Tulisan ini saya tulis di blog cerdaskomunikasi.blogspot.com. namun karena kendala teknis, tulisan ini saya pindahkan ke blog ini.
Hari Sabtu (5/7) saya mengikuti aksi mahasiswa di Bundaran HI. Sekitar seribu mahasiswa yang tergabung dari berbagai universitas di Indonesia menyuarakan aspirasinya dengan lantang. Seolah-olah, panas dan dahaga tak menjadi halangan untuk berjuang.
Tengah hari aksi selesai, saya mencoba berdikusi dengan senior. Saya mengeluhkan bahwa aksi seperti ini tidak akan memberikan perubahan signifikan bagi Indonesia. Agenda ini malah membuang waktu karena takkan banyak perubahan yang didapat. Begitu keluh saya kepada senior tersebut.
Beliau menangapi bahwa aksi demonstrasi merupakan bagian dari hal yang dapat dilakukan mahasiswa. Hal ini karena mahasiswa adalah orang-orang yang sedang belajar di perguruan tinggi, maka tugas utamanya adalah belajar. Namun aksi merupakan bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Aksi bukan agenda tanpa arti. Agenda ini punya arti penting bagi Indonesia. Aksi demonstrasi merupakan eskpresi kegundahan, kecintaan, dan perjuangan mahasiswa untuk Indonesia. Aksi demonstrasi adalah salah satu cara mahasiswa memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia.
Aksi ini, walaupun bukan pekerjaan yang mengubah Indonesia dengan total, setidaknya menegaskan bahwa mahasiswa masih ada. Para penguasa diingatkan supaya bekerja dengan serius dan mengingat untuk pada mereka duduk dikursi nyaman itu. Aksi demonstrasi ini, mengabarkan kepada rakyat Indonesia bahwa mahasiswa masih memperjuangkan kepentingan mereka.
Era Baru
Tahun ini, bukan tahun 1998. Tahun ini adalah tahun saat aksi mahasiswa bukan hanya demonstrasi. Aksi mahasiswa hari ini adalah memiliki kesungguhan menjadi pembelajar dan mempersiapkan menjadi pemimpin masa depan.
Maka tugas mahasiswa hari ini bertambah, tidak hanya demonstrasi namun mengasah kepakaran dan berusaha menjadi pemimpin yang membela kepentingan rakyatnya.
Maka tugas mahasiswa hari ini bertambah, tidak hanya demonstrasi namun mengasah kepakaran dan berusaha menjadi pemimpin yang membela kepentingan rakyatnya.
Maka tugas mahasiswa hari ini bertambah, tidak hanya demonstrasi namun mengasah kepakaran dan berusaha menjadi pemimpin yang membela kepentingan rakyatnya.
Apakah dengan kita serius mengasah kepakaran, ke-profesional-an, dan kemamupuan berarti harus meninggalkan aksi? Mungkin ada diantara anda yang berfikir bahwa aksi dijalanan sudah tak punya arti. Mungkin juga diantara anda ada yang mengatakan bahwa aksi bukan lagi tanggung jawab mahasiswa dan biarkan dikerjakan elemen lain. Namun, aksi tak harus ditinggalkan. Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa aksi punya arti tersendiri.
Sebagaimana pohon yang tumbuh. Semakin besar pohon, maka semakin kuat dan panjang akar-akarnya, semakin tegak dan kuat batangnya, dan semakin rimbun dedaunannya. Maka menurut saya, mahasiswa hari ini juga harus punya ideologi yang mengakar, tekad yang kuat, dan tanggung jawab yang besar untuk memperjuangkan Indonesia kearah yang lebih baik. Ia belajar dan aksi dijalanan, tidak meninggalkan salah satunya.
mahasiswa hari ini juga harus punya ideologi yang mengakar, tekad yang kuat, dan tanggung jawab yang besar untuk memperjuangkan Indonesia kearah yang lebih baik. Ia belajar dan aksi dijalanan, tidak meninggalkan salah satunya.
Saya merasakan bahwa belajar di bangku kuliah tidak cukup untuk menumbuhkan kecintaan saya terhadap Indonesia. Hal ini karena saya tidak mendapatkan apa yang dirasakan saat aksi demonstrasi. Saat aksi demonstrasi, ada keberanian, kecintaan, kebersamaan, kemauan berkorban dan memperjuangkan. Sekali lagi, perasaan itu tidak saya dapatkan di bangku perkuliahan.
Sebentar, pernahkan anda ikut aksi?
Saran saya untuk anda adalah ikutilah aksi. Fahami untuk apa anda aksi, apa tujuannya. Kemudian rasai dengan penuh kesungguhan dan keyakinan bahwa anda adalah agen perubahan dan memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia. Yakinkan bahwa pesan anda akan sampai kepada hati rakyat Indonesia. Yakinkan bahwa para penguasa gentar dengan keberanian dan kebersamaan mahasiswa. Hingga akhirnya saya berharap, anda merasakan apa yang saya rasakan saat aksi demonstrasi tersebut.
Menjaga Ideologi
Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan. Sebagaimana diketahui bahwa mahasiswa adalah kalangan intelektualitas, para pemuda yang memiliki niat yang tulus, semangat yang membara, dan keinginan untuk memperjuangkan kebenaran.
Ideologi tersebut harus dijaga hingga ia sudah lulus dari kampus. Tanpa ideologi yang tak terjaga, jangan-jangan, mahasiswa yang hari ini berideologi dan bermimpi memperjuangkan kepentingngan rakyat akan berubah menjadi pejabat yang menyengsarakan rakyat. Mahasiswa yang saat ini berusaha memiki kepakaran, namun malah menggunakan kepakarannya untuk membodohi masyarakat. Ironi bukan?
Demikian catatan kecil saya mengikuti aksi demonstrasi. Selanjutnya, semoga, catatan ini menjadi awal untuk mengasah kepakaran saya dan menjadi inspirasi bagi anda.
Untuk mengakhiri catatan ini, ada sebuah ungkapan dari Soe Hok Gie, begini katanya, "Buat apa menghindar? Cepat atau lambat, suka atau tidak, perubahan hanya soal waktu. Semua boleh berubah, semua boleh baru, tapi satu yang harus dipegang: kepercayaan."
Bagaimana menurut anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar