Kamis, 17 November 2016

Diary

Alhamdulillah, saya mendapatkan buku diary kembali. Buku diary sebelumnya telah habis ditulis. Seorang pemateri seminar berkata, "Milikilah buku catatan terbaik untuk menuliskan kisah hidupmu." Cerita terbaik yang pernah kita tahu dan alami. Sejak itu saya mengusahakan untuk menulis di berbagai catatan, dan tentunya di buku diary.

Bagi sebagian orang, apalagi lelaki, diary jadi hal tabu. Mana mungkin seorang laki-laki banyak mencurahkan hatinya pada sebuah buku? Bagaimana mungkin seorang laki-laki menyimpan rahasia? Bagaimana mungkin seorang laki-laki secara teratur dan rapih menulis dalam sebuah catatan? Pertanyaan itu bisa saja muncul untuk menanggapi laki-laki yang menulis di buku diary.

Bagi saya, diary adalah teman yang rela menerima saya apa adanya. Saya berani menerka tak banyak orang yang akan menerima "kebejatan" saya. Namun diary menerima dan menjaga rahasia saya.

Tak ada masalah dengan lelaki yang menulis di buku diary. Lelaki juga punya hati. Lelaki juga punya cerita. Lelaki juga punya bakat dan minat menulis. Lelaki juga punya hasrat ingin bercerita. Lelaki juga manusia. Sudah banyak lelaki yang memiliki karya besar dari rutin menulis catatan yang berisi gagasan dan kisah hidupnya yang menarik.

Sedikit menyinggung Al-Quran surat Al-Baqarah (saya lupa ayatnya) menjelaskan tentang perlunya mencatat transaksi ekonomi. Rasulullah SAW menyuruh sahabat untuk menulis Al-Quran. Sepeninggal Rasulullah SAW, para sahabat berinisiatif menuliskan hadist. Hal ini adalah tanda yang jelas bahwa tradisi menulis terdapat dalam Islam.

Kembali pada diary saya. Buku itu buku baru dengan harga lumayan tinggi dibanding buku biasa. Di sampulnya tertulis "Where there is a Will, There is a way" kutipan yang bagus untuk sebuah sampul buku. Mudah-mudahan menyemangati saya. Halaman pertama bagian dalam, saya tuliskan puisi "impromtu" karena tertuliskan begitu saja. Berikut puisinya :

Di tengah kehampaanku,
Di saat keterpurukanku,
Di masa kesendirianku,
Aku ingin menghirup aroma yang baru,
Aku ingin meraba halaman baru,
Aku ingin bercerita tanpa topeng,
Seperti aku pada cermin.

Saya tak akan menceritakan maksud dan konteks puisi itu. Silakan saja berinterpretasi sendiri. Hehe.

O ya, suatu saat nanti saya akan kumpulkan buku diary yang pernah saya tulis. Lalu saya akan simpan di atas meja, atau suatu tempat yang mudah terjangkau. Saya akan membiarkan seseorang membaca dengan puas siapa saya, bagaimana masa lalu saya, dan bagaimana rencana masa depan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar