(seperti biasa, sedikit sulit mencari judul. mencari padanan kata
yang padat dan dapat mencakup segala penjelasan dan isi coretan.
seringkali menjadi puisi tanpa judul, memang seperti tubuh tanpa kepala. maksudku bukan kepala manusia, namun kecoa-kecoa di kos-kosan kami.
mereka hidup menggerayangi, menggelitiki, memakan, membuang kotoran, dan
melompat-lompat tanpa kepala. hebat! bagaimana menurutmu? sempat
terlintas kepalanya bernama, "bertanya kembali", "tali kusut", "titik tarik
dan jenuh", atau "tanpa judul" (sebagaimana pada beberapa karya orang
lain) ya sudahlah, akan kupikirkan lain kali. namun bagimu yang punya
ide, mengapa tidak memberikan masukan. siapa tau "anak tanpa bapak
berubah jadi pemuda bijaksana" selayaknya "anak singkong jadi bapak
media")
aku melihat tali kusut(kusampaikan salam kepada senja, atas waktu siku yang singkat. tadinya kupikir pekerjaan memakan masa, antara daerah "pegunungan" ke "landaian". oh ya, vitamin belum sampai ke tangan. tenang, lagipula orang tua renta tidak hanya perlu vitamin namun juga penyadaran. lain bagimu, senja, yang saat menua akan berubah malam, menjadi pagi dan muncul kembali esok sore hari)
berwarna merah, hijau, biru
melilit kesana kemari
melingkar dan tak beraturan
aku (dan kau juga) memandang deretan huruf
menerka, membaca, mencari makna
lucu memang..
selamat malam
dimana..
titik tarik dan titik jenuh itu?
apakah mudah tertarik
atau mudah menjenuh?
lucu memang
lihat saja, aku dan dirimu membuka layar untuk memeluk suatu prasangka
pikir kita, "kenapa, kemana, dan bagaimana?"
politis, egois, individualis, matrealistis.
seringkali kita menjadi peramal yang buruk! sumpah!
memakna secuil keputusan sebagai track record manusia
mengenang noda dari lembaran putihnya
entah mengapa dititik ini aku membenci
jarang sekali kita bertanya siapa, ada apa, dan bagaimana
disana, aku lihat tali kusut
berwarna merah, hijau, biru
lihatlah, warna menjadikan pekerjaan kita mudah
bertanya siapa, ada apa, dan bagaimana..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar