Gugup dan
tak PD sebenarnya memulai tulisan ini. mengapa? Karena tulisan ini adalah
tulisan kedua dari komitmen untuk terus menulis setiap hari. Kemarin adalah
tulisan pertamaku. Kutulis dengan lancar dan tanpa beban. Apa pasalnya? Karena
tulisan pertama adalah tulisan artikel mengenai kegiatan bedah buku “Panduan
Ibadah Ramadhan” karya Cahyadi Takariawan. Sebuah agenda yang baru
diselenggarakan kemarin lusa. Istilahnya masih fresh! Sedangkan yang kedua ini
aku tak tahu harus menulis apa. Hmm, apa ya? Baiklah, akan kuceritakan saat aku
menjemput Pak Cah –panggilan akrab- dari Stasiun Bandung menuju hotel
penginapan.
Pak Cah
akan kami jemput di Stasiun Bandung pukul 08.50 WIB dan waktu itu pula aku menunggu
beliau. Setelah bertemu, kami segera menuju penginapan. Nah, ceritaku dimulai
disini. Di awal diperjalanan, aku tak tahu harus ngobrol apa saja dengannya.
Rasanya sangat sedikit obrolan yang bisa diutarakan. Aku bertanya kabar,
kesibukan, kesan terhadap Bandung, kapan terakhir kali ke Bandung, rencana
setelah mengisi materi, hingga konsepan materi dan kondisi tempat serta
peserta.
Setelah
jeda beberapa waktu, aku curhat kepada beliau mengenai menulis. Aku bertanya beberapa
hal tentang menulis dan ternyata beliau merespon sangat antusias. Walaupun
pertemuan itu hanya sekitar 15-20 menit, namun ada beberapa tips yang aku
tangkap dari obrolan kami. Berikut tips yang diberikan beliau dalam menulis :
a. Paksa Diri
untuk Menulis (Miliki Waktu Khusus Menulis)
Hal pertama
yang beliau sampaikan adalah paksa diri untuk menulis. Milikilah waktu khusus
agar diri terpaksa untuk menulis. Setiap orang memiliki waktu khusus dimana
inspirasi menulis akan hadir. Namun jika belum menemukan inspirasi, tetap milikilah
waktu khusus tersebut. Adapun Pak cah memiliki waktu khsus untuk menulis saat
setelah Shubuh. Beliau memaksa diri menulis setiap hari dan mengirimkannya ke
blog atau media lain. Berbeda soal kalau ada keperluan yang tidak bisa
ditinggalkannya ibarat pergi kesuatu tempat. Dengan memaksa diri untuk menulis,
halangan mood (perasaan, keinginan) yang biasanya labil akan tetap terjaga.
b. Menulis
yang Disenangi
Menulislah
dari yang disenangi. Hal ini akan berdampak pada tulisan yang ekspresif.
Tulisan akan mengalir tanpa banyak keraguan. Pak Cahmenyenangi tema parenting,
oleh karenanya beliau banyak sekali menulis tentang parenting tersebut. Bayangkan
saja beliau telah menulis puluhan buku tentang parenting!
Hal
yang disenangi dapat terwujud apa saja. Misalnya makanan, isu, kegiatan, dan
lain-lain. Pokoknya apapun yang membuatmu senang dan ingin diceritakan kepada
orang lain. Setelah itu, menulislah tanpa keraguan.
c. Jangan Mundur
Karena Kritik
Aku
curhat kepada beliau kalau aku sulit menulis karena khawatir penilaian orang
lain. Takut dibilang jelek, takut dikritik, takut tidak diterima, atau malah takut
dihujat. Namun Pak Cah menyampaikan kalau kita tidak boleh takut dikritik.
Pak Cah
menyarankan untuk memiliki blog sendiri. Tujuannya adalah agar kita memiliki
wadah untuk menulis. Selain itu, tulisan yang sudah dipost dapat diedit jika
terdapat kesalahan. Berbeda soal jika tulisan sudah dibukukan. Akan sulit
mengedit tulisan tersebut, apalagi kalau sudah disebar ke berbagai daerah.
Pak Cah
menyarankan bagi penulis pemula, jangan terlalu banyak mendengarkan kritik.
Kritik mungkin ada yang membangun, namun kebanyakan kritik juga meruntuhkan.
Apalagi bagi penulis pemula yang mudah terpengaruh oleh ucapan orang lain.
d. 10 Ciri
Suami Idaman...
Untuk
memudahkan menulis, Pak Cah biasa menggunakan angka atau jumlah di judul
tulisannya. Misalkan 5 cara membuat istri bahagia, 10 ciri suami idaman, dan
lain-lain. Tujuannya adalah supaya memudahkan penulis karena berbentuk pointer.
Selain itu, penulis akan dipaksa mencari dan memenuhi hingga tulisannya sesuai
dengan jumlah di judulnya. Misalnya tulisan beliau berjudul 10 ciri suami
idaman, maka saat beliau baru menulis di poin 7, beliau harus mencari 3 poin
lagi untuk menyesuaikan jumlah dalam judul tulisannya.
e. Menulis
dari Pengalaman/ Apa yang Dialami
Menulislah
dari apa yang dialami. Karena menulis dari apa yang dialami akan membuat tulisan
mengalir. Tanpa stack! Karena toh
yang dituliskan adalah pengalaman yang telah dialami. Kita tidak perlu
berimajinasi karena apa yang kita alami dapat langsung kita tuangkan dalam
tulisan. Beliau mencontohkan seorang pemimpin organisasi yang mengalami menjadi
“nahkoda” organisasi akan lebih mudah menuliskan pengalamannya dari pada orang
yang tidak mengalami menjadi pemimpin. Spirit yang dibangun adalah semangat
untuk berbagi dan mewariskan.
f. Punya Mentor?
Tak perlu!
Aku
bertanya apakah menulis harus memiliki mentor? Pak Cahyadi menyampaikan
menurutnya menulis tidak harus memiliki mentor. Cukup berpegang kepada hal-hal
yang telah disebutkan sebelumnya, maka menulis akan menjadi mudah.
Berikut
tips dari Cahyadi Takariawan untuk orang yang ingin produktif menulis. Semoga kita
dapat terus menulis. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar