Selasa, 02 Juni 2015

PRINSIP KOMUNIKASI AA GYM


Menurut pakar komunikasi, 70% dalam 24 jam waktu manusia diisi dengan komunikasi. Sehingga tidak heran muncul klausa we cannot not communicate (Kita tidak-bisa tidak berkomunikasi). Itu artinya setiap kesempatan baik disadari atau tidak, manusia banyak berkomunikasi.
Yang menarik adalah para tokoh atau pembicara seringkali memiliki ciri khas dalam berkomunikasi. Demikian juga Abdullah Gymnasiar pendiri Yayasan dan Pesantren Daarut Tauhiid Bandung. Aa Gym (sapaan akrabnya) menjadi populer karena mengenalkan cara berdakwah yang unik dengan gaya ekspresif dengan pesan-pesan dakwah islami yang praktis dan umum diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
Pada suatu kesempatan, sebagaimana biasa Aa Gym menyampaikan ceramah. Adapun saat itu Aa Gym “membongkar” rahasia prinsip komunikasi publiknya. Penulis berkesempatan mendengarkan dan menuliskan poin-poinnya. Untuk itu penulis akan menyampaikan kembali prinsip komunikasi yang disampaikan oleh Aa Gym. Adapun prinsip komunikasi tersebut  antara lain :
a.      Pastikan Yakin atas Apa yang Dibicarakan
Keyakinan adalah suatu hal yang dipercayai kebenarannya. Keyakinan dalam berkomunikasi berkaitan dengan pengetahuan dan pengalaman. Maksudnya komunikator merasa yakin karena telah memahami materi yang disampaikan. Disamping itu komunikator yakin karena apa yang disampaikan pernah ia alami.
Aa Gym seringkali bercerita tentang pengalamannya saat populer dahulu hingga Allah mencabut kepopulerannya tersebut. saat dipuncak ketenarannya, Aa Gym begitu dikagumi, disanjung, dielu-elukan oleh umat dan media massa. Masjid Daarut Tauhiid riuh dengan jamaah dari berbagai penjuru daerah. Pernak-pernik Aa Gym diproduksi untuk dikoleksi oleh penggemarnya. Namun saat Aa Gym mengambil keputusan berpoligami, kepercayaan masyarakat luntur seketika. Dengan kejadian tersebut, Aa Gym memiliki pengalaman hidup tersendiri. Dengan pengalaman tersebut Aa Gym merasa yakin terhadap apa yang dibicarakan.
b.      Tulus
Tulus identik dengan ikhlas. Sedangkan ikhlas bermakna tidak mengharapkan apapun kecuali Allah. Komunikator tidak memikirkan imbalan dari apa yang ia sampaikan. Tulus dalam berkomunikasi ibarat berkomunikasi tanpa banyak rekayasa, tanpa dominasi kepentingan, ambisi, dan lain-lain. Dengan berkomunikasi secara tulus, komunikasi menjadi tanpa beban, tanpa khawatir mengenai respon yang akan diberikan.
c.       Miliki Rasa Hormat pada Audiens
Penting memiliki rasa hormat kepada audiens. Hal ini akan berdampak kepada komunikator berusaha menggunakan bahasa verbal yang baik, berbusana yang baik, berwawasan yang luas. Aa Gym biasa menggunakan jas dan sorban untuk menghormati audiens. Bagaimana jika Aa Gym ceramah dengan menggunakan jeans dan baju oblong? Tentu tidak akan menarik simpat dari audiens.
Selain itu, memiliki rasa hormat kepada audiens membuat komunikator menempatkan audiens sesuai tempatnya. Tidak menempatkan sebagai “anak kecil” yang biasa digurui.
d.      Miliki Rasa Kasih Sayang
Allah Ta’ala berfirman, “Dan berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu...” (QS 3 : 159)
Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, komunikator harus memiliki rasa kasih sayang. Hal ini akan berdampak kepada sifat sabar. Maksudnya adalah komunikator berkomunikasi dengan landasan rasa kasih sayang kepada sesama. Tujuan berkomunikasi adalah untuk mendapatkan kebaikan. Oleh karenanya komunikator harus memiliki kesabaran dalam berkomunikasi dengan audiens. Kesabaran itu tidak akan muncul jika tidak ada rasa kasih sayang dalam diri komunikator.
e.      Jujur
Terakhir, jujur memiliki peran penting dalam komunikasi. Dengan berlaku jujur komunikator tidak harus menutup “lubang kebohongan’ dengan kebohongan lagi. Kita sering mendengar bahwa orang yang berbohong dapat diketahui melalui bahasa tubuhnya. Hal ini karena kebohongan mendatangkan kekhawatiran bagi pelakunya. Komunikator akan mencari kebohongan lain untuk menutup kebohongan yang telah ia lakukan.
Rasulullah SAW telah mencontohkan kejujuran ini 14 abad yang lalu. Jujur berarti berita/ perkataan sesuai dengan fakta. Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama, dan jujur dengan diri sendiri.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke syurga dan sesungguhnya seseorang selalu berbuat jujur sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta (kebohongan) itu menunjukkan kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu menujukkan kepada neraka dan sesungguhnya seseorang yang selalu berdusta maka dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang pendusta.”(Mutaffaq Alaih)
Rasulullah SAW bersabda, “Tinggalkanlah olehmu apa saja yang kamu ragukan dan beralihlah keapda yang tidak kamu ragukan, sesungguhnya kejujuran itu ketenangan dan kedustaan itu kebimbangan.” (HR Tirmidzi) Dengan kata lain kejujuran dapat dapat mendatangkan integritas bagi seorang pembicara.

Demikian prinsip komunikasi yang disampaikan oleh Aa Gym. Semoga bermanfaat.. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar