Sabtu, 19 Desember 2015

Diary UKDM Part 1



Bismillah
20 Desember 2015
Tak ada mimpi yang terlalu besar, namun ikhitiar yang belum besar.
Kalimat itu yang seketika menyeruak dalam diri saya saat melihat buku “Puzzle Puzzle Story-The Diary of Program Tutorial” pada April 2015 dan buku “ Kalam” pada hari ini. Sungguh pada awalnya saya sakut hati karena mimpi yang selama ini saya catatkan belum sempat saya wujudkan.
Saya merasa tak bisa menjalankan mimpi ini. Keluhan itu yang saya sampaikan pula kepada pengurus harian saya. Namun saya kira tak ada gunanya berdiam diri. “Ada dua sikap yang bisa kita lakukan saat melihat mimpi orang lain; apakah berdiam diri atau berlari.” Tentu kita perlu memilih opsi “berlari” agar mimpi-mimpi kita dapat terwujud.
Suatu saat pernah saya broadcast kepada anggota tentang rencana pembuatan buku ini. Ada beberapa orang yang mendaftar namun belum saya follow up. Lalu rencana untuk memfollow up belum juga muncul. keberanian saya masih berbentuk jentik-jentik yang kecil. Perlu waktu untuk menghubungi mereka kembali. Oleh karenanya sambil mengumpulkan keberanian, lalu menghubungi mereka kembali, sepertinya tulisan-tulisan ini akan saya sampaikan di blog pribadi.
Mulai
Sesungguhnya saya juga bingung darimana akan memulai cerita ini. Namun daripada bingung, saya akan menuliskan saja apa yang ada dalam pikiran saya mengenai lembaga dakwah kampus unit kegiatan dakwah mahasiswa (LDK UKDM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Empat tahun yang lalu saat saya menjadi mahasiswa baru (maru) saya mendapatkan pesan dari mentor saya agar saat saya menginjakkan kampus, saya menghubungi dua lembaga yakni kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan LDK. Saya menuruti pesan mentor saya itu. Sehingga setelah saya mendaftar ulang sebagai mahasiswa UPI maka saya mencari stand KAMMI dan LDK. Sesederhana itulah alasan saya mengikuti KAMMI dan LDK di kampus Bumi Siliwangi ini.
Waktu itu saya baru tahu jika KAMMI bukanlah UKM UPI sehingga tak ada standnya di kampus. Ada juga stand LDK yang berdiri mewah; lebar, rapi, dan diisi oleh wajah-wajah ceria. Disanalah saya pertama kali berkenalan dengan LDK UKDM UPI.
Saya tidak bohong saat saya mengatakan bahwa stand LDK UKDM itu mewah. Letaknya di taman barety, memakai tenda, memiliki label UKM, bendera, dan orang-orang yang berkumpulan di stand tersebut. saya menghampiri stand tersebut dan berkenalan dengan anggota LDK UKDM. saya mengisi format isian maru dan diwaancara oleh anggota UKDM. saya tidak ada kecurigaan apapun waktu itu, saya hanya berpikir bahwa data itu digunakan untuk lebih mengenal saya. Dan dengan identitas yang lengkap maka saya dapat aktif di LDK UKDM dengan baik. Akang yang mewawancarai saya dapat membuat saya nyaman karena ia murah senyum, terbuka, dan tidak memposisikan diri sebagai senior yang menakutkan. Saya melihatnya sebagai kakak pemimbing yang baik di kampus.
Waktu berjalan, saya mengikuti Training Muslim of Revolution (TMR) 1 di LDK UKDM. saya agak ogah-ogahan karena saya menganggap syarat-syarat yang diberkan cukup sulit untuk saya kerjakan. Saya beranggapan bahwa syarat-syarat itu tidak terlalu penting dengan pergerakan. O ya, di SMA saya termasuk orang yang sangat aktif berorganisasi.
Saat saya megikuti TMR, saya merasa bahwa acara ini tidak berurgensi besar bagi saya. Materi yang diberikan merupakan materi yang pernah saya terima di SMA. Namun ada beberapa materi yang jadi “super” karena pemateri yang menyampaikannya saya kira super. Saya ingat salah satu pematerian yang saya sukai adalah pematerian yang dibawakan oleh “Putra Sulung Baginda”. Seseorang yang pada saat ini (2015) menjadi pembimbing UKM LDK UKDM.
Saya tidak mengikuti TMR 1 sampai selesai. Hal itu karena ada ibu yang datang menjenguk anak-anaknya di Bandung. Rasanya tidak enak ada ibu datang ke bandung namun anak laki-laki satu-satunya tidak menemuinya. Akhirnya saya izin kepada panitia untuk meninggalkan acara. Saat saya meninggalkan TMR 1 itu ada moment yang saat ini saya sesalkan yakni pemilihan mas’ul dan mas’ulah Program Taaruf (PT) 28 LDK UKDM. rupanya meninggalkan agenda itu berdampak cukup besar bagi saya karena ketinggalan beberapa agenda dan informasi.
4 kali mentoring dalam sepekan
Setelah memasuki kampus, saya mengikuti 4 grup mentoring dalam sepekan yakni halaqah lanjutan dari SMA, Tutorial, Madrasah KAMMI, dan mentoring LDK UKDM. hal yang membuat saya sibuk dan merasa sudah jadi aktivis di awal-awal masuk kampus. Saya senang menjalani empat mentoring itu karena saya merasa bahwa saya perlu banyak melakukan pembinaan dan perlu banyak ilmu untuk aktif di kampus.
Namun saya, diantara mentoring itu mentoring LDK UKDM hanya berlangsung kurang lebih tiga sampai empat bulan. Saya dimentoring oleh ketua umum LDK UKDM 2012 yakni kang Agus Mulyana. Menurut kabar dari Departemen Kaderisasi Pembinaan Sumber Daya Manusia (KPSDM) bahwa mentoring saya dipindahkan ke mentor yang lain. Akan tetapi berkali-kali saya hubungi mentor baru namun tak ada respon. Ternyata kondisi yang saya rasakan itu dirasakan pula oleh kebanyak anggota terlebih PT 28. Semenjak saat itu saya memandang bahwa mentoring di LDK UKDM belum rapid an semenjak saat itu respect saya ke LDK UKDM berkurang.
TMR 2
Meskipun saya kurang respect ke LDK UKDM waktu itu, saya tetap mengikuti alur kaderisasi yang lain termasuk TMR 2. Saya mengikutinya dengan antusias walaupun acara yang disuguhkan tidak sesuai dengan rencana yang disampaikan kepada peserta. Dari kejadian itu, saya menulis sekitar delapan lembar untuk menceritakan pengalaman TMR 2; cerita menarik dan kritik untuk LDK UKDM. namun setelah saya mengikuti TMR 2, saya memiliki tekad untuk memperbaiki LDK UKDM. Tekad itu tak padam hingga saat ini.
KAMMI vs LDK UKDM
Versus, seperti itulah istilah yang saya gunakan untuk momentum yang menarik dalam hidup saya. Pada saat yang sama, saya dicalonkan menjadi ketua umum (ketum) di dua lembaga yakni KAMMI UPI dan LDK UKDM UPI. Bukan maksud saya berambisi menjadi ketum dan nekad menjadi ketum di dua lembaga tersebut. bagaimana tidak menarik, satu orang dicalonkan menjadi ketua di dua lembaga yang notabene berbeda; internal dan eksternal kampus. Sedangkan publikasinya telah tersebar di media. Orang-orang yang memperhatikan dinamika kampus pasti mengetahui bahwa saya dicalonkan di kedua lembaga tersebut.
Saya-pun sempat bingung karena menjadi ketum bukan merupakan ambisi saya. Apalagi menjadi ketum di dua lembaga yang berbeda. Apalagi menjadi ketum pada saat waktu yang sama. Namun dari hasl pembicaraan saya dengan mentor dan para senior, saya bersimpulan bahwa saya musti jalani saja dulu prosesnya. Biarkan takdir Allah yang menggariskan dimana saya akan menjadi ketum. Akhirnya singkat cerita saya diamanahi menjadi ketum LDK UKDM UPI 2015.
Ketum LDK UKDM UPI 2015
Saya memiliki sejenis trauma yang saya namakan trauma kepemimpinan. Sejatinya trauma ini tidak ada dalam kamus kesehatan karena saya yang membuatnya sendiri. Trauma kepemimpinan adalah trauma menjadi pemimpin karena pernah mengalami kegagalan dalam proses kepemimpinan. Dulu, saat SMA saya pernah dicalonkan menjadi ketua OSIS SMA. Saya diusung oleh teman-teman ikatan remaja masjid (irema) SMA. Dalam perhelatan politik itu saya kalah menjadi ketua OSIS. Mengapa saya trauma? Karena sudah lebih dari lima tahun, ketua OSIS dipegang oleh ketua OSIS yang diusun oleh irema. Namun sejarah itu terputus pada zaman saya.
Selanjutnya sayapun mencalonkan diri menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMIKASI) sebanyak dua kali namun juga kalah. Kekalahan-kekalahan itu membuat saya trauma menjadi pemimpin kembali.
Tapi entahlah, saya benar-benar diamanahi sebagai ketum LDK UKDM UPI 2015 yang dilantik pada Musyarawah Besar XXIII. Padahal saya hanya mengikuti alur saja walaupun saya juga mempersiapkan. “Saya takut maka saya bersiap, saya tak tahu maka saya belajar, saya tak bisa maka saya berusaha” merupakan prinsip saya dalam menjalani hidup. Jadi walaupun saya memiliki trauma kepemimpinan, saya secara pribadi menyiapkan diri kalau-kalau saya menjadi ketum. Ternyata benar-benar saya menjadi ketum.
Tentunya saya berkeringat banyak saat dibacakan bahwa saya nahkoda bahtera LDK UKDM. saya sempat berpikir bahwa mungkin tidak ada orang lagi yang bisa dijadikan ketum makanya memilih saya. Namun paradigm berpikir itu saya hapuskan karena mengingat firman Allah bahwa Allah tidak akan memberikan beban di luar kemampuan hamba-Nya. Berarti Allah memberkan amanah ini kepada saya karena Allah memilih saya dan Allah menganggap bahwa saya siap menyelesaikan amanah ini dengan baik.
(bersambung ke part 2 Insyaallah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar