Rabu, 09 November 2016

Puisi : Cinta Bagi

Cintaku,
Kubagikan pada gelisah, gundah, dan resah,
Pada harap dan doa,
Pada malam dan siang,
Pada sekarang dan hari yang akan datang..

Selasa, 08 November 2016

Quote : Dewasa Istimewa

Bila setiap anak itu istimewa,
Maka setiap orang dewasa juga istimewa.

Puisi : Permata

Menemukan permata pada tumpukan kotoran,
Ibarat mencari air di gurun tak beroase,
Permata mana yang tega menjatuhkan diri pada derajat yang hina?
Maka mencarilah ditempat semestinya mencari,
Bukan mencari permata ditempat kotoran berada.

Minggu, 06 November 2016

Wajah

Wajahmu tak asing,
Lagi-lagi muncul dalam mimpi,
Baru kusadar bahwa aku telah kena candu,
Sedangkan candu itu memabukkan..

Wajahmu tak asing,
Walau kucoba untuk kuredam,
Agar tak muncul di ingatan,
Agar tak mudah untuk kutemukan..

Wajahmu tak asing,
Yang ingin kusingkirkan jadi debu,
Biar terbang entah kemana,
Biar aku lupa..

Wajahmu tak asing bagiku,
Namun aku asing bagimu,
Asing bagi hatimu,
Asing bagi doamu..

Spasi hitam antara bintang

menghitung spasi hitam antara bintang gemintang,
bernafas di ruang angkasa,
menatap esok yang kosong dan hampa..

tidak akan lagi aku sanggupi amanah,
bila perjaka pesakitan semakin lemah,
meski kau tawari lagi,
aku sudah berhenti..

setahun lalu,
saat pertemuan suara lewat udara,
kau berucap aku bisa,
nyatanya tak bisa juga,
sudah kubilang tahun lalu,
aku akan berobat,
tak bisa tobat..

selamat jalan,
karena kau adalah bintang yang menyala,
sedabg aku akan menatap esok yang kosong dan hampa..

Quote

janji untuk melindungi adalah sengketa,
antara aku yang ingin mendekati dengan aku yang ingin menjaga suci.

posted from Bloggeroid

Cerita Hujan

hujan embun berayun-ayun di ujung daun,
yang menggelayut, membulat,
dan tulus teguh kukuh jatuh pada tanah dan bebatuan,
sebagaimanapun kerasnya dataran..

aku ingin merajut senyuman,
seperti hujan menumbuhkan tanaman dan bebuahan,
sebagaimanapun besarnya usikan..

hujan lerai jadi aliran,
lalu lagi bertemu jadi satu,
bergumul dengan samudera,
lalu lagi beterbangan dan mengawan,
hujan embun kembali berayun di ujung daun,
aku ingin senyuman..

posted from Bloggeroid

Puisi Bangsal

*Lompat*
Jiwapun melompat hendak keluar dari badan,
Sebetulnya mati bagi pendosa bukan akhir dari kepedihan,
Namun awal,
Apakah kita bukan pendosa?

*Darah*
Sederas air merah itu tak lagi mengalir di tempatnya,
Tak lagi mengalir di urat-uratnya,
Melainkan sudah bocor melalui mulut, perut, lambung, dan jantung.
Darah bocor kemana-mana.

*Mushola*
Mengapa rumah Tuhan ditinggalkan sedangkan tikar-tikar dipasangkan?
Bukan shalat yang dikerjakan,
Melainkan tidur dipanjangkan.
Mushola kosong untuk berdoa,
Dan sepertinya Tuhan telah menunggu lama makhluknya meminta.

*Rasa*
Bagaimana rasanya kaki dan tangan patah dan terputus saat perang?
Sedangkan kaki yang terkantuk batu jalanan itu begitu menyakitkan,
Bila berbaring masih dapat tertawa,
Bagaimana rasanya saat dicabut nyawa sedang senyum tersungging bahagia?

*Tagihan*
Aku sedang menghitung tagihan,
Bila sehari untuk makan saja menghabiskan 25.000 maka 20 tahun terhitung 182.500.000, atau 60 tahun terhitung 547.500.000,
Belum terhitung nikmat hidup, nikmat sehat badan, nikmat Islam, nikmat iman, nikmat keluarga, nikmat persaudaraan, nikmat tertawa dan bahagia, dan segala nikmat yang banyak itu,
Kira-kira berapa tagihannya?

*Bangsal sebelah*
Tak ada jamuan khusus berbentuk makanan dan iman,
padahal malaikat maut sudah mampir di bangsal sebelah,
Menyabut nyawa dengan raga,
dan mungkin saja sekarang atau esok ia datang,
membawa surat kuasa mencabut nyawa..

*Nasehat*
Nasehatnya,
Meraung-raung melaung-laung,
Menjerit-jerit terpekik-pekik,
Talqin syahadat tahlil takbir,
Lalu,
Dia diam bungkam,
Dingin menghitam,
Dan tangis pasang mata terisak-isak,
Mayat ditutup matanya
(Bangsal, 29 Oktober 2016)

*Keburu Terbang*
Wajah para perawat membatin,
Karena pasiennya hilang nyawa,
Kerumunan dokter menyetrum jantung,
Izrail keburu terbang.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)

*Rotasi*
Pasien lama ada yang pulang,
Pasien baru ada yang datang,
Pasien lama nyawanya ada yang hilang,
Pasien baru menitip harapan.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)

*Pongah*
Apa kau lihat jiwa yang pongah?
Rasa yang meninggi, berkarat, dan mengeras,
Yang bebal dikasih pelajaran,
Yang busuk lantas segera mati,
Tolong titipkan pesan padanya,
Bahwa malaikat maut akan datang mendatangi..
(Bangsal, 29 Oktober 2016)

*Darah Mahal*
Bahan bakar minyak semakin mahal saja,
Namun tak sebanding dengan harga darah segar,
Nilainya sama dengan nyawa,
Tak heran mengapa kekayaan berani digadaikan.
(Bangsal, 29 Oktober 2016)

Hasrat itu setebal kulit,
Sepanjang tubuh,
Sebesar perut,
Seluas tanah yang dapat terpijak,
Selama usia dunia tersedia,
Sedangkan akhirat jauh lebih lama,
Dunia di depannya bagai sekejap mata.
(Bangsal, 30 Oktober 2016)

Ujian cinta adalah bukan pada saat kaya rasa,
Justru seringkali bermegah-megah lalu lupa,
Ujiannya lebih hebat saat sedang sekarat.
(Bangsal, 30 Oktober 2016)

Seperti dandelion yang terbang tertiup angin,
Menyeruak terlepas dari pusat bunganya,
Begitu sama terkelupasnya jatah usia manusia dari sisanya.
(Bangsal)

Orang bilang bukan saatnya menulis sajak,
Menurutku akan selalu tetap saatnya menanam harapan.
(Bangsal)

Dzikir-dzikir malam selalu terlantun,
Dari bibir-bibir yang bergantin,
Sebagian berdengkur,
Sebagian tafakur.
(Bangsal)

Nak jangan jadi suami yang takut istri,
Jadilah suami yang setia dan berpercaya,
Jangan mau enaknya saja,
Ayo urusi jenazahnya.

(Bangsal)

posted from Bloggeroid

Bangsal : 20

Adalah takdir Tuhan saat kita mendapat tanggal untuk datang, bertemu, dan pergi,
Mungkin pada 20 atau sehari setelah itu,
Mungkin kita tak ingat saatnya datang,
Namun terasa sakit saat menjalani pergi.

posted from Bloggeroid

Kau dan tunas sajakku

Kau telaahlah menunduk ke arah tanah di bawah,
Serabut akar menelisik di antara celah-celah tanah,

Kau pandangilah setangkai batang hijau dan muda,
Yang tumbuh ingin mendewasa,

Kau lihatlah sehelai daun tipis dan bergoyang tertiup angin,
Yang padanya bertumpu sejuta ingin.

Tunas sajakku,
Ingin mengakar,
kokoh,
dan rimbun,
Jangan injak sajak kecilku!

------
Puisi ini tercipta gitu aja. Tanpa konsep panjang-panjang eh lumayan lah jadi sebuah puisi. Inspirasi puisi ini yaitu kadang-kadang seorang pemula atau starter dianggap remeh oleh orang lain. Malah dihina, dijatuhkan, diragukan, atau ditinggalkan. Kasian. Padahal bisa jadi, seseorang itu adalah pejuang yang hebat. Hanya butuh waktu aja.

posted from Bloggeroid

Dandelion di rumah kami

Saya udah cukup lama ga iseng-iseng nulis puisi. Akhir-akhir ini sedang malas menulis. Berikut adalah puisi yang saya buat untuk ibu yang waktu itu sedang operasi.

*Dandelion di rumah kami*
mencintai yang harus membiarkan pergi,
badannya tulus dan tabah menggelayutkan senyuman,
sedang air mata ia tabungkan dalam kesendirian,
melantunkan doa dan harapan panjang pada Tuhan..

Dandelion di rumah kami,
tinggal sendiri,
sebab hanya ia yang bertahan berdiri dan berlari,
bahkan menopang terpaan ujian bertubi-tubi,
"demi buah hati", katanya suatu hari..

Kini,
Dandelion tengah berbaring,
terlentang dan genting,
patah batang membuat tertidur lama,
apa ia akan berdiri dan menyunggingkan senyuman lagi?

aku rindu,
Dandelion di rumah kami

posted from Bloggeroid