Kamis, 11 Juni 2015

Dua Sisi Keping LDK


Segala puji dan kesyukuran kepada Allah. Salawat dan salam untuk Rasulullah SAW dan umatnya. Tulisan ini sejujurnya saya tujukan kepada Lembaga Dakwah Kampus Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (LDK UKDM UPI). Namun karena ada hal-hal yang bersifat umum, mudah-mudahan dapat diambil manfaatnya oleh orang lain. Saya mengharapkan perbaikan di LDK manapun.

Ikhwah sekalian, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada anggota dan pengurus. Saya sempat kesulitan menuliskannya hingga lebih dari tiga kali mencoba namun semuanya tidak selesai. Saya terlalu banyak memikirkan mana kata yang sesuai, bagaimana pesan ini akan diterima oleh pembaca, dan bagaimana respon dari orang lain, dan banyak hal lainnya. Namun saya berpikir bahwa bila saya tidak memulai mengomunikaskan, maka pesan yang ingin saya sampaikan tidak akan pernah diterima oleh siapapun dan sampai kapanpun.

Ikhwah, di kampus ini usia saya baru berusia dua tahun. Usia yang muda bagi hitungan seorang manusia dengan standar umur 60 tahun. namun dalam usia normal mahasiswa yang rata-rata empat tahun, usia saya dapat dikatakan cukup. setidaknya saya pernah mencicipi manis-asam-asin dunia kampus walaupun dalam kadar yang sedikit.

Demikian pula di LDK ini. Hingga saat ini, usia saya bergabung dalam setiap agendanya kira-kira berumur dua tahun. Tidak terasa memang. Serasa baru kemarin saya mendatangi stand LDK UKDM dan diwawancarai (saya masih sangat ingat, siapa yang mewawancarai saya waktu itu). Saya mencoba mengikuti saran Murabbi saya saat Sekolah Menengah Atas. Beliau berpesan agar ketika saya memasuki kampus, segeralah mencari ikhwah agar tarbiyah saya dapat terjaga. Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih bersua dengan ikhwah yang saya cintai.

Ikhwah, hal yang ingin saya sampaikan adalah bahwa saya merasa ada yang kurang dan mengganjal dalam tubuh LDK. Sesuatu yang saya rasa urgen. Sesuatu hal membuat anggota LDK sering terlambat shalat, terlambat datang syuro, melalaikan amanah, ruhul istijabah rendah, menyepelekan halaqah, memutuskan silaturahmi, meninggalkan amalan-amalan yaumiyah, dan lainnya.
Saya ingat suatu pagi, saya dan anggota LDK lain sedang syuro terkait agenda besar di Bulan Ramadhan. Agenda yang mengharuskan diurusi oleh banyak orang agar tujuan agenda terlaksana. Agenda yang harus memiliki konsep yang bagus agar agenda tak sebatas menjadi agenda sesaat (agenda event). Syuro dipimpin oleh akhwat karena ikhwan menjadi permata yang hilang akhir-akhir ini. ikhwan how are you??!!!

Dalam syuro itu, tibalah saatnya pembagian amanah. Kami masing-masng sudah mendapatkan amanah dalam agenda ini. namun ternyata masih banyak amanah yang belum dikerjakan, maka amanah tersebut dibagikan kembali kepada peserta syuro yang hadir. Karena merasa sedikit aneh, saya bertanya kepada pemimpin syuro, “Mana ikhwah lain?”. Tak lama kemudian pemimpin syuro menjawab, “Hanya ini ikhwah yang bisa menjadi panitia dan konfirm syuro agenda ini.” Hanya segini? sayang sekali! Sebuah organisasi besar akan tetapi memiliki anggota komitmen yang sedikit.

Menurut saya sesuatu hal hilang dari tubuh LDK adalah kaderisasi. Suatu proses pendidikan yang intinya perubahan. Bagaimana mengubah manusia dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari buruk menjadi baik. pendidikan itu kata Sayyid Qutbh yaitu seni membentuk manusia.

LDK sebagai sebuah organisasi melupakan urgensi dan fungsi kaderisasi. Mungkin karena terfokus kepada fungsi syiar. Saya rasa, kedua fungsi ini harus dijalani berdampingan. Tidak bisa terfokus pada kaderisasi atau hanya pada syiar. Hal ini karena fungsi ini ibarat kedua kaki yang membuat organisasi berjalan. Bila salah salah satunya hilang, maka organisasi akan sulit berjalan. Bukan maksud saya mengerdilkan departemen atau bidang lain. Namun menurut saya patut difahami bahwa kaderisasi dan syiar merupakan fungsi utama LDK.

Ada paradigma bahwa LDK (mungkin khusus di UPI) memiliki fungsi syiar. Hal ini karena kaderisasi diurusi oleh lembaga lain. Namun anggota patut mengingat bahwa bila kaderisasi tidak berjalan maka tidak akan para penggerak. Tidak akan ada kader yang mengurus organisasi. Ibarat api unggun, kader adalah kayu yang membuat api tetap membara. Bila kayu habis maka habislah api unggun tersebut.  

Kaderisasi bukan milik departemen kaderisasi namun miliki sebuah organisasi, miliki setiap anggota. Pun kaderisasi bukan sebuah paksaan namun sebuah kebutuhan. Bila setiap anggota memahami fungsi kaderisasi ini, maka roda kaderisasi akan berjalan dengan baik.

Standar kaderisasi
Saya pernah merasa kesulitan mencari indikator bagaimana kaderisasi yang baik tersebut. Menurut saya standar kaderisasi yang berhasil adalah manakala kader menjadi muslim yang taat. Yakni saat manusia menjadikan islam sebagai jalan hidupnya. Bagaimana berkehidupan yang sesuai dengan islam. Bila ingin mencari apakah kegiatan yang dilakukan benar atau tidak maka jawabannya adalah kefahaman akan islam itu sendiri. Maka untuk mengukur apakah kaderisasi itu berhasl atau tidak maka dapat dilihat sejauh mana kader tersebut komitmen terhadap islam.

Standar bacaan anggota
Saya mengusulkan agar LDK mengadakan standar bacaan anggota. Standar bacaan ini menjamin setiap anggota memiliki kompetensi dan wawasan yang cukup untuk berdakwah.

Saya rasa buku aqidah, fikrah dan manhaj, akhlaq, wawasan keislamanan, dan buku-buku lainnya patut difahami oleh setiap anggota. Saya terkesan dengan buku bagaimana menyentuh hati, dakwah fardiyah, manajemen halaqah, menjadi murobbi itu mudah, fiqh dakwah. saya rasa LDK harus memahami buku-buku dakwah.

Demikian curahan hati saya kepada ikhwah sekalian. Semoga menjadi pemikiran bersama. Mohon maaf atas banyak kesalahan. Jujur saja, saya nervous saat menulis tulisan ini.

Ikhwah, akhirnya takkan pernah ada perubahan jika kita tidak mengubah diri kita sendiri. Untuk menutup curhatan ini, ada kutipan dari Anis Matta yang saya ingat. Begini katanya, “Cinta adalah pengorbanan dan pengorbanan pertama seorang pecinta adalah perhatian.” Bila kita mencintai LDK, maka maukah kita memperhatikannya dan menumbuhkannya? (gk)


*Tulisan ini saya tulis pada tahun 2014 dan diedit seperlunya pada 11 Juni 2015. Waktu itu saya menjadi staf departemen syiar LDK UKDM UPI. Adapun pada hari ini saya diamanahi sebagai ketua umum. Ternyata merealisasikan kaderisasi membutuhkan perjuangan serius. Insyaallah, selama satu semeter kepengurusan ada berbagai perbaikan pada tahun ini. Adapun mengenai buku bacaan standar LDK UKDM, sedang kami susun bersamaan dengan blue print kaderisasi yang sedang disusun pula. Insyaallah akan diterapkan pada semester dua kepengurusan yakni bulan agustus. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kekuatan kepada kita semua. Amin 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar