Minggu, 31 Mei 2015

Tips Menulis Cahyadi Takariawan

 Gugup dan tak PD sebenarnya memulai tulisan ini. mengapa? Karena tulisan ini adalah tulisan kedua dari komitmen untuk terus menulis setiap hari. Kemarin adalah tulisan pertamaku. Kutulis dengan lancar dan tanpa beban. Apa pasalnya? Karena tulisan pertama adalah tulisan artikel mengenai kegiatan bedah buku “Panduan Ibadah Ramadhan” karya Cahyadi Takariawan. Sebuah agenda yang baru diselenggarakan kemarin lusa. Istilahnya masih fresh! Sedangkan yang kedua ini aku tak tahu harus menulis apa. Hmm, apa ya? Baiklah, akan kuceritakan saat aku menjemput Pak Cah –panggilan akrab- dari Stasiun Bandung menuju hotel penginapan.
Pak Cah akan kami jemput di Stasiun Bandung pukul 08.50 WIB dan waktu itu pula aku menunggu beliau. Setelah bertemu, kami segera menuju penginapan. Nah, ceritaku dimulai disini. Di awal diperjalanan, aku tak tahu harus ngobrol apa saja dengannya. Rasanya sangat sedikit obrolan yang bisa diutarakan. Aku bertanya kabar, kesibukan, kesan terhadap Bandung, kapan terakhir kali ke Bandung, rencana setelah mengisi materi, hingga konsepan materi dan kondisi tempat serta peserta.
Setelah jeda beberapa waktu, aku curhat kepada beliau mengenai menulis. Aku bertanya beberapa hal tentang menulis dan ternyata beliau merespon sangat antusias. Walaupun pertemuan itu hanya sekitar 15-20 menit, namun ada beberapa tips yang aku tangkap dari obrolan kami. Berikut tips yang diberikan beliau dalam menulis :
a.   Paksa Diri untuk Menulis (Miliki Waktu Khusus Menulis)
Hal pertama yang beliau sampaikan adalah paksa diri untuk menulis. Milikilah waktu khusus agar diri terpaksa untuk menulis. Setiap orang memiliki waktu khusus dimana inspirasi menulis akan hadir. Namun jika belum menemukan inspirasi, tetap milikilah waktu khusus tersebut. Adapun Pak cah memiliki waktu khsus untuk menulis saat setelah Shubuh. Beliau memaksa diri menulis setiap hari dan mengirimkannya ke blog atau media lain. Berbeda soal kalau ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkannya ibarat pergi kesuatu tempat. Dengan memaksa diri untuk menulis, halangan mood (perasaan, keinginan) yang biasanya labil akan tetap terjaga.
b.   Menulis yang Disenangi
Menulislah dari yang disenangi. Hal ini akan berdampak pada tulisan yang ekspresif. Tulisan akan mengalir tanpa banyak keraguan. Pak Cahmenyenangi tema parenting, oleh karenanya beliau banyak sekali menulis tentang parenting tersebut. Bayangkan saja beliau telah menulis puluhan buku tentang parenting!
Hal yang disenangi dapat terwujud apa saja. Misalnya makanan, isu, kegiatan, dan lain-lain. Pokoknya apapun yang membuatmu senang dan ingin diceritakan kepada orang lain. Setelah itu, menulislah tanpa keraguan.
c.   Jangan Mundur Karena Kritik
Aku curhat kepada beliau kalau aku sulit menulis karena khawatir penilaian orang lain. Takut dibilang jelek, takut dikritik, takut tidak diterima, atau malah takut dihujat. Namun Pak Cah menyampaikan kalau kita tidak boleh takut dikritik.
Pak Cah menyarankan untuk memiliki blog sendiri. Tujuannya adalah agar kita memiliki wadah untuk menulis. Selain itu, tulisan yang sudah dipost dapat diedit jika terdapat kesalahan. Berbeda soal jika tulisan sudah dibukukan. Akan sulit mengedit tulisan tersebut, apalagi kalau sudah disebar ke berbagai daerah.
Pak Cah menyarankan bagi penulis pemula, jangan terlalu banyak mendengarkan kritik. Kritik mungkin ada yang membangun, namun kebanyakan kritik juga meruntuhkan. Apalagi bagi penulis pemula yang mudah terpengaruh oleh ucapan orang lain.
d.   10 Ciri Suami Idaman...
Untuk memudahkan menulis, Pak Cah biasa menggunakan angka atau jumlah di judul tulisannya. Misalkan 5 cara membuat istri bahagia, 10 ciri suami idaman, dan lain-lain. Tujuannya adalah supaya memudahkan penulis karena berbentuk pointer. Selain itu, penulis akan dipaksa mencari dan memenuhi hingga tulisannya sesuai dengan jumlah di judulnya. Misalnya tulisan beliau berjudul 10 ciri suami idaman, maka saat beliau baru menulis di poin 7, beliau harus mencari 3 poin lagi untuk menyesuaikan jumlah dalam judul tulisannya.
e.   Menulis dari Pengalaman/ Apa yang Dialami
Menulislah dari apa yang dialami. Karena menulis dari apa yang dialami akan membuat tulisan mengalir. Tanpa stack! Karena toh yang dituliskan adalah pengalaman yang telah dialami. Kita tidak perlu berimajinasi karena apa yang kita alami dapat langsung kita tuangkan dalam tulisan. Beliau mencontohkan seorang pemimpin organisasi yang mengalami menjadi “nahkoda” organisasi akan lebih mudah menuliskan pengalamannya dari pada orang yang tidak mengalami menjadi pemimpin. Spirit yang dibangun adalah semangat untuk berbagi dan mewariskan.
f.    Punya Mentor? Tak perlu! 
Aku bertanya apakah menulis harus memiliki mentor? Pak Cahyadi menyampaikan menurutnya menulis tidak harus memiliki mentor. Cukup berpegang kepada hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya, maka menulis akan menjadi mudah.

Berikut tips dari Cahyadi Takariawan untuk orang yang ingin produktif menulis. Semoga kita dapat terus menulis. Amin 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar