17 September 2012
seorang mahsiswa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Jawa Barat. Suatu hari saya berangkat ke Ciamis untuk memenuhi undangan pertemuan dari kawan saya di Ciamis, awalnya saya tidak begitu tertarik untuk pulang ke Ciamis karena saya beru beberapa waktu di Bandung, juga di Bandung ini banyak agenda menarik yang bisa saya ikuti. Namun sejenak saya berpikir ulang, saya tahu bahwa undangan adalah sebuah kehormatan dan kepercayaan orang lain pada kita, sedangkan agenda yang belum pasti tak ada kewajiban untuk diikuti. Akhirnya sayapun mulai berpikir positif, kenapa saya tidak gunakan momentum pulang ke Ciamis sebagai peluang yang bagus. ‘sambil menyelam minum air’, itu peribahasa yang saya terapkan saat hari itu. walaupun dalam kenyataannya, menyelam sambil minum air adalah sebuah kebodohan karena secara logika orang yang menyelam kemudian sambil minum air pasti dia akan wafat karena kebodohannya itu.
‘Menghadiri undangan kawan, mengambil pakaian –karena saya baru mengambil 2 pasang pakaian untuk digunakan di Bandung termasuk kuliah-, kemudian mengembalikkan buku yang saya pinjam, berkontribusi dalam agenda bedah buku di Universitas Galuh Ciamis, dan untuk menghadiri lingkaran pekanan,’ hal-hal itu menjadi agenda yang akan saya kerjakan dalam waktu yang singkat. Ya saya bilang dalam waktu yang singkat, karena saya berencana berangkat pagi dari Bandung dan akan kembali berangkat ke Bandung pagi-pagi hari esok. Saya pikir itu waktu yang singkat untuk perjalanan agenda yang padat.
Saya fokuskan perhatian pada agenda berkontribusi pada acara bedah buku, bertemu dengan kawan dan mengambil pakaian di rumah. Karena mengambil pakaian hanya butuh waktu yang cukup singkat, maka saya fokuskan kembali perhatian saya pada agenda bedah buku dan pertemuan dengan seorang kawan.
Perjalanan dari Bandung ke Ciamis membutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan kecepatan 60 km/jam, perjalanan yang cukup melelahkan bagi saya. Setalah tiba di rumah, ingin rasanya langsung beristirahat. Namun pertemuan dengan keluarga yang kini jarang terjadi harus didesain agar terasa intim, merasakan pertemuan yang akan pendek namun hangat dan membekas. apalagi saat itu saya tahu harus menginap di Ciamis terkait pertemuan saya dengan kawan saya itu. Akan semakin pendek pertemuan saya dengan keluarga saya. Mungkin jika ditotal, waktu pertamuan saya dengan keluarga hanya 2 jam saja. Sekali lagi pertemuan saya dan keluarga harus hangat dan membekas. akhirnya saya tidak istirahat, waktu yang saya punyai saya gunakan untuk bercerita pengalaman saya di Bandung dengan berapi-api sebagai tanda bahwa saya sehat dan bahagia menjalani kehidupan mandiri saya, saya juga menjadi pendengar yang baik bagi keluarga saya yang bercerita panjang tentang pengalamannya.
Rumah saya terletak di desa Sukakerta, desa yang harusnya bernuansa benar-benar desa. Namun saat ini sudah banyak bangunan mewah yang dibangun diatas tanah gemburnya. Memang terdapat banyak guru yang mengajar disekolahan, para pemuda yang bersemangat laksana para pejuang ’45, para ustadz/ah yang ‘alim, dan orang-orang dengan segala perannya dalam masyarakat. Namun sepertinya potensi yang harusnya besar itu tak mengubah kerusakan yang terjadi para lingkungan dan para penghuninya. Terkadang mereka mementingkan kenyamanan hidupnya saja.
Kuda besi keluaran tahun 2011 milik ibu saya, yang dipercayakan kepada saya untuk saya gunakan, menjadi teman perjalanan saya kemanapun termasuk perjalanan saya dari rumah ke Ciamis. Denan kecepatan 80 km/jam saya bisa menuju Ciamis hanya dalam waktu 30 menit dan dengan kecepatan 60 km/jam kita bisa menuju Ciamis dalam waktu 45 menit,
Sesampainya di Ciamis, saya berpengharapan untuk mendapat hadiah di acara bedah buku itu. buku berjudul ‘Jalan Cinta Para Pejuang’ karya Salim A. Fillah menjadi buku yang akan dibedah habis-habisan, saya pribadi juga berharap untuk mendapatkannya. Karena salah satu mimpi saya adalah memiliki buku karya Salim A. Fillah. Berjudul ‘Saksikan Aku Seorang Muslim.’
Hari itu bagian membedah buku yang judulnya ‘Jalan Cinta Para Pejuang’, saya masih berpengharapan untuk mendapatkan hadiah sebuah buku yang akan saya baca. Jujur, saya tak punya anggaran untuk membeli buku yang saya inginkan. sedangkan kalau hari ini dapat gratis, lumayan kan? Hhe
Rencana Allah SWT terkadang berbeda dengan rencana manusia. Sesampainya disana, saya dipercaya oleh panitia lain untuk menjadi panitia sebagai operator slide. Dengan demikian, peluang saya mendapat hadiah buku itu akan menjadi sempit karena biasanya yang diberi hadiah adalah peserta, baik berupa mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, maupun doorprize yang diacak oleh panitia. Tentunya tak ada space untuk saya panitia didalamnya.
Mau apa dikata? Saya totalitas saja menjadi panitia, bagaimanapun rencana Allah SWT yang pasti terbaik. Selepas ashar acara bedah buku selesai, saya menjadi panitia sebagaimana mestinya. Akhirnya saya tidak mendapat harapan memiliki sebuah buku hari itu.
Sekarang Wwktunya saya berjumpa dengan kawan saya. Sesungguhnya saya tidak tahu apa yang akan kawan saya bicarakan, saya hanya berhusnudzan padanya. Tak semata-mata kawan saya mengundang saya ke Ciamis untuk bertemu hanya karena sebuah hal yang percuma dan sepele. Dan benar saja, ada sesuatu istimewa yang kawan saya berikan. Sesuatu yang orang lain jarang berikan. Sesuatu yang menjadi rahasia yang membuat pembaca penasaran. (he)
Esoknya saya berangkat ke Bandung, keberangkatan saya jauh meleset dari waktu yang saya targetkan untuk berangkat kembali ke Bandung, yang ditargetkan ba’da shubuh malah waktu yang bisa digunakan untuk shalat israq. Saya tak kecewa karena saya telah lakukan yang terbaik untuk memenuhi target saya, namun mungkin ada sesuatu yang mengganggu diperjalanannya. Oh iya, saya belum bilang kenapa saya begitu cepat singgah di Ciamis. Saya harus segera kembali ke Bandung, ke kampus UPI Bandung yang kini menjadi kampus yang paling saya cintai. Saya bertekad untuk mengikuti agenda training yang diagendakan oleh LDK UKDM UPI Bandung yaitu UFAP (Understanding For activist Program). Sebuah acara spesial dan khusus bagi MaRu (mahasiswa baru) UPI Bandung untuk lebih bersemangat kuliah dan memahami makna aktif dan menjadi aktivis.
Akhirnya saya tiba dikampus ‘biru langit’, sesuai warna jas almamater UPI. Disini tersimpan harapan para pemikir dan pelaku kebaikan. Yakni menjadikan Indonesia kearah yang lebih baik, dan pijakan pertama yang harus diperbaiki adalah kualitas pendidikan di Indonesia ini. sedangkan UPI adalah Universitas yang bergelut dengan pendidikan, dimulai dari namanya Universitas Pendidikan Indonesia hingga menghasilkan para sarjana yang benar-benar peduli dengan perbaikan di Indonesia. Menjadikan UPI sebagai Universitas yang akan pertama kali mengubah bangsa Indonesia ini.
Saya terlambat 1 jam untuk menghadiri acara itu, namun saya sudak komunikasikan pada ketua LDK UKDM mengenai keterlambatan saya, sayapun menyampaikan apa masalah saya sehingga terlambat datang ke acara, Alhamdulillah saya mendapat izin untuk mengikuti acara itu walaupun saya terlambat.
Puluhan orang telah duduk rapi disebuah ruangan di gedung LPPM-saya lupa apa kepanjangannya-. Saya membuka pintu tanpa mengucapkan salam karena training pertama sedang berlangsung, saya tidak mau mengganggu kekhusuan trainer dalam menyampaikan pesan dan teman-teman yang fokus menyimak training itu. training pertama dibawakan oleh seorang mahasiswa UPI yang telah berkarya membuat sebuah buku. Trainer kala itu sedang membahas mengenai potensi yang ada dalam diri kita.
Ditengah-tengah training, trainer menantang peserta yang berani tampi ke depan, entah mau diapakan. Kami hanya disuruh mengangkat tangan dan maju kedepan saja. Seperti sebuah pohon yang menjulang tinggi dipadang yang luas, tampak sekali. Saya mengacungkan tangan kanan saya saat yang lain terdiam. Maka saya disuruh kedepan, memperkenalkan diri, dan membawakan sebuah permainan untuk teman-teman yang lain. Saya pikir cukup baik dengan acuan saya bisa berbicara didepan forum saat yang lain tidak.
Diakhir acara ada promosi buku oleh trainer bagi yang mau membeli karyanya. Saya ingin membeli, namun saya tak jadi membeli mengingat anggaran didompet yang tipis. Namun tak disangka, ada pembagian buku gratis bagi peserta yang tadi maju kedepan forum, termasuk juga saya. Luar biasa, saya pikir ini skenario yang indah yang Allah SWT telah tuliskan. Disaat kemarin saya berharap memilik sebuah buku dan akhirnya tidak dapat, namun hari ini mimpi saya mendapat hadiah sebuah buku dari acara training. Sungguh impian saya hari kemarin terwujud hari ini. saya sangat senang, senang sekali.
Setelah training pertama usai, dilanjutkan dengan training kedua. Skenario Allah SWT tak cukup sampai disitu. Singkat cerita saya mendapat doorprize yang mengejutkan yaitu mengikuti 4 buah tiket mengikuti training, yang apabila tiket itu diuangkan akan berjumlah sama dengan 4.6 juta! Wow! Bagi saya itu fantastik. 4.6 juta? Seperti mimpi saja! Saya bisa membeli laptop dengan uang sejumlah itu, membeli buku-buku untuk fasilitas belajar saya, share dengan teman-teman, dan lain-lain. Benar-benar skenario yang mengejutkan.. apalagi diantara 4 training itu ada training untuk menjadi seorang hipnotis. Memiliki kemampuan menghipnotis adalah salah satu impian saya juga. Ya akankah mimpi saya akan benar-benar terwujud dengan tiket ditangan saya ini? subhanallah.. mimpi saya hari kemarin akan terwujud hari esok. Saya akan sangat senang, senang sekali.
Skenario Allah SWT jilid selanjutnya. Esoknya, saya mengikuti silaturahmi pengurus rohis saat di SLTA di UPI Bandung. Sayapun mendapat doorprize dari panitia berupa flashdisk. Bagi saya ini adalah sebuah rencana yang luar biasa. Beberapa waktu yang lalu saya kehilangan flashdisk, saya berdoa dan bermimpi untuk bisa mempunyai sebuah flashdisk lagi. Kini Allah SWT benar-benar mengabulkan doa dan mimpi saya hari kemarin. Saya sangat senang, senang sekali.
Kini keyakinan saya bertambah bahwa Allah SWT benar-benar ada dan mendengarkan permintaan makhluknya. Dengan menuliskan, merenungi, bekerja keras, dan berdoa ikhlas maka Allah SWT akan memandang bahwa memang kita pantas mendapatkan impian kita. Ya kita pantas untuk dapat yang terbaik hari ini dan esok hari. Semoga mimpi-mimpi yang ditulis hari kemarin, keterwujudannya hari ini dan insyaallah dihari esok akan terus berlanjut.
Untuk mimpi hari kemarin, keterwujudannya hari ini dan insyaallah hari esok, tiada yang lebih baik diucapkan selain syukur pada Yang Maha Tahu, Yang Maha Mencintai, Yang Maha Memberi kebutuhan bukan hanya keinginan, hanya Allah Subhanahu Wata’ala. Alhamdulillah….
Sebuah catatan sederhana, saat burung masih bernyanyi di pagi hari.
Bandung 10 September 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar