Sabtu, 06 Juni 2015

Manajemen Konflik



Manusia tidak akan bebas dari konflik. Namun manusia dapat mengaturnya dan mendapatkan solusi. Berikut faktor penyebab muncul konflik di antara manusia :
a.    Hal konkret, misalnya keinginan untuk memonopoli sesuatu. Misalnya memonopoli harta warisan, kedudukan, dsb.
b.    Pertentangan kecenderungan psikis, misalnya sebab-sebab yang berhubungan dengan kecemburuan, kompetisi, dan lainnya.
c.    Perbedaan norma (nilai), satu pihak berpegang pada norma tertentu dan pihak lain tidak. Misalnya hubungan orang yang kolot dan modern, antara orang yang tertutup dan orang yang suka bergaul dengan orang lain.
d.   Perbedaan cara berpikir. Hal ini muncul di antara orang-orang yang berbeda latar belakang pendidikan, lingkungan, pertubuhan, sosial, dll.
e.    Perbedaan kebiasaan turun-temurun. Seseorang berkonflik dengan pihak lain namun ia sendiri tidak mengetahui masalahnya. Ia hanya diwarisi konflik turun-temurun dari leluhurnya.

Kita tentu tidak nyaman mengalami konflik. Oleh karena itu, konflik tersebut harus diselesaikan. Faktor yang dapat membantu anda secara praktis dan rasional adalah keharusan mengetahui tujuan dan sasaran yang ingin dicapai oleh orang lain. Jika anda jeli terhadap sasaran tersebut, mengingkatlah kemampuan anda untuk mencari solusi. Maksudnya anda mengetahi apa yang ada dalam pikiran dan yang berkecamuk di kepalanya, dan anda harus melakukan hal-hal yang dipandang perlu untuk mengetahui sasaran yang hendak dicapai pihak lain.

Untuk mengetahui sasaran dan tujuan yang ingin dicapai orang lain, maka anda melakukan diskusi atau bertukar pikiran dengannya. Jadilah pribadi pendengar yang baik sehingga anda dapat menemukan pokok pikiran dari diskusi tersebut. dengan demikian anda dapat mengetahui keinginan orang lain terhadap anda. Anda dapat berfokus pada keinginan anda, namun apa yang ia inginkan. Anda benar-benar bisa memahami kepribadian orang lain, bertambahlah kemampuan anda mencari solusi bersama mereka.

Milikilah mental pemimpin yang datang untuk mempersatukan bukan menumbuhkan perbedaan yang menimbulkan konflik. Sebaiknya anda mengatakan, “Mari duduk bersama saya dan saling bicara meski kita berbeda pendapat.” Kita akan menemukan bahwa perbedaan kita tidak lebih banyak dari persamaan yang kita miliki. Jika kita memiliki kesabaran dan keingian untuk mencapai kesepakatan, maka kita akan mencapaikan kesepakatan.  Disamping itu ada hal yang harus anda lakukan dalam menghadapi konflik antara lain :

a.    Memahami Kepribadian Orang Lain
Memahami kepribadian membantu anda untuk menentukan metode atau pendekatan komunikasi dan solusi dari sebuah konflik. Kesalahan dalam memahami kepribadian orang lain akan berujung pula kepada konflik yang baru.

b.    Tetaplah Bergaul Walaupun Terdapat Perbedaan dengan Orang Lain
Manajemen konflik menuntut untuk terus mengkomunikasikan persepsi. Menjauhkan diri atau alienasi malah akan membuat konflik tidak terselesaikan. Bahkan bisa saja konflik tersebut berkumpul sedikit demi sedikit menjadi konflik yang semakin besar. Oleh karena itu, tetaplah bergaul walaupun terdapat perbedaan pendapat dengan orang lain.  

c.    Lemah Lembut dan Kasih Sayang
Kedengarannya tidak terlalu strategis dalam mengelola konflik, namun percayalah hal ini bekerja baik saat konflik. Konflik tidak selesai dengan dendam dan kebencian terhadap orang lain. Kita perlu menyadari bahwa kekerasan dan paksaan tidak akan membuat orang lain memahami hingga akhirnya berubah. Akan tetapi kita dapat menuntun mereka dengan kelemahlembutan dan rasa cinta.
Cara terbaik dan logis untuk membuat orang lain menerima pendapat kita dan untuk mejelaskan suatu realitas adalah dengan menghindari permusuhan manakala terjadi perbedaan. Tidak banyak yang memiliki keahlian ini kecuali ia yang terus berusaha terus menerus.

d.   Konsentrasi
Kebanyakan dari kita memiliki kecenderungan untuk melakukan beberapa hal dalam waktu yang sama. Misalnya kita mengerjakan menulis makalah sambil membaca laporan. Jika kita berkonsentrasi maka kerancuan pemikiran dapat dicegah.

e.    Menjaga rahasia, tidak ghibah, dan mencari solusi dengan cara yang benar
Hal ini penting karena tujuan anda melakukan manajemen konflik adalah untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain. Jangan sampai saat anda sedang menyelesaikankonflik dengan orang lain, namun anda membicarakannya kepada orang lain. Hal ini akan menambah konflik yang sedang anda alami.

f.     Toleransi
Berusaha untuk memaafkan adalah perangai yang mulia, sedangkan toleransi dapat membantu anda untuk memecahkan berbagai problem tanpa kekerasan. Jika nada bersikap toleran, berarti anda belajar hidup damai dan tenang. Ingatlah bahwa kita semua adalah manusia dan kita semua memperoleh maaf lantaran keburukan yang kita lakukan terhadap orang lain.

g.   Musyawarah
Melalui musyawarah muncul semacam tukar pendapat dan pandangan. Dalam musyawarah pun, kita dapat melatih keterampilan dalam mempengaruhi dan meyakinkan. Dalam musyawarah, kita dapat menggunakan cara dialogis dengan kata-kata, uraian, atau isyarat; pendapat dihadapi dengan pendapat, argumentasi dengan argumentasi, dan logika dengan logika, hingga sampai pada suatu solusi yang memuaskan kedua belah pihak.


Sumber :

Al-Aqshari, Yusuf. (2002). Manajemen Konflik. Jakarta: Robbani Press 

Jumat, 05 Juni 2015

Karena Islam Milik Kita Semua


Ada satu pertanyaan yang mungkin dilontarkan oleh banyak orang terkait apa yang dikerjakan oleh Unit kegiatan dakwah mahasiswa (UKDM). Mengapa ukdm mau sibuk-sibuk mengurusi mentoring, pembinaan, kajian, dan segala hal terkait dakwah.

Jawaban yang sara rasa tepat adalah, karena dakwah itu cinta.
“Cinta itu pengorbanan, dan pengorbanan pertama seorang pecinta adalah perhatian.” Kata Anis matta dalam buku Serial Cinta.

Mari memaknai bahwa yang pertama kali mencinta adalah Allah subhanahu wata’ala. Dia Rabb yang mencipta alam semesta, menjaganya, dan memiliki hari akhir. Allah azza wa jalla sangat mencintai makhluknya, oleh karenanya Ia sangat memperhatikan makhluknya.

Saat Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan menjadikan alam semesta cinta kepadanya. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata, “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” maka jibrilpun mencintainya, lalu jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan ebrkata, “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh penduduk langitpun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini” (HR. Bukhari). Allah sangat memperhatikan hambanya sehingga menjadikan alam semesta cinta kepadanya.

Jika Allah sangat mencintai hambanya maka sudah selayaknya kita merasakan cinta Allah kepada hambanya. Sudah selayaknya kita mencintai Allah dan apa yang Allah cintai. Sebagaimana perkataan penyair tadi bahwa pengorbanan seorang pecinta adalah perhatian, maka apa perhatian kita kepada Allah SWT? Yuk bertanya sejauh mana kita mencintai Allah azza wa jalla.

Bagaimana kita mengejewantahkan cinta kepada kepada Allah?
Cinta itu adalah dakwah. Saya sebutkan bahwa salah satu bukti kita mencintai Allah adalah berdakwah. Kita menjadikan dakwah sebagai bukti bahwa kita mencintai Allah azza wa jalla. Kita menjadikan dakwah sebagai laku utama dalam kehidupan.

KH. Rahmat Abdullah mengatakan bahwa, “Memang seperti itu dakwah. dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai fikiranmu, sampai perhatianmu, berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di saat lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai. Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah menyedot kekuatan pada diri hingga tulang belulangmu, daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..”
Dakwah yang harus kita fahami adalah, dakwah tak harus dengan ceramah, namun mengucap syukur alhamdulillah, tersenyum ramah pada sahabat, berjuang kuliah tanpa lelah merupakan bagian dari dakwah.
Dakwah itu cinta, karena kita memikirkan kepentingan orang lain juga. Dakwah mendidik kita agar tak egois mengurusi urusan diri sendiri.

Dakwah itu cinta. Karena dakwah membangun ukhuwah islamiyah. Bagaimana tidak? Saat berjumpa, ia menampakkan wajah ceria, mengingatkan saat lupa, ikut senang saat bahagia, mendoakan saat berpisah. Indah..

Dakwah itu cinta. Karena dakwah tak mengenal rupa, warna, dan strata manusia alias semuanya sama. Dakwah mengenal keimanan dan ketaqwaan yang menjadi tolak ukur seseorang. Sehingga setiap manusia, baik tampan atau sangat tampan, cokelat atau putih, kaya atau miskin, semuanya dipandang sama dihadapan Allah SWT.
Jika dakwah itu cinta, maka dakwah akan membuncah dan mengejewantah menjadi kerja. Kerja lilah istiqomah tanpa lelah, kerja ikhlas, cerdas, dan tuntas.

Jika dakwah itu cinta, mengapa kita tak saling mencintai?
Salam cinta dari kami, LDK UKDM UPI. Karena islam milik kita semua. Allahu Akbar!


Rabu, 03 Juni 2015

Keengganan Menasehati


Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat- menasehati dalam kebenaran, dan nasihat-menasihati dalam kesabaran. (QS. Al Ashr 1-3).

“Ad-din itu adalah nasehat. Kami bertanya, “Untuk siapa?” Rasulullah SAW menjawab, “Bagi Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan orang-orang awamnya.” (Al-Hadist)

Bada tahmid dan shalawat.
Ikhwahfillah, Islam menyuruh agar umatnya senantiasa saling menasehati satu sama lain. Sebagaimana salah satunya dijelaskan dalam surat al-ashr di atas. Selain itu, Rasulullah SAW banyak menyampaikan urgensi saling menasehati. Dalam konteks organisasi, kitapun diharuskan saling menasehati. Nasehat yang dilakukan berupa nasehat antarsaudara, pemimpin kepada anggota, anggota kepada pemimpin, atau kepada orang di luar organisasi.

Namun ada kalanya kita menjadi enggan menasehati orang lain. Kita mengetahui bahwa apa yang dilakukan saudara kita itu salah, oleh karenanya kita mengingatkan saudara kita. tak hanya sekali, kita telah mengingatkan saudara kita berulang kali namun ternyata tidak ada perubahan pada saudara kita. akibatnya kita menjadi enggan untuk menasehati karena percuma juga dinasehati namun tak berubah. Ada beberapa sebab lain muncul keengganan menasehati antara lain tidak berjalan konsep qiyadah dan jundiyah, lalai dalam mengerjakan tugas, kelesuan ruhiyah, dan lain-lain. Akhirnya kita berpikiran untuk membiarkan saudara kita berbuat sekehendak hati dengan alasan karena kita telah seringkali menasehatinya.  

Ikhwatifillah Rahimakumullah, setiap persoalan mari kita kembalikan kepada Allah dan Rasulnya. Mari menelusuri Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman manusia.

Ayat Al-Quran tidak luluh hanya karena perihal emosi. Maksud saya adalah bisa jadi keengganan menasehati berasal dari hati kita yang sedang emosi. Bila ayat Al-Quran telah berbicara demikian, maka menjadi hukum bagi manusia.
Selain itu, Rasulullah Saw mengajari kita untuk terus-menerus menasehati manusia. Rasulullah tidak lelah menasehati paman-pamannya dan orang-orang kafir untuk beriman kepada Allah azza wa jalla. Dengan demikian, maka perintah saling menasehati harus terus kita lakukan.

Ikhwatifillah yang Allah muliakan,
Ada beberapa cara agar kita terhindar dari keengganan menasehati antara lain :
a.    Berhusnudzan kepada saudara
Saudara kita adalah manusia biasa. Ia bukan manusia sempurna apalagi malaikat yang terjaga dari dosa. “Manusia itu tempat salah dan dosa.” Kata Rasulullah SAW. Maka saudara kita bisa jadi sedang khilaf saat melakukan kesalahan. Maksud hati tidak berniat melakukan kesalahan atau keburukan. Disamping itu, kita juga manusia yang tidak sempurna. Kita memiliki berbagai kekurangan dan kesalahan. Sehingga tidak sepatutnya kita menuntut orang lain sempurna di saat kita tidak akan pernah bisa menjadi sempurna. Selain itu, setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda sehingga tidak sepatutnya memaksakan agar orang lain mengerti diri kita seutuhnya.
b.    Melihat kekurangan, melihat juga kelebihan
Setiap manusia dikaruniai potensi baik dan buruk, dianugerahi sisi kelemahan dan sisi kelebihan. Agar terhindar dari keengganan menasehati, kita menginsyafi jika saudara kita memiliki kelebihan. Suatu kelebihan yang bisa jadi tidak kita miliki. Dengan demikian, kita menasehati orang lain dan berharap nasehat dari saudara yang lain atas kekurangan kita.
c.    Kita dai, bukan hakim
Hal yang juga dapat kita lakukan adalah menyadari bahwa justru kita saling melengkapi. Tugas kita di dunia adalah menjadi hamba dan khalifah, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Seorang penyeru kebaikan (dai) mengajak kepada kebenaran dan mencegah kemungkaran. Dai bukan hakim yang men-judge orang bersalah, berdosa, dan akan masuk neraka. Akan tetapi dai menjadi petunjuk jalan bagi orang tersesat, menjadi oase di tengah kegersangan nasehat, menjadi pengingat di saat manusia merasa paling hebat. Oleh karena itu, dai sepatutnya bersabar dan terus berusaha sekuat tenaga menanggapi problematika yang ada. 

Ikhwahfillah, sebetulnya saling menasehati memiliki adab atau tata cara tersendir. Adapun adab atau cara menasehati antara lain sebagai berikut :
a.    Menasehati dalam bentuk yang paling baik
Rasulullah SAW mengajarkan berdakwah dengan teladan, hikmah, dan kata-kata yang baik. Demikian pula saat menasehati, alangkah lebih baiknya jika nasehat yang kita berikan tergambar dalam keteladanan, hikmah, dan perkataan baik yang kita lontarkan.
b.    Menasehati secara diam-diam.
Maksudnya tidak menasehati di depan umum. Hal ini karena dapat menyakiti hati saudara karena menganggap telah mempermalukan dan menghina.

Demikian ikhwahfillah, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Oleh karena itu, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah menjadi pribadi yang berusaha semakin baik setiap saatnya. Semoga kita terhindar dari keengganan menasehati. (Satria Mega Nusantara)

Referensi :
Masyhur, Syaikh Mushthafa. Fiqh Dakwah. Al-I’tishom. 2000. Jakarta


Selasa, 02 Juni 2015

PRINSIP KOMUNIKASI AA GYM


Menurut pakar komunikasi, 70% dalam 24 jam waktu manusia diisi dengan komunikasi. Sehingga tidak heran muncul klausa we cannot not communicate (Kita tidak-bisa tidak berkomunikasi). Itu artinya setiap kesempatan baik disadari atau tidak, manusia banyak berkomunikasi.
Yang menarik adalah para tokoh atau pembicara seringkali memiliki ciri khas dalam berkomunikasi. Demikian juga Abdullah Gymnasiar pendiri Yayasan dan Pesantren Daarut Tauhiid Bandung. Aa Gym (sapaan akrabnya) menjadi populer karena mengenalkan cara berdakwah yang unik dengan gaya ekspresif dengan pesan-pesan dakwah islami yang praktis dan umum diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
Pada suatu kesempatan, sebagaimana biasa Aa Gym menyampaikan ceramah. Adapun saat itu Aa Gym “membongkar” rahasia prinsip komunikasi publiknya. Penulis berkesempatan mendengarkan dan menuliskan poin-poinnya. Untuk itu penulis akan menyampaikan kembali prinsip komunikasi yang disampaikan oleh Aa Gym. Adapun prinsip komunikasi tersebut  antara lain :
a.      Pastikan Yakin atas Apa yang Dibicarakan
Keyakinan adalah suatu hal yang dipercayai kebenarannya. Keyakinan dalam berkomunikasi berkaitan dengan pengetahuan dan pengalaman. Maksudnya komunikator merasa yakin karena telah memahami materi yang disampaikan. Disamping itu komunikator yakin karena apa yang disampaikan pernah ia alami.
Aa Gym seringkali bercerita tentang pengalamannya saat populer dahulu hingga Allah mencabut kepopulerannya tersebut. saat dipuncak ketenarannya, Aa Gym begitu dikagumi, disanjung, dielu-elukan oleh umat dan media massa. Masjid Daarut Tauhiid riuh dengan jamaah dari berbagai penjuru daerah. Pernak-pernik Aa Gym diproduksi untuk dikoleksi oleh penggemarnya. Namun saat Aa Gym mengambil keputusan berpoligami, kepercayaan masyarakat luntur seketika. Dengan kejadian tersebut, Aa Gym memiliki pengalaman hidup tersendiri. Dengan pengalaman tersebut Aa Gym merasa yakin terhadap apa yang dibicarakan.
b.      Tulus
Tulus identik dengan ikhlas. Sedangkan ikhlas bermakna tidak mengharapkan apapun kecuali Allah. Komunikator tidak memikirkan imbalan dari apa yang ia sampaikan. Tulus dalam berkomunikasi ibarat berkomunikasi tanpa banyak rekayasa, tanpa dominasi kepentingan, ambisi, dan lain-lain. Dengan berkomunikasi secara tulus, komunikasi menjadi tanpa beban, tanpa khawatir mengenai respon yang akan diberikan.
c.       Miliki Rasa Hormat pada Audiens
Penting memiliki rasa hormat kepada audiens. Hal ini akan berdampak kepada komunikator berusaha menggunakan bahasa verbal yang baik, berbusana yang baik, berwawasan yang luas. Aa Gym biasa menggunakan jas dan sorban untuk menghormati audiens. Bagaimana jika Aa Gym ceramah dengan menggunakan jeans dan baju oblong? Tentu tidak akan menarik simpat dari audiens.
Selain itu, memiliki rasa hormat kepada audiens membuat komunikator menempatkan audiens sesuai tempatnya. Tidak menempatkan sebagai “anak kecil” yang biasa digurui.
d.      Miliki Rasa Kasih Sayang
Allah Ta’ala berfirman, “Dan berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu...” (QS 3 : 159)
Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, komunikator harus memiliki rasa kasih sayang. Hal ini akan berdampak kepada sifat sabar. Maksudnya adalah komunikator berkomunikasi dengan landasan rasa kasih sayang kepada sesama. Tujuan berkomunikasi adalah untuk mendapatkan kebaikan. Oleh karenanya komunikator harus memiliki kesabaran dalam berkomunikasi dengan audiens. Kesabaran itu tidak akan muncul jika tidak ada rasa kasih sayang dalam diri komunikator.
e.      Jujur
Terakhir, jujur memiliki peran penting dalam komunikasi. Dengan berlaku jujur komunikator tidak harus menutup “lubang kebohongan’ dengan kebohongan lagi. Kita sering mendengar bahwa orang yang berbohong dapat diketahui melalui bahasa tubuhnya. Hal ini karena kebohongan mendatangkan kekhawatiran bagi pelakunya. Komunikator akan mencari kebohongan lain untuk menutup kebohongan yang telah ia lakukan.
Rasulullah SAW telah mencontohkan kejujuran ini 14 abad yang lalu. Jujur berarti berita/ perkataan sesuai dengan fakta. Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama, dan jujur dengan diri sendiri.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke syurga dan sesungguhnya seseorang selalu berbuat jujur sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta (kebohongan) itu menunjukkan kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu menujukkan kepada neraka dan sesungguhnya seseorang yang selalu berdusta maka dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang pendusta.”(Mutaffaq Alaih)
Rasulullah SAW bersabda, “Tinggalkanlah olehmu apa saja yang kamu ragukan dan beralihlah keapda yang tidak kamu ragukan, sesungguhnya kejujuran itu ketenangan dan kedustaan itu kebimbangan.” (HR Tirmidzi) Dengan kata lain kejujuran dapat dapat mendatangkan integritas bagi seorang pembicara.

Demikian prinsip komunikasi yang disampaikan oleh Aa Gym. Semoga bermanfaat.. ^^

Konfirmasi



“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya, apabila dia menyeru kepadamu sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah sesungguh-Nya Allah membatasi antara manusia manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaanya.” (QS Al-Anfal : 24-25)
Kita sering mendengar istilah “Siap 86!”, apalagi setelah istilah ini menjadi salah satu program di stasiun televisi. “86!” adalah bahasa isyarat yang sering digunakan dalam komunikasi militer atau petugas keamanan. Maksudnya adalah pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan/ sender dapat diterima, dimengerti, dan difahami oleh penerima pesan. Selain itu, istilah itu merupakan respon bahwa pesan (instruksi) yang diberikan siap dilaksanakan.
Sejujurnya saya kagum dengan komunikasi di militer tersebut. Bagi saya, kegiatan itu memiliki arti lain dalam kehidupan. Orang-orang militer dilatih siap, disiplin, responsif, tenang, dapat mengkondisikan, dan lain-lain. Demikian juga konfirmasi memiliki urgensi dalam dakwah. Adapun kali ini penulis akan membahas konfirmasi dalam lembaga dakwah kampus (LDK). Tulisan bukan tidak bermaksud menggurui, penulispun harus terus-menerus melakukan instropeksi.
Konfirmasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pembenaran, penegasan, pengesahan. Konfirmasi yang saya maksud dalam tulisan ini adalah kegiatan merespon pesan, panggilan, atau seruan dalam LDK. Dalam melakukan konfirmasi bahasa yang dilakukan dapat berbeda. Akan tetapi dalam artikel ini saya tidak akan membahas tentang bahasa yang baik dalam merespon pesan, namun lebih kepada menyoroti kegiatan konfirmasi saja. Konfirmasi ini merupakan bagian dari pembahasan ruhul istijabah (bersegera menyambut seruan). Namun kiranya hal kecil ini dapat meningkatkan ruhul istijabah Aktivis Dakwah Kampus (ADK).
“Seruan kepada pengurus LDK untuk syuro pada hari Selasa, 2 Juni 2015 pukul 16.00 WIB di Selasar Akhwat lantai 3 Masjid. Pembahasan mengenai Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Harap hadir mengingat pentingnya syuro ini. Konfirmasi ke 0896xxxxx. Jazakumullah khairon katsiro”.
Demikian gambaran undangan syuro di LDK. Pesan tersebut biasanya dikirim oleh masul atau penanggungjawab dari sebuah kegiatan atau peran tertentu. Dalam pesan tersebut disertakan konfirmasi dengan maksud orang yang diundang membalas, merespon, menyambut, dan mengkomunikasikan perihal kehadiran dalam agenda tersebut.
Namun seringkali ADK merasakan bahwa konfirmasi tersebut berat dilakukan. Hal ini mungkin karena menganggap agenda tersebut tidak penting, tidak menyenangkan, terlupakan karena sibuk mengerjakan agenda lain, atau alasan semacamnya. Hal tersebut menyebabkan ADK tidak menyegerakan konfirmasi bahkan tidak konfirmasi sama sekali. Padahal, sebenarnya konfirmasi tidak memerlukan waktu lama, mungkin hanya memerlukan waktu beberapa menit saja.
“Yang penting, kan, saya hadir. Tidak perlu konfirmasi”. Demikian pula salah satu pernyataan mengapa sebagian ADK tidak segera konfirmasi atau bahkan tidak konfirmasi sama sekali.
Dikarenakan karena tidak ada yang konfirmasi, seringkali sebuah acara tidak jadi terlaksana. Padahal panitia sudah menyiapkan kegiatan dengan matang. Panitia beranggapan karena tidak ada yang konfirmasi maka acara tidak layak untuk dilaksanakan. Namun tidak jarang juga, panitia menjadi bersemangat karena banyak peserta yang konfirmasi. Untuk hal teknis, konfirmasi berfungsi untuk penyesuaian kegiatan misalkan besar ruangan, jumlah kursi, jumlah konsumsi, dan lain-lain. Sehingga dalam hal ini konfirmasi penting untuk kepastian sebuah agenda.
Banyak yang menganggap bahwa kehilangan budaya konfirmasi tidak akan berdampak pada dakwah secara umum. “Kerikil-kerikil kecil” sebuah kelalaian akan menggunung menjadi kelalaian besar. Jika kehilangan budaya konfirmasi terakumulasi dengan kesalahan yang lain maka menjadi representasi LDK yang menyertakan nilai islam. Pada akhirnya Islam akan mendapat citra negatif akibat kelemahan dan kekebalan ADK dalam menangkal kebiasaan buruk.
Komunikasi -termasuk konfirmasi- penting dalam LDK. Penulis mencoba merinci urgensi dan manfaat dari konfirmasi antara lain sebagai berikut :
a.   Belajar peka terhadap kebutuhan dan kepentingan orang lain
Bisa jadi hal yang menurut kita kecil namun berarti besar bagi orang lain. Oleh karena itu kita tidak boleh melalaikan hal kecil tersebut. pengirim pesan membutuhkan konfirmasi dengan berbagai alasan seperti mengetahui kabar dan kondisi, mempersiapkan suatu agenda, dll. Dengan konfirmasi kita belajar peka terhadap kebutuhan dan kepentingan orang lain tersebut.
b.   Belajar menghargai usaha orang lain
Pengirim pesan telah berusaha agar pesan tersebut dapat terkirim kepada penerima pesan. Jika kita urutkan, mungkin pengirim pesan memerlukan usaha berupa input nomor hp, menuliskan pesan yang sesuai, mengirimkan pesan secara bertahap, membeli pulsa, dan lain-lain. Biasanya sender bukan pengangguran juga, dia diamanahi di berbagai tempat. Oleh karenanya usaha untuk mengirim pesan kepada penerima pesan semakin besar.  
Mungkin saja penerima pesan berpikir apa susahnya sender mengirimkan satu pesan kepadanya. Namun patut difahami bahwa bisa jadi pesan yang dikirim ke penerima pesan berjumlah puluhan bahkan ratusan. Lagipula, jika kita berpikir apa susahnya sender mengirim pesan kepada kita, lalu apa susahnya kita mengirimkan pesan konfirmasi kepadanya?
c.   Belajar mengasah kemauan menjalin relasi
Konfirmasi adalah kegiatan belajar menjali relasi dengan orang lain. Komunikasi melalui media, hakikatnya adalah sama seperti komunikasi di dunia nyata. Apabila komunikator mengirim pesan namun diacuhkan oleh komunikan maka akan muncul ketidaknyamanan bagi komunikator. Demikian pula komunikasi melalui media, bila komunikasi pengirim pesan diacuhkan oleh penerma pesan bisa jadi muncul ketidaknyamanan bagi penerima pesan.
Patut kita ingat bahwa kehidupan kita tidak hanya hari ini saja, namun juga dikemudian hari. Konfirmasi (membuat orang lain nyaman) adalah tuntunan dan investasi bagi seorang mukmin. Hal ini karena Allah menyuruh hambanya untuk membangun hubungan yang baik dengan manusia lain (habluminannas). Selain itu hal ini karena kita membutuhkan orang lain dan begitupula di masa depan. Maksud saya, jangan sampai kita merusak hubungan dengan orang lain karena suatu saat nanti bisa jadi kita yang membutuhkan orang lain.
d.   Belajar membangun kesolidan dan kesukesan organisasi
Konfirmasi sebagai bagian dari komunikasi organisasi menggambarkan kesolidan sebuah organisasi. Organisasi sebagai kumpulan orang dalam mencapai suatu tujuan, tidak akan lepas dari komunikasi. Komunikasi tersebut dapat berupa pemimpin kepada anggota, anggota kepada pemimpin, atau sesama anggota. Sebuah organisasi yang baik, memiliki pola komunikasi yang baik baik. Kesuksesan sebuah komunikasi diukur dari sejauh mana anggota komunikasi saling mengerti dan memahami.
e.   Belajar mengikis malas, egois, pelit, tinggi hati, dan alineasi
Ada kalanya keengganan melakukan konfirmasi karena aktivis dakwah memiliki kebiasaan malas. Kemalasan ini yang mengakibatkan aktivis dakwah tidak ingin membalas pesan walaupun dengan sebuah pesan singkat. Hal ini sangat berbahaya bagi dakwah. Oleh karena itu, kemalasan itu harus dikikis.
Demikian pula dengan egois, tinggi hati, bahkan alineasi. Maksudnya penerima pesan tak ingin mengkonfirmasi karena sender dianggap rendah oleh penerima pesan. Hal ini beraibat penerima pesan tidak merespon dengan semangat. Hal ini mirip dengan sifat tinggi hati aktivis dakwah yang merasa bahwa mengirimkan pesan konfirmasi dapat menurunkan izzahnya.
Adapula aktivis dakwah yang mengalineasi diri sehingga tidak mau konfirmasi. aktivis dakwah seperti ini justru menganggap dirinya “sebutir pasir di pantai Pangandaran”, merasa kecil, tidak memiliki kontribusi, dan lain-lain. Padahal selagi muslim bertakwa kepada Allah, dialah yang mulia di sisi Allah. Wallahu’alam  Belajar indibath/ disiplin/ ruhul istijabah (bersegera menyambut seruan kebaikan)
Islam mengajarkan umatnya untuk berdisiplin setiap saat. Hal ini salah satunya dapat tercermin dari shalat. Seorang muslim harus disiplin melakukan shalat di awal waktu. Hal ini menjadi gambaran bahwa kegiatan lainpun seperti itu, termasuk konfirmasi. Kebiasaan konfirmasi akan membantu kita untuk disiplin.
f.    Belajar menghargai waktu orang lain
Coba pikirkan dan bayangkan, perlu berapa lama untuk menghubungi puluhan bahkan ratusan orang. waktu orang lain digunakan untuk mengurusi penerima pesan. Maka alangkah lebih baiknya jika kita menghargai pengorbanan waktu yang diberikan oleh pengirim pesan.
g.   Belajar tadhiyah, komitmen, dan kontribusi untuk dakwah
Lebih daripada itu, aktivitas yang dikerjakan oleh aktivis dakwah bukan aktivitas main-main. Ada amanah di pundak aktivis untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Jika dibandingkan dengan perjuangan mujahid di berbagai tempat, aktivitas konfirmasi tidak ada apa-apanya.

Cukup sekian artikel mengenai konfirmasi. Intinya, yuk merespon seruan kebaikan dengan niat karena Allah SWT. Kita tidak tahu di bagian mana Allah akan ridha kepada kita, bisa jadi dari konfirmasi yang kila lakukan. Amin. Terimakasih 
(seperti biasa, sedikit sulit mencari judul. mencari padanan kata yang padat dan dapat mencakup segala penjelasan dan isi coretan. seringkali menjadi puisi tanpa judul, memang seperti tubuh tanpa kepala. maksudku bukan kepala manusia, namun kecoa-kecoa di kos-kosan kami. mereka hidup menggerayangi, menggelitiki, memakan, membuang kotoran, dan melompat-lompat tanpa kepala. hebat! bagaimana menurutmu? sempat terlintas kepalanya bernama, "bertanya kembali", "tali kusut", "titik tarik dan jenuh", atau "tanpa judul" (sebagaimana pada beberapa karya orang lain) ya sudahlah, akan kupikirkan lain kali. namun bagimu yang punya ide, mengapa tidak memberikan masukan. siapa tau "anak tanpa bapak berubah jadi pemuda bijaksana" selayaknya "anak singkong jadi bapak media")

aku melihat tali kusut
berwarna merah, hijau, biru
melilit kesana kemari
melingkar dan tak beraturan


aku (dan kau juga) memandang deretan huruf
menerka, membaca, mencari makna
lucu memang..
selamat malam


dimana..
titik tarik dan titik jenuh itu?
apakah mudah tertarik
atau mudah menjenuh?

lucu memang

lihat saja, aku dan dirimu membuka layar untuk memeluk suatu prasangka
pikir kita, "kenapa, kemana, dan bagaimana?"
politis, egois, individualis, matrealistis.
seringkali kita menjadi peramal yang buruk! sumpah! 


memakna secuil keputusan sebagai track record manusia
mengenang noda dari lembaran putihnya
entah mengapa dititik ini aku membenci
jarang sekali kita bertanya siapa, ada apa, dan bagaimana


disana, aku lihat tali kusut
berwarna merah, hijau, biru
lihatlah, warna menjadikan pekerjaan kita mudah
bertanya siapa, ada apa, dan bagaimana.. 

(kusampaikan salam kepada senja, atas waktu siku yang singkat. tadinya kupikir pekerjaan memakan masa, antara daerah "pegunungan" ke "landaian". oh ya, vitamin belum sampai ke tangan. tenang, lagipula orang tua renta tidak hanya perlu vitamin namun juga penyadaran. lain bagimu, senja, yang saat menua akan berubah malam, menjadi pagi dan muncul kembali esok sore hari)

Minggu, 31 Mei 2015

Tips Menulis Cahyadi Takariawan

 Gugup dan tak PD sebenarnya memulai tulisan ini. mengapa? Karena tulisan ini adalah tulisan kedua dari komitmen untuk terus menulis setiap hari. Kemarin adalah tulisan pertamaku. Kutulis dengan lancar dan tanpa beban. Apa pasalnya? Karena tulisan pertama adalah tulisan artikel mengenai kegiatan bedah buku “Panduan Ibadah Ramadhan” karya Cahyadi Takariawan. Sebuah agenda yang baru diselenggarakan kemarin lusa. Istilahnya masih fresh! Sedangkan yang kedua ini aku tak tahu harus menulis apa. Hmm, apa ya? Baiklah, akan kuceritakan saat aku menjemput Pak Cah –panggilan akrab- dari Stasiun Bandung menuju hotel penginapan.
Pak Cah akan kami jemput di Stasiun Bandung pukul 08.50 WIB dan waktu itu pula aku menunggu beliau. Setelah bertemu, kami segera menuju penginapan. Nah, ceritaku dimulai disini. Di awal diperjalanan, aku tak tahu harus ngobrol apa saja dengannya. Rasanya sangat sedikit obrolan yang bisa diutarakan. Aku bertanya kabar, kesibukan, kesan terhadap Bandung, kapan terakhir kali ke Bandung, rencana setelah mengisi materi, hingga konsepan materi dan kondisi tempat serta peserta.
Setelah jeda beberapa waktu, aku curhat kepada beliau mengenai menulis. Aku bertanya beberapa hal tentang menulis dan ternyata beliau merespon sangat antusias. Walaupun pertemuan itu hanya sekitar 15-20 menit, namun ada beberapa tips yang aku tangkap dari obrolan kami. Berikut tips yang diberikan beliau dalam menulis :
a.   Paksa Diri untuk Menulis (Miliki Waktu Khusus Menulis)
Hal pertama yang beliau sampaikan adalah paksa diri untuk menulis. Milikilah waktu khusus agar diri terpaksa untuk menulis. Setiap orang memiliki waktu khusus dimana inspirasi menulis akan hadir. Namun jika belum menemukan inspirasi, tetap milikilah waktu khusus tersebut. Adapun Pak cah memiliki waktu khsus untuk menulis saat setelah Shubuh. Beliau memaksa diri menulis setiap hari dan mengirimkannya ke blog atau media lain. Berbeda soal kalau ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkannya ibarat pergi kesuatu tempat. Dengan memaksa diri untuk menulis, halangan mood (perasaan, keinginan) yang biasanya labil akan tetap terjaga.
b.   Menulis yang Disenangi
Menulislah dari yang disenangi. Hal ini akan berdampak pada tulisan yang ekspresif. Tulisan akan mengalir tanpa banyak keraguan. Pak Cahmenyenangi tema parenting, oleh karenanya beliau banyak sekali menulis tentang parenting tersebut. Bayangkan saja beliau telah menulis puluhan buku tentang parenting!
Hal yang disenangi dapat terwujud apa saja. Misalnya makanan, isu, kegiatan, dan lain-lain. Pokoknya apapun yang membuatmu senang dan ingin diceritakan kepada orang lain. Setelah itu, menulislah tanpa keraguan.
c.   Jangan Mundur Karena Kritik
Aku curhat kepada beliau kalau aku sulit menulis karena khawatir penilaian orang lain. Takut dibilang jelek, takut dikritik, takut tidak diterima, atau malah takut dihujat. Namun Pak Cah menyampaikan kalau kita tidak boleh takut dikritik.
Pak Cah menyarankan untuk memiliki blog sendiri. Tujuannya adalah agar kita memiliki wadah untuk menulis. Selain itu, tulisan yang sudah dipost dapat diedit jika terdapat kesalahan. Berbeda soal jika tulisan sudah dibukukan. Akan sulit mengedit tulisan tersebut, apalagi kalau sudah disebar ke berbagai daerah.
Pak Cah menyarankan bagi penulis pemula, jangan terlalu banyak mendengarkan kritik. Kritik mungkin ada yang membangun, namun kebanyakan kritik juga meruntuhkan. Apalagi bagi penulis pemula yang mudah terpengaruh oleh ucapan orang lain.
d.   10 Ciri Suami Idaman...
Untuk memudahkan menulis, Pak Cah biasa menggunakan angka atau jumlah di judul tulisannya. Misalkan 5 cara membuat istri bahagia, 10 ciri suami idaman, dan lain-lain. Tujuannya adalah supaya memudahkan penulis karena berbentuk pointer. Selain itu, penulis akan dipaksa mencari dan memenuhi hingga tulisannya sesuai dengan jumlah di judulnya. Misalnya tulisan beliau berjudul 10 ciri suami idaman, maka saat beliau baru menulis di poin 7, beliau harus mencari 3 poin lagi untuk menyesuaikan jumlah dalam judul tulisannya.
e.   Menulis dari Pengalaman/ Apa yang Dialami
Menulislah dari apa yang dialami. Karena menulis dari apa yang dialami akan membuat tulisan mengalir. Tanpa stack! Karena toh yang dituliskan adalah pengalaman yang telah dialami. Kita tidak perlu berimajinasi karena apa yang kita alami dapat langsung kita tuangkan dalam tulisan. Beliau mencontohkan seorang pemimpin organisasi yang mengalami menjadi “nahkoda” organisasi akan lebih mudah menuliskan pengalamannya dari pada orang yang tidak mengalami menjadi pemimpin. Spirit yang dibangun adalah semangat untuk berbagi dan mewariskan.
f.    Punya Mentor? Tak perlu! 
Aku bertanya apakah menulis harus memiliki mentor? Pak Cahyadi menyampaikan menurutnya menulis tidak harus memiliki mentor. Cukup berpegang kepada hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya, maka menulis akan menjadi mudah.

Berikut tips dari Cahyadi Takariawan untuk orang yang ingin produktif menulis. Semoga kita dapat terus menulis. Amin 

Blog Galih Kurniawan

hmm, ternyata banyak juga blog yang saya buat namun minim dalam postingan. berikut daftar blog yang pernah saya buat : 
galihkurniawansuper.blogspot.com
samuraimuslim.wordpress.com
salamrahmatullah.blogspot.com
samurai-muslim.blogspot.com
cerdaskomunikasi.blogspot.com

insyaallah untuk kedepannya, blog yang akan dikelola permatakomunikasi.blogspot.com 
adapun postingan yang dipostingan dari berbagai blog di atas telah saya pindahkan ke blog ini. terima kasih

Irama Pengantar

Kamis, 23 Mei 2013
Bersama denting pianoTercucur pula darah anak palestinaMenetes dari setiap celah-celah patahnyaMenggenang mengelilingi kaki-kakinya
Mata dan harapannya telah jauh menerawangMeninggalkan langkah kakinya,Peluru panas lebih cepat menembus kepalanyaSebelum ia tersenyum bahagia
Suara nyanyian ratapanTak dapat mengembalikan nyawa yang telah terbangHanya berupa rekaman yang dapat dikenangDan teringat berulang-ulang
Kemudian teriakkannya akan terwariskan pada wajah yang samaWajah yang tak berdosaBayi yang tak berdayaJanin yang tengah hidup dalam kandungan ibunyaNyawa yang telah suatu saat nanti akan mati dengan peluru dikepalanya pula
Lihatlah, aku masih dapat melihat matanya yang sembab menangis dan meratapDengarlah, aku masih dapat mendengar jeritan menjelang kematiannyaAku masih bisa mencium aroma darah segar yang menetes dari lubang dikepalanyaAku masih menyanyikan irama pengantar kematiannya