Minggu, 31 Mei 2015

Namun Ia Tahu

Rabu, 28 November 2012



Aku menghela nafas. Sebuah buku tebal dihadapanku kini ku lihat lekat. Belum ku buka sama sekali. Aku yakin semuanya ada disini.
“Ini awal semuanya.” Gumamku.
Perjalanan panjang telah ku lewati. Semilir angin pagi dan malam bergantian berhembus di sela-sela jemari, berhari-hari mentari membersamai, berbulan tanaman taman berbunga indah sekali. Setiap detik waktuku menjadi lebih berbeda dari sebelumnya.
“Terkadang kuat namun terkadang lemah. Terima kasih telah menjadi sahabat dan kakak bagiku...” aku ingat sebuah tulisan dipojok kanan cover buku. Tulisan terpanjang dari tulisan-tulisan yang ada. Tulisan lainnya hanya tertulis, “Ingat aku”, “Keep success,” dan sebagainya. Hanya satu orang saja yang menulis dengan awalan berbeda, pertengahan yang tidak sama, dan akhir yang mengesankan. Luar biasa..
Kubuka lembaran pertama buku tebal itu.
 “Dimana? Kenapa..”
“Tak ada.” Gumamku.
***      
“Ternyata tak ada sama sekali. Apakah ini hanya ilusi? Tidak! Aku sangat ingat. Tapi dimana? Kapan?” Batinku berseteru.
Otakku terus berputar. Jika diibaratkan dinamo, maka otakku telah panas karena terus dipaksa untuk berputar sekuat-kuatnya, secepatnya. Kuambli buku memori dalam otakku kemudian kubuka perlahan, dengan mata terbuka lebar dan alis yang mengkerut, ku buka setiap catatan perjalanan mulai suka hingga duka. Aku hanya mencari barisan kata dengan sebuah makna mendalam yang harus ku temukan. Harus..
“Pasti ada. Tapi dimana?”
Tulisan itu sangat penting bagiku, sejarahku, dan duniaku setelah ini. sebuah kalimat yang seperti tolakan di garis start dalam perlombaan lari. Sangat penting. Tolakan yang membuat pelari dapat diam untuk kemudian berlari.
Tulisan itu menjadi tali pengikat. Sebuah ikatan yang benama emosi. Emosi saling mengerti. Cukup, hanya sampai mengerti dan tidak untuk ikatan yang lebih kuat dari ikatan saling mengerti.
“Dimana baja berongga?” Aku yakin kalimat itu ada, ia begitu dekat dalam ingatanku. Kalimat itu mempunyai emosi yang begitu kuat dalam kehidupanku.
***      
“Mungkinkah ketika kata-kata itu terhapus maka komunikasi ini akan terputus?”
Darahku berhenti, lututku mendadak lemas dan keringat keluar deras dari pori-pori kulitku. Bagiku itu adalah pertanyaan yang menyakitkan. Menyakitkan bagi diriku dan ku tahu telah menyakitkan hatinya. Jika tak ada maka aku adalah pendusta. Jika tak ada ia seperti puteri yang memegang intan mutiara kemudian hilang bersama angin kenyataan.
Aku ibarat kakek tua yang memberi air kehidupan di tengah gurun sahara bagi pengembara yang hampir menemui sesakit sejuta pedang.  Aku membuatnya percaya bahwa aku adalah petua yang bertuah. Aku buat ia melihat seperti apa gelas da air yang ada didalamnya. Aku buat ia tersenyum dan berbahagia.  Namun sebenarnya aku hanyalah fatamorgana, aku tak punya setetespun air untukku berikan. Aku membohonginya bahwa aku adalah pahlawan. Pertanyaanku, bagaimanakah perasaan dan kehidupan sang pengembara itu?
***      
Dulu Tulisan itu membuatku bertanya pada diriku, “kenapa ia tahu?” Sebelumnya tak ada yang tahu aku. Pembimbingku, sahabatku, dan bahkan mungkin orang tuaku. Aku terlalu ulung untuk menyembunyikan rasa. Sebelumnya aku punya puluhan topeng yang bisa membiaskan bahasa rasa dan rona di wajahku. Sebelumnya aku punya baju yang membuat orang lain tak mengerti apa bahasa tubuhku. Sekali lagi, aku ulung untuk bisa dibaca hati dan tingkah lakuku.
Namun ia tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar