oleh irema. Namun sejarah itu terputus pada zaman saya.
Selanjutnya
sayapun mencalonkan diri menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi
(HIMIKASI) sebanyak dua kali namun juga kalah. Kekalahan-kekalahan itu membuat
saya trauma menjadi pemimpin kembali.
Tapi
entahlah, saya benar-benar diamanahi sebagai ketum LDK UKDM UPI 2015 yang
dilantik pada Musyarawah Besar XXIII. Padahal saya hanya mengikuti alur saja
walaupun saya juga mempersiapkan. “Saya takut maka saya bersiap, saya tak tahu
maka saya belajar, saya tak bisa maka saya berusaha” merupakan prinsip saya
dalam menjalani hidup. Jadi walaupun saya memiliki trauma kepemimpinan, saya
secara pribadi menyiapkan diri kalau-kalau saya menjadi ketum. Ternyata benar-benar
saya menjadi ketum.
Tentunya
saya berkeringat banyak saat dibacakan bahwa saya nahkoda bahtera LDK UKDM.
saya sempat berpikir bahwa mungkin tidak ada orang lagi yang bisa dijadikan
ketum makanya memilih saya. Namun paradigm berpikir itu saya hapuskan karena
mengingat firman Allah bahwa Allah tidak akan memberikan beban di luar
kemampuan hamba-Nya. Berarti Allah memberkan amanah ini kepada saya karena
Allah memilih saya dan Allah menganggap bahwa saya siap menyelesaikan amanah
ini dengan baik.
(bersambung
ke part 2 Insyaallah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar