Senin, 06 Januari 2020

2020

Sudah lama tidak menulis di Blog. Hampir tiga tahun sejak menulis terakhir tahun 2017. Waktu itu saya ingat banyak menulis karena mengisi waktu penantian. Kini Alhamdulillah tiga tahun berselang, saya sudah berumah tangga, dikaruniai satu orang anak, mengajar di sekolah swasta di Purwakarta, dan mengajar di pengajian yang saya bangun bersama Istri.

Alhamdulillah, 'ala kulli hal. tiga tahun berselang banyak hal yang terlewati. Banyak hal yang dapat menjadi cerita untuk diceritakan. Semoga begitu. Meskipun banyak hal yang terlewati, akan tetapi kadang-kadang sulit untuk diungkapkan menjadi sebuah tulisan. Atau semoga ada kemauan untuk mencurahkan cerita ke dalam tulisan, berkenaan dengan kesibukan dan perlunya "merangkai" kisah dipikiran menjadi cerita yang dapat dimengerti oleh pembaca.

Tahun ini memasuki tahun 2020. Sebuah tahun yang dahulu terasa amat jauh untuk dipikirkan. Dulu sempat membuat resolusi hingga tahun 2020, akan tetapi rasanya masih ngawang-ngawang. Belum terpikir 2020 itu seperti apa dan bagaimana. Seperti apa kondisiku dan seperti apa kondisi lingkunganku. Kini tahun 2020 sedang kulalui.

Tahun 2020, mengingatkanku akan usia yang senantiasa bergerak menuju tua. Tak terasa kini umurku akan memasuki akhir usia 20 tahunan. Beberapa tahun lagi memasuki usia 30. Ooo ngeri rasanya mengingat umurku 30, 40, 50, 60 atau bahkan tak memasuki usia itu sama sekali. Ngeri karena tak terbayangkan akan serapuh apa saya nantinya. Ngeri karena boleh jadi usia tak sampai usia tersebut, dan Allah SWT memanggilku untuk kembali, sementara kutahu seperti apa diriku di usia akhir 20 tahunan ini.

Tahun 2020, semoga menjadi tahun yang baik. Tahun yang Allah anugerahkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Allah berikan karunia bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, karunia lurus dalam menghambakan diri kepada Allah SWT, karunia untuk senantiasa setiap waktu berorientasi kepada ridha Allah SWT.


Sabtu, 12 Agustus 2017

Sajak : Sendiri

Ya Tuhan, kini aku takut sendiri,
Saat gusar semakin menyelimuti,
Ya Tuhan, kini aku takut sendiri,
Saat amal-amalku tak kunjung bertambah dan meninggi,
Ya Tuhan, kini aku takut sendiri,
Saat hatiku dan badanku tak tertuju lagi padamu.
Ya Tuhan, kini aku takut sendiri,
Saat tak ada nasehat dan kematian yang membuatku takut,
Padahal setiap nyawa akan fana...

Kamis, 10 Agustus 2017

Untuk apa berkenalan dengan tokoh?

Ada percakapan menarik antara ketua pengurus masjid Salman ITB dengan Pa Hatta Hatta Rajasa.

Katanya, "Biarlah beberapa saat aktivitas ini menemani bapak, pegang tas juga tidak apa-apa. Ini supaya mereka tahu gagasan pemikiran

Jumat, 28 April 2017

ngantor

dulu saya pernah bermimpi menjadi orang kantoran, meskipun tak benarbenar ingin. saya hanya ingin sebatas merasakan bagaiman rasanya ngantor itu. para orang kantoran berpakaian rapi dan harum, berangkat pagi-pagi, mengerjakan pekerjaan, dan pulang tepat waktu. sepertinya pekerjaan yan gmudah dan menyenangkan.

ya kira-kira itu juga yang saya kerjakan hari ini yakni menjadi orang kantoran. saya ngantor di YPM Salman ITB sebagai kepala biro Humas. Pekerjaan ini saya isi karena dorongan dari ibu untuk segera bekerja pasca lulus kuliah. insyaallah karena baktinya saya kepada orang tua kahirnya saya ikuti dorongan orang tua untuk bekerja. sejujurnya saat berproses mengurusi berkas lamaran kerja, saya masih ingin menjadi seorang pebisnis.

ngantor bukan menjadi sebuah penyesalan bagi saya. ngantor menjadi sebuah pembelajraan berharga. saya merasakan bagaimana rasaya menjadi karyawan, mengerjakan urusan perusahaan orang lain, digaji, dan seterusnya. insyaallah saya menjadikan ngantor ini sebagai bahan pembelajaran yang sangat berharga bagi saya untuk masa depan saya.

ngantor, apa itu ngantor?
ngantor dapat diartikan sebagai mengerjakan pekerjaan di sebuah ruangan. bukan sebuah definisi yang rumit. he, lagipula saya sednag tak ingin bicara rumit-rumit (begitu juga tulisan ini ngacablak kamana-kamana).

pada malam ini saya ingin mengajak kepada diri saya sendiri dan pembaca sekalian agar kita semua "ngantor". hanya saja model ngantornya ini berbeda dengan ngantor yang biasanya. ngantor yang saya maksud adalah dimanapun kita berada kita musti tetap bekerja dan produktif menghasilkan karya. demikianlah.

suatu waktu saya melihat video ceramah dari Bang Imad yang pengisi Kajian Tauhid di ITB yang fenomenal itu. Dari tontonan itu saya merasa takjub karena video yang direkam puluhan tahun yang lalu masih dapat disimak hingga saat ini. saya bilang ke diri saya sendiri bahwa karya dapat menjadi abadi, melebihi jatah umur manusia itu sendiri. maka mengapa kita tidak mengoptimalkan potensi untuk menghasilkan karya dan berkontribusi dalam kebaikan?

hayu ah kita ngantor, dimanapun dan kapanpun kita bisa ngantor. kata iklan, ngantor itu ga perlu di kantor. ngantor bisa dimana saja bahkan saat sedang liburan sekalipun. seorang (calon) teman begitu aktif dalam menulis sehingga tulisannya berjumlah ratusan dan telah membuat lima buah buku. begitu WOW sekali bagi saya.

sekian dulu ngantornya.. :D 

Kamis, 27 April 2017

Membangun kepekaan komunikasi



#Panggilan

Tulisan ini berkenaan dengan keterangan Al-Quran dan hadist Rasulullah SAW, juga perkataan ulama, sebagai berikut : 

Ada tiga perkara yang menggambarkan kecintaanmu kepada saudaramu: kamu mengucapkan salam kepadanya ketika bertemu dengannya; meluaskan tempat untuknya dalam majelis; memanggilnya dengan nama yang paling disukainya (HR al-Hakim dalam Al-Mustadrak).      

Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Surah Al Hujuraat : 11)           

"Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri," yakni janganlah kalian mencela orang lain. Pengumpat atau orang yang mencela adalah orang-orang tercela dan terlaknat sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT berikut, "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela” (QS. Al-Humazah: 1) 

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (QS 2 :15)

Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. (QS 45 : 9)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Jubairah bin adh Dhahak, ia berkata: “Firman Allah: “Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk,” turun untuk kami Bani Salamah.” Abu Jubairah melanjutkan, “Ketika Rasululloh SAW tiba di Madinah, kala itu setiap orang memiliki dua atau tiga nama. Siapa yang memanggil, nama-nama itulah yang dipakai. Mereka berkata, “Wahai Rasululloh SAW, sesungguhnya dia akan marah dengan nama itu. Kemudian turunlah ayat, “Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk” (HR Ahmad).

“Barangsiapa yang berkata pada saudaranya ‘hai kafir’ kata-kata itu akan kembali pada salah satu diantara keduanya. Jika tidak (artinya yang dituduh tidak demikian) maka kata itu kembali pada yang mengucapkan (yang menuduh)”. (HR Bukhori Muslim) 

Dari Abu Dzarr ra. telah mendengar Rasululloh saw. bersabda,“Siapa yang memanggil seorang dengan kalimat ‘Hai Kafir’, atau ‘musuh ALLOH SWT’, padahal yang dikatakan itu tidak demikian, maka akan kembali pada dirinya sendiri”. (HR Bukhori Muslim)

Dari Abu Dardaa’, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” [HR. Abu Dawud no. 4948, Ad-Daarimiy no. 2736, Al-Baihaqi 9/306, dan yang lainnya. Sanad hadits ini dla’if karena adanya inqitha’, namun maknanya benar].          

Ibnul-Qayyim berkata di dalam kitab Tuhfatul-Mauduud bi-Ahkaamil-Mauluud “Barangsiapa yang mengamati sunnah, niscaya ia akan menemukan bahwa nama-nama yang ada berhubungan dengan pemiliknya yang seakan-akan ia memang diambil darinya sesuai dengan karakternya…… Apabila engkau ingin mengetahui bagaimana nama-nama itu bisa mempengaruhi pemiliknya, maka perhatikanlah hadits Sa’id bin Al-Musayyib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata : “Aku pernah menghadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya : “Siapakah namamu ?”. Aku menjawab : “Namaku Huzn”. Beliau bersabda : “(Gantilah), namamu menjadi Sahl (=mudah)”. Aku berkata : “Aku tidak akan menukar nama yang telah diberikan oleh bapakku”. Ibnul-Musayyib berkata : “Sejak saat itu, sifat kasar senantiasa ada dalam keluarga kami”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Makna al-huzuunah/huzn adalah al-ghildhah (kasar)” [Tuhfatul-Mauduud bi-Ahkaamil-Mauluud oleh Ibnul-Qayyim, hal. 84-85, tahqiq : ‘Abdul-Mun’im ‘Aaniy; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet. 1/1403].

Keterangan-keterangan di atas berkaitan dengan perlunya kita mengucapkan ucapan yang baik termasuk memanggil saudara dengan panggilan yang menyenangkan, mulia, dan disukainya. Untuk mengimplementasikan hal ini maka perlunya kita belajar untuk peka. Kita perlu sensitif mendengarkan bagaimana seseorang ingin dipanggil oleh orang lain. 

Suatu waktu seorang kakak kelas asal Jakarta memanggil dirinya dengan sebutan “abang”. Dengan pembicaraannya tersebut kita dapat meraba bahwa beliau ingin dipanggil dengan panggilan abang, misalnya “Kang Ali menjadi “Bang Ali”.
Saya juga punya cerita yang lain. Suatu waktu saat saya sedang membeli cemilan untuk menemani mengerjakan tugas, saya mendatangi warung dekat kosan. “Bu ada roti?” tanya saya. Beliau jawab, “Sedang kosong.” Saya tanya lagi, “Apa ya kira-kira makanan yang cukup membuat kenyang?” beliau menjawab, “O Sari Gand*m aja. Teteh juga kalau sedang lapar makan sari Gand*m. Cukup membuat kenyang.” Dari perbicaraan tersebut dapat kita perhatikan bahwa pedagang memanggil dirinya dengan sebutan “teteh” bukan “Ibu sebagaimana saya panggil sebelumnya. Kita dapat mengambil sikap untuk kemudian memanggilnya dengan sebutan teteh. 

Tuntunan ini juga berlaku tidak hanya untuk cara memanggil saja, namun juga memanggil dengan nama lain yang seseorang sukai. Misalnya seorang ustadz lebih senang dipanggil dengan nama “Abu Mujahid” ketimbang nama aslinya. Ada juga seorang ummahat yang lebih nyaman dipanggil “Ummu Aina” karena memiliki putri bernama Aina. Atau mungkin saja seseorang yang bernama Iwan ingin dipanggil dengan sebutan Abdullah. 

Saya terbiasa memanggil akhawat dengan sebutan teteh atau ibu, namun ada akhwat yang kurang berkenan bila dipanggil dengan sebutan tersebut. Beberapa akhwat lebih berkenan dipanggil dengan nama aslinya. Ada juga akhwat yang lebih nyaman dipanggil dengan sebutan mbak karena lahir atau besar di tanah Jawa. Insyaallah semua tak mengapa, dan insyaallah semua akan menjadi ibadah bila diniatkan untuk beribadah kepada Allah. 

Memanggil seseorang dengan nama baik yang orang lain inginkan merupakan perkara iman. Hal ini karena tuntunan tersebut berasal dari Allah azza wa jalla dan Rasulullah SAW. Oleh karena itu tentu saja perlu kita amalkan dengan baik. Insyallah setiap amal yang diniatkan untuk ibadah maka akan tercatat sebagai amal yang mendekatkan kepada ridha dan surga Allah. 

Di samping menjalankan perintah Allah dan sunnah Rasulullah SAW untuk memanggil saudara dengan nama dan sebutan yang baik, hal ini juga insyaallah akan mempererat ukhuwah islamiyah. Bagaimana tidak? Di dalam lingkungan kaum muslimin disebar kebaikan, keindahan, kelemahlembutan, kasih ssayang, peka terhadap kondisi saudaranya, dan seterusnya. Hal ini membiasakan berkasih sayang di antara saudara dan lingkungan kaum muslimin. Hal ini juga dapat menjadi dzikir dan syiar Islam. Bayangkan di lingkungan sekitar kita dibiasakan dengan mengucapkan kalimat indah dan mulia. 

Dengan demikian, mulai saat ini mari kita belajar peka untuk mendengarkan (atau secara proaktif bertanya) kepada saudara kita bagaimana ia ingin dipanggil. 

Wallahu'alam bisshowab (GK)

Kamis, 17 November 2016

Diary

Alhamdulillah, saya mendapatkan buku diary kembali. Buku diary sebelumnya telah habis ditulis. Seorang pemateri seminar berkata, "Milikilah buku catatan terbaik untuk menuliskan kisah hidupmu." Cerita terbaik yang pernah kita tahu dan alami. Sejak itu saya mengusahakan untuk menulis di berbagai catatan, dan tentunya di buku diary.

Bagi sebagian orang, apalagi lelaki, diary jadi hal tabu. Mana mungkin seorang laki-laki banyak mencurahkan hatinya pada sebuah buku? Bagaimana mungkin seorang laki-laki menyimpan rahasia? Bagaimana mungkin seorang laki-laki secara teratur dan rapih menulis dalam sebuah catatan? Pertanyaan itu bisa saja muncul untuk menanggapi laki-laki yang menulis di buku diary.

Bagi saya, diary adalah teman yang rela menerima saya apa adanya. Saya berani menerka tak banyak orang yang akan menerima "kebejatan" saya. Namun diary menerima dan menjaga rahasia saya.

Tak ada masalah dengan lelaki yang menulis di buku diary. Lelaki juga punya hati. Lelaki juga punya cerita. Lelaki juga punya bakat dan minat menulis. Lelaki juga punya hasrat ingin bercerita. Lelaki juga manusia. Sudah banyak lelaki yang memiliki karya besar dari rutin menulis catatan yang berisi gagasan dan kisah hidupnya yang menarik.

Sedikit menyinggung Al-Quran surat Al-Baqarah (saya lupa ayatnya) menjelaskan tentang perlunya mencatat transaksi ekonomi. Rasulullah SAW menyuruh sahabat untuk menulis Al-Quran. Sepeninggal Rasulullah SAW, para sahabat berinisiatif menuliskan hadist. Hal ini adalah tanda yang jelas bahwa tradisi menulis terdapat dalam Islam.

Kembali pada diary saya. Buku itu buku baru dengan harga lumayan tinggi dibanding buku biasa. Di sampulnya tertulis "Where there is a Will, There is a way" kutipan yang bagus untuk sebuah sampul buku. Mudah-mudahan menyemangati saya. Halaman pertama bagian dalam, saya tuliskan puisi "impromtu" karena tertuliskan begitu saja. Berikut puisinya :

Di tengah kehampaanku,
Di saat keterpurukanku,
Di masa kesendirianku,
Aku ingin menghirup aroma yang baru,
Aku ingin meraba halaman baru,
Aku ingin bercerita tanpa topeng,
Seperti aku pada cermin.

Saya tak akan menceritakan maksud dan konteks puisi itu. Silakan saja berinterpretasi sendiri. Hehe.

O ya, suatu saat nanti saya akan kumpulkan buku diary yang pernah saya tulis. Lalu saya akan simpan di atas meja, atau suatu tempat yang mudah terjangkau. Saya akan membiarkan seseorang membaca dengan puas siapa saya, bagaimana masa lalu saya, dan bagaimana rencana masa depan saya.

Rabu, 16 November 2016

Puisi : Kacamata

_Lewat lensa kacamatamu, kulihat dua hal yang indah; Nil dan matamu._


Catatan :
Sejak membaca buku akhir zaman (termasuk membahas Mesir dan Nil), maka mulai tertarik dengan negeri timur tengah. Negeri itu adalah negeri permulaan dan akhir zaman. Banyak bashirah Rasulullah SAW yang berkenaan dengan tanah timur tengah.

Sampailah saya pada kekaguman yang bertambah. Menelisik setiap negeri-negeri itu dan kisah apa yang terdapat di tanah itu. Luar biasa, banyak kisah yang menakjubkan yang akan membuat banyak orang akan melirik ke negeri itu.

Nah, karena saya suka puisi maka puisi saya akhir-akhir ini berkenaan dengan apa yang sedang saya pikirkan. Salah satu puisinya ada di awal tulisan ini.

Kamu mau membaca puisi yang taid pagi saya tulis? Meskipun bukan tentang tanah timur tengah, puisi ini menggambarkan apa yang sedang saya pikirkan.

_Sekokoh pohon menghajatkan akar agar tak tercerabut,
akar yang menerobos gelap dan pengap,
menelisik dan terjepit diantara batu dan pecahan kaca..

Selapang pantai membutuhkan batu karang agar tak terkikis,
Karang yang tegar tanpa jeritan dan keluhan,
tanpa tangisan..

Selembut wanita memerlukan pria agar tumbuh jadi permata,
pria yang tak goyang dihambat gelombang,
tak mundur walau digempur,
tak jadi pecundang saat berperang,
tak tergoda wanita jalanan.._

Puisi ini bercerita tentang perlunya seorang pria yang menjadi pemimpin bagi wanita.

Hehe, jadi ngobrol kesana-kemari ya. Ga apa-apa lah yah, thanks udah mampir dan baca.