Segala puji
dan kesyukuran kepada Allah. Salawat dan salam untuk Rasulullah SAW dan
umatnya. Tulisan ini sejujurnya saya tujukan kepada Lembaga Dakwah Kampus Unit
Kegiatan Dakwah Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (LDK UKDM UPI). Namun
karena ada hal-hal yang bersifat umum, mudah-mudahan dapat diambil manfaatnya
oleh orang lain. Saya mengharapkan perbaikan di LDK manapun.
Ikhwah
sekalian, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada anggota dan pengurus. Saya
sempat kesulitan menuliskannya hingga lebih dari tiga kali mencoba namun
semuanya tidak selesai. Saya terlalu banyak memikirkan mana kata yang sesuai,
bagaimana pesan ini akan diterima oleh pembaca, dan bagaimana respon dari orang
lain, dan banyak hal lainnya. Namun saya berpikir bahwa bila saya tidak memulai
mengomunikaskan, maka pesan yang ingin saya sampaikan tidak akan pernah
diterima oleh siapapun dan sampai kapanpun.
Ikhwah, di
kampus ini usia saya baru berusia dua tahun. Usia yang muda bagi hitungan
seorang manusia dengan standar umur 60 tahun. namun dalam usia normal mahasiswa
yang rata-rata empat tahun, usia saya dapat dikatakan cukup. setidaknya saya
pernah mencicipi manis-asam-asin dunia kampus walaupun dalam kadar yang
sedikit.
Demikian
pula di LDK ini. Hingga saat ini, usia saya bergabung dalam setiap agendanya
kira-kira berumur dua tahun. Tidak terasa memang. Serasa baru kemarin saya
mendatangi stand LDK UKDM dan diwawancarai (saya masih sangat ingat, siapa yang
mewawancarai saya waktu itu). Saya mencoba mengikuti saran Murabbi saya saat
Sekolah Menengah Atas. Beliau berpesan agar ketika saya memasuki kampus, segeralah
mencari ikhwah agar tarbiyah saya dapat terjaga. Alhamdulillah, sampai sekarang
saya masih bersua dengan ikhwah yang saya cintai.
Ikhwah, hal
yang ingin saya sampaikan adalah bahwa saya merasa ada yang kurang dan
mengganjal dalam tubuh LDK. Sesuatu yang saya rasa urgen. Sesuatu hal membuat
anggota LDK sering terlambat shalat, terlambat datang syuro, melalaikan amanah,
ruhul istijabah rendah, menyepelekan halaqah, memutuskan silaturahmi,
meninggalkan amalan-amalan yaumiyah, dan lainnya.
Saya ingat
suatu pagi, saya dan anggota LDK lain sedang syuro terkait agenda besar di Bulan
Ramadhan. Agenda yang mengharuskan diurusi oleh banyak orang agar tujuan agenda
terlaksana. Agenda yang harus memiliki konsep yang bagus agar agenda tak
sebatas menjadi agenda sesaat (agenda event). Syuro dipimpin oleh akhwat karena
ikhwan menjadi permata yang hilang akhir-akhir ini. ikhwan how are you??!!!
Dalam syuro
itu, tibalah saatnya pembagian amanah. Kami masing-masng sudah mendapatkan
amanah dalam agenda ini. namun ternyata masih banyak amanah yang belum
dikerjakan, maka amanah tersebut dibagikan kembali kepada peserta syuro yang
hadir. Karena merasa sedikit aneh, saya bertanya kepada pemimpin syuro, “Mana
ikhwah lain?”. Tak lama kemudian pemimpin syuro menjawab, “Hanya ini ikhwah
yang bisa menjadi panitia dan konfirm syuro agenda ini.” Hanya segini? sayang
sekali! Sebuah organisasi besar akan tetapi memiliki anggota komitmen yang
sedikit.
Menurut saya
sesuatu hal hilang dari tubuh LDK adalah kaderisasi. Suatu proses pendidikan
yang intinya perubahan. Bagaimana mengubah manusia dari tidak tahu menjadi
tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari buruk menjadi baik. pendidikan itu
kata Sayyid Qutbh yaitu seni membentuk manusia.
LDK sebagai
sebuah organisasi melupakan urgensi dan fungsi kaderisasi. Mungkin karena
terfokus kepada fungsi syiar. Saya rasa, kedua fungsi ini harus dijalani
berdampingan. Tidak bisa terfokus pada kaderisasi atau hanya pada syiar. Hal
ini karena fungsi ini ibarat kedua kaki yang membuat organisasi berjalan. Bila
salah salah satunya hilang, maka organisasi akan sulit berjalan. Bukan maksud
saya mengerdilkan departemen atau bidang lain. Namun menurut saya patut
difahami bahwa kaderisasi dan syiar merupakan fungsi utama LDK.
Ada
paradigma bahwa LDK (mungkin khusus di UPI) memiliki fungsi syiar. Hal ini
karena kaderisasi diurusi oleh lembaga lain. Namun anggota patut mengingat
bahwa bila kaderisasi tidak berjalan maka tidak akan para penggerak. Tidak akan
ada kader yang mengurus organisasi. Ibarat api unggun, kader adalah kayu yang
membuat api tetap membara. Bila kayu habis maka habislah api unggun tersebut.
Kaderisasi
bukan milik departemen kaderisasi namun miliki sebuah organisasi, miliki setiap
anggota. Pun kaderisasi bukan sebuah paksaan namun sebuah kebutuhan. Bila
setiap anggota memahami fungsi kaderisasi ini, maka roda kaderisasi akan
berjalan dengan baik.
Standar
kaderisasi
Saya pernah
merasa kesulitan mencari indikator bagaimana kaderisasi yang baik tersebut. Menurut
saya standar kaderisasi yang berhasil adalah manakala kader menjadi muslim yang
taat. Yakni saat manusia menjadikan islam sebagai jalan hidupnya. Bagaimana
berkehidupan yang sesuai dengan islam. Bila ingin mencari apakah kegiatan yang
dilakukan benar atau tidak maka jawabannya adalah kefahaman akan islam itu
sendiri. Maka untuk mengukur apakah kaderisasi itu berhasl atau tidak maka
dapat dilihat sejauh mana kader tersebut komitmen terhadap islam.
Standar
bacaan anggota
Saya
mengusulkan agar LDK mengadakan standar bacaan anggota. Standar bacaan ini
menjamin setiap anggota memiliki kompetensi dan wawasan yang cukup untuk
berdakwah.
Saya rasa
buku aqidah, fikrah dan manhaj, akhlaq, wawasan keislamanan, dan buku-buku
lainnya patut difahami oleh setiap anggota. Saya terkesan dengan buku bagaimana
menyentuh hati, dakwah fardiyah, manajemen halaqah, menjadi murobbi itu mudah,
fiqh dakwah. saya rasa LDK harus memahami buku-buku dakwah.
Demikian
curahan hati saya kepada ikhwah sekalian. Semoga menjadi pemikiran bersama. Mohon
maaf atas banyak kesalahan. Jujur saja, saya nervous saat menulis tulisan ini.
Ikhwah, akhirnya
takkan pernah ada perubahan jika kita tidak mengubah diri kita sendiri. Untuk
menutup curhatan ini, ada kutipan dari Anis Matta yang saya ingat. Begini
katanya, “Cinta adalah pengorbanan dan pengorbanan pertama seorang pecinta
adalah perhatian.” Bila kita mencintai LDK, maka maukah kita memperhatikannya
dan menumbuhkannya? (gk)
*Tulisan ini
saya tulis pada tahun 2014 dan diedit seperlunya pada 11 Juni 2015. Waktu itu
saya menjadi staf departemen syiar LDK UKDM UPI. Adapun pada hari ini saya
diamanahi sebagai ketua umum. Ternyata merealisasikan kaderisasi membutuhkan
perjuangan serius. Insyaallah, selama satu semeter kepengurusan ada berbagai
perbaikan pada tahun ini. Adapun mengenai buku bacaan standar LDK UKDM, sedang
kami susun bersamaan dengan blue print kaderisasi yang sedang disusun pula. Insyaallah
akan diterapkan pada semester dua kepengurusan yakni bulan agustus. Semoga Allah
memberikan kemudahan dan kekuatan kepada kita semua. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar