Rabu, 10 Juni 2015

CERITA TMR 2 PT 28 LDK UKDM UPI

Oleh :
Galih Kurniawan
(Anggota Dewasa LDK UKDM UPI)

Sore itu, dengan persiapan yang hanya sekitar 80% saya melangkah menuju tempat berkumpul untuk apel pembukaan TMR2 LDK UKDM UPI. TMR2 atau Training of Muslim Revolution adalah ujian naik kelas (upgrading) anggota muda menjadi anggota dewasa LDK UKDM UPI. Sebuah tangga kaderisasi dengan tanggung jawab, kewajiban, dan hak yang berbeda dari sebelumnya.
Bada apel pembukaan, peserta digiring ke selasar akhwat lantai empat Al-Furqon untuk pematerian pertama. Materi pertama adalah materi Qiyadah dan Jundiyah. Konsepsi kepemimpinan dan kepengikutan, innovator dan follower, panglima dan prajurit, komandan dan tentara dan sebagainya. Materi ini sangat urgent mengingat bagaimana maksud dari konsep tersebut dan bagaimana aplikasinya dalam medan dakwah.
Kita bisa melihat Rasulullah SAW dengan segala pengorbanannya sebagai qiyadah yang memiliki visi jauh kedepan, strategi yang cerdas dan jitu, memiliki kemampuan mengorganisasi, membangun kerjasama, dan kekuatan untuk memicu sahabat bergerak. Kita dapat melihat bagaimana para sahabat sebagai jundi yang taat, tsiqoh, berkomitmen kuat, dan penghormatan yang tinggi kepada Rasulullah SAW sebagai Qiyadah. Kitapun dapat melihat saat wacana langit (firman Allah) itu membumi dalam pergaulan sehari-hari atau kita dapat melihat kemuliaan dan kemenangan muslim saat menghadapi peperangan. Dengan konsep ini, Qiyadah dan Jundiyah, Islam pernah ada dalam kegemilangan peradaban.
Kami diberitahu akan melakukan pemberangatan ke Jayagiri (daerah pegunungan dan tempat camping di Bandung), oleh karenanya kami membawa peralatan camping. Namun ternyata kami diberangkatkan menuju Mesjid Baiturrahman Gerlong Tengah untuk pematerian kedua dan melakukan I’tikaf. Saya berpikiran bahwa acara ini merupakan rangkaian agenda TMR 2 dengan penguatan ruhiyah di awal kegiatan.
Sesaat sebelum materi kedua dimulai, saya meminta izin keluar dari tempat acara karena ada pekanan yang harus saya ikuti. Sempat dalam perjalanan, saya melengkapi persyaratan yang kurang dari saya sendiri dan teman-teman yang lain. Kami khawatir akan ada iqob (hukuman) atas persyaratan kami yang tidak lengkap. Saya kembali ke tempat kegiatan sekitar pukul 23.30 bbwi. Setelah itu saya membersihkan diri, membereskan dan mendekatkan barang agar tidak terlalu jauh, melilitkan senter ditangan kiri dengan tali rapia, dan istirahat dengan seragam. Saya mawas diri kalau-kalau ada instruksi mendadak.
Saya ingat perkataan salah satu ustadz yang kurang lebih redaksinya seperti ini, ‘..tentara hanya tidur satu jam dalam sehari. Mereka melakukan dan meletakkan sesuatu secara disiplin dengan sikap dan waktu yang diatur cepat dan tepat. Ini bermanfaat bagi mereka saat musuh menyerang, saat perang datang tanpa pemberitahuan..’ mendengar cerita tersebut dan mengandaikan apa tujuannya, saya mencoba untuk meneladani kesiapan tentara yang dikatakan ustadz itu. Lantas saya istirahat dan menantikan kegiatan selanjutnya.
Bada Qiyamullail, Shubuh, dan Ma’tsurat, kami berangkat menuju taman baretty UPI atas intruksi dari panitia untuk olahraga. Senam Nusantara menjadi santapan bagi jasad yang kaku karena jarang digerakkan. Ada saran disini, agaknya kita harus lebih sering olahraga agar tubuh lebih sehat dan menghafal Senam Nusantara jika senam ini sering kita ulangi. Dengan peta gerakan senam yang kabur dari panitia, acara senam berakhir dengan cape hate, bukan cape karena melakukan banyak gerakan. Mood saya agak hilang.
Setelah makan, saatnya materi ketiga dan keempat di belakang mimbar lantai 4 Al-Furqon UPI.  Materi ketiga adalah bertema manajemen dakwah kampus. Manajemen dakwah kampus adalah kegiatan secara sadar dalam mengorganisasi, strukturisasi, optimalisasi, dan masifisasi seruan pada kebaikan dan cegahan pada keburukan yang dilakukan di ranah kampus. Konteks dari kampus disini adalah perguruan tinggi, tempat mahasiswa melakukan pembelajaran secara formal dan aktvitas kemahasiswaan.
Mengapa perlu adanya manajemen dakwah kampus? Karena kebaikan yang tak terorganisasi akan kalah dengan keburukan yang terorganisasi. Karena kampus adalah lahan paling subur untuk menanamkan dan menumbuhkan benih keikhlasan, semangat, kompetensi, dan tadhiyah kader dakwah. Karena aktivis dakwah kampus adalah calon pemimpin bangsa yang akan menggantikan pemimpin saat ini. Karena agar daya gempur aktivitas lebih terasa. Agar dakwah tetap istiqomah mengalir hingga saatnya kemenangan besar tiba.
Aktivis dakwah kampus adalah kader yang berusaha memenuhi perannya dalam trilogy dakwah kampus yakni Dakwah, ‘Ilmi, dan Siyasi. Tuntutannya adalah paripurna, yakni terpenuhi segala tuntutan kader dakwah, namun berusaha dengan sekuatnya adalah jawaban paling baik untuk berperan dalam trilogy dakwah kampus tersebut. Ada enam kerangka strategis agar dakwah lebih terasa, yakni adanya dakwah prestatif, creative majority, dakwah kaya, ketokohan social, kepemimpinan sejati, dan maksimalisasi peran akhawat.
Materi selanjutnya adalah materi tentang marketing dakwah kampus. Definisi Marketing Dakwah kampus adalah merujuk kepada aktivitas menjual sesuatu kepada orang lain dengan tujuan agar orang lain mau membeli sesuatu hal yang kita jual. Dalam konteks tema maka definisinya berarti aktivitas mempromosikan, mensyiarkan, membumikan, mengenalkan dakwah kepada masyarakat kampus dengan tujuan agar masyarakat kampus dalam ikut serta dalam aktivitas dakwah. Ada empat prinsip dalam marketing dakwah kampus antara lain pastikan orang lain tertarik dan membeli, pastikan orang lain membeli kembali, pastikan orang lain membeli lebih banyak, dan terakhir pastikan orang lain membeli terus.
Pematerian selesai. Sampai disini saya mulai ada bertanya-tanya, kapan kami diberangkat ke Jayagiri?? Namun pertanyaan itu tersimpan dan tertindih dengan games aplikasi dari materi keempat yakni melakukan marketing atau penjualan barang. Kami disuruh untuk menjual donat yang uangnya harus balik modal dan cukup untuk memberangkatkan semua peserta (ikhwan-ikhwan, akhwat-akhwat) untuk pergi ke Jayagiri.
Kira-kira satu jam setengah, donat tersebut telah habis dan perlengkapanpun telah selesai dilengkapi. Ikhwan telah siap untuk berangkat, namun karena lama follow up dari panitia maka ikhwan bersantai dahulu di selasar ikhwan Al-Furqon. Saya masih menyimpan tanya kapan kita berangkat. Namun saya berhusnudzan, “Masih ada satu setengah hari untuk melakukan kegiatan..”.
Setelah Shalat Dzuhur kami diinstruksikan untuk menuju taman Baretty kembali dengan hanya membawa alat tulis dan alat masak. Disini saya bertanya, “mau apalagi ini? kapan ada pemberangkatan?” agak sebal juga digantung seperti ini.
Lagi-lagi, pertanyaan itu seolah tersimpan karena tersiap acara diskusi yang berkonsep debat dengan pembagian kubu menjadi kubu pro dan kontra. Temanya adalah mengenai multi amanah, apakah pro atau kontra, apakah disetuju atau tidak. Diskusi berjalan panas, banyak argumen, sanggahan, bahkan bantahan dari argument tersebut. Banyak pula solusi yang muncul kepermukaan. Solusi yang hadir diharapkan dapat diterapkan oleh khususnya Program Taaruf (PT) 28 dalam berdakwah kedepannya. Karena solusi hanya menjadi angan-angan atau mimpi atau khayalan jika tak ada aplikasi. Bak awan dilangit yang beterbangan tanpa dihadir di ranah bumi.
Ada empat solusi yang saya tawaran bagi teman-teman dalam mengahadapi multiamanah di lembaga dakwah kampus (LDK).  Empat solusi itu adalah Sadar, Totalitas, Fokus, dan Komunikasi.
Kita adalah Muslim, Mukmin, Dai, dan Kader yang harus sadar akan status kita tersebut. Dengan kesadaran, maka akan muncul kemampuan untuk melihat, mendengar, menginderai, dan merasakan stimulus dari luar diri. Akan muncul kebeningan hati, akan muncul kemauan untuk bertindak, akan muncul keinginan untuk bekerja, dan akan ada tekad untuk belajar.
Setelah kita sadar, totalitas menjadi jawaban pertama atas banyaknya amanah yang kita emban. Tidak ada pilih-pilih, yang ada hanya berusaha sebaik mungkin untuk mengerjakan semua tugas kita. Dengan totalitas, pekerjaan kita akan selesai tanpa ada kelalaian atau keteledoran.
Namun manusia bukan makhluk yang serba bisa, serba tahan, serba kuat, dan lain sebagainya. Manusia adalah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu, ada saatnya kita lelah dalam menjalankan amanah, konsentrasi menurun, pikiran dan tubuh lelah hingga ada pada saatnya kita melalaikan salah satu dari amanah yang kita pikul. Tentu hal ini menjadi penyebab kekalahan dakwah dalam hal mencapai tujuannya.  
Lalu munculah focus untuk menjadi solusinya. Focus adalah mendominasikan suatu hal dari hal lain. Multiamanah adalah Sunatullah. Disampig menjadi seorang mahasiswa, kita juga berperan sebagai seorang anak. Maka maksudnya, kita terfokus kepada suatu hal pada satu waktu. Satu hal yang akan menjadi tempat energi kita tersalurkan, pikiran kita tertampungkan, pengorbanan waktu dan materi yang juga kita berikan.
Fokus bukan berarti meninggalkan yang lainnya. Focus berarti mendahulukan mana yang lebih dahulu harus didahulukan dengan tetap menjaga kontribusi kepada hal yang kita belakangkan. fokus diharapkan dapat tetap menggulirkan dakwah sesuai fungsinya.
Saya pernah ada dalam satu wajihah (lembaga) dakwah yang hanya sedikit pengurus fokus, namun akhirnya wajihah dakwah tersebut la yahya wala yamut (tidak hidup dan tidak mati). Nama pengurus terdata namun tak ada kontribusi. Padahal yang saya fahami, dakwah menjadikan wajihah sebagai ujung tombak dakwah. Apa jadinya jika ujung tombak yang diharapkan memberi kemenangan malah tumpul lemas tak berdaya??? Dengan lembaga yang solid dan eksis, kemenangan dakwah akan bertahan lebih lama dari seharusnya. Tentu kita berharap kemenangan itu berlangsung selamanya. wallahu’alam.
Yang terakhir adalah komunikasi. Komunikasi ini diharapkan menjadi kunci atas masalah yang bertalian. Walaupun komunikasi bukan panasea (solusi atas semua masalah) namun pada faktanya banyak hal yang bisa diselesaikan dengan komunikasi. Harapannya, komunikasi dapat menjembatani antara idealita dengan realita, antara konstitusi dengan aplikasi, atau antara tarikan wajihah dakwah dengan wajihah ammah, atau malah tarikan berbagai wajihah dakwah pada ikhwah. Sehingga diharapkan tak ada yang diuntungkan dan tak ada yang terdzalimi karena keterfokusan tadi.
Ya, Empat hal ini : Sadar, Totalitas, Focus, dan Komunikasi menjadi tawaran bagi teman-teman dalam menghadapi multi amanah. Saya menyakini, teman-teman mempunyai solusi lain yang lebih baik atau mungkin bisa saling melengkapi semoga dapat kita aplikasikan bersama.
Sore tiba, bayangan untuk berangkat ke Jayagiri telah mulai pudar karena hari semakin senja.  Panitia mengatakan tidak akan ada pemberangkatan setelah Ashar. Hmm, nyesek! Bada Ashar ini diisi dengan aktivitas masak kelompok. Saat aktivitas masak berlangsung, salah seorang panitia mengatakan bahwa takkan ada pemberangkatan ke Jayagiri mengingat akan diadakannya Pemilihan walikota Bandung. Mungkin banyak dari peserta dan panitia yang akan melakukan pencoblosan sehingga akan mengganngu keberlangsungan acara di Jayagiri. Pun bisa jadi, agenda TMR 2 di jayagiri akan mengurangi kemenangan dakwah di Pilwakot ini.
Sebenarnya saya kecewa atas acara yang statis dan sesekali reaktif ini. Persiapan yang kami siapkan rasanya menjadi sia-sia. Berapa waktu, finansial, tenaga, yang terbuang karena acara ke Jayagiri tidak jadi. Namun saat rencana perjalanan terhenti karena satu dan lain hal halangan, Allah memberikan jawaban atas sikap taat dan sabar yang peserta punya.
Acara diakhiri dengan acara memasak yang menjadi acara yang melekat erat di ingatan saya. Banyak kenangan di acara memasak ini. Kejaiban sedekah terjadi saat ikhwan menginfakkan tiga bungkus mie instan namun yang kembali menjadi segunung bahan makanan, bagaimana ikhwan berinisiatif membuat hawu dan mulai berusaha menyalakan api, bagaimana mencari kayu bakar di salah satu kampus besar (dimana coba ada kayu bakar di kampus? -_-), bagaimana istiqomah membina (keluarga #eh) api agar terus menyala, bagaimana mencampurkan mie beragam rasa dengan tempe, sossis, kornet, dan lainnya kedalam satu wajan, bagaimana menyegerakan (baca : harus buru-buru) makan karena adzan telah berkumandang, bagaimana melahap makanan saat lapar, bagaimana kami berdiskusi mencari nama dari makanan yang kami buat, dan bagaimana pada akhirnya kami menamai makanan kami dengan MIKROBA (Mie, Kornet, Endog, -jeung sagala nu aya- Di Coba coba).
Kita bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita. Siapapun dari kita tidak ada yang tahu akankah ada kebahagiaan dan derita apa di Jayagiri. Namun yang kami merasakan ada kebahagiaan disini. Kebahagiaan yang berasal dari hati, kesederhanaan dan kebersamaan.
Terima kasih kepada panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan TMR 2. Untuk teman-teman yang belum mengikuti kaderisasi ini, saya mengharapkan kalian untuk ikut dan membuat kebahagiaan kembali. Tenang saja, akan ada kaderisasi selanjutnya yang harus diikuti setelah ini.
Malam itu, saat bulan purnama telah mulai berlayar dalam lautan langit hitam dan bercahaya menyinari kegelapan. Bersama sang raja malam, ditaman cahaya itu kita berbahagia karena pertemuan, perjuangan, dan kasih sayang yang telah kita bentuk. Bada isya, dalam apel penutupan, kami dikukuhkan menjadi anggota dewasa LDK UKDM UPI. Ketua Majelis Syuro menyampaikan, ada amanah besar yang kita pikul dan ada amanah yang lebih besar yang akan kita emban. Ya Rabbana, kuatkan kami.
Terakhir untuk sahabatku, semoga Allah menujuki kita jalan yang lurus lalu mengistiqomahkan kita hingga sejahtera dunia akhirat. Yang terbaik dari kita adalah orang yang paling banyak manfaatnya. Syukron, wallahu’alam
PT 28……!!!! TOGETHER WE ARE STRONG….. Allahu akbar!


*Ditulis pada tahun 2013 dan diedit  secukupnya pada tanggal 11 Juni 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar