Kamis, 11 Juni 2015

Dua Sisi Keping LDK


Segala puji dan kesyukuran kepada Allah. Salawat dan salam untuk Rasulullah SAW dan umatnya. Tulisan ini sejujurnya saya tujukan kepada Lembaga Dakwah Kampus Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (LDK UKDM UPI). Namun karena ada hal-hal yang bersifat umum, mudah-mudahan dapat diambil manfaatnya oleh orang lain. Saya mengharapkan perbaikan di LDK manapun.

Ikhwah sekalian, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada anggota dan pengurus. Saya sempat kesulitan menuliskannya hingga lebih dari tiga kali mencoba namun semuanya tidak selesai. Saya terlalu banyak memikirkan mana kata yang sesuai, bagaimana pesan ini akan diterima oleh pembaca, dan bagaimana respon dari orang lain, dan banyak hal lainnya. Namun saya berpikir bahwa bila saya tidak memulai mengomunikaskan, maka pesan yang ingin saya sampaikan tidak akan pernah diterima oleh siapapun dan sampai kapanpun.

Ikhwah, di kampus ini usia saya baru berusia dua tahun. Usia yang muda bagi hitungan seorang manusia dengan standar umur 60 tahun. namun dalam usia normal mahasiswa yang rata-rata empat tahun, usia saya dapat dikatakan cukup. setidaknya saya pernah mencicipi manis-asam-asin dunia kampus walaupun dalam kadar yang sedikit.

Demikian pula di LDK ini. Hingga saat ini, usia saya bergabung dalam setiap agendanya kira-kira berumur dua tahun. Tidak terasa memang. Serasa baru kemarin saya mendatangi stand LDK UKDM dan diwawancarai (saya masih sangat ingat, siapa yang mewawancarai saya waktu itu). Saya mencoba mengikuti saran Murabbi saya saat Sekolah Menengah Atas. Beliau berpesan agar ketika saya memasuki kampus, segeralah mencari ikhwah agar tarbiyah saya dapat terjaga. Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih bersua dengan ikhwah yang saya cintai.

Ikhwah, hal yang ingin saya sampaikan adalah bahwa saya merasa ada yang kurang dan mengganjal dalam tubuh LDK. Sesuatu yang saya rasa urgen. Sesuatu hal membuat anggota LDK sering terlambat shalat, terlambat datang syuro, melalaikan amanah, ruhul istijabah rendah, menyepelekan halaqah, memutuskan silaturahmi, meninggalkan amalan-amalan yaumiyah, dan lainnya.
Saya ingat suatu pagi, saya dan anggota LDK lain sedang syuro terkait agenda besar di Bulan Ramadhan. Agenda yang mengharuskan diurusi oleh banyak orang agar tujuan agenda terlaksana. Agenda yang harus memiliki konsep yang bagus agar agenda tak sebatas menjadi agenda sesaat (agenda event). Syuro dipimpin oleh akhwat karena ikhwan menjadi permata yang hilang akhir-akhir ini. ikhwan how are you??!!!

Dalam syuro itu, tibalah saatnya pembagian amanah. Kami masing-masng sudah mendapatkan amanah dalam agenda ini. namun ternyata masih banyak amanah yang belum dikerjakan, maka amanah tersebut dibagikan kembali kepada peserta syuro yang hadir. Karena merasa sedikit aneh, saya bertanya kepada pemimpin syuro, “Mana ikhwah lain?”. Tak lama kemudian pemimpin syuro menjawab, “Hanya ini ikhwah yang bisa menjadi panitia dan konfirm syuro agenda ini.” Hanya segini? sayang sekali! Sebuah organisasi besar akan tetapi memiliki anggota komitmen yang sedikit.

Menurut saya sesuatu hal hilang dari tubuh LDK adalah kaderisasi. Suatu proses pendidikan yang intinya perubahan. Bagaimana mengubah manusia dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari buruk menjadi baik. pendidikan itu kata Sayyid Qutbh yaitu seni membentuk manusia.

LDK sebagai sebuah organisasi melupakan urgensi dan fungsi kaderisasi. Mungkin karena terfokus kepada fungsi syiar. Saya rasa, kedua fungsi ini harus dijalani berdampingan. Tidak bisa terfokus pada kaderisasi atau hanya pada syiar. Hal ini karena fungsi ini ibarat kedua kaki yang membuat organisasi berjalan. Bila salah salah satunya hilang, maka organisasi akan sulit berjalan. Bukan maksud saya mengerdilkan departemen atau bidang lain. Namun menurut saya patut difahami bahwa kaderisasi dan syiar merupakan fungsi utama LDK.

Ada paradigma bahwa LDK (mungkin khusus di UPI) memiliki fungsi syiar. Hal ini karena kaderisasi diurusi oleh lembaga lain. Namun anggota patut mengingat bahwa bila kaderisasi tidak berjalan maka tidak akan para penggerak. Tidak akan ada kader yang mengurus organisasi. Ibarat api unggun, kader adalah kayu yang membuat api tetap membara. Bila kayu habis maka habislah api unggun tersebut.  

Kaderisasi bukan milik departemen kaderisasi namun miliki sebuah organisasi, miliki setiap anggota. Pun kaderisasi bukan sebuah paksaan namun sebuah kebutuhan. Bila setiap anggota memahami fungsi kaderisasi ini, maka roda kaderisasi akan berjalan dengan baik.

Standar kaderisasi
Saya pernah merasa kesulitan mencari indikator bagaimana kaderisasi yang baik tersebut. Menurut saya standar kaderisasi yang berhasil adalah manakala kader menjadi muslim yang taat. Yakni saat manusia menjadikan islam sebagai jalan hidupnya. Bagaimana berkehidupan yang sesuai dengan islam. Bila ingin mencari apakah kegiatan yang dilakukan benar atau tidak maka jawabannya adalah kefahaman akan islam itu sendiri. Maka untuk mengukur apakah kaderisasi itu berhasl atau tidak maka dapat dilihat sejauh mana kader tersebut komitmen terhadap islam.

Standar bacaan anggota
Saya mengusulkan agar LDK mengadakan standar bacaan anggota. Standar bacaan ini menjamin setiap anggota memiliki kompetensi dan wawasan yang cukup untuk berdakwah.

Saya rasa buku aqidah, fikrah dan manhaj, akhlaq, wawasan keislamanan, dan buku-buku lainnya patut difahami oleh setiap anggota. Saya terkesan dengan buku bagaimana menyentuh hati, dakwah fardiyah, manajemen halaqah, menjadi murobbi itu mudah, fiqh dakwah. saya rasa LDK harus memahami buku-buku dakwah.

Demikian curahan hati saya kepada ikhwah sekalian. Semoga menjadi pemikiran bersama. Mohon maaf atas banyak kesalahan. Jujur saja, saya nervous saat menulis tulisan ini.

Ikhwah, akhirnya takkan pernah ada perubahan jika kita tidak mengubah diri kita sendiri. Untuk menutup curhatan ini, ada kutipan dari Anis Matta yang saya ingat. Begini katanya, “Cinta adalah pengorbanan dan pengorbanan pertama seorang pecinta adalah perhatian.” Bila kita mencintai LDK, maka maukah kita memperhatikannya dan menumbuhkannya? (gk)


*Tulisan ini saya tulis pada tahun 2014 dan diedit seperlunya pada 11 Juni 2015. Waktu itu saya menjadi staf departemen syiar LDK UKDM UPI. Adapun pada hari ini saya diamanahi sebagai ketua umum. Ternyata merealisasikan kaderisasi membutuhkan perjuangan serius. Insyaallah, selama satu semeter kepengurusan ada berbagai perbaikan pada tahun ini. Adapun mengenai buku bacaan standar LDK UKDM, sedang kami susun bersamaan dengan blue print kaderisasi yang sedang disusun pula. Insyaallah akan diterapkan pada semester dua kepengurusan yakni bulan agustus. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kekuatan kepada kita semua. Amin 

Rabu, 10 Juni 2015

CERITA TMR 2 PT 28 LDK UKDM UPI

Oleh :
Galih Kurniawan
(Anggota Dewasa LDK UKDM UPI)

Sore itu, dengan persiapan yang hanya sekitar 80% saya melangkah menuju tempat berkumpul untuk apel pembukaan TMR2 LDK UKDM UPI. TMR2 atau Training of Muslim Revolution adalah ujian naik kelas (upgrading) anggota muda menjadi anggota dewasa LDK UKDM UPI. Sebuah tangga kaderisasi dengan tanggung jawab, kewajiban, dan hak yang berbeda dari sebelumnya.
Bada apel pembukaan, peserta digiring ke selasar akhwat lantai empat Al-Furqon untuk pematerian pertama. Materi pertama adalah materi Qiyadah dan Jundiyah. Konsepsi kepemimpinan dan kepengikutan, innovator dan follower, panglima dan prajurit, komandan dan tentara dan sebagainya. Materi ini sangat urgent mengingat bagaimana maksud dari konsep tersebut dan bagaimana aplikasinya dalam medan dakwah.
Kita bisa melihat Rasulullah SAW dengan segala pengorbanannya sebagai qiyadah yang memiliki visi jauh kedepan, strategi yang cerdas dan jitu, memiliki kemampuan mengorganisasi, membangun kerjasama, dan kekuatan untuk memicu sahabat bergerak. Kita dapat melihat bagaimana para sahabat sebagai jundi yang taat, tsiqoh, berkomitmen kuat, dan penghormatan yang tinggi kepada Rasulullah SAW sebagai Qiyadah. Kitapun dapat melihat saat wacana langit (firman Allah) itu membumi dalam pergaulan sehari-hari atau kita dapat melihat kemuliaan dan kemenangan muslim saat menghadapi peperangan. Dengan konsep ini, Qiyadah dan Jundiyah, Islam pernah ada dalam kegemilangan peradaban.
Kami diberitahu akan melakukan pemberangatan ke Jayagiri (daerah pegunungan dan tempat camping di Bandung), oleh karenanya kami membawa peralatan camping. Namun ternyata kami diberangkatkan menuju Mesjid Baiturrahman Gerlong Tengah untuk pematerian kedua dan melakukan I’tikaf. Saya berpikiran bahwa acara ini merupakan rangkaian agenda TMR 2 dengan penguatan ruhiyah di awal kegiatan.
Sesaat sebelum materi kedua dimulai, saya meminta izin keluar dari tempat acara karena ada pekanan yang harus saya ikuti. Sempat dalam perjalanan, saya melengkapi persyaratan yang kurang dari saya sendiri dan teman-teman yang lain. Kami khawatir akan ada iqob (hukuman) atas persyaratan kami yang tidak lengkap. Saya kembali ke tempat kegiatan sekitar pukul 23.30 bbwi. Setelah itu saya membersihkan diri, membereskan dan mendekatkan barang agar tidak terlalu jauh, melilitkan senter ditangan kiri dengan tali rapia, dan istirahat dengan seragam. Saya mawas diri kalau-kalau ada instruksi mendadak.
Saya ingat perkataan salah satu ustadz yang kurang lebih redaksinya seperti ini, ‘..tentara hanya tidur satu jam dalam sehari. Mereka melakukan dan meletakkan sesuatu secara disiplin dengan sikap dan waktu yang diatur cepat dan tepat. Ini bermanfaat bagi mereka saat musuh menyerang, saat perang datang tanpa pemberitahuan..’ mendengar cerita tersebut dan mengandaikan apa tujuannya, saya mencoba untuk meneladani kesiapan tentara yang dikatakan ustadz itu. Lantas saya istirahat dan menantikan kegiatan selanjutnya.
Bada Qiyamullail, Shubuh, dan Ma’tsurat, kami berangkat menuju taman baretty UPI atas intruksi dari panitia untuk olahraga. Senam Nusantara menjadi santapan bagi jasad yang kaku karena jarang digerakkan. Ada saran disini, agaknya kita harus lebih sering olahraga agar tubuh lebih sehat dan menghafal Senam Nusantara jika senam ini sering kita ulangi. Dengan peta gerakan senam yang kabur dari panitia, acara senam berakhir dengan cape hate, bukan cape karena melakukan banyak gerakan. Mood saya agak hilang.
Setelah makan, saatnya materi ketiga dan keempat di belakang mimbar lantai 4 Al-Furqon UPI.  Materi ketiga adalah bertema manajemen dakwah kampus. Manajemen dakwah kampus adalah kegiatan secara sadar dalam mengorganisasi, strukturisasi, optimalisasi, dan masifisasi seruan pada kebaikan dan cegahan pada keburukan yang dilakukan di ranah kampus. Konteks dari kampus disini adalah perguruan tinggi, tempat mahasiswa melakukan pembelajaran secara formal dan aktvitas kemahasiswaan.
Mengapa perlu adanya manajemen dakwah kampus? Karena kebaikan yang tak terorganisasi akan kalah dengan keburukan yang terorganisasi. Karena kampus adalah lahan paling subur untuk menanamkan dan menumbuhkan benih keikhlasan, semangat, kompetensi, dan tadhiyah kader dakwah. Karena aktivis dakwah kampus adalah calon pemimpin bangsa yang akan menggantikan pemimpin saat ini. Karena agar daya gempur aktivitas lebih terasa. Agar dakwah tetap istiqomah mengalir hingga saatnya kemenangan besar tiba.
Aktivis dakwah kampus adalah kader yang berusaha memenuhi perannya dalam trilogy dakwah kampus yakni Dakwah, ‘Ilmi, dan Siyasi. Tuntutannya adalah paripurna, yakni terpenuhi segala tuntutan kader dakwah, namun berusaha dengan sekuatnya adalah jawaban paling baik untuk berperan dalam trilogy dakwah kampus tersebut. Ada enam kerangka strategis agar dakwah lebih terasa, yakni adanya dakwah prestatif, creative majority, dakwah kaya, ketokohan social, kepemimpinan sejati, dan maksimalisasi peran akhawat.
Materi selanjutnya adalah materi tentang marketing dakwah kampus. Definisi Marketing Dakwah kampus adalah merujuk kepada aktivitas menjual sesuatu kepada orang lain dengan tujuan agar orang lain mau membeli sesuatu hal yang kita jual. Dalam konteks tema maka definisinya berarti aktivitas mempromosikan, mensyiarkan, membumikan, mengenalkan dakwah kepada masyarakat kampus dengan tujuan agar masyarakat kampus dalam ikut serta dalam aktivitas dakwah. Ada empat prinsip dalam marketing dakwah kampus antara lain pastikan orang lain tertarik dan membeli, pastikan orang lain membeli kembali, pastikan orang lain membeli lebih banyak, dan terakhir pastikan orang lain membeli terus.
Pematerian selesai. Sampai disini saya mulai ada bertanya-tanya, kapan kami diberangkat ke Jayagiri?? Namun pertanyaan itu tersimpan dan tertindih dengan games aplikasi dari materi keempat yakni melakukan marketing atau penjualan barang. Kami disuruh untuk menjual donat yang uangnya harus balik modal dan cukup untuk memberangkatkan semua peserta (ikhwan-ikhwan, akhwat-akhwat) untuk pergi ke Jayagiri.
Kira-kira satu jam setengah, donat tersebut telah habis dan perlengkapanpun telah selesai dilengkapi. Ikhwan telah siap untuk berangkat, namun karena lama follow up dari panitia maka ikhwan bersantai dahulu di selasar ikhwan Al-Furqon. Saya masih menyimpan tanya kapan kita berangkat. Namun saya berhusnudzan, “Masih ada satu setengah hari untuk melakukan kegiatan..”.
Setelah Shalat Dzuhur kami diinstruksikan untuk menuju taman Baretty kembali dengan hanya membawa alat tulis dan alat masak. Disini saya bertanya, “mau apalagi ini? kapan ada pemberangkatan?” agak sebal juga digantung seperti ini.
Lagi-lagi, pertanyaan itu seolah tersimpan karena tersiap acara diskusi yang berkonsep debat dengan pembagian kubu menjadi kubu pro dan kontra. Temanya adalah mengenai multi amanah, apakah pro atau kontra, apakah disetuju atau tidak. Diskusi berjalan panas, banyak argumen, sanggahan, bahkan bantahan dari argument tersebut. Banyak pula solusi yang muncul kepermukaan. Solusi yang hadir diharapkan dapat diterapkan oleh khususnya Program Taaruf (PT) 28 dalam berdakwah kedepannya. Karena solusi hanya menjadi angan-angan atau mimpi atau khayalan jika tak ada aplikasi. Bak awan dilangit yang beterbangan tanpa dihadir di ranah bumi.
Ada empat solusi yang saya tawaran bagi teman-teman dalam mengahadapi multiamanah di lembaga dakwah kampus (LDK).  Empat solusi itu adalah Sadar, Totalitas, Fokus, dan Komunikasi.
Kita adalah Muslim, Mukmin, Dai, dan Kader yang harus sadar akan status kita tersebut. Dengan kesadaran, maka akan muncul kemampuan untuk melihat, mendengar, menginderai, dan merasakan stimulus dari luar diri. Akan muncul kebeningan hati, akan muncul kemauan untuk bertindak, akan muncul keinginan untuk bekerja, dan akan ada tekad untuk belajar.
Setelah kita sadar, totalitas menjadi jawaban pertama atas banyaknya amanah yang kita emban. Tidak ada pilih-pilih, yang ada hanya berusaha sebaik mungkin untuk mengerjakan semua tugas kita. Dengan totalitas, pekerjaan kita akan selesai tanpa ada kelalaian atau keteledoran.
Namun manusia bukan makhluk yang serba bisa, serba tahan, serba kuat, dan lain sebagainya. Manusia adalah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu, ada saatnya kita lelah dalam menjalankan amanah, konsentrasi menurun, pikiran dan tubuh lelah hingga ada pada saatnya kita melalaikan salah satu dari amanah yang kita pikul. Tentu hal ini menjadi penyebab kekalahan dakwah dalam hal mencapai tujuannya.  
Lalu munculah focus untuk menjadi solusinya. Focus adalah mendominasikan suatu hal dari hal lain. Multiamanah adalah Sunatullah. Disampig menjadi seorang mahasiswa, kita juga berperan sebagai seorang anak. Maka maksudnya, kita terfokus kepada suatu hal pada satu waktu. Satu hal yang akan menjadi tempat energi kita tersalurkan, pikiran kita tertampungkan, pengorbanan waktu dan materi yang juga kita berikan.
Fokus bukan berarti meninggalkan yang lainnya. Focus berarti mendahulukan mana yang lebih dahulu harus didahulukan dengan tetap menjaga kontribusi kepada hal yang kita belakangkan. fokus diharapkan dapat tetap menggulirkan dakwah sesuai fungsinya.
Saya pernah ada dalam satu wajihah (lembaga) dakwah yang hanya sedikit pengurus fokus, namun akhirnya wajihah dakwah tersebut la yahya wala yamut (tidak hidup dan tidak mati). Nama pengurus terdata namun tak ada kontribusi. Padahal yang saya fahami, dakwah menjadikan wajihah sebagai ujung tombak dakwah. Apa jadinya jika ujung tombak yang diharapkan memberi kemenangan malah tumpul lemas tak berdaya??? Dengan lembaga yang solid dan eksis, kemenangan dakwah akan bertahan lebih lama dari seharusnya. Tentu kita berharap kemenangan itu berlangsung selamanya. wallahu’alam.
Yang terakhir adalah komunikasi. Komunikasi ini diharapkan menjadi kunci atas masalah yang bertalian. Walaupun komunikasi bukan panasea (solusi atas semua masalah) namun pada faktanya banyak hal yang bisa diselesaikan dengan komunikasi. Harapannya, komunikasi dapat menjembatani antara idealita dengan realita, antara konstitusi dengan aplikasi, atau antara tarikan wajihah dakwah dengan wajihah ammah, atau malah tarikan berbagai wajihah dakwah pada ikhwah. Sehingga diharapkan tak ada yang diuntungkan dan tak ada yang terdzalimi karena keterfokusan tadi.
Ya, Empat hal ini : Sadar, Totalitas, Focus, dan Komunikasi menjadi tawaran bagi teman-teman dalam menghadapi multi amanah. Saya menyakini, teman-teman mempunyai solusi lain yang lebih baik atau mungkin bisa saling melengkapi semoga dapat kita aplikasikan bersama.
Sore tiba, bayangan untuk berangkat ke Jayagiri telah mulai pudar karena hari semakin senja.  Panitia mengatakan tidak akan ada pemberangkatan setelah Ashar. Hmm, nyesek! Bada Ashar ini diisi dengan aktivitas masak kelompok. Saat aktivitas masak berlangsung, salah seorang panitia mengatakan bahwa takkan ada pemberangkatan ke Jayagiri mengingat akan diadakannya Pemilihan walikota Bandung. Mungkin banyak dari peserta dan panitia yang akan melakukan pencoblosan sehingga akan mengganngu keberlangsungan acara di Jayagiri. Pun bisa jadi, agenda TMR 2 di jayagiri akan mengurangi kemenangan dakwah di Pilwakot ini.
Sebenarnya saya kecewa atas acara yang statis dan sesekali reaktif ini. Persiapan yang kami siapkan rasanya menjadi sia-sia. Berapa waktu, finansial, tenaga, yang terbuang karena acara ke Jayagiri tidak jadi. Namun saat rencana perjalanan terhenti karena satu dan lain hal halangan, Allah memberikan jawaban atas sikap taat dan sabar yang peserta punya.
Acara diakhiri dengan acara memasak yang menjadi acara yang melekat erat di ingatan saya. Banyak kenangan di acara memasak ini. Kejaiban sedekah terjadi saat ikhwan menginfakkan tiga bungkus mie instan namun yang kembali menjadi segunung bahan makanan, bagaimana ikhwan berinisiatif membuat hawu dan mulai berusaha menyalakan api, bagaimana mencari kayu bakar di salah satu kampus besar (dimana coba ada kayu bakar di kampus? -_-), bagaimana istiqomah membina (keluarga #eh) api agar terus menyala, bagaimana mencampurkan mie beragam rasa dengan tempe, sossis, kornet, dan lainnya kedalam satu wajan, bagaimana menyegerakan (baca : harus buru-buru) makan karena adzan telah berkumandang, bagaimana melahap makanan saat lapar, bagaimana kami berdiskusi mencari nama dari makanan yang kami buat, dan bagaimana pada akhirnya kami menamai makanan kami dengan MIKROBA (Mie, Kornet, Endog, -jeung sagala nu aya- Di Coba coba).
Kita bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita. Siapapun dari kita tidak ada yang tahu akankah ada kebahagiaan dan derita apa di Jayagiri. Namun yang kami merasakan ada kebahagiaan disini. Kebahagiaan yang berasal dari hati, kesederhanaan dan kebersamaan.
Terima kasih kepada panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan TMR 2. Untuk teman-teman yang belum mengikuti kaderisasi ini, saya mengharapkan kalian untuk ikut dan membuat kebahagiaan kembali. Tenang saja, akan ada kaderisasi selanjutnya yang harus diikuti setelah ini.
Malam itu, saat bulan purnama telah mulai berlayar dalam lautan langit hitam dan bercahaya menyinari kegelapan. Bersama sang raja malam, ditaman cahaya itu kita berbahagia karena pertemuan, perjuangan, dan kasih sayang yang telah kita bentuk. Bada isya, dalam apel penutupan, kami dikukuhkan menjadi anggota dewasa LDK UKDM UPI. Ketua Majelis Syuro menyampaikan, ada amanah besar yang kita pikul dan ada amanah yang lebih besar yang akan kita emban. Ya Rabbana, kuatkan kami.
Terakhir untuk sahabatku, semoga Allah menujuki kita jalan yang lurus lalu mengistiqomahkan kita hingga sejahtera dunia akhirat. Yang terbaik dari kita adalah orang yang paling banyak manfaatnya. Syukron, wallahu’alam
PT 28……!!!! TOGETHER WE ARE STRONG….. Allahu akbar!


*Ditulis pada tahun 2013 dan diedit  secukupnya pada tanggal 11 Juni 2015.

Senin, 08 Juni 2015

Penyambutan mahasiswa baru LDK : pasang spanduk dan baligo Dua hari blog ini tak terisi, dzalim juga rasanya. Beberapa hari ini disibukkan dengan tugas, instropeksi diri atas nasehat senja yang lugas, stack karena rasanya udah ga punya bahan tulisan. Saat ini pkl 23.23 Wib, waktu yg indah. Aku dan sahabat-sahabatku baru memasang spanduk dan baligo ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru universitas pendidikan indonesia (UPI). kami menghaturkan salam cinta dari lembaga dakwah kampus unit kegiatan dakwah mahasiswa (LDK UKDM). Kami memasang baligo dengan ucapan, "selamat datang putera-puteri terbaik di kampus universitas pendidikan indonesia yang religius." adapun spanduknya berbunyi, "selamat datang aktivis dakwah sekolah, DKM, rohis, dan alumni pesantren di UPI." adapun satu lagi berbunyi, "salam cinta dari kami LDK UKDM UPI". spanduk dan baligo ini kami tempatkan di tempat yang strategis sehingga dapat dilihat oleh mahasiswa baru. Kami berharap, sambutan hangat kami menjadi kesan yang baik terhadap LDK UKDM. Bagi saya, ada rasa haru dan penuh harap. Bagaimana sahabat dan adik2 tingkat saya dengan ikhlas memasang propaganda ini. Mereka tak bertanya harta, tak meminta balas jasa, bahkan meminta minum-pun tidak. Padahal mereka bekerja kurang lebih dua jam dengan peralatan seserhana. Perasaan harap menyeruak memenuhi hati. Bagaimana saat mereka menalikan rapia, mengukur ketinggian, dan mengukur kelurusan dari spanduk dan baligo, ada harap bahwa akan ada yang melanjutkan estafeta perjuangan dakwah di LDK UKDM. Di LDK UKDM, kami belajar islam dan memperdalam keimanan. Kami belajar membuang ego pribadi, berjuang dangan keberagaman dan kebersamaan, dll. Kami nyaman dalam dakwah ini. Oleh karenanya kami ingin orang lain merasakan kenikmatan yang kami rasakan. Sebenarnya saya khawatir menggeneralisasi persepsi organisasi. Maka mungkin kenyamanan yang kami rasakan adalah testimoni dari sebagian orang. walaupun saya menyakini masih banyak yg akan memberikan testimoni yang sana bahwa dakwah membuatnya nyaman. saya tidak menafikan akan ada kelelahan dalam mengarungi jalan dakwah. Lengkap sudah 3 spanduk dan 1 baligo terpasang dengan baik. Kami menuju kos-kosan saya yang sering dipakai mengaji dan istirahat. Mereka tak banyak ba-bi-bu lagi. Tubuh mereka tumpah di atas karpet dingin di ruang mengaji. Mereka lantas tidur dengan lelah di tubuhnya. Kuambilkan kasur, selimut, dan sarung sederhana yg menjad atribut tidur mereka. Semoga keberkahan untuk kalian para pejuang cinta. Tinggalah aku, menekan-nekan layar hp untuk menulis tulisan ini. Meriah dengan mata yang kemerahan dan perih, keringat yg masih mengucur di dahi, dan kaki yg memar karena kepentok step motor. Sesungguhnya aku malu. Berapa harga seorang ketua yang sedikit kerja? Pasti murah! Karenanya kumeminta pada allah agar setiap ketua diberikan hidayah pada jalan kebenaran. Pukul 23.43 wib, 20 menit berlalu. Masih saja pikiranku gusar. Memikirkan apakah propaganda PMB lainnya sudah di-print, apakah sudah siap ditempel, apakah sticker dan amunisi lain telah siap? ah, sepertinya aku menjadi paranoid terhadap tugasku. Memikirkan bagaimana agar lembaga yang kucintai ini semakin baik setiap saatnya. sahabat dikepengurusan sudah bertugas dengan baik. aku melihat ada perubahan positif di tubuh LDK UPI ini. Oleh karenanya, kuucapkan selamat dan doa untuk kalian para ponggawa kebaikan. Dan akhirnya, kelopak mata tak sanggup terangkat lagi. Saatnya meringkuk di atas karpet plastik berwarna biru. Menghangatkan bagian tubuh dengan bagian tubuh lainnya. Setelah usaha yang kita lakukan maka tawakallah kepada Allah.