#Panggilan
Tulisan ini berkenaan dengan keterangan
Al-Quran dan hadist Rasulullah SAW, juga perkataan ulama, sebagai berikut :
Ada
tiga perkara yang menggambarkan kecintaanmu kepada saudaramu: kamu mengucapkan
salam kepadanya ketika bertemu dengannya; meluaskan tempat untuknya dalam
majelis; memanggilnya dengan nama yang paling disukainya (HR al-Hakim dalam
Al-Mustadrak).
Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Surah Al Hujuraat : 11)
"Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri," yakni janganlah kalian mencela orang lain. Pengumpat atau orang yang mencela adalah orang-orang tercela dan terlaknat sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT berikut, "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela” (QS. Al-Humazah: 1)
Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Surah Al Hujuraat : 11)
"Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri," yakni janganlah kalian mencela orang lain. Pengumpat atau orang yang mencela adalah orang-orang tercela dan terlaknat sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT berikut, "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela” (QS. Al-Humazah: 1)
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (QS 2 :15)
Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. (QS 45 : 9)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Jubairah bin adh Dhahak, ia berkata: “Firman Allah: “Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk,” turun untuk kami Bani Salamah.” Abu Jubairah melanjutkan, “Ketika Rasululloh SAW tiba di Madinah, kala itu setiap orang memiliki dua atau tiga nama. Siapa yang memanggil, nama-nama itulah yang dipakai. Mereka berkata, “Wahai Rasululloh SAW, sesungguhnya dia akan marah dengan nama itu. Kemudian turunlah ayat, “Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk” (HR Ahmad).
“Barangsiapa yang berkata pada saudaranya ‘hai kafir’ kata-kata itu akan kembali pada salah satu diantara keduanya. Jika tidak (artinya yang dituduh tidak demikian) maka kata itu kembali pada yang mengucapkan (yang menuduh)”. (HR Bukhori Muslim)
Dari
Abu Dzarr ra. telah mendengar Rasululloh saw. bersabda,“Siapa yang memanggil
seorang dengan kalimat ‘Hai Kafir’, atau ‘musuh ALLOH SWT’, padahal yang
dikatakan itu tidak demikian, maka akan kembali pada dirinya sendiri”. (HR
Bukhori Muslim)
Dari Abu Dardaa’, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” [HR. Abu Dawud no. 4948, Ad-Daarimiy no. 2736, Al-Baihaqi 9/306, dan yang lainnya. Sanad hadits ini dla’if karena adanya inqitha’, namun maknanya benar].
Ibnul-Qayyim berkata di dalam kitab Tuhfatul-Mauduud bi-Ahkaamil-Mauluud “Barangsiapa yang mengamati sunnah, niscaya ia akan menemukan bahwa nama-nama yang ada berhubungan dengan pemiliknya yang seakan-akan ia memang diambil darinya sesuai dengan karakternya…… Apabila engkau ingin mengetahui bagaimana nama-nama itu bisa mempengaruhi pemiliknya, maka perhatikanlah hadits Sa’id bin Al-Musayyib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata : “Aku pernah menghadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya : “Siapakah namamu ?”. Aku menjawab : “Namaku Huzn”. Beliau bersabda : “(Gantilah), namamu menjadi Sahl (=mudah)”. Aku berkata : “Aku tidak akan menukar nama yang telah diberikan oleh bapakku”. Ibnul-Musayyib berkata : “Sejak saat itu, sifat kasar senantiasa ada dalam keluarga kami”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Makna al-huzuunah/huzn adalah al-ghildhah (kasar)” [Tuhfatul-Mauduud bi-Ahkaamil-Mauluud oleh Ibnul-Qayyim, hal. 84-85, tahqiq : ‘Abdul-Mun’im ‘Aaniy; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet. 1/1403].
Dari Abu Dardaa’, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” [HR. Abu Dawud no. 4948, Ad-Daarimiy no. 2736, Al-Baihaqi 9/306, dan yang lainnya. Sanad hadits ini dla’if karena adanya inqitha’, namun maknanya benar].
Ibnul-Qayyim berkata di dalam kitab Tuhfatul-Mauduud bi-Ahkaamil-Mauluud “Barangsiapa yang mengamati sunnah, niscaya ia akan menemukan bahwa nama-nama yang ada berhubungan dengan pemiliknya yang seakan-akan ia memang diambil darinya sesuai dengan karakternya…… Apabila engkau ingin mengetahui bagaimana nama-nama itu bisa mempengaruhi pemiliknya, maka perhatikanlah hadits Sa’id bin Al-Musayyib, dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata : “Aku pernah menghadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya : “Siapakah namamu ?”. Aku menjawab : “Namaku Huzn”. Beliau bersabda : “(Gantilah), namamu menjadi Sahl (=mudah)”. Aku berkata : “Aku tidak akan menukar nama yang telah diberikan oleh bapakku”. Ibnul-Musayyib berkata : “Sejak saat itu, sifat kasar senantiasa ada dalam keluarga kami”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Makna al-huzuunah/huzn adalah al-ghildhah (kasar)” [Tuhfatul-Mauduud bi-Ahkaamil-Mauluud oleh Ibnul-Qayyim, hal. 84-85, tahqiq : ‘Abdul-Mun’im ‘Aaniy; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet. 1/1403].
Keterangan-keterangan di atas
berkaitan dengan perlunya kita mengucapkan ucapan yang baik termasuk memanggil
saudara dengan panggilan yang menyenangkan, mulia, dan disukainya. Untuk mengimplementasikan
hal ini maka perlunya kita belajar untuk peka. Kita perlu sensitif mendengarkan
bagaimana seseorang ingin dipanggil oleh orang lain.
Suatu waktu seorang kakak
kelas asal Jakarta memanggil dirinya dengan sebutan “abang”. Dengan pembicaraannya
tersebut kita dapat meraba bahwa beliau ingin dipanggil dengan panggilan abang,
misalnya “Kang Ali menjadi “Bang Ali”.
Saya juga punya cerita yang
lain. Suatu waktu saat saya sedang membeli cemilan untuk menemani mengerjakan
tugas, saya mendatangi warung dekat kosan. “Bu ada roti?” tanya saya. Beliau jawab,
“Sedang kosong.” Saya tanya lagi, “Apa ya kira-kira makanan yang cukup membuat
kenyang?” beliau menjawab, “O Sari Gand*m aja. Teteh juga kalau sedang lapar
makan sari Gand*m. Cukup membuat kenyang.” Dari perbicaraan tersebut dapat kita
perhatikan bahwa pedagang memanggil dirinya dengan sebutan “teteh” bukan “Ibu
sebagaimana saya panggil sebelumnya. Kita dapat mengambil sikap untuk kemudian
memanggilnya dengan sebutan teteh.
Tuntunan ini juga berlaku
tidak hanya untuk cara memanggil saja, namun juga memanggil dengan nama lain
yang seseorang sukai. Misalnya seorang ustadz lebih senang dipanggil dengan
nama “Abu Mujahid” ketimbang nama aslinya. Ada juga seorang ummahat yang lebih nyaman
dipanggil “Ummu Aina” karena memiliki putri bernama Aina. Atau mungkin saja
seseorang yang bernama Iwan ingin dipanggil dengan sebutan Abdullah.
Saya terbiasa memanggil
akhawat dengan sebutan teteh atau ibu, namun ada akhwat yang kurang berkenan
bila dipanggil dengan sebutan tersebut. Beberapa akhwat lebih berkenan
dipanggil dengan nama aslinya. Ada juga akhwat yang lebih nyaman dipanggil
dengan sebutan mbak karena lahir atau besar di tanah Jawa. Insyaallah semua tak
mengapa, dan insyaallah semua akan menjadi ibadah bila diniatkan untuk
beribadah kepada Allah.
Memanggil seseorang dengan
nama baik yang orang lain inginkan merupakan perkara iman. Hal ini karena
tuntunan tersebut berasal dari Allah azza wa jalla dan Rasulullah SAW. Oleh karena
itu tentu saja perlu kita amalkan dengan baik. Insyallah setiap amal yang
diniatkan untuk ibadah maka akan tercatat sebagai amal yang mendekatkan kepada
ridha dan surga Allah.
Di samping menjalankan
perintah Allah dan sunnah Rasulullah SAW untuk memanggil saudara dengan nama
dan sebutan yang baik, hal ini juga insyaallah akan mempererat ukhuwah
islamiyah. Bagaimana tidak? Di dalam lingkungan kaum muslimin disebar kebaikan,
keindahan, kelemahlembutan, kasih ssayang, peka terhadap kondisi saudaranya,
dan seterusnya. Hal ini membiasakan berkasih sayang di antara saudara dan
lingkungan kaum muslimin. Hal ini juga dapat menjadi dzikir dan syiar Islam. Bayangkan
di lingkungan sekitar kita dibiasakan dengan mengucapkan kalimat indah dan
mulia.
Dengan demikian, mulai saat
ini mari kita belajar peka untuk mendengarkan (atau secara proaktif bertanya)
kepada saudara kita bagaimana ia ingin dipanggil.
Wallahu'alam bisshowab (GK)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar