“Wahai
orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya, apabila dia
menyeru kepadamu sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah
sesungguh-Nya Allah membatasi antara manusia manusia dan hatinya dan
sesungguhnya kepadaNyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari
siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu.
Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaanya.” (QS Al-Anfal : 24-25)
Kita
sering mendengar istilah “Siap 86!”, apalagi setelah istilah ini menjadi salah
satu program di stasiun televisi. “86!” adalah bahasa isyarat yang sering
digunakan dalam komunikasi militer atau petugas keamanan. Maksudnya adalah
pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan/ sender dapat diterima, dimengerti, dan
difahami oleh penerima pesan. Selain itu, istilah itu merupakan respon bahwa
pesan (instruksi) yang diberikan siap dilaksanakan.
Sejujurnya
saya kagum dengan komunikasi di militer tersebut. Bagi saya, kegiatan itu
memiliki arti lain dalam kehidupan. Orang-orang militer dilatih siap, disiplin,
responsif, tenang, dapat mengkondisikan, dan lain-lain. Demikian juga
konfirmasi memiliki urgensi dalam dakwah. Adapun kali ini penulis akan membahas
konfirmasi dalam lembaga dakwah kampus (LDK). Tulisan bukan tidak bermaksud
menggurui, penulispun harus terus-menerus melakukan instropeksi.
Konfirmasi
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pembenaran, penegasan,
pengesahan. Konfirmasi yang saya maksud dalam tulisan ini adalah kegiatan merespon
pesan, panggilan, atau seruan dalam LDK. Dalam melakukan konfirmasi bahasa yang
dilakukan dapat berbeda. Akan tetapi dalam artikel ini saya tidak akan membahas
tentang bahasa yang baik dalam merespon pesan, namun lebih kepada menyoroti kegiatan
konfirmasi saja. Konfirmasi ini merupakan bagian dari pembahasan ruhul
istijabah (bersegera menyambut seruan). Namun kiranya hal kecil ini dapat
meningkatkan ruhul istijabah Aktivis Dakwah Kampus (ADK).
“Seruan kepada pengurus LDK untuk syuro pada hari
Selasa, 2 Juni 2015 pukul 16.00 WIB di Selasar Akhwat lantai 3 Masjid. Pembahasan
mengenai Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Harap hadir mengingat pentingnya
syuro ini. Konfirmasi ke 0896xxxxx. Jazakumullah khairon katsiro”.
Demikian
gambaran undangan syuro di LDK. Pesan tersebut biasanya dikirim oleh masul atau penanggungjawab dari sebuah
kegiatan atau peran tertentu. Dalam pesan tersebut disertakan konfirmasi dengan
maksud orang yang diundang membalas, merespon, menyambut, dan mengkomunikasikan
perihal kehadiran dalam agenda tersebut.
Namun seringkali
ADK merasakan bahwa konfirmasi tersebut berat dilakukan. Hal ini mungkin karena
menganggap agenda tersebut tidak penting, tidak menyenangkan, terlupakan karena
sibuk mengerjakan agenda lain, atau alasan semacamnya. Hal tersebut menyebabkan
ADK tidak menyegerakan konfirmasi bahkan tidak konfirmasi sama sekali. Padahal,
sebenarnya konfirmasi tidak memerlukan waktu lama, mungkin hanya memerlukan waktu
beberapa menit saja.
“Yang penting, kan, saya hadir. Tidak perlu
konfirmasi”. Demikian pula salah satu pernyataan mengapa sebagian
ADK tidak segera konfirmasi atau bahkan tidak konfirmasi sama sekali.
Dikarenakan
karena tidak ada yang konfirmasi, seringkali sebuah acara tidak jadi terlaksana.
Padahal panitia sudah menyiapkan kegiatan dengan matang. Panitia beranggapan
karena tidak ada yang konfirmasi maka acara tidak layak untuk dilaksanakan. Namun
tidak jarang juga, panitia menjadi bersemangat karena banyak peserta yang
konfirmasi. Untuk hal teknis, konfirmasi berfungsi untuk penyesuaian kegiatan
misalkan besar ruangan, jumlah kursi, jumlah konsumsi, dan lain-lain. Sehingga
dalam hal ini konfirmasi penting untuk kepastian sebuah agenda.
Banyak
yang menganggap bahwa kehilangan budaya konfirmasi tidak akan berdampak pada
dakwah secara umum. “Kerikil-kerikil kecil” sebuah kelalaian akan menggunung
menjadi kelalaian besar. Jika kehilangan budaya konfirmasi terakumulasi dengan
kesalahan yang lain maka menjadi representasi LDK yang menyertakan nilai islam.
Pada akhirnya Islam akan mendapat citra negatif akibat kelemahan dan kekebalan ADK
dalam menangkal kebiasaan buruk.
Komunikasi
-termasuk konfirmasi- penting dalam LDK. Penulis mencoba merinci urgensi dan
manfaat dari konfirmasi antara lain sebagai berikut :
a. Belajar
peka terhadap kebutuhan dan kepentingan orang lain
Bisa
jadi hal yang menurut kita kecil namun berarti besar bagi orang lain. Oleh
karena itu kita tidak boleh melalaikan hal kecil tersebut. pengirim pesan
membutuhkan konfirmasi dengan berbagai alasan seperti mengetahui kabar dan
kondisi, mempersiapkan suatu agenda, dll. Dengan konfirmasi kita belajar peka
terhadap kebutuhan dan kepentingan orang lain tersebut.
b. Belajar
menghargai usaha orang lain
Pengirim
pesan telah berusaha agar pesan tersebut dapat terkirim kepada penerima pesan.
Jika kita urutkan, mungkin pengirim pesan memerlukan usaha berupa input nomor
hp, menuliskan pesan yang sesuai, mengirimkan pesan secara bertahap, membeli
pulsa, dan lain-lain. Biasanya sender bukan pengangguran juga, dia diamanahi di
berbagai tempat. Oleh karenanya usaha untuk mengirim pesan kepada penerima pesan
semakin besar.
Mungkin
saja penerima pesan berpikir apa susahnya sender mengirimkan satu pesan
kepadanya. Namun patut difahami bahwa bisa jadi pesan yang dikirim ke penerima
pesan berjumlah puluhan bahkan ratusan. Lagipula, jika kita berpikir apa
susahnya sender mengirim pesan kepada kita, lalu apa susahnya kita mengirimkan
pesan konfirmasi kepadanya?
c. Belajar
mengasah kemauan menjalin relasi
Konfirmasi
adalah kegiatan belajar menjali relasi dengan orang lain. Komunikasi melalui
media, hakikatnya adalah sama seperti komunikasi di dunia nyata. Apabila
komunikator mengirim pesan namun diacuhkan oleh komunikan maka akan muncul
ketidaknyamanan bagi komunikator. Demikian pula komunikasi melalui media, bila
komunikasi pengirim pesan diacuhkan oleh penerma pesan bisa jadi muncul
ketidaknyamanan bagi penerima pesan.
Patut
kita ingat bahwa kehidupan kita tidak hanya hari ini saja, namun juga
dikemudian hari. Konfirmasi (membuat orang lain nyaman) adalah tuntunan dan investasi
bagi seorang mukmin. Hal ini karena Allah menyuruh hambanya untuk membangun
hubungan yang baik dengan manusia lain (habluminannas).
Selain itu hal ini karena kita membutuhkan orang lain dan begitupula di masa
depan. Maksud saya, jangan sampai kita merusak hubungan dengan orang lain
karena suatu saat nanti bisa jadi kita yang membutuhkan orang lain.
d. Belajar
membangun kesolidan dan kesukesan organisasi
Konfirmasi
sebagai bagian dari komunikasi organisasi menggambarkan kesolidan sebuah
organisasi. Organisasi sebagai kumpulan orang dalam mencapai suatu tujuan,
tidak akan lepas dari komunikasi. Komunikasi tersebut dapat berupa pemimpin
kepada anggota, anggota kepada pemimpin, atau sesama anggota. Sebuah organisasi
yang baik, memiliki pola komunikasi yang baik baik. Kesuksesan sebuah
komunikasi diukur dari sejauh mana anggota komunikasi saling mengerti dan
memahami.
e. Belajar
mengikis malas, egois, pelit, tinggi hati, dan alineasi
Ada
kalanya keengganan melakukan konfirmasi karena aktivis dakwah memiliki
kebiasaan malas. Kemalasan ini yang mengakibatkan aktivis dakwah tidak ingin
membalas pesan walaupun dengan sebuah pesan singkat. Hal ini sangat berbahaya
bagi dakwah. Oleh karena itu, kemalasan itu harus dikikis.
Demikian
pula dengan egois, tinggi hati, bahkan alineasi. Maksudnya penerima pesan tak
ingin mengkonfirmasi karena sender dianggap rendah oleh penerima pesan. Hal ini
beraibat penerima pesan tidak merespon dengan semangat. Hal ini mirip dengan
sifat tinggi hati aktivis dakwah yang merasa bahwa mengirimkan pesan konfirmasi
dapat menurunkan izzahnya.
Adapula
aktivis dakwah yang mengalineasi diri sehingga tidak mau konfirmasi. aktivis
dakwah seperti ini justru menganggap dirinya “sebutir pasir di pantai
Pangandaran”, merasa kecil, tidak memiliki kontribusi, dan lain-lain. Padahal
selagi muslim bertakwa kepada Allah, dialah yang mulia di sisi Allah.
Wallahu’alam Belajar indibath/ disiplin/
ruhul istijabah (bersegera menyambut seruan kebaikan)
Islam
mengajarkan umatnya untuk berdisiplin setiap saat. Hal ini salah satunya dapat
tercermin dari shalat. Seorang muslim harus disiplin melakukan shalat di awal
waktu. Hal ini menjadi gambaran bahwa kegiatan lainpun seperti itu, termasuk
konfirmasi. Kebiasaan konfirmasi akan membantu kita untuk disiplin.
f. Belajar
menghargai waktu orang lain
Coba pikirkan
dan bayangkan, perlu berapa lama untuk menghubungi puluhan bahkan ratusan
orang. waktu orang lain digunakan untuk mengurusi penerima pesan. Maka alangkah
lebih baiknya jika kita menghargai pengorbanan waktu yang diberikan oleh
pengirim pesan.
g. Belajar
tadhiyah, komitmen, dan kontribusi untuk dakwah
Lebih
daripada itu, aktivitas yang dikerjakan oleh aktivis dakwah bukan aktivitas
main-main. Ada amanah di pundak aktivis untuk menegakkan kalimat Allah di muka
bumi. Jika dibandingkan dengan perjuangan mujahid di berbagai tempat, aktivitas
konfirmasi tidak ada apa-apanya.
Cukup
sekian artikel mengenai konfirmasi. Intinya, yuk merespon seruan kebaikan dengan
niat karena Allah SWT. Kita tidak tahu di bagian mana Allah akan ridha kepada
kita, bisa jadi dari konfirmasi yang kila lakukan. Amin. Terimakasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar