Oleh :
Galih
Kurniawan
(Anggota Dewasa LDK UKDM UPI)
Sore
itu, dengan persiapan yang hanya sekitar 80% saya
melangkah menuju tempat berkumpul untuk apel pembukaan TMR2 LDK UKDM UPI. TMR2
atau Training of Muslim Revolution adalah ujian naik kelas (upgrading) anggota muda menjadi anggota
dewasa LDK UKDM UPI. Sebuah tangga kaderisasi dengan
tanggung jawab, kewajiban, dan hak yang berbeda dari sebelumnya.
Bada
apel pembukaan, peserta
digiring ke selasar akhwat lantai empat Al-Furqon untuk pematerian pertama. Materi
pertama adalah materi Qiyadah dan Jundiyah. Konsepsi kepemimpinan dan
kepengikutan, innovator dan follower, panglima dan prajurit, komandan dan
tentara dan sebagainya. Materi ini sangat urgent mengingat bagaimana maksud
dari konsep tersebut dan bagaimana aplikasinya dalam medan dakwah.
Kita
bisa melihat Rasulullah SAW dengan
segala pengorbanannya sebagai qiyadah yang memiliki visi jauh
kedepan, strategi yang cerdas dan jitu, memiliki kemampuan mengorganisasi, membangun kerjasama, dan kekuatan untuk memicu
sahabat bergerak. Kita dapat melihat bagaimana para sahabat sebagai jundi yang
taat, tsiqoh, berkomitmen kuat, dan penghormatan yang tinggi kepada Rasulullah SAW sebagai Qiyadah. Kitapun dapat melihat saat wacana langit (firman Allah)
itu membumi dalam pergaulan sehari-hari atau kita
dapat melihat kemuliaan dan kemenangan muslim saat
menghadapi peperangan. Dengan konsep ini, Qiyadah dan
Jundiyah, Islam pernah ada dalam kegemilangan peradaban.
Kami diberitahu akan melakukan pemberangatan ke Jayagiri
(daerah pegunungan dan tempat camping di Bandung), oleh karenanya kami membawa
peralatan camping. Namun ternyata kami
diberangkatkan menuju Mesjid
Baiturrahman Gerlong Tengah untuk pematerian kedua dan melakukan I’tikaf. Saya berpikiran bahwa acara ini
merupakan rangkaian agenda TMR 2 dengan penguatan ruhiyah di awal kegiatan.
Sesaat
sebelum materi kedua
dimulai, saya meminta izin keluar dari
tempat acara karena ada pekanan yang harus saya
ikuti. Sempat dalam perjalanan, saya melengkapi
persyaratan yang kurang dari saya sendiri dan
teman-teman yang lain. Kami khawatir akan ada iqob (hukuman) atas persyaratan kami
yang tidak lengkap. Saya kembali ke tempat kegiatan sekitar pukul 23.30
bbwi. Setelah itu saya membersihkan
diri, membereskan dan mendekatkan barang agar tidak terlalu jauh, melilitkan
senter ditangan kiri dengan tali rapia, dan istirahat dengan seragam. Saya mawas diri kalau-kalau ada instruksi mendadak.
Saya ingat perkataan salah satu ustadz yang kurang
lebih redaksinya seperti
ini, ‘..tentara hanya tidur satu jam dalam sehari. Mereka melakukan dan
meletakkan sesuatu secara disiplin dengan sikap dan waktu yang diatur cepat dan
tepat. Ini bermanfaat bagi mereka saat musuh menyerang, saat perang datang
tanpa pemberitahuan..’ mendengar cerita tersebut dan mengandaikan apa
tujuannya, saya mencoba untuk meneladani kesiapan
tentara yang dikatakan ustadz itu. Lantas saya istirahat dan menantikan kegiatan selanjutnya.
Bada
Qiyamullail, Shubuh, dan Ma’tsurat, kami
berangkat menuju taman baretty UPI atas intruksi dari panitia untuk olahraga. Senam Nusantara
menjadi santapan bagi jasad yang kaku karena jarang digerakkan. Ada saran
disini, agaknya kita harus lebih sering olahraga agar tubuh lebih sehat dan
menghafal Senam Nusantara jika senam ini sering kita ulangi. Dengan peta
gerakan senam yang kabur dari panitia,
acara senam berakhir dengan cape hate,
bukan cape karena melakukan banyak gerakan. Mood saya
agak hilang.
Setelah
makan, saatnya materi ketiga dan keempat di belakang mimbar lantai 4 Al-Furqon
UPI. Materi ketiga adalah bertema
manajemen dakwah kampus. Manajemen dakwah kampus adalah kegiatan secara sadar dalam
mengorganisasi, strukturisasi, optimalisasi, dan masifisasi seruan pada
kebaikan dan cegahan pada keburukan yang dilakukan di ranah kampus. Konteks
dari kampus disini adalah perguruan tinggi, tempat mahasiswa melakukan
pembelajaran secara formal dan aktvitas kemahasiswaan.
Mengapa
perlu adanya manajemen dakwah kampus? Karena kebaikan yang tak terorganisasi
akan kalah dengan keburukan yang terorganisasi. Karena kampus adalah lahan
paling subur untuk menanamkan dan menumbuhkan benih keikhlasan, semangat,
kompetensi, dan tadhiyah kader dakwah. Karena aktivis dakwah kampus adalah
calon pemimpin bangsa yang akan menggantikan pemimpin saat ini. Karena agar
daya gempur aktivitas lebih terasa. Agar dakwah tetap istiqomah mengalir hingga
saatnya kemenangan besar tiba.
Aktivis
dakwah kampus adalah kader yang berusaha memenuhi perannya dalam trilogy dakwah
kampus yakni Dakwah, ‘Ilmi, dan Siyasi. Tuntutannya adalah paripurna, yakni
terpenuhi segala tuntutan kader dakwah, namun berusaha dengan sekuatnya adalah
jawaban paling baik untuk berperan dalam trilogy dakwah kampus tersebut. Ada
enam kerangka strategis agar dakwah lebih terasa, yakni adanya dakwah
prestatif, creative majority, dakwah kaya, ketokohan social, kepemimpinan
sejati, dan maksimalisasi peran akhawat.
Materi
selanjutnya adalah materi tentang marketing dakwah kampus. Definisi Marketing
Dakwah kampus adalah merujuk kepada aktivitas menjual sesuatu kepada orang lain
dengan tujuan agar orang lain mau membeli sesuatu
hal yang kita jual. Dalam konteks tema maka definisinya berarti aktivitas
mempromosikan, mensyiarkan, membumikan, mengenalkan dakwah kepada masyarakat
kampus dengan tujuan agar masyarakat kampus dalam ikut serta dalam aktivitas
dakwah. Ada empat prinsip dalam marketing dakwah kampus antara lain pastikan
orang lain tertarik dan membeli, pastikan orang lain membeli kembali, pastikan
orang lain membeli lebih banyak, dan terakhir pastikan orang lain membeli
terus.
Pematerian
selesai. Sampai disini saya mulai
ada bertanya-tanya, kapan kami diberangkat ke Jayagiri?? Namun pertanyaan itu tersimpan dan tertindih
dengan games aplikasi dari materi keempat yakni melakukan marketing atau
penjualan barang. Kami disuruh
untuk menjual donat yang uangnya harus balik modal dan cukup untuk
memberangkatkan semua peserta (ikhwan-ikhwan, akhwat-akhwat) untuk pergi ke
Jayagiri.
Kira-kira
satu jam setengah, donat tersebut telah habis dan perlengkapanpun telah selesai
dilengkapi. Ikhwan telah siap untuk berangkat, namun karena lama follow up dari panitia maka ikhwan bersantai
dahulu di selasar ikhwan Al-Furqon. Saya masih
menyimpan tanya kapan kita berangkat. Namun saya berhusnudzan, “Masih ada
satu setengah hari untuk melakukan kegiatan..”.
Setelah Shalat Dzuhur kami diinstruksikan untuk menuju taman Baretty kembali
dengan hanya membawa alat tulis dan alat masak.
Disini saya bertanya, “mau apalagi ini? kapan ada pemberangkatan?” agak sebal juga digantung seperti ini.
Lagi-lagi,
pertanyaan itu seolah tersimpan karena tersiap acara diskusi yang berkonsep
debat dengan pembagian kubu menjadi kubu pro dan kontra. Temanya adalah
mengenai multi amanah, apakah pro atau kontra, apakah disetuju atau tidak.
Diskusi berjalan panas, banyak argumen, sanggahan, bahkan bantahan dari
argument tersebut. Banyak pula solusi yang muncul kepermukaan. Solusi yang
hadir diharapkan dapat diterapkan oleh khususnya Program Taaruf (PT)
28 dalam berdakwah kedepannya. Karena solusi hanya menjadi angan-angan atau
mimpi atau khayalan jika tak ada aplikasi. Bak awan dilangit yang beterbangan
tanpa dihadir di ranah bumi.
Ada
empat solusi yang saya tawaran bagi
teman-teman dalam mengahadapi multiamanah di lembaga dakwah kampus (LDK). Empat
solusi itu adalah Sadar, Totalitas, Fokus, dan Komunikasi.
Kita
adalah Muslim, Mukmin, Dai, dan Kader
yang harus sadar akan status kita tersebut. Dengan kesadaran, maka akan muncul
kemampuan untuk melihat, mendengar, menginderai, dan merasakan stimulus dari luar
diri. Akan muncul kebeningan hati, akan muncul kemauan untuk bertindak, akan
muncul keinginan untuk bekerja, dan akan ada
tekad untuk belajar.
Setelah
kita sadar, totalitas menjadi jawaban pertama atas banyaknya amanah yang kita emban.
Tidak ada pilih-pilih, yang ada hanya berusaha sebaik mungkin untuk mengerjakan
semua tugas kita. Dengan totalitas, pekerjaan kita akan selesai tanpa ada
kelalaian atau keteledoran.
Namun
manusia bukan makhluk yang serba bisa, serba tahan, serba kuat, dan lain
sebagainya. Manusia adalah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Oleh karena itu, ada saatnya kita lelah dalam menjalankan amanah, konsentrasi menurun, pikiran dan tubuh lelah hingga
ada pada saatnya kita melalaikan salah satu dari amanah yang kita pikul. Tentu
hal ini menjadi penyebab kekalahan dakwah dalam hal mencapai tujuannya.
Lalu
munculah focus untuk menjadi solusinya. Focus adalah mendominasikan suatu hal
dari hal lain. Multiamanah adalah Sunatullah. Disampig
menjadi seorang mahasiswa, kita juga berperan sebagai seorang anak. Maka maksudnya, kita
terfokus kepada suatu hal pada satu waktu. Satu hal yang akan menjadi tempat
energi kita tersalurkan, pikiran kita tertampungkan,
pengorbanan waktu dan materi yang juga kita berikan.
Fokus bukan berarti meninggalkan yang lainnya. Focus
berarti mendahulukan mana yang lebih dahulu harus didahulukan dengan tetap
menjaga kontribusi kepada hal yang kita belakangkan. fokus diharapkan dapat tetap menggulirkan dakwah
sesuai fungsinya.
Saya pernah ada dalam satu wajihah (lembaga) dakwah yang hanya sedikit pengurus fokus, namun
akhirnya wajihah dakwah tersebut la yahya wala yamut (tidak
hidup dan tidak mati). Nama pengurus terdata
namun tak ada kontribusi. Padahal yang saya fahami, dakwah menjadikan
wajihah sebagai ujung tombak dakwah. Apa jadinya jika ujung
tombak yang diharapkan memberi kemenangan malah tumpul lemas tak berdaya??? Dengan lembaga yang solid dan eksis, kemenangan
dakwah akan bertahan lebih lama dari seharusnya. Tentu kita berharap kemenangan itu berlangsung
selamanya. wallahu’alam.
Yang
terakhir adalah komunikasi. Komunikasi ini diharapkan menjadi kunci atas
masalah yang bertalian. Walaupun komunikasi bukan panasea (solusi atas semua masalah) namun pada faktanya banyak hal
yang bisa diselesaikan dengan komunikasi. Harapannya, komunikasi dapat
menjembatani antara idealita dengan realita, antara konstitusi dengan aplikasi,
atau antara tarikan wajihah dakwah dengan wajihah ammah, atau malah tarikan
berbagai wajihah dakwah pada ikhwah. Sehingga diharapkan tak
ada yang diuntungkan dan tak
ada yang terdzalimi karena keterfokusan tadi.
Ya,
Empat hal ini : Sadar, Totalitas, Focus, dan
Komunikasi menjadi tawaran bagi teman-teman dalam menghadapi multi amanah. Saya menyakini, teman-teman mempunyai solusi lain yang
lebih baik atau mungkin bisa saling melengkapi semoga dapat kita aplikasikan
bersama.
Sore
tiba, bayangan untuk berangkat ke Jayagiri telah mulai pudar karena hari semakin senja. Panitia mengatakan tidak akan
ada pemberangkatan setelah Ashar.
Hmm, nyesek! Bada Ashar
ini diisi dengan aktivitas
masak kelompok. Saat aktivitas masak berlangsung, salah seorang panitia
mengatakan bahwa takkan ada pemberangkatan ke Jayagiri mengingat akan
diadakannya Pemilihan walikota Bandung.
Mungkin banyak dari peserta dan panitia yang akan melakukan pencoblosan
sehingga akan mengganngu keberlangsungan
acara di Jayagiri. Pun bisa jadi, agenda TMR 2 di jayagiri akan mengurangi
kemenangan dakwah di Pilwakot ini.
Sebenarnya saya kecewa atas acara yang
statis dan sesekali reaktif ini. Persiapan yang kami siapkan rasanya menjadi sia-sia. Berapa
waktu, finansial, tenaga, yang terbuang karena acara ke Jayagiri tidak jadi. Namun
saat rencana perjalanan terhenti karena satu dan lain hal halangan,
Allah memberikan jawaban atas sikap taat dan sabar yang peserta punya.
Acara
diakhiri dengan acara
memasak yang menjadi acara yang melekat
erat di ingatan saya. Banyak kenangan di acara
memasak ini. Kejaiban sedekah terjadi saat ikhwan menginfakkan
tiga bungkus mie instan namun yang kembali menjadi segunung bahan makanan,
bagaimana ikhwan berinisiatif membuat hawu
dan mulai berusaha menyalakan
api, bagaimana mencari kayu bakar di salah satu kampus besar (dimana coba ada kayu bakar di kampus? -_-),
bagaimana istiqomah membina (keluarga #eh) api
agar terus menyala, bagaimana mencampurkan mie
beragam rasa dengan tempe, sossis, kornet, dan lainnya kedalam satu
wajan, bagaimana menyegerakan (baca : harus buru-buru) makan
karena adzan telah berkumandang, bagaimana melahap
makanan saat lapar, bagaimana kami berdiskusi mencari
nama dari makanan yang kami buat, dan bagaimana pada akhirnya kami menamai makanan kami dengan MIKROBA (Mie, Kornet, Endog, -jeung
sagala nu aya- Di Coba coba).
Kita
bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita.
Siapapun dari kita tidak ada yang tahu akankah ada kebahagiaan dan derita apa di Jayagiri. Namun yang kami merasakan ada
kebahagiaan disini. Kebahagiaan yang berasal dari hati, kesederhanaan dan kebersamaan.
Terima
kasih kepada panitia yang telah bekerja keras
mempersiapkan TMR 2. Untuk teman-teman
yang belum mengikuti kaderisasi ini, saya mengharapkan kalian
untuk ikut dan membuat kebahagiaan kembali. Tenang saja, akan
ada kaderisasi selanjutnya yang harus diikuti
setelah ini.
Malam
itu, saat bulan purnama telah mulai berlayar dalam
lautan langit hitam dan bercahaya menyinari kegelapan. Bersama sang raja malam,
ditaman cahaya itu kita berbahagia karena pertemuan, perjuangan, dan kasih sayang
yang telah kita bentuk. Bada isya, dalam apel penutupan, kami dikukuhkan menjadi anggota dewasa LDK UKDM UPI.
Ketua Majelis Syuro menyampaikan, ada amanah besar yang kita pikul dan ada amanah
yang lebih besar yang akan kita emban. Ya Rabbana, kuatkan kami.
Terakhir
untuk sahabatku, semoga Allah menujuki kita jalan yang lurus lalu
mengistiqomahkan kita hingga sejahtera dunia akhirat. Yang terbaik dari kita
adalah orang yang paling banyak manfaatnya. Syukron,
wallahu’alam
PT
28……!!!! TOGETHER WE ARE STRONG….. Allahu akbar!
*Ditulis pada tahun 2013
dan diedit secukupnya pada tanggal 11
Juni 2015.